
Ternyata hanya Revin saja yang mengagumi Daniela, tidak kebalikannya. Damian malas bicara lagi tentang Revin. Sudah jelas Daniela tidak kenal dekat dengan sosok itu. Selesai makan malam Daniela menuju kamar. Damian mengikuti dari belakang. Dia lupa pekerjaannya yang menunggu di ruang kerjanya. Di kamar Daniela duduk di tempat tidur dan membaca sebuah buku. Menanti kantuk mendatangi dirinya.
"Kamu mau langsung tidur?" tanya Damian heran. Daniela tersadar belum melakukan ritual malamnya Dia lalu beranjak ke kamar mandi. Daniela menggosok gigi dan membersihkan wajahnya. Damian yang mengintip tersenyum senang. Setelah berganti baju Daniela keluar berganti dengan Damian yang masuk ke kamar mandi. Daniela menyetel tv sambil berbaring. Dia malas membaca lagi. Daniela tersenyum-senyum menyaksikan drama komedi. Tidak sadar Damian yang menyusulnya naik ke tempat tidur. Damian meraih remot tv di tangan Daniela dan mematikan tv. Dia kemudian meraih Daniela ke dalam pelukannya. Daniela yang terkejut dengan tindakan Damian menatapnya bingung.
"Ayo nyanyi lagi seperti tadi siang." bisik Damian lembut. Daniela tersenyum malu di ingatkan kejadian tadi siang. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di dada Damian.
"Ayo dong. Buat orang banyak mau nyanyi buat suami malu." bujuk Damian. Dia jadi gemas dengan tingkah Daniela. Tentu saja Daniela menolak. Kalau tadi di panggung dia tidak bisa menolak tapi di sini lain ceritanya. Daniel berkeras menyembunyikan wajahnya, Damian semakin gemas. Karena Daniel tidak mau menurutinya maka Damian menghukumnya dengan serbuan ciuman pada wajah Daniela. Damian merenggangkan tubuhnya agar bisa mencapai wajah Daniela. Akibat serangan yang dia lakukan Damian tidak dapat menahan diri lagi. Dia pun melakukan penyatuan dengan Daniela. Istrinya menerima keinginan suaminya. Daniela sekarang dapat merasakan Damian betul-betul menginginkan dirinya. Dia satu-satunya wanita dalam hidup Damian. Karena gemasnya, Damian kelepasan. Dia tidak melepaskan Daniela hingga dia benar-benar puas. Akibatnya pagi itu ketika Damian terbangun Daniela masih tertidur pulas. Damian tersenyum, di ciumnya pipi Daniela. Dia lalu mandi dan mulai bersiap. Damian turun untuk sarapan sendiri.
"Rindu, nyonya jangan di bangunkan. Buatkan susu hangat setelah dia bangun." titah Damian, dia lalu menikmati sarapannya.
"Baik tuan." jawab Rindu, dia lalu meminta yang lain untuk menyiapkan sarapan untuk di bawa ke kamar Daniela. Selesai dengan sarapannya Damian merasa aneh berangkat tanpa mencium kening Daniela. Dia pun naik kembali ke kamar. Melihat Daniela masih pulas Damian mencium keningnya lembut. Merasa sudah lengkap Damian pun berangkat bekerja. Satu jam kemudian Daniela terbangun dengan rasa malas. Tubuhnya terasa remuk. Sadar dirinya tidak mengenakan apa-apa di balik selimut, Daniela bangkit ke kamar mandi. Dia mandi dan mencuci rambutnya, mencari kesegaran bagi tubuhnya. Selesai mandi Daniela melihat sarapan yang di bawakan Rindu. Daniela tergoda menikmatinya karena lapar. Daniela pun memanggil Rindu yang langsung datang. Rindu membawa susu hangat seperti yang di perintahkan Damian.
"Nyonya, tuan suruh saya buat susu hangat untuk nyonya." kata Rindu pada majikannya. Daniela karena merasa lapar menyambut susu itu dan meminumnya habis.
"Jam berapa tuan berangkat?" Daniela yakin Damian sudah berangkat kerja.
__ADS_1
"Seperti biasanya, setelah tuan sarapan. Mari saya keringkan rambut nyonya." Rindu mengambil alat pengering rambut. Dia mulai mengeringkan rambut Daniela yang mulai menghabiskan sarapannya. Hari ini Daniela malas keluar rumah.
Damian menemui ayah Tyler seperti yang di janjikan temannya itu. Tyler tidak membuang waktu memenuhi janjinya. Dann Franco bersedia bertemu Damian, dia suka pada pria muda itu.
"Selamat pagi om. Apa kabar?" sapa Damian pada ayah Tyler.
"Hai selamat pagi, mari duduk. Sudah lama kita tidak bertemu." Dann Franco, pria bule itu tertawa menyambut Damian. Dengan sedikit malu Damian duduk, menyadari dia menemui Dann karena punya keinginan.
"Tyler bilang ada yang mau kamu sampaikan Damian, apa itu penting?" tanya Dann penuh perhatian. Damian merutuki Tyler dalam hatinya karena tidak langsung berterus terang pada ayahnya.
"Benar om, ada yang ingin Damian tanyakan. Apa om mau menjalin kerja sama? Damian dengar om punya projek baru." Damian merendahkan diri, demi projek besar. Dann Franco tertawa lebar.
"Jadi menurut om Damian bisa ikut?" Damian mencoba peruntungannya.
"Tentu saja, om senang bisa bekerja bersamamu. Buat saja proposal ya." Damian hampir tidak percaya, semudah itu Dann percaya padanya.
__ADS_1
"Apa tidak ada yang mengajukan?" tanya Damian penasaran, dia bisa langsung masuk.
"Tentu saja ada, dari Ardiansyah sudah berkali-kali ingin membuat janji. Tapi, ya untuk orang seusia saya lebih suka berhati-hati. Saya tidak seberani seperti kalian yang muda-muda." kata Dann jujur. Damian terpana, rupanya Revin sudah mencoba mengajukan kerja sama.
"Apa pertimbangan om menolak mereka?" tanya Damian, sudah jelas kan Dann menolak.
"Orang tua seperti saya tidak seperti kalian yang berani bertindak. Mungkin ada ketentuan-ketentuan yang di anggap kuno." Dann menyiratkan keberanian pihak lawan yang tidak dapat di terimanya.
"Lalu bagaimana dengan saya om?" Damian tidak mau di anggap tua. Dann tertawa lepas lagi.
"Saya sudah tau kamu sejak kecil. Saya tau cara kamu berbisnis. Kenapa tidak sejak dulu kita kerja sama? Tapi saya senang kamu mau bantu Tyler Damian." Dann menepuk bahu Damian.
"Tyler teman saya om." Damian tersipu di puji demikian.
"Bagaimana kabar istrimu? cantik ya dia. Kamu tau Damian, saya dulu pernah suka sama mamanya loh." kata Dann terus terang. Mata Damian membulat. Dann pernah suka pada Arabela.
__ADS_1
"Masak sih om? kabar Daniela baik." Damian jadi ingin tau. Dann tersenyum.
"Arabela cantik dan lembut, sayang dia tidak suka pada saya. Semoga nanti Tyler bisa mendapat istri seperti Daniela." harapan Dann untuk putranya. Damian tersenyum, entah Dann tau atau tidak sepak terjang putranya. Tapi jika Tyler bisa mendapatkan Ariadna, Dann pasti tidak akan kecewa. Setelah berbincang mereka pun berpisah. Damian meninggalkan cafe tempat pertemuan. Pikirannya di penuhi tentang Revin. Dann sebagai pengusaha yang berpengalaman menolak Ardiansyah Group karena tidak nyaman pada Revin. Lalu bagaimana dengan M.Pro? Damian jadi penasaran. Di arahkan ya mobilnya ke kantor M.Pro. Siapa pun yang ada di sana entah Danilo atau Ardan Damian harus bertemu. Tiba di kantor M.Pro Damian segera memasuki kantor tersebut. Para staf di sana sudah tau Damian. Tanpa membuang waktu Damian menuju ruang kerja Ardan, papa mertuanya.