Menepis Luka

Menepis Luka
Pertimbangan


__ADS_3

Harusnya Ali bisa berpikir untuk tidak mendesak orang lain jika melihat caranya memanjakan Revin. Namun karena ini untuk kepentingan Revin, pasti Ali akan berupaya lebih keras.


"Jika nak Damian tidak menuntutnya om akan mengirimnya ke luar negeri dan tinggal di sana. Dia tidak akan pulang tanpa sepengetahuan kamu." Ali memberikan penawaran. Damian bisa mengerti walau tetap tidak suka. Di mana ada seorang ayah yang akan membiarkan putranya di penjara. Ayahnya sendiri mungkin juga akan begitu.


"Itu akan jadi pertimbangan kami om." Damian tidak goyah. Sementara Daniela terbangun di kamarnya dia merasa lapar. Dia teringat bakso yang di pesannya. Daniela bangkit untuk segera mandi. Setelah mandi dia turun ke bawah dan bertemu Rindu.


"Tuan ada di mana Rindu?" tanya Daniela.


"Sedang ada tamu nyonya." jawab Rindu sambil menunjuk ke ruang tamu.


"Aku mau makan bakso, lapar." kata Daniela sambil mengelus perutnya.


"Saya siapkan nyonya." Rindu berlalu kearah dapur. Daniela berjalan kearah ruang tamu. Hanya ingin mengintip tamu yang datang. Daniela tidak mengenalnya, tapi dia mendengar pembicaraan mereka. Daniela malas keluar bertemu dengan ayah Revin. Dia memilih keruang makan, menikmati baksonya. Sedang asik menikmati baksonya, Damian datang menghampiri.


"Sudah pulang tamunya?" tanya Daniela pada Damian yang tersenyum padanya.


"Sudah." Damian duduk dan menatap istrinya yang asik makan.


"Mau bakso?" tanya Daniela lagi yang di jawab oleh suaminya dengan gelengan kepala.


"Itu saja satu." Damian menunjuk satu bakso di mangkuk Daniela. Pikiran Damian sedang penuh saat ini, tidak fokus untuk menikmati semangkuk bakso. Daniela menusuk satu bakso di mangkuk ya menyodorkannya pada Damian. Sang suami menerima dengan senang hati, meskipun sampai hari ini dia masih tidak mengerti apa enaknya bakso.


"Jadi bagaimana Dam, itu tadi ayahnya Revin kan?" Daniela menatap Damian yang masih tetap diam.


"Kamu maunya bagaimana?" balas Damian lembut. Dia ingin tau dulu keinginan Daniela.


"Apa benar Revin akan di kirim ke luar negeri?" Daniela curiga. Jujur dia tidak mau bertemu lagi dengan Revin.


"Benar. Ali Ardiansyah bisa di percaya perkataannya." jawab Damian yakin.


"Kamu kenal dengan ayah Revin?" Daniela heran, Damian kenal ayahnya tapi tidak kenal anaknya.

__ADS_1


"Tidak kenal tapi cukup tau." tangan Damian meraih tisyu dan mengusap sudut bibir Daniela.


"Menurut kamu sendiri bagaimana?" Daniela yang kini penasaran.


"Akan aku tuntut, biar di penjara. Kalau bisa biar tidak perlu bebas dan keluar lagi. Seenaknya saja mau membawa istriku pergi." jawab Damian kesal. Daniela terpana menatap Damian. Ternyata diam-diam suaminya menghanyutkan. Menghanyutkan orang di sungai maksudnya.


"Kamu kejam juga ya Dam " Daniela berkata sambil tersenyum. Dia paham kesalnya Damian, dia pun kesal dengan ulah Revin.


"Karena kamu jadi takut dan khawatir keluar rumah sekarang kan." tebak Damian.


"Iya sih, aku mau duduk manis di rumah saja." Daniela membenarkan tebakan Damian. Dengan sedih Damian menatap istrinya. Tapi Damian juga berpikiran sama. Dalam waktu dekat ini lebih baik Daniela diam di rumah saja agar hatinya lebih tenang.


"Tuan ada tuan besar dan nyonya besar datang." tiba-tiba Rindu datang menyela.


"Habiskan baksonya." Damian bangkit berdiri dan mengusap kepala Daniela lembut. Dia lalu berjalan kedepan hendak menyambut kedatangan orangtua. Entah yang mana yang datang, orangtuanya atau orangtua Daniela. Begitu tiba di ruang tengah Ardan dan Arabela tampak masuk tergesa-gesa.


"Damian, di mana Daniela?" tanya Ardan cemas.


"Sayang, biar Daniela makan dulu. Kita jangan mengganggunya." pinta Ardan pada istrinya.


"Tapi Daniela tidak apa-apa kan Dam?" tanya Arabela masih cemas.


"Dia baik-baik saja. Tadi sempat tidur dan belum lama bangun. Dia lapar dari siang minta di belikan bakso. Ayo pa, ma duduk dulu, biar Daniela menghabiskan makannya." Damian setuju dengan Ardan.


"Rindu tolong buatkan minum dan keluarkan makanan kecil." perintah Damian pada Rindu yang sejak tadi mengikutinya.


"Baik tuan." Rindu segera lari ke dapur. Ardan menuntun Arabela untuk duduk di sofa yang nyaman.


"Papa dan mama ke sini karena Daniela?" tanya Damian sambil duduk menemani mertuanya.


"Iya, kami dengar Daniela di culik. Kami jadi cemas dengarnya sudah sore." jawab Ardan.

__ADS_1


"Dengar dari siapa?" Damian tidak merasa memberitahu orangtua mereka.


"Danilo harusnya siang tadi ada urusan dengan Rama. Tapi Rama tidak ada kabarnya, hingga sore tadi Rama baru memberi kabar dan alasan mengapa dia tidak dapat di hubungi. Papa hubungi kamu juga tidak diangkat Dam. Papa jadi telepon Ramon tapi dia tidak tau apa-apa. Mungkin sebentar lagi mereka ke sini." jelas Ardan.


"Jadi benar Daniela di culik?" tanya Arabela tidak sabar.


"Benar, untung saja bisa di lacak keberadaannya. Sehingga segera di temukan. Tadi ada tamu datang, ponselku ada di kamar." Damian menjelaskan singkat.


"Jadi pelakunya sudah tertangkap, syukurlah kalau begitu." Ardan lega.


"Tapi siapa yang menculik Daniela, apa kamu punya musuh Dam?" tanya Arabela tidak suka.


"Bukan musuh, tapi dia pengagum berat Daniela. Revin Ardiansyah. Tadi ayahnya baru datang." jawab Damian kesal. Dia memang marah jika di singgung tentang Revin. Dari sejak tau Revin suka pada Daniela saja dia sudah kesal.


"Ali Ardiansyah, mau apa dia ke sini?" Ardan terkejut.


"Memohon agar putranya tidak di tuntut." jawab Damian.


"Ya Revin putra satu-satunya dan harapannya di masa depan. Wajar dia begitu." Ardan memaklumi tindakan Ali.


"Papa kenal dia?" tanya Arabela curiga.


"Dengan Ali papa kenal, tapi putranya Revin papa tidak kenal. Baru belakangan ini Damian bilang kalau Revin itu suka sama Daniela dan dia senior Daniela di kampusnya dulu. Kami mulai berhati-hati bahkan menolak kerjasama yang Revin tawarkan. Tapi ternyata cinta membutakan segalanya." Ardan menjelaskan dengan sabar pada istrinya.


"Tapi Daniela kan sudah menikah, tidak bisa seenaknya dia bawa." protes Arabela.


"Ini salahku ma, Revin pasti mendengar jika aku menyakiti Daniela. Jadi dia ingin membuat Daniela bahagia dengan membawanya pergi dari aku." kata Damian dengan penyesalan.


"Tapi tetap tidak bisa begitu." Arabela berkeras.


"Kan sudah kubilang, cinta membutakan Revin. Kamu sendiri apa tidak pernah melakukan berbagai cara untuk seseorang yang kamu cinta?" Ardan tersenyum nakal sambil menarik hidung Arabela. Perkataan Ardan membuat Arabela jadi teringat apa saja yang sudah dia lakukan agar suaminya tetap berada di sisinya. Arabela mulai mengerti, begitu juga dengan rasa marahnya mulai surut.

__ADS_1


"Papa, mama ko tidak ke dalam?" tanya Daniela yang datang tiba-tiba menyapa.


__ADS_2