Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Pagi ini sudah menunjukan pukul 06.15. Cuaca yang cerah dan udara yang sejuk memberi semangat pada Gavin untuk memulai harinya.


Dengan memakai jeket kulit andalannya, tidak terasa motor ninja hitam milik Gavin sudah


terparkir di depan rumah Rhea.


Sebelum memasuki rumah, Gavin terlebih meminta izin pada satpam untuk di perbolehkan masuk ke dalam pagar rumah itu.


Setelah diberi izin oleh satpam yang ternyata masih mengenal gavin, dia mulai memasuki pekarangan rumah Rhea yang luas.


Saat berdiri di depan pintu, Gavin terlebih dahulu membunyikan bel di pintu masuk agar kehadiran nya di ketahui oleh pemilik rumah.


Ketika pintu itu terbuka, Gavin langsung mengucapkan salam kepada seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik pintu sambil menatap Gavin dengan ekspresi terkejut.


" Assalamualaikum Tante, selamat pagi!! Tante masih ingat saya?? Saya Gavin temannya Rhea.


Gavin berbicara dengan sopan sambil menyalami bunda Citra dengan takzim. Setelah itu memberikan senyum termanis yang dia miliki sehingga membuat bunda Citra bengong sesaat tapi kemudian kembali tersadar.


" Waalaikum salam, kamu Gavin temen SMP Rhea yang dulu kan?? Anaknya mas Ardana?"


Bunda Citra masih terkejut dengan kedatangan Gavin pagi ini kerumahnya.


" Iya betul Tante, ternyata Tante masih ingat sama saya. Rhea nya ada Tante?"


Gavin berusaha menengok kedalam. Dia berharap bisa pergi kesekolah bersama Rhea pagi ini.


" Rhea nya ada. Dia masih di kamar sepertinya lagi siap-siap mau berangkat. Kamu masuk aja dulu, sarapan bareng om dan tante. Om pasti senang kamu datang."


Bunda Citra mempersilahkan Gavin masuk kedalam rumah.


Sambil mengikuti bunda dari belakang, Gavin memperhatikan tidak ada yang berubah dari kediaman keluarga Adinata meskipun hampir 2 tahun dia tidak pernah berkunjung kesana lagi.


Sesampainya di ruang makan, Gavin dapat melihat sosok ayah Rhea yaitu Adinata Kusuma tengah duduk sambil membaca sesuatu di iPad nya. Ditemani secangkir kopi yang masih panas karena masih terlihat asap yang mengepul di atasnya.


" Yah, liat siapa yang datang??"


Bunda Citra memanggil ayah Adinata dan kemudian menghampiri sang suami di meja makan.


Ayah yang merasa di panggil langsung menoleh dan mendapati istrinya membawa seorang tamu tidak terduga di pagi ini.


Dengan mata yang menyipit dan kening yang agak mengkerut, ayah berusaha mengingat siapa pemuda yang dibawa masuk oleh istrinya itu.


" Kamu Gavin kan?? Putranya Ardana Wijaya??"


Akhirnya ayah Adinata dapat mengingat Gavin dan tersenyum senang dengan kedatangan Gavin.


Gavin yang juga membalas senyuman ayah Adinata, mengulurkan tangan bermaksud ingin menyalami ayah Adinata dengan sopan.


" Iya betul om, saya Gavin yang om maksud. Apa kabar om? Maaf kedatangan saya pagi ini menggangu om sekeluarga."


Ayah merasa senang dengan kedatangan Gavin dan langsung menyambut uluran tangan pemuda itu.


" Kabar om baik, vin. Kabar kamu sendiri bagaimana? Om nggak menyangka kamu datang lagi. Om kira kamu sudah lupa sama om dan tante??"


Ayah Adinata menatap sekilas pada bunda lalu tersenyum penuh arti pada istrinya. Setelah itu kembali fokus pada Gavin yang ada di depan matanya.


Gavin yang Mendengar pertanyaan dari ayah Adinata membuat dia kikuk seketika. Gavin mengusap tengkuknya meredakan ketegangan.


" Kabar Gavin juga baik om. Maaf baru bisa mengunjungi om dan tante. Bukan karena Gavin lupa sama om dan tante tapi Gavin sedikit sibuk dengan kegiatan di sekolah om."


Gavin sedikit berbohong pada ayah Adinata.

__ADS_1


" Ooh, begitu rupanya. Silahkan duduk dulu vin."


Ayah Adinata mempersilahkan Gavin untuk duduk.


" Gimana kabar papa kamu Vin? Om Sulit sekali menghubungi papa kamu. Sekretaris nya selalu bilang beliau pergi keluar kota atau keluar negeri setiap om telfon."


Ayah Adinata merasa sahabatnya itu terlalu sibuk sehingga mereka tidak sempat berkomunikasi. Ayah Adinata dan papa Ardana merupakan sahabat semasa kuliah dulu.


" Kabar papa sepertinya juga baik om. Ya begitulah om, papa selalu sibuk. Gavin juga jarang komunukasi dengan papa."


Gavin menjawab dengan jujur bagaimana hubungannya dengan papa Ardana.


" Tenang aja Vin, nanti akan om akan marahin papamu biar dia lebih perhatian sama anaknya sendiri. Oh ya, kedatangan kamu pagi-pagi begini bukan hanya untuk menengok om dan tante saja bukan??"


Ayah Adinata bertanya to the point pada Gavin maksud kedatangannya pagi ini.


Sambil tersenyum Gavin menjawab pertanyaan ayah Adinata.


"Iya, betul om. Gavin sebenarnya mau minta izin sama om dan tante untuk mengantar dan menjemput Rhea juga untuk seterusnya. Apakah boleh om??"


Ayah yang mendapatkan pertanyaan dari Gavin langsung merubah ekspresi mukanya menjadi serius.


" Kalau boleh om tau apakah kamu sudah pacaran sama Rhea sampai kamu mau antar jemput anak om untuk seterusnya??"


Tanya ayah Adinata penuh selidik terhadap Gavin.


" Gavin sama Rhea belum pacaran om. Tapi saat ini Gavin sedang dalam proses pendekatan dengan Rhea lagi om. Dulu Gavin sama Rhea sempat terjadi kesalahpahaman tapi sekarang Gavin mau mencoba memperbaikinya. Gavin mau minta kesempatan kedua sama rhea. Apakah boleh om??"


Gavin berbicara dengan serius sambil menatap ayah Adinata dan bunda Citra bergantian.


" Om memperbolehkan kan kamu untuk mengantar jemput Rhea, asalkan Rhea nya juga setuju. Tapi om harap kamu jangan terlalu memaksakan kehendak ya vin! Om takut dia jadi stres terus kondisinya drop. Kamu tau sendiri kan fisik Rhea itu lemah??"


Jelas ayah Adinata pada Gavin yang takut terjadi sesuatu pada putrinya.


Gavin dengan tulus tersenyum pada ayah Adinata.


" Iya, tidak masalah Vin. Yang penting kamu bisa menjaga dan melindungi Rhea dengan baik. Rhea itu putri om satu satunya. Kalau kamu sampai bikin putri om sedih, om nggak akan segan-segan bikin perhitungan sama kamu ya vin!!"


Ayah Adinata memberikan ancaman pada Gavin sambil melotot.


" Tante juga titip Rhea ya vin. Awas aja kalau kamu jahatin anak tante!! Tante bakal cabut semua gigi kamu!!"


Bunda juga ikut memberi ancaman pada Gavin. Gavin yang mendengar ancaman dari kedua orang tua Rhea hanya bisa bergidik ngeri.


" Baik om dan tante. Gavin akan lakukan yang terbaik untuk Rhea. Gavin janji!!"


Ayah yang menatap Gavin dapat melihat keseriusan pemuda itu lalu berseru, "Om pegang janji kamu ya vin. Ya udah mari kita sarapan bersama."


Akhirnya Gavin mendapatkan lampu hijau dari ayah rhea. Sekarang misi Gavin adalah menaklukan hati rhea. Semoga perjuangan Gavin membuahkan hasil. Sambil tersenyum senang, Gavin menerima ajakan ayah Rhea untuk sarapan.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Rhea turun juga dari kamarnya. Rhea tidak menyadari orang yang duduk di depan kedua orang tua nya adalah Gavin.


" Selamat pagi yah!! Selamat pagi bund!! Selamat pagi...ehhh???"


Tiba tiba Rhea menyadari orang yang duduk di depan ayahnya bukan bang Rafka melainkan Gavin.


" Kok Lo ada di sini kak??"


Itu pertanyaan yang pertama yang keluar dari mulut Rhea. Rhea merasa heran kenapa Gavin bisa nyasar ke rumahnya pagi-pagi begini.


" Hari ini Gavin mengajak kamu pergi ke sekolah bersama Rhee. Ayo sarapan dulu, nanti kamu telat!"

__ADS_1


Ayah yang menjawab pertanyaan rhea. Sedangkan Gavin yang ditanyai Rhea, hanya tersenyum dan melanjutkan kembali sarapannya.


Mendengar penjelasan dari ayah tadi membuat Rhea sedikit kesal. Rhea takut gagal move on kalau terus berdekatan dengan gavin. Tapi karena malas berdebat Rhea memilih untuk tetap melanjutkan sarapan tanpa bertanya lagi kepada ayah Adinata.


" Aku, udah selesai yah..bund!! Aku berangkat dulu ya!!"


Rhea berpamitan pada ayah Adinata dan bunda Citra. Tidak lupa menyalami keduanya secara bergantian. Lalu berjalan ke luar rumah tanpa memperdulikan Gavin yang masih duduk di meja makan.


Gavin yang melihat Rhea berlalu tanpa memperdulikan nya, hanya bisa menghela nafas. Gavin berniat mengikuti gadis itu, tapi sebelumnya Gavin juga ikut menyalami ayah dan bunda Rhea.


" Gavin juga berangkat ya om..Tante!!" Seru Gavin dengan cepat.


" Iya Vin, hati hati di jalan!!" Ucap bunda dan ayah dengan kompak.


Sesampainya di teras depan rumah, Gavin dapat melihat Rhea sedang berdiri di samping motor ninjanya dengan wajah cemberut.


Gavin yang melihat raut wajah Rhea yang masam hanya bisa tersenyum geli dan menghampiri gadis itu.


" Ayo kita berangkat Rhee??"


Gavin memberikan sebuah helm kecil berwana biru kesukaan rhea tapi ditolak nya dengan keras.


" Sebelum berangkat gue mau mintak penjelasan kenapa kakak mau repot-repot jemput kerumah? Kemaren kan gue udah bilang kita nggak mungkin kayak dulu lagi. Kenapa masih keras kepala aja sih??"


Rhea mencurahkan kekesalan hatinya pada Gavin. Rhea menyilangkan tangan di depan dada menanti penjelasan dari gavin.


" Gue mau mintak kesempatan kedua rhe!! Gue mau kita kayak dulu lagi dan gue akan jelasin semua yang tejadi dulu cuma kesalahpahaman."


Gavin menatap Rhea penuh harap, agar Rhea sedikit saja membuka pintu hatinya lagi buat Gavin.


" Gue nggak butuh penjelasan apapun dari Lo! Yang gue butuh sekarang cuma Lo berhenti ganggu hidup gue!! Tolong Lo ngerti!! Gue udah bahagia sekarang."


Rhea menatap tajam kearah Gavin. Rhea takut tersakiti lagi dengan ketidak pastian yang dulu pernah Gavin berikan.


" Tolong kasih gue kesempatan rhe. Gue bakal buktiin sama Lo kalau gue beneran sayang sama Lo. Kasih gue waktu 1 bulan buat luluhin hati Lo. Kalau sampai waktu itu udah habis dan Lo masih nggak bisa buka hati Lo buat gue, gue akan berhenti ganggu hidup Lo!!" Jelas Gavin sambil menatap Rhea dengan sendu.


Rhea yang melihat kegigihan Gavin akhirnya hanya bisa pasrah menerima permintaan Gavin.


" Ok, gue akan beri Lo kesempatan. Tapi ingat ya kak, nggak boleh lebih dari 1 bulan." Ucap Rhea mengingatkan.


" Lo bisa pegang omongan gue, Rhee!!"


Sambil memasangkan helm pada Rhea, Gavin tersenyum manis dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu, "gue nggak akan biarin Lo pergi lagi Rhee karena Lo hanya milik gue!!"


Mendengar bisikan Gavin yang begitu dekat ditelinga membuat tubuh Rhea menegang sesaat. Rhea takut ucapan Gavin menjadi kenyataan.


Separuh hati rhea sebenarnya masih menginginkan Gavin tapi separuh lagi masih merasakan rasa sakit dan kecewa yang pernah ditorehkan oleh Gavin dulu.


Tapi hari ini Rhea mencoba memberi kesempatan pada Gavin agar dia tau kemana takdir akan melabuhkan hatinya.


" Ayo naik Rhee, ntar kita telat!!!"


Seruan dari Gavin akhirnya menyadarkan Rhea dari lamunan singkatnya.


" Iya bawel!!" Sambil menaiki motor Gavin, Rhea tak hentinya menggerutu tak jelas. Hal itu dapat dilihat Gavin dari kaca spionnya.


" Pegangan yang erat ya rhe, ntar Lo jatuh!!" Ucap Gavin yang akan menyalakan motornya.


Mendengar ucapan Gavin, membuat Rhea memutar matanya dengan malas.


" Nggak mau!! Cepat jalan, gue nggak mau telat!!".

__ADS_1


Perintah dari Rhea membuat Gavin akhirnya menjalankan motornya tanpa mau berdebat dengan gadis itu lagi. Gavin berharap semoga hati rhea bisa terbuka dan menerimanya masuk kedalam kehidupan nya lagi.


__ADS_2