
"Walau aku tidak tau rasanya sakit hati tapi aku pernah melihatmu terpuruk dulu ketika kehilangan Sela. Mungkin seperti itulah yang Daniela rasakan." alasan Damian. Melihat luka di mata Daniela sudah membuat Damian merasa bersalah.
"Kalau memang ingin memperbaiki hubungan ya kau harus terbuka pada istrimu. Kau puas atau tidak harus jujur. Daniela puas atau tidak kau harus tau." Robin menggurui.
"Nah itu masalahnya, aku melakukannya selama ini karena kewajiban. Jadi aku harus bermain bersama Daniela?" Damian rasanya tidak punya pilihan lain.
"Tentu saja, tapi jangan kebablasan. Nanti anak orang lecet " Robin tau buasnya Damian.
"Anak orang itu sudah jadi istriku." Damian mulai kesal.
"Ya hati-hati, nanti istrimu lecet." Robin pantang mundur.
"Kau ini belum menikah saja sudah cerewet. Seperti sudah pengalaman saja." Damian balas mengejek Robin.
"Ya nanti kalau sudah menikah nanti kupraktekan." Robin menjawab santai. Damian kehabisan kata-kata pada sahabatnya. Kalau saja dulu Sela tidak sakit dan meninggal dunia, Robin pasti sudah menikah dan bahagia. Dia tidak menutup rapat hatinya seperti ini. Robin pria matang yang tidak banyak bicara sama seperti Damian. Keadaan hatinya membuat dia membatasi pergaulannya. Robin benar-benar penyendiri. Bisnisnya banyak di wakilkan oleh asistennya. Berbeda dengan Tyler, sosok yang di cari Damian. Diantara ketiganya Tyler yang paling parah tingkahnya. Tyler tidak perlu repot-repot bekerja, orangtuanya sudah kaya. Tapi karena bergaul dengan Damian, Tyler pun mulai serius berbisnis. Tyler memiliki kehidupan yang bebas. Tidak jarang dia mengejar wanita karena penasaran. Diam-diam Robin mengirim foto Juwita pada Tyler untuk memancingnya. Robin ingin tau apa Juwita masuk dalam daftar Tyler.
Daniela bersama Ariadna jalan-jalan di mal. Hari ini Daniela ingin senang-senang bersama sahabatnya. Sudah lama mereka tidak melakukannya.
"D, kita ke butik langganan kamu dong." kata Ariadna pada Daniela.
"Tidak salah? Di Paris ngapain saja?" tanya Daniela heran.
"Aku tuh cuma ingin lihat baju-baju di sana, apa modelnya update." alasan Ariadna.
"Ok lah aku ikutin mau kamu saja." Daniela mengalah. Walaupun shoping bukan hobinya. Tapi sekedar lihat-lihat tidak ada salahnya. Mereka asik di butik. Memang tetap update. Jelas saja pemiliknya punya jurus jitu menjalankan usahanya. Daniela menarik sebuah gaun, menurutnya manis juga modelnya.
"Wah cocok tuh, manis juga buatmu." komentar Ariadna melihat gaun yang di pegang Daniela.
"Masak sih." Daniela membawa gaun itu di depan kaca, mematutnya di sana.
__ADS_1
"Selama ini gaya pakaianmu kan sama. Apa salahnya coba yang lain." Ariadna mengakui pilihan baju Daniela memang manis dan anggun. Tapi yang di pegang saat ini juga bagus.
"Aku coba ya." Daniela membawa gaun itu ke kamar ganti. Mencoba gaun itu. Ariadna menyusulnya penasaran.
"Bagus D, kamu jadi lebih segar dengan model baju itu." komentar Ariadna ketika melihat Daniela tengah mematut dirinya di depan cermin.
"Begitu ya, apa aku harus ganti model baju?" Daniela jadi punya ide.
"Kenapa engga, kalau itu bikin hati kamu senang." jawab Ariadna. Pakai baju apa juga Daniela tetap cantik dan menarik.
"Ok kalau begitu." Daniela pun mulai memilih baju yang lainnya. Selama ini dia malas mengganti model bajunya, apalagi dengan ibu mertuanya yang kaku. Tampil di depan Amaira tidak boleh ada cela. Daniela memilih beberapa gaun yang di rasanya menarik.
"Wah pilihanmu boleh juga. Tidak sia-sia aku mengajakmu ke sini ya." Ariadna memuji gaun-gaun pilihan Daniela. Segera Daniela membayar gaun-gaunnya.
"Rambut tidak ganti model? Model begini di Paris sudah ketinggalan jaman." Ariadna menggoda Daniela.
"Sudah lama sih aku tidak ke salon. Malas sendirian." kata Daniela.
"Ya sudah, hari ini kita perawatan sambil ganti model rambutmu." Ariadna memutuskan. Yang penting jalan-jalan mereka hari itu menyenangkan.
"Aku mau ngundang kamu nih. Aku bikin party kecil-kecilan karena kepulangan aku dari Paris. Datang ya. Kamu boleh ajak Damian juga. Aku ngerti ko kamu kan sudah nikah." jelas Ariadna melihat keraguan Daniela.
"Tapi nanti dia bosan sendirian." Daniela ingin menolak.
"Dia boleh ko undang teman-temannya. Siapa tuh....Robin sama Tyler." Ariadna mengerti tidak semua teman Daniela yang kenal dekat dengan Damian.
"Tujuannya sebenarnya apa sih partymu ini?" tanya Daniela curiga.
"Sebenarnya ini keinginan papaku. Di Paris aku sudah mau di jodohkan sama anak teman mama. Makanya mereka menahanku di sana. Tapi aku buru-buru pulang ketika ada kesempatan. Papa marah, kalau aku tidak mau di jodohkan aku harus membuka diri mencari calon suami. Ya salah satunya bikin party, dengan alasan kepulanganku dari Paris. Tapi acaranya aku manufer jadi acara kita-kita. Mana papa tau yang aku undang siapa saja." kata Ariadna dengan licik.
__ADS_1
"Tapi papamu kan tau aku." bantah Daniela, dia mulai mengagumi kelicikan Ariadna.
"Kamu kan sahabatku. Tidak mungkin tidak di undang. Lagi pula papa suka sama Damian. Makanya biar Damian ajak teman-temannya biar party ramai." Mendengar perkataan Ariadna Daniela jadi paham, sahabatnya ini belum ingin menikah.
"Ya nanti aku datang." janji Daniela. Sementara di kantornya Damian kedatangan dua sahabatnya. Robin dan Tyler.
"Sorry Dem aku tidak tau kalau job kita bermasalah." kata Tyler menyesal.
"Salahkan orangmu tuh, tidak bisa kerja." jawab Damian kesal.
"Mana dia punya waktu mengawasi pegawainya." sindir Robin pada Tyler.
"Eit, bapak ini ko marah ya. Aku kan tidak bawa lari anak perawannya." Tyler protes pada Robin.
"Siapa yang marah. Aku cuma kesal saja liat kamu yang tidak serius kerja. Batalin saja kerjasamanya." balas Robin. Dia kesal pada Tyler yang suka mengejar wanita.
"Jangan dong. Kerjasama ini menjadi bukti pada papaku kalau aku bisa kerja. Makanya aku serius kali ini." Tyler mengungkap rahasianya.
"Tolong fokus dulu untuk urusan ini. Aku kerja tidak pernah main-main." kata Damian mengingatkan.
"Sorry deh. Nanti malam nongkrong yuk. Sudah lama kita tidak santai." Tyler memberi usul.
"Tidak deh. Daniela tidak makan malam kalau aku pulang telat." Damian akhirnya tau Daniela tidak makan malam itu.
"Dia lagi gencatan senjata." kata Robin pada Tyler.
"Memangnya ada perang apaan pake gencatan senjata?" tanya Tyler heran. Yang dia tau Damian dan Daniela baik-baik saja.
"Damian ketahuan nikah lagi dua bulan ini." Robin menjelaskan dengan santai. Damian yang di bicarakan tenang saja, toh itu memang kenyataan.
__ADS_1