Menepis Luka

Menepis Luka
Juwita


__ADS_3

"Aku sama kaya kamu, terima nasib di jodohin." tambahnya.


"Kamu beruntung Ar. Tidak cepat-cepat menikah." Daniela kembali sedih.


"Jangan di pikirkan terlalu dalam say. Masih banyak wanita yang tidak seberuntung kamu. Semua tergantung kamu, mau di jalani ya silahkan tidak juga wajar ko. Memaafkan bisa tapi melupakan susah. Tapi kalau kamu sabar D, nantinya kamu mungkin ingat tapi tanpa rasa sakit seperti saat ini." Ariadna memberi semangat.


"Jadi kamu juga kalau ingat dia tidak sakit hati lagi?" Daniela memancing. Ariadna tersenyum.


"Iya benar. Jujur dulu aku sampai tidak mau injak Singapure lagi karena itu. Jadi selesai kuliah aku langsung cabut, terus kerja. Tapi udah ya D, jangan di bahas lagi. Males tau." Ariadna menampilkan wajah juteknya. Daniela senang hari ini bisa bicara banyak pada sahabatnya. Kepulangan Ariadna ke Indonesia sudah dia tunggu. Dari semua teman-teman Daniela Ariadnalah yang paling dekat dan mengerti dirinya. Daniela setuju dengan saran Ariadna, bersabar menjalani proses. Melihat apakah Damian membuktikan kata-katanya. Tapi hari itu dimulainya hari pemberontakan Daniela. Setelah mengantar Ariadna pulang, Daniela pun menuju rumah. Dia tidak keluar kamar hingga waktu makan malam tiba. Damian belum pulang seperti janjinya. Daniela pun mulai curiga. Daniela malas makan malam sendirian. Dengan suasana hati yang seperti itu rasanya dia tidak lapar. Daniela dengan gelisah menanti kepulangan Damian. Hingga seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


"Nyonya tuan baru pulang. Nyonya mau makan malam sekarang?" tanya Rindu pelayan senior di rumah itu.


"Tuan di mana sekarang?" tanya Daniela heran.


"Di ruang kerja nyonya." jawab Rindu.


"Ya sudah nanti saya ke ruang makan." jawaban Daniela membuat Rindu beranjak pergi. Daniela keluar kamar menuju ruang kerja Damian. Pintunya tidak di tutup. Tampak Damian menata setumpuk berkas di mejanya.


"Ini cuma separuh. Separuhnya lagi Rama yang bawa." jawab Damian lesu. Jadi dia benar-benar sibuk, pikir Daniela.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Daniela bertanya lagi. Damian menggelengkan kepala.


"Belum sempat." jawab Damian.


"Aku ambilkan ya, kau makan di sini." usul Daniela. Damian menatapnya sambil tersenyum dan mengangguk. Dia senang Daniela perhatian. Sebenarnya Daniela selalu perhatian. Hanya saja pada keadaan ini Daniela perhatian membuat hati Damian hangat. Daniela pun ke ruang makan. Di siapkannya makan malam untuk suaminya. Perlahan Daniela membawa nampan berisi makan malam Damian. Dia masuk kembali ke ruang kerja suaminya. Tapi di sana Daniela malah melihat Damian yang tertidur di sofa dengan pulasnya. Daniela pun menaruh nampan di atas meja. Dia lalu menghampiri Damian, di pandangnya wajah Damian yang jelas terlihat lelah. Jadi kamu memang sibuk bekerja hari ini, pikir Daniela. Hatinya bimbang, membangunkan atau membiarkan Damian. Dengan hati-hati Daniela membuka ikatan dasi Damian. Niatnya hanya ingin membuka diam-diam malah membuat Damian terbangun.


"Aku ketiduran ya. Padahal cuma mau nungguin kamu " Damian tersenyum, perlahan dia duduk dan melihat hidangan yang sudah di bawa istrinya. Diraihnya nampan itu dan mulai menikmati makan malamnya yang terlambat.


"Kamu sendiri sudah makan?" tanya Damian pada Daniela yang diam memperhatikannya. Daniela segera mengangguk cepat, dia tidak mau Damian jadi repot mengurus dirinya. Daniela yakin, Damian akan membagi makanannya untuknya. Dengan cepat Damian menghabiskan makanannya. Daniela menyodorkan air minum, lalu membereskan piring makan Damian.

__ADS_1


"Terima kasih ya. Aku kerja sebentar. Kamu istirahat duluan." kata Damian sambil berdiri dan menuju meja kerjanya. Tanpa berkata Daniela membawa nampan keluar. Dia letakan di meja makan biar pelayan yang membereskan. Daniela sudah tidak berselera makan, dia putuskan untuk ke kamar. Dia naik ke tempat tidur dan membaca. Tapi akhirnya Daniela mengalah pada rasa kantuknya. Dia pun tidur. Sudah lewat tengah malam ketika Damian masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Daniela sudah pulas. Damian tersenyum, dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh diri. Setelah selesai dia segera naik ke tempat tidur. Di raihnya Daniela masuk dalam pelukannya. Tidur sambil memeluk Daniela ternyata menyenangkan juga. Selain hangat dan wangi, wajah cantiknya tidak bosan untuk di pandang. Damian pun tidur membawa Daniela dalam mimpinya.


Juwita marah dan kecewa. Tanpa salah dia tiba-tiba di ceraikan. Dia pun berusaha menemui Damian. Kalau dulu dia dengan mudah bisa tampil di depan pria itu, sekarang tampaknya sulit. Tapi kalau memikirkan dimana dua bulan ini hidupnya menyenangkan, Juwita mencari akal. Dia ingin mendapatkan Damian kembali. Apa yang akan dia katakan pada teman-temannya kalau mereka tau dia telah di ceraikan Damian. Awalnya Juwita hanya pekerja kantoran biasa. Otaknya yang tidak pintar tidak membuat karirnya maju. Dia bertemu Damian ketika perusahaan tempatnya bekerja menjalin kerja sama dengan perusahaan Damian. Juwita di minta membantu Sari, sekretaris bosnya dalam pertemuan. Tampilannya yang cantik, tentu saja dia yang di pilih membantu Sari. Padahal dia cuma di suruh-suruh. Dari situ rasa kagum Juwita pada Damian timbul. Ada keinginan kuat dalam dirinya untuk dekat dengan pria tampan itu. Juwita pun mencari cara agar bisa bertemu dengan Damian. Dia mencari tau tempat-tempat di mana Damian muncul, dia pun muncul di sana. Atau dia sengaja menabrak Damian di kantornya dan pura-pura akan bertemu kenalannya di kantor itu. Padahal dia tidak punya kenalan di sana. Damian bukan tidak tau Juwita berusaha menarik perhatiannya. Dia diam saja, ingin melihat sampai di mana ulah Juwita. Walau dari kalangan biasa Juwita tidak kampungan. Tampilannya manis menggoda, tidak dengan busana yang seksi atau buka-bukaan. Itu sebabnya Damian membiarkannya. Hingga saat Damian tiba di titik jenuhnya, Juwita datang minta tumpangan. Berada berdua Damian di dalam mobil, Juwita tidak mau turun. Juwita juga tidak mau bilang di mana tempat tinggalnya. Akhirnya Damian membawanya ke hotelnya. Di sana Damian menguji Juwita apakah mau di sentuh. Juwita pun pasrah pada pria pujaan hatinya. Dari situ Damian tau kalau Juwita masih perawan. Juwita pun minta di nikahi karena Damian telah mengambil mahkotanya. Damian setuju, tapi Juwita harus mengikuti aturannya. Damian menyewakan apartemen dan membelikan mobil, tapi Juwita harus siap melayani Damian kapanpun Damian butuh. Tidak ada obrolan mesra di telpon atau jalan-jalan ke luar negeri sambil shoping sepuasnya seperti umumnya selingkuhan. Juwita cukup di penuhi kebutuhannya. Jika Damian menginginkannya, Damian akan menyuruh Juwita untuk datang ke hotel.


__ADS_2