Menepis Luka

Menepis Luka
Kedatangan Metia


__ADS_3

"Aku tuh sama seperti kamu D. Untuk orang lain kita mudah berkomentar. Tapi untuk diri sendiri malah bingung." Ariadna tidak mau kalah. Mereka tertawa.


"Andini apa kabar?" tanya Daniela.


"Sebenarnya dia mau datang ke sini, tapi harus bertemu dengan pelanggannya. Dia telpon aku kemarin, dia juga khawatir." jelas Ariadna. Daniela merasa waktunya bersama Ariadna menyenangkan. Diam di rumah tidak bosan dengan hadirnya sahabatnya itu. Mereka menikmati makanan yang di beli pak Sabri. Seperti biasa mereka duduk di tepi kolam renang sambil bercerita. Tiba-tiba Rindu datang menghampiri.


"Nyonya, ada tamu yang mencari nyonya." kata Rindu sopan.


"Tamu, pria atau wanita?" tanya Daniela, dia khawatir ayah Revin datang lagi.


"Wanita nyonya." jawab Rindu.


"Tidak mungkin Andini D. Kalau dia pasti sudah masuk ke sini." kata Ariadna.


"Ayo kita lihat. Aku jadi penasaran." Daniela bangkit berdiri di ikuti Ariadna. Dengan di dampingi Rindu mereka menuju ke ruang tamu. Tiba di sana tampak seorang wanita duduk seorang diri.


"Metia." Ariadna terkejut, begitu juga Daniela.


"Maaf aku mengganggu waktu kalian." ucap Metia lesu. Dia terpaksa datang dengan perasaan enggan dan malu. Metia berdiri karena sang pemilik rumah datang.


"Duduk saja." kata Daniela yang paham akan keengganan tamunya. Metia pun kembali duduk di susul Daniela dan Ariadna yang bersebrangan.


"Maaf kedatanganku tentu kalian sudah tau untuk apa." kata Metia dengan jantung berdebar.


"Tentang Revin?" tebak Daniela yang sudah memiliki dugaan.


"Ya benar, ini tentang kakakku Revin." Metia lega dia tidak harus menjelaskannya. Dia mengutuk kakaknya di dalam hati. Membuatnya harus menghadapi Daniela dan Ariadna.

__ADS_1


"Oh jadi keluargamu memintamu untuk bertemu Daniela demi kakakmu?" tanya Ariadna yang mulai mengerti.


"Bukan keluargaku, tepatnya ayahku. Dia tidak memintaku tapi menyuruhku." jawab Metia pahit.


"Kalian pasti tidak suka dengan kedatanganku ini. Tapi ayahku berpikir jika dia tidak berhasil bicara dengan suamimu Daniela, mungkin aku akan bisa membujukmu. Jadi aku tetap harus datang." Metia berkata jujur. Daniela melihat Metia tampak berbeda sekarang. Wanita itu kelihatan tidak bersemangat tapi di minta untuk berbuat sesuatu yang dia tidak suka.


"Aku mengerti perasaanmu Metia. Tidak ada yang suka jika di paksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya." kata Daniela penuh pengertian. Metia terkejut dan menatap Daniela. Dia tidak menyangka Daniela bersimpati padanya.


"Kau tidak suka harus melakukan ini karena Revin atau kau tidak suka karena dirimu sendiri?" tanya Ariadna ingin tau. Dia juga melihat Metia berbeda.


"Keduanya. Aku tidak suka melakukan ini karena ini ulah kakakku. Dia yang membuat susah ayahku. Aku juga tidak suka karena ini bukan urusanku. Kalian tau kan aku sedang sedih karena perceraianku. Belum lagi aku sembuh sudah di paksa untuk berbuat sesuatu yang tidak Kusuka. Sejak dulu ayahku memang memanjakan Revin. Ayah selalu memandang rendah padaku. Dianggapnya aku tidak berguna. Tapi lucunya aku yang di suruhnya untuk membujukmu Daniela." jawab Metia kesal. Dia tidak menutupi perasaannya.


"Jadi berita tentang kau bercerai dengan Thareigh itu benar?" tanya Daniela, dia melirik pada Ariadna. Apa Metia tidak tau alasan Thareigh menceraikannya karena Ariadna?


"Ya, Thareigh benci padaku. Aku sudah pulang ke rumah orangtuaku. Kalian pasti bisa menebak bagaimana sikap ayahku." Metia berkata dengan sedih. Daniela dan Ariadna jadi paham. Di hadapkan pada hal yang menyakitkan kesombongan Metia luruh sudah. Dia merasa hancur. Belum lagi di minta membela kakaknya yang tidak di sukainya.


"Dia tidak pantas kau pertahankan. Dia berselingkuh dengan banyak wanita." tanggapan Ariadna atas jawaban Metia.


"Tapi mungkin itu karena salahku. Aku yang sudah memaksanya menikahiku. Sebelum aku memaksanya dia baik dan perhatian padaku." Bela Metia atas mantan suaminya. Daniela menatap Metia kasihan. Yah beginilah cinta. Kadang yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Sedangkan Ariadna merasa muak mendengar pembelaan Metia.


"Sudahlah Metia, jangan hiraukan lagi Thareigh. Sudah waktunya kau pergi dari hidupnya. Sekarang yang aku ingin tau bagaimana sikap Revin padamu?" Daniela mengubah topik pembicaraan.


"Revin tidak pernah menjadi seorang kakak bagiku. Dia hidup dengan dunianya sendiri. Seperti orang asing bagiku." jawab Metia jujur.


"Ah aku jadi mengerti mengapa kau jadi merasa terpaksa melakukan ini." ujar Ariadna sambil menganggukkan kepala.


"Aku bukan tidak suka padamu Daniela. Tapi tidak suka akan apa yang yang harus kuperbuat ini. Aku pernah sinis padamu karena merasa iri, kau beruntung suamimu memilihmu. Sedangkan aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari suamiku. Tapi bersikap sinis pada orang lain juga tidak membuatku lega. Jadi sekarang aku memilih untuk diam." Metia menatap Daniela serius. Yang di tatap tampak berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita membantunya?" tanya Daniela pada Ariadna.


"Membantunya, maksudmu?" tanya Ariadna tidak mengerti.


"Begini Metia, bagaimana jika kita buat ayahmu melihat jasamu. Biar Revin di bebaskan dan di kirim keluar negeri seperti janji ayahmu. Sekolahmu manajemen bukan?" tanya Daniela pada Metia.


"Iya sih, tapi tidak pernah aku gunakan." jawab Metia masih tidak mengerti.


"Bukankah ini kesempatan bagimu untuk menarik simpati ayahmu. Kau bisa belajar lagi sedikit-sedikit dan bekerja di perusahaan ayahmu. Katakan saja kau ingin menggunakan waktumu agar tidak terus sedih. Buktikan pada orang lain dan khususnya ayahmu bahwa kau mampu." jelas Daniela.


"Oh maksudmu seperti itu. Boleh juga." Ariadna paham kini.


"Iya sih, tapi apa aku bisa? Lalu bagaimana dengan suamimu, apa dia akan setuju?" tanya Metia ragu.


"Benar D, kita harus pikirkan Damian."Ariadna setuju dengan Metia.


"Aku akan bicara pada Demian. Jika ayahmu menepati janji tidak akan ada masalah." kata Daniela yakin.


"Jadi aku harus mengatakan apa pada ayahku?" Metia mulai setuju.


"Kamu bilang kalau kamu sudah membujukku dan aku sedang mempertimbangkannya. Di sini aku akan membujuk Damian. Lalu jangan lupa kamu lakukan apa yang aku katakan." Daniela menjabarkan rencananya.


"Aku tidak menyangka akan kebaikan hatimu Daniela. Rasanya tidak pantas aku menyia-nyiakannya. Akan aku lakukan semuanya." wajah Metia mulai beseri.


"Bayangkan hal yang luar biasa yang akan kau dapat jika berhasil nanti. Wanita yang kuat jangan cepat putus asa." nasihat Daniela yang terakhir. Metia pun pamit pulang. Di kepalanya sudah banyak pertanyaan apa saja yang akan dia lakukan untuk menjalankan saran Daniela.


"Sungguh aneh melihat Metia seperti itu. Aku tidak menyangka Thareighakan benar menceraikannya." komentar Ariadna dengan prihatin.

__ADS_1


"Hei dia sudah tersudut. Sudah waktunya dia mencari bahagianya sendiri. Jangan larut pada masalah Metia, ingat sekarang ada dua T yang mengejarmu" Daniela memperingatkan sahabatnya.


__ADS_2