Menepis Luka

Menepis Luka
Kegalauan Daniela


__ADS_3

"Jangan bawa bunga itu ke stand tukang bakso, nanti mamangnya salah paham." sindir Damian.


"Ya tidaklah." protes Ariadna. Damian ini pelit bicara tapi sekalinya bicara bikin kesal.


"Biar saja nanti dapat diskon khusus." ledek Daniela.


"Awas ya kalian." ancam Ariadna. Susah kalau lawannya dua orang.


'Bagaimana jualannya Andini?" tanya Daniela ingin tau.


"Laris manis, Andini sedang pusing menerima banyak pesanan." jawab Ariadna sambil tertawa.


"Kamu tidak mau beberapa?" tanya Damian pada Daniela.


"Malas ah. Nanti saja setelah ini Andini pasti akan memasukan stok baru." jawab Daniela mengutarakan pemikirannya.


"Istri pintar." puji Damian tulus. Ariadna bisa melihat itu. Damian memang tidak pernah kasar pada Daniela. Perlakuannya selalu baik pada istrinya. Mungkin itu sebabnya Daniela mempertahankan Damian.


"Boleh tambah uang bulanan dong." pancing Ariadna.


"Tentu saja boleh, kamu mau minta berapa?" Damian tidak keberatan, dia bekerja untuk istrinya kan.


"Ich aku tidak minta. Itu kan Ariadna yang iseng." tolak Daniela. Dia merasa cukup dengan yang Damian berikan. Damian menatap Daniela dengan tatapan penuh pujian. Damian paling benci dengan wanita yang haus akan uang. Bikin pusing saja. Arabela menghampiri mereka.


"Dam terima kasih untuk sumbangannya ya." kata Arabela pada menantunya. Dia menepuk lengan Damian lembut.


"Itu tidak seberapa ma." jawab Damian merendah.


"Tapi itu sangat berarti. Apa lagi kamu menyumbang dengan dua nama. Perusahaanmu dan keluarga kecilmu." Arabela memuji. Daniela jadi tau Damian menyumbang dengan dua nama.


"Jadi aku tidak perlu menyumbang nih?" tanya Daniela bimbang.


'Terserah kamu, aku bisa masukan atas namamu sendiri jika mau." tawar Damian. Uang bukan masalah asal Daniela senang.

__ADS_1


"Tidak perlu deh, nanti saja." bukan itu yang Daniela mau. Dia ingin menyumbang dari uangnya sendiri. Damian memberikan uang bulanan yang cukup besar untuknya. Setiap bulannya Daniela bisa menyisihkan uang bulanan tersebut. Oleh sebab itu Daniela tidak minta tambahan uang bulanan. Ariadna yang sudah bersahabat lama paham Daniela bukan wanita yang boros. Padahal Damian bisa memberikan berapa pun yang Daniela minta. Selain itu keluarga Daniela pun masih memberikannya jatah bagi putrinya. Namun Daniela tidak pernah mengambilnya. Dia cukup menggunakan uang yang di berikan suaminya. Ariadna sendiri belum sehebat Daniela. Dia masih egois dan seenaknya. Tapi Ariadna sadar harus belajar dari Daniela. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti dalam hidup kita.


"Sayang kalau lelah pulang saja ya. Biar nanti selebihnya mama yang urus." Arabela berkata pada Daniela.


"Kamu Ar, mau pulang?" tanya Daniela pada Ariadna.


"Aku masih bantu Andini. Mau ikutan?" Ariadna menawarkan.


"Aku pulang saja." Daniela tidak mau ikut pusing dengan Andini.


"Aku antar pulang ya, setelah itu aku kembali ke kantor." kata Damian lembut. Daniela mengangguk. Mereka pun pamit. Daniela tau banyak wanita yang melirik Damian sedari awal. Tapi memang Damian tidak tersentuh. Damian tidak perduli pada lirikan para wanita. Ada juga yang berupaya menarik perhatian Damian tapi perhatian Damian hanya pada Daniela. Melihat itu Daniela bertanya-tanya, sosok seperti apa yang mampu menarik perhatian Damian kemarin. Selain itu upaya apa yang di lakukannya hingga Damian mengikuti kemauannya, di nikahi. Karena kesal Daniela memutuskan untuk pulang. Damian mengantar istrinya pulang. Dari wajah Daniela, Damian tau ada yang di pikirkan istrinya.


"Daniela kamu kenapa?" tanya Damian ingin tau.


"Tidak apa-apa." Daniela menjawab sambil menghela napas kesal.


"Kamu kesal pada siapa?" Andai Damian bisa membaca pikiran istrinya. Daniela tidak menjawab. Dia bingung harus berkata apa. Seandainya dia tidak mencintai Damian, tentu dia tidak kesal seperti ini. Lalu kenapa dia yang mencintai Damian, sedangkan Damian tidak cinta padanya.


"Daniela." Damian menghentikan mobilnya. Di belakang pak Sabri yang mengikuti mereka juga ikut berhenti, walau dia tidak tau ada apa.


"Aku cuma kesal saja. Ada beberapa yang tidak bisa aku lakukan." dalih Daniela. Tidak mungkin dia mengatakan pikirannya saat ini.


"Tapi kerjamu bagus hari ini. Mereka sampai mengucapkan terima kasih, itu tandanya kamu sukses." Damian bingung mengapa Daniela tidak puas.


"Mungkin aku yang terlalu banyak berharap ya." Daniela mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya tentang pernikahannya. Tapi Damian tidak tau.


"Sudahlah, lain kali mungkin kau bisa mendapat pencapaian baru." hibur Damian. Daniela hanya mengangguk.


"Kau mau ke tempat lain dulu biar hatimu nyaman?" tanya Damian murah hati.


"Aku pulang saja, kau juga harus ke kantor kan?" Daniela menolak.


"Tidak harus, aku bisa menemanimu ko." Damian mengalah.

__ADS_1


"Aku mau tidur saja." Daniela memilih mengistirahatkan hati dan pikirannya.


"Baiklah kalau begitu." Damian menjalankan lagi mobilnya. Dia mengantarkan Daniela hingga ke kamar tidur mereka. Damian belum lega jika belum memastikan Daniela baik-baik saja. Daniela mandi dan mengenakan baju rumahnya, dia lalu naik ketempat tidur dan langsung terlelap. Damian menghampiri dan mencium kepalanya sekilas. Khawatir Daniela bangun. Segera dia berangkat ke kantor. Di kantor rupanya Robin sudah menunggunya.


"Kenapa kau lama sekali." protes Robin kesal.


"Aku mengantar Daniela pulang dulu. Hari ini dia benar-benar lelah " jelas Damian, wajahnya cerah teringat bazar tadi.


"Bukankah ada si Sabri , supirnya?"Robin heran.


"Hari ini istimewa, aku harus mengantarnya pulang." kata Damian sambil tertawa senang. Dia lalu menunjukan foto di mana Daniela mendapat karangan bunga. Lalu rekaman ketika Daniela bernyanyi. Robin terpana melihatnya.


"Ini Daniela?" tanya Robin tidak percaya.


"Tentu saja, memang siapa lagi." Damian senang melihat Robin yang bereaksi seperti dugaannya.


"Jadi ini bukan bazar biasa rupanya." komentar Robin penuh makna. Damian tertawa. Wajahnya terlihat bahagia.


"Pantas di antar sampai ke rumah. Takut hilang ya mas bro." sindir Robin. Damian tidak keberatan di sindir demikian.


"Ada apa kau datang?" tanya Damian akhirnya.


"Aku mau tanya tentang orang ini, apa kau mengenalnya?" Robin berubah serius, dia menyerahkan sebuah map berisi data seseorang.


"Aku tidak kenal, tapi sepertinya pernah mendengar tentangnya. Ada apa dengan dia?" Damian membaca data tersebut.


"Sepak terjangnya mengetikan. Dia pemain baru di dunia bisnis. Namun keluarganya sudah lama berbisnis. Sangat ambisius. Aku kira kau mengenalnya." kata Robin yang ingin tau.


"Maksudmu dia mewarisi bisnis keluarganya?" Damian jadi penasaran.


"Tepat sekali. Firasatku kurang bagus tentangnya." jelas Robin, itu sebabnya dia memberi tau Damian.


"Nanti akan aku cari tau tentangnya. Thanks infonya." kata Damian yang langsung memanggil Rama. Di perintahkanya Rama untuk menggali informasi tentang orang tersebut.

__ADS_1


"Jika hasilnya buruk, kurasa Tyler juga harus tau." kata Robin lagi. Tyler tidak secerdik Damian.


__ADS_2