
"Kita cari tempat di mana ya?" tanya Daniela sambil menunggu pak Sobri kembali.
"Iya ya, kita mau kemana habis ini?" Ariadna juga bingung. Daniela iseng menghubungi Damian.
"Dam aku harus cari tempat untuk bazar dan peragaan busana. Tapi aku tidak tau harus kemana." kata Daniela ketika Damian menjawab panggilannya.
"Tempat?" Damian berpikir sebentar. Dia mencerna apa yang Daniela katakan tadi.
"Kamu di mana?" tanya Damian ingin tau.
"Aku baru keluar dari rumah mama." jawab Daniela sambil memberi isyarat pada Ariadna untuk diam. Damian bisa marah kalau tau dia jajan di pinggir jalan.
"Kamu sama siapa? Kalau sendiri kamu ke sini saja dulu." kata Damian lagi. Dia ingin Daniela mendatangi kantornya.
"Aku sama Ariadna." jawab Daniela cepat.
"Kalau begitu kamu tunggu di cafe sama Ariadna, nanti aku kasih kabar." Damian lega mengetahui Daniela bersama Ariadna. Dia khawatir jika Daniela sendiri.
"Ya sudah aku tunggu kabar ya." Daniela langsung menutup panggilan.
"Buset dah. Tanya sama Damian, kurang kerjaan kali si Damian di kantornya." Ariadna menyindir Daniela.
"Biar saja. Dia bilang kita tunggu saja di cafe nanti di kabarin. Enak kan." jawab Daniela sambil tertawa.
"Bosen ke cafe, makan bakso boleh tidak?" Ariadna rindu jajanan Indonesia.
"Boleh, kita beli bakso deh. Pak Sobri kita makan bakso ya." kata Daniela pada pak Sobri yang baru masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Si non mah terbalik. Harusnya bakso dulu baru es cendol." protes pak Sobri sambil menjalankan mobil.
"Sudah terlanjur pak. Apa boleh buat. Ada yang ngidam bakso." jawab Daniela. Pak Sobri tersenyum, dia nurut saja yang majikannya mau.
"Kita makan siangnya bakso nih." Ariadna sudah tidak sabar.
"Kalau pak Sobri tidak kenyang, nanti di rumah makan lagi minta sama Rindu." Daniela kasihan pada supirnya.
"Kenyang non. Bapak makannya tidak banyak. Nanti liat non Ariadna makan bakso bapak langsung kenyang." pak Sobri meledek Ariadna. Sudah biasa mengantar Daniela dan Ariadna makan bakso dia hafal kebiasaan mereka. Ariadna sangat suka bakso. Porsinya beda dari biasa. Belum sambalnya.
"Maklum pak, udah enam bulan tidak ketemu bakso." Ariadna berdalih.
"Paham non." pak Sobri tidak mau memperpanjang. Mereka menuju kedai bakso. Di kantor Damian segera memanggil Rama.
"Ram, Carikan Daniela tempat untuk bazar dan fashion show. Tempatnya yang tertutup, pakai AC agar nyaman dan sejuk. Lagi pula tidak ada kendala jika hujan." titah Damian.
"Hitung saja untuk seribu orang, agar mereka leluasa mengatur tempatnya." jawab Damian. Matanya tidak lepas dari berkas di depannya.
"Ok saya Carikan." kata Rama beranjak pergi.
"Cepat ya Daniela menunggu kabar." Damian menambahkan. Rama pun bergegas. Dia paham kalau untuk nyonya Ratu harus di dahulukan. Daniela masih di kedai bakso. Pak Sobri menggelengkan kepala melihat mangkuk bakso Ariadna. Pemiliknya sedang kerepotan dan sibuk dengan pedas baksonya.
"Nanti sakit perut non." pak Sobri mengingatkan. Dia segera menyiapkan minuman dingin untuk Ariadna. Sementara Daniela menerima pesan dari Damian di ponselnya. Damian mengirimkan nama dan alamat gedung yang dapat mereka sewa. Tidak lupa biaya dan fasilitas yang di dapat. Di bawahnya Damian berpesan untuk jangan pulang terlambat. Daniela tersenyum.
"Dapat nih. Alamatnya. Kita mampir lihat ya." Daniela berkata sambil mengeluarkan uang.
"Pak Sobri bayar sekalian bungkus buat ibu di rumah." Daniela menyodorkan uang pada pak Sobri.
__ADS_1
"Non, bener tidak mau tambah nih. Stok sambelnya masih banyak tuh." pak Sobri menggoda Ariadna.
"Pak Sobri mau anter aku ke UGD?" tanya Ariadna kesal. Dia sudah repot dengan pedasnya. Minum dingin pun tidak membantu. Pak Sobri tertawa. Dia pun tidak mengganggu Ariadna lagi. Setelah selesai jajan bakso mereka menuju alamat yang di berikan Damian. Untung letaknya tidak jauh. Mereka segera tiba. Sambil melihat-lihat Ariadna mengambil foto dengan ijin dari pengelola gedung. Gambar itu akan dikirim kepada Arabela. Puas melihat-lihat mereka pun melaporkannya pada Arabela. Daniela memutuskan untuk pulang. Damian sudah berpesan untuk tidak pulang terlambat.
"Aku antar kamu pulang dulu ya Ar." ucap Daniela pada Ariadna.
"Iya deh, aku mau istirahat di rumah." Ariadna cukup lelah hari ini. Mungkin karena udara panas. Tinggal di Paris selama enam bulan cukup membuat kulitnya sejuk. Daniela segera mandi ketika tiba di rumah. Bukan hanya Ariadna saja yang kepanasan. Daniela selesai mandi ketika Damian tiba di rumah.
"Bagaimana tempatnya, cocok?" tanya Damian sambil membuka dasinya.
"Mama setuju. Mungkin besok di bereskan urusannya." jawab Daniela puas. Hasil kerjanya tidak percuma.
"Syukurlah jika begitu." Damian masuk ke dalam kamar mandi. Sejak bertekad mengambil hati Daniela, Damian memilih membawa pekerjaannya ke rumah di banding harus lembur di kantor. Daniela menyiapkan baju Damian lalu dia keluar kamar untuk bertemu Rindu. Dia harus tau keadaan rumah. Damian selesai mandi segera mengurung diri di ruang kerjanya. Mereka bertemu lagi pada saat makan malam di ruang makan.
"Kapan acaranya akan di laksanakan?" tanya Damian ingin tau.
"Rencananya satu bulan lagi, tapi jika semua lancar mungkin akan di percepat." Daniela menjawab sambil mengingat-ingat siapa saja yang perlu dia undang.
"Kau mau hadir ? Tidak perlu lihat fashion show ya kau pasti bosan." Daniela menawarkan. Suaminya cukup populer, bisa menarik banyak orang untuk datang ke acaranya.
"Katakan saja tanggal pastinya pada Rama." Damian merasa dia harus mendukung Daniela.
"Nanti ku beritahu." janji Daniela. Mereka kembali makan dalam diam. Daniela sibuk dengan pikirannya tentang acara amalnya. Sedang Damian melirik Daniela dengan gelisah. Ada sesuatu dalam dirinya yang menuntut pemuasan. Apa lagi melihat Daniela yang semakin manis. Tidak salah kan berhasrat pada istri sendiri. Masalahnya adalah, apakah Daniela bersedia di cumbu olehnya? Damian jadi merasa pusing.
"Daniela, aku ke ruang kerja sebentar ya." pamit Damian setelah makan. Dia harus menjauhkan matanya dari sosok cantik itu.
"Ok, aku mau ke kamar." balas Daniela. Mendengar Daniela akan ke kamar, pikiran Damian semakin gelisah. Di ruang kerja dia berusaha keras untuk fokus pada pekerjaannya. Tapi kadang kemolekan tubuh istrinya terbayang dalam otaknya. Damian pun frustasi, hanya sedikit yang bisa dia lakukan. Dengan kesal dia keluar menuju kamar. Damian ingin melihat apakah Daniela sudah tidur. Di kamar Daniela sudah terbaring di tempat tidur. Matanya sudah terpejam. Ada buku catatan dan pulpen tergeletak di atas tubuhnya. Rupanya Daniela tengah mencatat para undangan. Damian tersenyum, perlahan diambilnya benda-benda itu dan di taruhnya di atas nakas.
__ADS_1