
"Kamu samain aku sama dia? Beda dong. Aku tidak pernah main di dua hati. Malah aku tidak pernah melibatkan hati. Apa yang aku lakukan hanya kesenangan belaka. Itu ku tegaskan pada partnerku, kalau mau pakai hati ya itu salahnya sendiri. Aku tidak pernah mengobral janji sehidup semati atau apalah." Tyler membantah, tidak mau di samakan dengan Thareig.
"Tapi kan awalnya begitu, senang-senang buntutnya jadi hubungan." Ariadna meluapkan kekesalan hatinya. Tyler menyadari itu.
"Ar, aku bukan mantanmu. Aku paham kamu sakit hati dan kecewa, tapi aku tidak sama seperti dia. Harusnya jika dia di tekan untuk menikahi wanita durjana itu ya di akhiri sebelum hidupnya berantakan. Toh sudah terbukti pernikahan itu tidak berhasil. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak membuat kita bahagia. Jika dia memang masih mengharapkanmu, dia bisa menunggumu dalam kesendirian. Bukan menempatkanmu menjadi penyebab perceraiannya." Tyler tidak terima di jadikan pelampiasan Ariadna. Dia baru saja akan memulai hubungan dengan gadis itu. Bukan seperti mantannya yang bodoh itu. Ariadna tersenyum kecil, dia merasa perkataan Tyler ada benarnya juga. Memang ada perbedaan antara Thareig dan Tyler jika menyimak perkataan pria di sebelahnya itu. Sedikit. Ariadna masih berkeras hati menganggap Tyler dan Thareig sama, pemain wanita.
"Ayolah Ar, wanita yang kudekati bisa di hitung dengan jari. Sedangkan mantanmu itu sudah beberapa waktu begitu. Lupakan saja dia, sedangkan aku ini masa depan kamu." karena Ariadna diam saja Tyler merasa perlu meyakinkan gadis itu. Ariadna menyimak perkataan Tyler dan tidak membantah. Benarkah bisa di hitung dengan jari? Ariadna tidak yakin.
"Kamu ngapain ada di sana tadi?" tiba-tiba Ariadna berpikir.
"Aku sedang menunggu seseorang." jawab Tyler cepat. Dia memang sedang menunggu Ariadna membuka hati untuknya. Tapi tentu saja tidak terang-terangan dia katakan.
"Loh, kasihan dong orang itu nanti mencari kamu." Ariadna jadi tidak enak, mengganggu aktifitas Tyler.
"Tidak perlu di pikirkan. Sudah kuatasi." jawab Tyler sambil tersenyum. Dia memang sudah memutus upaya Thareig untuk kembali bersama Ariadna. Dua arah pembicaraan yang berbeda tidak di sadari oleh Ariadna. Dia menerima penjelasan Tyler apa adanya.
"Lalu kita mau kemana?" Ariadna ingin tau.
__ADS_1
"Ketempat yang membuatmu senang." jawab Tyler sambil tersenyum manis. Ariadna tidak bertanya lagi. Pikirannya kembali pada pertemuannya dengan Thareig tadi. Walau perkataan Tyler cukup menghiburnya tapi tetap saja hati Ariadna tidak baik-baik saja. Dia membiarkan Tyler membawanya. Ketika tiba Ariadna baru sadar. Dalam bayangannya Tyler akan membawanya ke sebuah taman bunga yang indah atau taman bermain yang bisa membuat hatinya senang. Ternyata Tyler membawanya ke sebuah vila megah. Indah sih, tapi Ariadna jadi berpikir Tyler membuatnya senang dalam tanda kutip. Seharusnya dia tidak percaya pada perkataan pria cap buaya itu. Perkataan Andini untuk jauh-jauh dari Tyler terngiang di kepalanya. Apa boleh buat, sudah terlanjur begini. Cepat juga Tyler membawa mobilnya.
"Ayo turun." ajak Tyler sambil turun dari mobil. Ariadna dengan lemas mengikuti ajakan pria itu. Tyler membantu membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berjalan perlahan memasuki vila. Ariadna sempat melihat alamat vila itu di dinding depan vila. Untuk berjaga-jaga, jika dia butuh bantuan. Tyler membawanya ke sebuah ruang tamu. Ariadna duduk dengan manis sambil mengamati keadaan sekitar. Vila ini memang mewah. Mungkin vila keluarga Tyler. Kembali ke ruang tamu Tyler membawa dua gelas minuman rasa buah.
"Minum dulu." Tyler meletakan gelas di hadapan Ariadna, lalu duduk tidak jauh darinya. Karena Ariadna duduk di sofa tunggal jadi Tyler tidak dapat duduk bersamanya. Ariadna menatap gelas itu dengan was-was.
"Hey tidak ada yang kumasukan ke dalam situ. Aku bukan pemain seperti itu." Tyler seperti bisa membaca kecurigaan Ariadna. Melihat wajah Tyler yang mengatakan kejujuran Ariadna pun menyesap minumannya. Dia merasa lebih segar jadinya.
"Aku membawamu ke sini karena ingin bicara serius denganmu di tempat yang tenang." Tyler menjelaskan. Saking tenangnya sampai mereka bisa melakukan lebih dari pada pembicaraan, pikir Ariadna.
"Sudah berapa gadis yang kamu bawa ke sini?" tanya Ariadna sinis.
"Mengapa kamu menghindariku Ar? Tidak bisakah kita berteman?" tanya Tyler serius. Ariadna menatap Tyler dengan mode serius. Pantas saja wanita banyak yang tergoda pada pria ini. Tampan dengan mata biru yang menghanyutkan. Belum merayu saja sudah mempesona. Andini memperingatkannya bukan tanpa alasan.
"Berteman seperti apa maksudnya?" Ariadna mulai fokus pada kesadarannya.
"Jalan bareng, makan bareng, Bobo bareng' juga boleh." Tyler tidak munafik menjabarkan keinginannya. Ariadna tidak heran mendengar itu.
__ADS_1
"Kita itu jauh di mata....." Ariadna belum sempat meneruskan ucapannya.
"Tapi dekat di hati." potong Tyler cepat, hatinya senang.
"Salah, jauh di mata ya tidak dekat di hati juga dong." perkataan Ariadna membuat Tyler kecewa. Ariadna menegaskan jika mereka tidak dekat. Tiba-tiba masuk pesan di ponsel Ariadna. Ariadna segera melihatnya, ternyata dari Andini yang bertanya apa Ariadna jadi menemuinya. Ariadna baru saja akan menjawabnya tapi dia salah pencet, yang tampil justru aplikasi pemesanan makanan.
"Ar, aku serius bicara denganmu." tegur Tyler sambil menatap tajam.
"Ya?" tanya Ariadna bingung. Tangannya mengetik dengan separuh hati. Melihat mata Tyler yang tajam seperti akan menerkam mangsanya membuat Ariadna bingung. Dengan tidak sabar Tyler bangkit berdiri dan meraih ponsel Ariadna. Di pasangnya mode diam dan di letakan di dekatnya. Tujuannya membawa Ariadna untuk membuat mereka dekat, Ariadna malah sibuk dengan ponselnya. Ariadna pasrah. Ini wilayah Tyler, sepi dan dia tidak mampu melawan pria itu.
"Aku jatuh cinta sama kamu sejak kita bertemu pertama kali. Tapi kamu sepertinya tidak mau ku temui." kata Tyler kesal. Ariadna terpana. Semudah itu Tyler menyatakan cinta. Hatinya belum percaya. Ariadna justru merasa sang buaya tengah beraksi. Tapi di mata Tyler terlihat kesungguhan.
"Kamu lihat sendiri, hati aku bagaimana." jawab Ariadna serasa punya alasan. Pernah di sakiti Ariadna ingin menjaga hatinya.
"Aku mengerti, tapi tolong lupakan dia. Beri kesempatan bagiku untuk dekat denganmu." pinta Tyler tulus. Ariadna mengangguk, ikuti saja dulu alurnya.
"Ar, boleh cium?" tanya Tyler berharap. Cantiknya Ariadna menggugah hatinya.
__ADS_1
"Tidak boleh, nanti lanjut ke yang lainnya." jawab Ariadna tegas.
"Memang itu sih maksudnya." Tyler tersenyum penuh pesona. Ariadna segera memalingkan wajah, dia takut hatinya tergoda.