Menepis Luka

Menepis Luka
Perasaan Hati


__ADS_3

"Apa dia menghubungimu? Janji kencan mungkin?" Andini yakin Tyler tidak akan diam saja.


"Belum sih, tapi aku harap jangan." Ariadna malas jika harus membalas pesan Tyler. Tapi dia janji untuk membalasnya. Hal itu akan membuka komunikasi mereka berdua. Baru di bicarakan ternyata masuk pesan di ponsel Ariadna dari Tyler.


"Sedang apa cantik?" pesannya. Ariadna bimbang.


"Kenapa, pesan dari siapa?" Andini bertanya ingin tau.


"Tyler, balas tidak ya?" jawab Ariadna bingung.


"Jawab saja, ingin tau apa yang mau dikatakan Tyler." Daniela yang membuat keputusan. Andini juga setuju. Mereka berdua pun jadi mengamati perpesanan antara Ariadna dan Tyler. Apa lagi rujak pesanan Daniela datang, semakin sibuk jadinya.


"Aku sedang kumpul dengan sahabatku." Ariadna menjawab demikian agar Tyler tidak mengganggu lagi.


"Berarti kamu sedang di luar rumah dong. Mau aku jemput?" Tyler merasa ini kesempatan. bisa bertemu Ariadna lagi. Mumpung gadis itu di luar rumah.


"Tidak perlu, aku pulang dengan Daniela." Ariadna menolak. Tidak ada balasan dari Tyler. Apa pria itu tersinggung? Ariadna bertanya-tanya di dalam hati.


"Kamu sedang apa?" Ariadna bertanya iseng. Ingin tau apa Tyler tersinggung.


"Di kantor, kerja. Demi calon istri." balas Tyler cepat. Daniela dan Andini tersenyum. Tyler pantang menyerah.


"Siapa calon istrimu?" Ariadna keki.


"Kamulah. Aku kan ngobrolnya sama kamu. Cuma kamu yang ada di hati aku." Tyler menjawab semakin seru. Ariadna menatap dua sahabatnya.


"Ini serius apa gombal?" Ariadna ragu. Dua sahabatnya menggeleng tidak tau. Ariadna jadi bingung, tidak tau harus membalas apa.


"Dia menghubungimu?" Tyler mengirim pesan lagi. Ariadna tau yang di maksud Tyler adalah Thareig.


"Tidak." jawab Ariadna singkat.


"Baguslah. Jangan di tanggapi jika dia menghubungimu." Tyler kembali mengingatkan.


"Tidak perlu kau katakan." jawab Ariadna kesal. Tyler tertawa membacanya. Dia membayangkan jika Ariadna ada di hadapannya gadis itu pasti mengatakannya dengan ketus.

__ADS_1


"Cuma aku masa depanmu." Tyler dengan yakin mengirim pesan itu. Ariadna membalasnya.


"Kamu kumpul di mana?" tanya Tyler lagi.


"Di rumah orangtua Daniela, om Ardan." setelah membalas itu Ariadna menyimpan ponselnya, lalu ikut serta lomba makan rujak bersama dua sahabatnya.


"Sedang ada pesta rupanya." tiba-tiba Arabela datang dan menyapa.


"Mama." Daniela tersenyum melihat kedatangan mamanya.


"Iya Tante, kami sedang merayakan sesuatu." Ariadna menjawab lalu menyenggol Daniela untuk menyampaikan kabar baik pada Arabela.


"Merayakan sesuatu, apa itu?"Arabela jadi ingin tau.


"Kata dokter aku sedang di awal kehamilan ma. Tapi untuk pastinya sebulan lagi kami akan periksa. Biar lebih mantap." kata Daniela senang.


"Astaga, kamu hamil sayang?" Arabela menghampiri putrinya dan memeluknya hangat.


"Loh, dari tadi kalian tidak bilang aku." Andini protes merasa di abaikan.


"Bakso sama rujak ini Hafil ngidamnya D." jelas Ariadna.


"Nanti mama kasih tau papa. Pasti papa senang." Arabela beranjak hendak menghubungi Ardan.


"Ma biar saja papa tau jika pulang." pinta Daniela. Tidak ingin terlalu heboh, karena masih terlalu dini.


"Tapi nanti papa marah loh, tidak di beri tau." Arabela mengingatkan. Sebenarnya dia sudah tidak sabar memberitahu suaminya.


"Terserah mama deh." Daniela mengalah. Arabela segera masuk untuk melaksanakan keinginannya.


"Pindah yuk kedalam. Sudah mulai panas di sini." Daniela mengajak dua sahabatnya untuk masuk. Dua A itu setuju dan mengikuti Daniela masuk ke dalam rumah. Mereka kumpul di ruang keluarga. Daniela menyalakan TV agar suasana lebih meriah. Tengah duduk sambil mengobrol tampak kekasih Andini di layar TV.


"An, itu pacarmu ya." tanya Daniela.


"Iya, dia lagi syuting sinetron. Belum tayang sih." jawab Andini tenang. Dia sudah terbuka pada dua sahabatnya tentang Mike.

__ADS_1


"Lawan mainnya siapa ?" tanya Ariadna ingin tau.


"Artis pendatang baru, di pasangkan dengan Mike agar namanya naik. Mike kan sudah cukup di kenal dan sinetron serta filmnya laris." jelas Andini. Tidak ada nada cemburu dalam suaranya. Dia paham dunia kerja kekasihnya.


"Jujur aku tidak sanggup punya pacar atau suami aktor. Aku tidak suka dia di pegang-pegang wanita lain." ujar Daniela.


"Aku juga tidak suka, makanya aku hati-hati terhadap Tyler." Ariadna menimpali.


"Awalnya aku begitu, tapi karena cinta dan itu hanya pekerjaannya aku mulai mengerti. Terus terang aku jarang mengikuti sinetron atau film Mike. Selain tidak punya waktu aku juga berusaha menjaga hati." tutur Andini jujur.


"Tapi banyak juga wanita yang bangga punya kekasih atau suami aktor terkenal." Daniela menuturkan fakta.


"Kalau boleh memilih aku lebih suka seperti Damian, pengusaha sukses. Mama pasti senang. Tapi hati kan tidak bisa di paksakan " kata Andini lesu.


"Keluargamu tidak suka dengan Mike ya." Ariadna ikut prihatin.


"Mereka tidak tau aku jadian dengan Mike. Mama taunya aku pernah jalan sama Mike. Itu saja mama sudah marah besar. Bagaimana kalau tau aku jadian." Andini menekuk wajahnya kesal.


"Asal kamu kuat saja. Aku juga kalau tidak cinta pasti minta pisah sama Damian. Terus terang aku tidak tau apa Damian bisa terus setia sama aku. Yang aku lakukan sekarang adalah berusaha menjadi istri yang baik dan menyambut upaya Damian untuk memperbaiki rumah tangga kami " Daniela mengungkapkan rumah tangganya juga memiliki tantangan. Ariadna menyimak dan menyimpan perkataan dua sahabatnya di dalam hati. Suatu saat dia juga harus memilih pasangan. Atau di pilihkan pasangan?


"Sayang, bik Tum bikin biji salak. Mau ya?" Arabela tiba-tiba datang bersama pelayan yang membawa beberapa mangkuk biji salak.


"Mau mah, kebetulan bik Rim bikin biji salak." Daniela sangat suka dengan penganan buatan pelayan kesayangan di rumah mamanya. Apa pun itu. Mungkin karena sudah terbiasa sedari dulu.


"Sudah lama tidak makan biji salak. Adik juga nih." Ariadna menyambut senang. Mading-masing mengambil mangkuk biji salak yang di letakan di meja. Mereka pun adik menikmati makanan itu.


"Halo, ada kabar gembira ya." Ardan datang bersama Danilo. Wajahnya cerah menghampiri istrinya.


"Papa cepat pulangnya " Arabela menyambut suaminya.


"Iya tadi mama telpon kami sudah di jalan akan pulang." Ardan mencium kening istrinya lalu menghampiri Daniela. Di peluknya sejenak putrinya lalu duduk di sebelah kiri Daniela. Danilo yang tidak bersuara langsung duduk di sebelah kanan sepupunya itu. Di rebutnya mangkuk biji salak Daniela.


"Jangan banyak makan, nanti bayinya gendut susah keluar." Danilo segera menyantap hasil jarahannya tadi.


"Dani, tidak sopan. Lagipula kamu bau matahari." keluh Daniela kesal.

__ADS_1


"Kami habis meninjau proyek tadi. Jelas bau matahari. Di luar panas." Danilo membela diri.


"Proyek siapa? proyekmu atau proyek papa?" tantang Daniela.


__ADS_2