Menepis Luka

Menepis Luka
Pendekatan


__ADS_3

Tyler tidak mau mengandalkan kemampuan Daddy-nya. Karena nanti yang di lihat keluarga Ariadna adalah dirinya. Tyler merasa seperti di kejar waktu. Andai Ariadna memberinya kepastian dia tidak akan resah seperti ini.


"Siang ini kita ketemu ya Ar." Tyler mengirim pesan pada Ariadna. Tentu saja segera di baca karena Ariadna sedang online.


"Temani kamu makan siang lagi?" balas Ariadna agak lama. Dia tidak mau terlihat antusias.


"Kita makan siang sama-sama dong. Kamu yang pilih tempatnya." Tyler memberi pilihan pada gadis itu agar tidak tampak dominan. Kali ini balasannya juga lama. Sepertinya Ariadna tengah memikirkan tempatnya. Itu tabrakan penuh percaya diri dari Tyler.


"Ke cafe Andalusia saja." balas Ariadna. Tyler tersenyum, tebakannya benar.


"Aku jemput ya." hati Tyler mulai senang.


"Jangan. Tunggu di sana saja, aku pasti datang." Ariadna tidak mau terlihat di jemput Tyler. Harus dia akui mobil Tyler mulai di kenali para satpam di rumahnya karena kerap kali mengantarnya pulang. Hanya saja mereka tidak tau siapa pengemudinya.


"Ok, aku tunggu." Tyler menutup percakapan dengan emoticon hati. Selain mengejar kepastian dari Ariadna Tyler juga meloby Rionata dengan mengajukan kerjasama. Tentu saja Rio bersedia bertemu dengan Tyler setelah menelusuri hubungan hubungan kerjasama dan pertemanannya dengan Damian. Tyler pun menuju tempat pertemuannya dengan Rio. Tiba di tempat Rio sudah lebih dulu datang, dia melihat Tyler turun dari mobilnya. Pertemuan mereka cukup lancar, Rio terkesan dengan pemaparan Tyler dan dia setuju untuk menjalin kerjasama. Rio baru mengetahui ternyata Tyler adalah pria yang serius bekerja. Selain kabar tentang nakalnya pria ini. Apalagi ini perusahaan milik Tyler pribadi, bukan ayahnya. Cukup lama mereka berbincang, dari situ Rio yakin Tyler memang berteman dekat dengan Damian. Walaupun Rio tidak mengenal Damian tapi dia cukup tau orang seperti apa Damian. Tidak bergaul dengan sembarang orang. Mereka pun berpisah, Tyler sudah tidak sabar bertemu dengan Ariadna. Tyler pun segera menuju cafe yang telah dikirimkan alamatnya oleh Ariadna. Masih ada beberapa waktu sebelum gadis itu datang. Tyler mengamati cafe tersebut. Lokasinya jauh dari keramaian. Suasana di dalam tenang, tidak terlalu ramai. Pantas Ariadna memilih tempat ini. Tyler memilih tempat duduk yang di nilainya nyaman. Sambil menunggu Tyler mengirim pesan pada asistennya untuk mempersiapkan kontrak kerjasama dengan Rionata. Perlahan tapi pasti Tyler melancarkan gerakannya mendekati keluarga Ariadna. Sang pujaan sendiri datang tidak lama kemudian. Dia langsung duduk di hadapan Tyler yang masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Hai Ar, sudah datang." sapa Tyler senang. Diamatinya Ariadna. Walau beberapa hari yang lalu bertemu tapi tetap rindu.


"Aku yang pesan makanan ya." Ariadna tanpa basa-badi memutuskan.


"Ok." Tyler tersenyum. Mau pesan hati dan jiwanya juga Tyler setuju. Ariadna pun mulai memesan makanan untuk mereka berdua. Tyler membiarkan dulu waktu untuk mereka berdua, menikmati makan siang sambil mengobrol ringan. Pembawaan Tyler memang menyenangkan.


"Ty, kamu mau bicara apa?" tanya Ariadna pada akhirnya. Mereka sudah selesai makan. Ariadna punya dugaan Tyler ingin membicarakan sesuatu. Apa mereka sudah sepikiran dan seperasaan?


"Tentang kitalah. Apa kamu tidak mau memberi kesempatan buat aku untuk jadi kekasihmu? Apa kita akan berteman terus? Aku serius Ar, tidak ada wanita yang aku perlakukan sedekat kamu. Mereka hanya selintas lewat dalam hidupku, tapi kamu adalah masa depanku." Tyler berkata lembut. Matanya memancarkan kejujuran. Ariadna terdiam, dia jadi teringat pada tingkah Tyler yang manis padanya. Harus Ariadna akui, dia tidak kebal pada pesona Tyler. Yakin dia pasti jatuh cinta. Tapi dia belum percaya apa Tyler akan setia. Thareig saja yang dulu pria serius bisa dengan mudah membagi perhatiannya pada gadis lain. Namun mengabaikan Tyler juga Ariadna merasa ada yang kurang di hatinya. Itu sebabnya dia mau bertemu Tyler, karena penasaran apa lagi yang akan di perbuat pria itu padanya.


"Tentu saja boleh." Tyler menjawab lembut. Ada kebimbangan di mata Ariadna yang dia tangkap. Terbersit dugaan dalam hati Tyler ada tarik menarik di hati Ariadna. Tyler tidak mau memaksa, untuk saat ini. Menyodorkan keseriusan pada Ariadna ternyata tidak cukup. Gadis ini perlu di rayu.


"Tapi jangan lama-lama." tambah Tyler.


"Maksudnya?" Ariadna penasaran.

__ADS_1


"Aku bisa bertindak lebih jauh." Tyler menjawab sambil tersenyum. Alisnya naik turun mengartikan sesuatu. Tyler bertekad mendapatkan Ariadna bagaimana pun caranya. Ariadna tidak bisa marah, karena Tyler menggodanya bukan melecehkannya. Tapi jadi pertanyaan di dalam hatinya, apa yang akan Tyler lakukan? Menculiknya, menyekapnya atau memperkosanya? Tapi rasanya Tyler tidak mungkin melakukan itu. Pikiran Ariadna berkelana membayangkan apa yang akan di lakukan Tyler untuk memaksanya. Dia membayangkan Tyler mungkin melakukan sesuatu yang mesra padanya. Pipi Ariadna merona membayangkan demikian. Tyler yang menatap Ariadna jadi salah paham. Dia jadi merasa kata-katanya di respon manis oleh Ariadna.


"Ar, apa yang kamu pikirkan?" tanya Tyler membuyarkan lamunan Ariadna yang langsung tersadar. Ariadna jadi malu sendiri.


"Aku cuma memikirkan permintaan kamu tadi ko." Ariadna berdalih. Dia pun heran mengapa bisa berpikiran jauh.


"Ingat ya, aku bukan pria yang sabar loh." walau Tyler berkata dengan lembut tapi terpancar dari matanya dia tidak main-main.


"Aku paham, biar aku pikirkan dulu ya. Aku tidak mau sakit hati lagi." Ariadna sadar tidak mungkin juga menggantung perasaan Tyler.


"Jadi kamu tidak percaya aku akan setia. Wajar sih kalau kamu curiga. Aku memang sempat nakal. Tapi aku sudah mulai berubah. Kamu boleh buktikan petkataanku, jika hanya janji aku yakin kamu tidak percaya. Namun bagaimana aku bisa membuktikan kalau kamu tidak jalan sama aku?" tangan Tyler meraih tangan Ariadna yang lembut. Di bawanya tangan itu pada bibirnya, di ciumnya perlahan. Ariadna terpukau, di tariknya tangannya perlahan dengan perasaan tersipu.


"Mempertimbangkan bukan berarti kita tidak bisa bertemu. Sekarang saja kita makan siang bersama." Ariadna beralasan. Dia ingin memantapkan hatinya dulu. Jatuh cinta pada Tyler mudah. Tapi apa dia akan bahagia Ariadna belum yakin. Tyler mengangguk paham. Biarlah Ariadna menimbang dulu, Tyler juga akan menjalankan rencananya.


"Kita keluar yuk, aku mau melihat-lihat tempat ini." Tyler bangkit akan membayar makan siang mereka. Ariadna juga bangkit mengikuti Tyler. Berjalan keluar Tyler menggandeng tangan Ariadna lembut. Ariadna berdebar tapi dia membiarkan saja. Toh Tyler tidak kurang ajar padanya. Mereka berjalan-jalan di sekitar cafe itu. Ternyata cafe itu punya kebun sayur sendiri.

__ADS_1


__ADS_2