
Damian merebahkan Daniela di tempat tidur. Membukakan sepatunya dan menyelimuti istrinya. Di kecupnya kening Daniela lama sebelum kemudian dia masuk ke kamar mandi. Damian tidak berniat kembali ke kantor. Dia turun ke ruang makan dengan setelan santainya, menikmati makan siangnya yang sudah terlambat sendirian.
"Ada pak Rama tuan." kata Rindu tiba-tiba bersama Rama di belakangnya. Damian hanya mengangguk.
"Sudah makan Ram?" tanya Damian pada Rama.
"Sudah, tadi makan dulu baru ke sini." jawab Rama sopan.
"Kita ke ruang kerja saja." Damian bangkit akan ke ruang kerja untuk bicara dengan Rama. Rindu kembali ke dapur untuk memberi uang pada pak Sabri.
"Loh pak Sabri mau ke mana?" tanya Danar heran.
"Mau beli bakso pesanan non Daniela." jawab pak Sabri mantap.
"Mau di temani pak?" Danar menawarkan diri.
"Boleh, biar ada temannya." pak Sabri setuju dan berdiri.
"Biar mobilnya saya yang baa pak." Danar merasa sungkan di supiri oleh yang lebih tua. Pak Sabri setuju, mereka berangkat menuju warung bakso.
"Tuan suruh beli bakso buat seisi rumah. Kamu kalau mau dua porsi juga boleh." kata pak Sabri di tengah perjalanan.
"Saya satu porsi saja pak, kan tadi baru makan. Tapi boleh tidak makannya di sana?" Danar sudah tau warung bakso kesukaannya Daniela. Tiba di sana mereka berdua makan sambil menunggu pesanan selesai. Mereka berbincang tentang kejadian yang baru di alami.
Daniela masih tertidur ketika Damian masuk kembali ke kamar. Dilihatnya ponsel Daniela yang menyala. Berarti ada yang menghubunginya. Ponsel itu memang masih dalam mode diam.
"Halo." Damian menjawabnya.
"Dam, Daniela bagaimana kabarnya?" Terdengar suara Ariadna.
__ADS_1
"Dia baik, saat ini sedang tidur." jawab Damian sambil melirik istrinya.
"Aku dengar dia di culik orang." Ariadna ingin tau kebenaran berita yang dia dengar.
"Ya itu perbuatan Revin Ardiansyah." jawab Damian kesal.
"Revin, aku ke sana ya Dam?" Ariadna jadi penasaran.
"Jangan, hari ini biar dia istirahat. Tapi besok kau temani dia. Aku yakin dalam beberapa hari ini Daniela pasti takut untuk keluar rumah. Dia butuh teman." Damian ingin Daniela dapat bersantai dan beristirahat dengan baik hari ini.
"Ok, aku akan datang besok." Ariadna memutus kontak. Damian menaruh kembali ponsel Daniela. Sementara ponselnya sendiri bergetar. Damian keluar dari kamar agar bisa leluasa bicara tanpa mengganggu Daniela. Robin menelponnya.
"Hai Rob, ada apa?" tanya Damian menjawab panggilan itu.
"Aku dengar dari Rama istrimu di culik. Bagaimana keadaannya?" tanya Robin prihatin.
"Perlukah aku ke sana? Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Robin lagi.
"Tidak perlu, nanti saja kita ketemu. Tentu saja aku akan menuntutnya." jawab Damian.
"Baiklah, Tyler juga tadi menghubungimu tapi kau tak menjawabnya." Robin lega sahabatnya cukup tenang.
"Mungkin pada saat aku mandi atau pada saat aku makan. Katakan padanya kami baik-baik saja.Daniela sedang tidur saat ini." Damian menegaskan dia dan Daniela tidak ingin di ganggu.
"Ok, nanti kukatakan padanya. Kami akan mengunjungimu besok." Robin memutus kontak. Baru selesai Damian bicara dengan Robin Rindu menghampirinya.
"Tuan ada tamu di bawah." lapor Rindu pada majikannya.
"Siapa?" tanya Damian tidak suka. Dia sudah mengatakan pada teman-temannya tidak mau di ganggu saat ini.
__ADS_1
"Saya tidak tau tuan. Baru pernah berkunjung ke sini." Rindu mengatakan yang sebenarnya jika dia tidak mengenal sang tamu. Dengan rasa penasaran Damian turun ke bawah dengan diikuti Rindu. Mereka menuju ruang tamu. Damian terkejut melihat Ali Ardiansyah beserta seorang pria tangah duduk di sana. Mungkin pria itu asistennya. Mereka bangkit berdiri melihat Damian datang.
"Selamat sore nak, maaf kami mengganggu waktumu." ujar Ali sambil tersenyum sopan. Damian membalas tersenyum kaku. Sungguh tamunya kali ini di luar dugaan.
"Silahkan duduk om." balas Damian, walau bagaimana Ali adalah seorang pebisnis lama. Seangkatan dengan papanya.
"Terima kasih." Ali dan pria tadi kembali duduk.
"Rindu bawakan minum." ucap Damian pada Rindu.
"Ya tuan." jawab Rindu lalu beranjak ingin masuk ke dalam.
"Tidak perlu repot-repot nak. Kami hanya sebentar." kata Ali cepat.
"Tetap saja harus minum dulu om." Damian berkeras, dia tetap harus menghormati tamunya. Damian memberi isyarat pada Rindu untuk mengambilkan minum.
"Ada angin apa om tiba-tiba berkunjung?" tanya Damian, walau dia sudah menduga ini berkaitan dengan Revin.
"Om datang bersama Budi, asisten om karena ingin minta maaf. Revin putra om sudah berlaku tidak pantas dengan membawa istrimu. Om baru mengetahui jika Revin ternyata memiliki perasaan pada Daniela. Tapi tetap saja itu tidak pantas." kata Ali dengan halus. Damian menatap kagum pada tamunya. Pengusaha besar seperti Ali mau bicara langsung minta maaf sungguh sangat rendah hati. Pada umumnya sang asistenlah yang mengutarakan niat mereka. Tampaknya sang asisten hanya menemani bosnya saja.
"Saya terima om permintaan maafnya, lalu?" Damian yakin pasti akan ada kelanjutannya.
"Om mau minta kebaikan hati kalian untuk tidak menuntut Revin. Dia putra om satu-satunya. Harapan besar keluarga kami." pinta Aku dengan wajah penuh permohonan yang tidak di buat-buat. Damian menghela napas kesal.
"Saya mengerti perasaan om, tapi coba om bayangkan bila upaya Revin terjadi, bagaimana nasib rumah tangga saya? Bagaimana istri saya yang harus terpisah dengan suami dan keluarganya? Hidup dengan orang yang tidak di cintanya dan penuh dengan ketakutan. Sekarang ini Daniela tidak berani keluar rumah. Apa om tidak kasihan?" Tentu saja Aku tidak akan kasihan, pikir Damian. Anak perempuannya saja Metia di abaikan.
"Tentu saja om tau, itu sebabnya om datang dan minta maaf ke sini. Om juga akan minta maaf pada keluarga besarmu." kata Ali dengan sabar. Damian jadi menatap dengan sinis. Tentu saja seorang ayah akan membela putranya. Lalu dengan kata maaf saja semua selesai. Damian kesal. Walau Ali berkata dia mengerti dengan keadaan Daniela, Damian tidak percaya. Pihak pelaku biasanya merasakan hal yang lebih ringan daripada korban. Karena mereka yang melakukan. Padahal sang korban masih harus menata hati dan harinya jauh ke depan.
"Saat ingin kami belum tau om apa yang akan kami lakukan. Saya harus bicara dulu dengan pengacara saya, juga dengan Daniela. Istri saya yang paling berhak memutuskan." Damian tidak suka di desak. Dia terbiasa melakukan apa yang dia mau. Bisnisnya bahkan calon istrinya dia pilih sendiri.
__ADS_1