Menepis Luka

Menepis Luka
Rasa Yang Terbayarkan


__ADS_3

Tyler bisa menduga Damian yang pertama bagi Juwita. Tidak mungkin Damian menyentuh sembarang wanita. Tyler pun menikmati Juwita yang mulai menyambutnya dan ikut bermain. Tyler senang. Belum puas di sofa, mereka pindah ke kamar. Di sana Tyler mulai menambah gaya permainannya. Tampak Juwita sudah terbiasa di perlakukan sepuasnya. Tyler suka itu. Juwita menyukai permainan Tyler, di banding Damian Tyler lebih mahir bermain. Juwita tidak menyesal jatuh dalam rayuan Tyler. Dirinya di buat melayang ke langit ke tujuh. Yang awalnya Tyler hanya mampir, kini Tyler bermalam di apartemen Juwita. Dia belum melepaskan Juwita sebelum benar-benar puas. Untung Tyler membawa beberapa pengaman. Karena setelah dia selesai, dia tergoda untuk melakukannya lagi. Tubuh Juwita memang menggoda. Lalu wanita itu juga kadang menggodanya untuk memanjakannya lagi. Tampaknya wanita itu sudah terseret jauh pada permainan tubuh ini. Sudah menjadi kebutuhan bagi Juwita untuk di sentuh. Dan dia tidak puas hanya permainan biasa saja.


"Kamu nakal ya beb." kata Tyler sambil mengedipkan mata. Tangannya bermain kemana-mana. Tanda cinta sudah bertebaran di tubuh Juwita. Tapi Tyler masih ingin menambahkannya lagi. Dia mencari tempat yang asik untuk di hisapnya. Kegiatannya membuatnya kembali tegang. Tyler mengambil pengaman baru. Dia akan mengalami gelombang asmara lagi.


"Malam ini kamu habis sama aku beb."kata Tyler mulai menyatu. Juwita sudah mabuk kepayang. Kadang dia sudah tiba pada batasnya tapi Tyler terus memacunya dengan kuat hingga dia kewalahan. Setelah Tyler mendapatkannya dia memberi jeda dengan merayu sambil cium-cium kecil, lalu Tyler mulai lagi. Subuh Tyler baru melepaskan Juwita.


"Kamu memang sesuatu beb." Tyler mengecup bibir Juwita sambil mengenakan pakaiannya. Juwita sudah terkapar lemas. Dia tidak tau Tyler meninggalkan apartemennya. Di mobil sebelum menjalankannya, Tyler mentransfer sejumlah uang ke rekening Juwita melalui ponselnya. Dia tau rekening Juwita dari Riana. Anggap saja dia membayar jasa Juwita, sudah membuatnya puas. Tyler pun pulang. Tiba di rumah dia segera mandi dan jatuh pulas di tempat tidurnya. Rasa penasaran akan Juwita sudah terbayar.


Damian tengah sarapan bersama sang istri. Gaun baru Daniela kembali membuat kesan manis bagi Damian pagi ini.


"Damian, Ariadna mengundang kita ke partynya Sabtu nanti." kata Daniela sambil menikmati sarapannya.


"Party apa?" tanya Damian heran.


"Merayakan kepulangannya dari Paris. Sebenarnya lebih tepatnya merayakan kelolosannya. Lolos dari perjodohan di Paris." jelas Daniela dengan geli.


"Ariadna di jodohkan?" Damian tidak begitu dekat dengan Ariadna. Dia tau Ariadna teman dekat Daniela. Sudah setahun lalu Ariadna masuk dalam kandidat calon menantu yang baik. Damian tau karena nama Ariadna ada dalam daftar mamanya.


"Jadi untuk itu dia ke Paris, untuk di jodohkan?" Damian jadi mengerti mengapa Ariadna tiba-tiba ke Paris.


"Aku tidak tau, tapi memang bisnis mamanya sedang maju di sana. Ariadna bilang kau boleh mengajak Robin dan Tyler." Daniela tidak mengatakan manufer party yang Daniela lakukan.

__ADS_1


"Nanti aku bilang pada Robin dan Tyler." Damian senang dia bisa mengajak dua sahabatnya. Dia khawatir yang datang teman-teman Daniela, dia akan bosan.


"Daniela, apa benar mam memanggilmu?" tanya Damian kemudian.


"Benar, kenapa?" Daniela terkejut Damian tau hal itu.


"Apa mam menyudutkanmu?" Damian tau karakter ibunya, Amaira.


"Tidak, mam cuma bertanya." jawab Daniela malas.


"Biar aku bicara pada mam. Aku yang salah kenapa kau yang di sudutkan?" kata Damian tidak suka.


"Jangan, kumohon jangan. Aku tidak apa-apa ko. Tidak ada yang harus di luruskan." kata Daniela cepat, dia tidak mau ada kericuhan.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Damian lagi.


"Bertemu mama. Membahas kegiatan di organisasinya." jawab Daniela lega, karena topik sudah beralih.


"Mau kuantar?" Damian bertanya dengan lembut. Dia melirik ponselnya yang berbunyi. Ada pesan masuk. Damian membacanya. Dia langsung kesal. Pesan dari ayahnya, agar Damian menemuinya.


"Tidak usah, aku pergi sendiri saja." tolak Daniela. Dia tidak terburu-buru.

__ADS_1


"Baiklah, biar pak Sabri mengantarmu. Aku pergi sekarang ya." Damian bangkit, dia harus bertemu ayahnya sebelum berangkat ke kantor. Daniela mengantar Damian hingga ke pintu. Dia lalu kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Damian datang ke kantor ayahnya.


"Pap mencari aku?" tanya Damian. Kantornya dan kantor ayahnya berbeda. Damian sudah membangun perusahaannya sendiri. Walau awalnya dia membantu ayahnya.


"Apa yang kau lakukan Damian? Bermain dengan wanita murahan?" Ramon Pradana berkata dengan dingin.


"Sudah ku lepaskan." kata Damian cepat. Dia malas membahas itu.


"Apa pap pernah mencontohkan itu padamu? Kami memilih calon istrimu dengan hati-hati. Tapi apa yang kau lakukan? Daniela pilihanmu sendiri. Apa kau sekarang menyesal telah memilihnya?" Ramon tidak habis pikir dengan putranya.


"Aku tidak pernah menyesal sampai kapanpun. Daniela tetap istriku." Damian ingin menyatakan rumah tangganya baik-baik saja. Untuk saat ini.


"Pap tau Daniela itu lembut hatinya. Tapi mau taruh di mana wajah kami selaku orangtuamu. Apa yang kau lakukan tidak mencerminkan kau menghargai Daniela. Bagaimana jika dia meninggalkanmu? Apa kau akan membuat wanita murahan itu menggantikannya?" Ramon tidak bisa menahan kemarahannya.


"Pap selama ini aku memperlakukan Daniela dengan sangat baik. Lagi pula Daniela mencintaiku. Aku hanya main-main, tidak mungkin wanita itu menggantikan Daniela. Aku juga masih punya akal sehat. Percayalah pap, aku saat ini sedang mengambil hati Daniela kembali. Aku tidak mau kehilangan dia." Damian berusaha meyakinkan Ramon.


"Pap hanya khawatir, kau akan menyimpan wanita itu diam-diam. Kalau sudah terjerat dengan wanita kadang susah lepas. Bisa saja itu menjadi kebiasaanmu kelak. Ingat Damian, kami tidak ingin punya menantu lain selain Daniela. Karena dia sudah jadi menantu di keluarga Pradana." wajah Ramon mengeras.


"Aku sudah sadar apa yang aku pertaruhkan. Istriku tetap Daniela. Aku akan terus berupaya agar dia tetap di sampingku. Aku tidak akan pernah main-main lagi. Percayalah pap." Damian memohon agar Ramon percaya.


"Kau sudah dewasa Damian dan kami sudah tua. Jangan buat kami khawatir dengan kelakuanmu. Bermain dengan istrimu saja " Ramon mengatakan hal yang sama dengan Robin. Damian mengeluh dalam hati. Dia belum berani menyentuh Daniela. Tapi sampai kapanpun dia tidak akan melepas Daniela.

__ADS_1


"Aku mengerti pap. Biar aku perbaiki semuanya." Damian tau percuma dia berjanji tanpa bukti. Damian pun pamit. Ada banyak pekerjaan di kantornya yang menanti. Damian pun sibuk dengan pekerjaannya.


__ADS_2