
Tampak seorang wanita memasuki restoran. Wanita itu cantik dan penampilannya "mahal". Robin mengetahui wanita itu seorang sosialita yang cukup di kenal. Wanita itu melirik ke arah mereka dan tertegun, kemudian melangkah pergi ke satu meja dan duduk manis. Matanya terus melirik ke arah mereka. Entah siapa yang di incarnya. Robin merasa Damianlah yang di lirik wanita itu. Damian menatap ponselnya. Dia mendapat pesan dari Pak Sabri jika Daniela sudah di rumah. Membaca itu Damian jadi tersenyum. Entah sejak kapan Damian jadi memantau keberadaan istrinya.
"Ada apa?" tanya Robin penasaran.
"Tau istri sudah di rumah rasanya lega." jawab Damian. Belum sempat bicara lebih lanjut mereka terhenti karena masuknya dua orang ke dalam restoran dan mereka kenal sosok itu, Juwita. Dia datang bersama bosnya. Pasangan itu juga melihat Damian dan Robin. Sang pria segera merangkul Juwita sambil berjalan melewati mereka. Dia memberi kesan Juwita sekarang miliknya. Hal itu membuat Damian dan Robin saling berpandangan. Damian tersenyum sinis.
"Sebenarnya aku kasihan padanya. Tapi jika aku lakukan sesuatu itu akan merusak kepercayaan Daniela. Lagipula rasa kasihan itu bisa jadi awal bencana. Karena apa pun bentuknya itu akan di sebut perhatian. Daniela pasti akan sakit hati , suaminya memperhatikan wanita lain. Apalagi itu adalah dia." Damian tidak mau menyebut nama Juwita.
"Memangnya kenapa dengan dia?" Robin jadi penasaran.
"Dari tatapannya saja kita tau, dia jatuh pada orang yang salah. Sebenarnya dia hanya kurang kasih sayang. Selama bersama denganku dia tidak macam-macam dan menuntut sesuatu." jelas Damian. Juwita cukup tau diri, dia hanya jadi pelampiasan Damian di kala penat. Juwita tidak pernah membuka mulutnya jika dia dinikahi Damian. Dia hanya membanggakan pada teman-temannya jika dia punya suami yang kaya dan perhatian padanya. Nama Damian tidak pernah lolos dari bibirnya.
"Bukannya belakangan dia mengincar Tyler?" tanya Robin.
"Mungkin permainan Tyler lebih baik dariku." jawab Damian bergurau. Mereka berdua tertawa. Damian tidak tau jika Juwita sudah paham jika dia tidak akan pernah bisa berada di sisi Damian lagi. Juwita mengerti Damian lebih memilih Daniela di banding dirinya. Sedangkan Tyler lebih mudah di goda dan masih seorang diri. Tapi Tyler juga sudah memberi kepastian jika dia tidak berminat lagi pada Juwita.
"Sudahlah, aku akan kembali ke kantor." Damian bangkit berdiri tanpa menoleh lagi pada Juwita. Robin masih terdiam sesaat memikirkan perkataan Damian, lalu dia pun beranjak pergi. Juwita tentu saja kecewa, Damian pergi begitu saja. Tapi dia tau jika dia bukan siapa-siapa bagi Damian.
__ADS_1
"Daniela, ayo tidur." Damian yang berbaring di tempat tidur menepuk-nepuk sisi di sebelahnya agar Daniela berbaring. Dia ingin memeluk tubuh istrinya. Ada kehangatan yang dia rasakan ketika memeluk Daniela dalam tidurnya.
"Tunggu sebentar." Daniela yang sibuk chat dengan Andini mengakhiri kegiatannya. Tapi dari wajahnya terlihat ada yang belum selesai.
"Kamu mikir apa sih?" tanya Damian sambil meraih tubuh Daniela.
"Tyler." jawab Daniela singkat.
"Kamu memikirkan pria lain di atas tempat tidurku? Tepatnya di atas tempat tidur suamimu." Damian protes sambil menarik hidung Daniela.
"Apa yang membuatmu bingung?" Damian jadi penasaran. Daniela jadi menceritakan tentang perpesanan Tyler dan Ariadna.
"Dia bilang dia kerja untuk calon istri dan itu Ariadna. Menurutmu Tyler serius atau gombal?" tanya Daniela ingin tau.
"Selama ini jika merayu wanita Tyler tidak pernah menyinggung itu. Gayanya tidak seperti itu. Kalau sekarang dia mengatakannya pada Ariadna berarti dia serius. Bisa juga dia serius ya." Damian jadi sadar dan paham, Tyler serius pada Ariadna.
"Benar dia serius?" Daniela setengah percaya.
__ADS_1
"Bagus dong kalau Tyler serius dengan Ariadna. Temanmu jadi satu-satunya wanita yang mengubah dunia Tyler. Hanya itu kan, tidak ada lagi? Jangan bilang kamu juga terlena pada pesona Tyler." Damian yang penasaran sekarang.
"Tidak mungkin. Kalau boleh memilih aku pilih Robin." jawab Daniela jujur. Hal itu malah menyulut emosi Damian.
"Daniela beraninya kamu memikirkan pria lain. Dengar ya, aku akan menyerahkan semua yang kumiliki dengan syarat kamu tetap setia kepadaku. Termasuk jika aku harus meninggalkanmu lebih dulu." Damian berkata tegas.
"Jadi aku tidak boleh menikah lagi. Tapi aku bisa minta dari papa." dengan kata lain Daniela tidak mau setia menjanda.
"Wah, berarti aku harus mengalihkan semua asetmu menjadi atas namaku." Damian berkata licik.
"Berarti aku butuh Robin." Daniela tidak mau kalah.
"Daniela !!!" Damian mencium istrinya membabi buta. Beraninya sang istri menantangnya.
"Dengar ya, cukup aku saja yang bermain di luar. Tapi aku sudah tidak melakukan itu lagi. Di hidupku sekarang hanya ada kamu. Aku juga ingin kamu begitu. Di hidupmu hanya ada aku." Damian berkata lembut lalu mencium kening Daniela. Tanpa menunggu jawaban dia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan. Membawanya ke alam mimpi. Damian berpikir pria egois biasanya begitu. Dengan mudahnya memiliki wanita lain tapi tidak terima jika istrinya memiliki hati yang lain. Dia tidak keberatan di sebut pria egois. Tapi semenjak tau Daniela mencintainya dia jadi menjaga perasaan istrinya. Tentu dia senang di cintai oleh istrinya. Daniela bukanlah pilihan orangtuanya. Tapi pilihannya sendiri. Jadi jika dia mengabaikan Daniela dialah yang salah. Cukup satu kali dia melakukan kesalahan itu. Sedangkan Daniela, sejak dulu di hatinya hanya ada Damian.
Di luaran sudah merebak kabar Thareig tengah mengurus perceraiannya dengan Metia. Kalau dulu Thareig hanya seorang pria yang patuh pada keluarganya, saat ini dia cukup punya kuasa. Metia tidak bisa berbuat apa-apa. Walau dia berjuang untuk tetap menjadi istri Thareig, tapi kekuasaan suaminya membuat dia tersudut. Metia tidak tau apa yang membuat Thareig tiba-tiba ingin menceraikannya, meskipun dia tau Thareig tidak pernah mencintainya. Cerita masa lalu Thareig sudah lama selesai, itu yang Metia tau. Sedangkan untuk sekertarisnya Thareig sudah menggantinya lagi dengan yang baru. Dan tampaknya suaminya tidak bermain lagi dengan sekretarisnya. Tapi Metia yakin ada seseorang yang membuat Thareig ingin lepas darinya. Tanpa Metia tau jika Thareig ingin mengejar lagi Ariadna. Tyler yang mendengar itu jadi gelisah. Dia belum bisa menjadikan Ariadna miliknya, tentu saja dia khawatir. Ariadna tidak mau bertemu Thareig karena pria itu masih suami Metia. Bagaimana jika sudah bukan lagi. Dan kalau sudah bercerai Thareig pasti akan segera beraksi. Selama ini Tyler sedang memperbaiki dirinya. Dia bekerja sungguh-sungguh agar punya bekal untuk menghadapi keluarga Ariadna nanti.
__ADS_1