Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
41. You Are Sweet


__ADS_3

Bel tanda pulang akhirnya berbunyi. Ara dan Rhea sangat bersemangat mengemasi buku-buku pelajaran mereka ke dalam tas. Hari Senin merupakan hari yang paling melelahkan bagi mereka berdua.


Di samping karena hari ini selalu diadakan upacara bendera, tapi juga semua mata pelajaran yang sulit berkumpul hari ini. Dari mulai pelajaran Matematika, Biologi hingga Sejarah. Membuat mereka berdua ingin segera sampai ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang mulai lelah.


" Lo pulang naik Taksi aja ya Rhee! Kaki Lo masih sakit kan?" Ara melihat Rhea masih kesulitan dalam berjalan saat jam istirahat tadi. Jadi sebaiknya Rhea menaiki taksi untuk pulang ke rumah.


" Iya Ra, kaki gue masih rada ngilu gitu! Kuy cabut, gue mau cepet-cepet pulang biar bisa istirahat." Rhea segera berdiri dan menyampirkan tas nya ke bahu. Ara juga mengikuti sahabatnya itu lalu mulai menggandeng lengan Rhea menuju ke luar kelas.


Saat mereka tiba di luar, Bibi dan Shasa juga sudah keluar dari kelas mereka lalu menghampiri keduanya.


" Lo mau pulang bareng gue nggak Rhee?" Shasa menawarkan tumpangan pada Rhea karena dia jemput dengan mobil seperti biasanya.


" Nggak usah Sha! Rumah kita kan beda arah. Kasian sopir Lo harus muter balik. Ntar Lo kesorean lagi pulangnya." Tolak Rhea kali ini. Dia tidak ingin merepotkan Shasa.


" Ya udah deh, tapi Lo mesti naik taksi ya Rhee!" Shasa ingin Rhea pulang dengan selamat mengingat lutut sahabatnya itu masih sakit.


" Sipp!" Rhea mengangkat jempolnya lalu tersenyum kepada semua sahabatnya.


Mereka berempat akhirnya berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang dengan kendaraan masing-masing. Shasa pulang dengan sopir papanya, Bibi dan Ara dengan Ojol, sementara Rhea pulang naik taksi.


Saat Rhea sedang menunggu taksi yang akan lewat, ada sebuah mobil sedan bewarna hitam berhenti tepat di depan Rhea.


" Selamat siang nona! Apakah nona butuh tumpangan?" Tanya pengemudi mobil itu pada Rhea sambil tersenyum.


Seketika Rhea mengernyitkan keningnya melihat orang yang duduk di balik kemudi itu. Hingga akhirnya Rhea menyadari bahwa orang yang dia lihat di dalam mobil itu adalah orang yang sangat dia kenal.


" Kak Gavin!" Ucap Rhea dengan keras. Rhea sangat terkejut mendapati Gavin sedang membawa mobil dan datang menemui Rhea ke sekolah.


" Iya sayang! Ayo naik!" Gavin kembali tersenyum dan menyuruh Rhea segera naik kedalam mobilnya. Dengan langkah pelan Rhea memasuki mobil lalu duduk di sebelah Gavin.


" Ini mobil siapa kak?" Tanya Rhea penasaran. Dia tidak pernah naik mobil bersama Gavin sebelumnya.


" Ini mobilnya mas Edwin sekretaris pribadi Papa. Dia kebetulan lagi jenguk Papa di rumah sakit. Sekalian ada beberapa berkas kantor yang dia bawa untuk di tandatangani. Jadi aku pinjam aja mobilnya buat jemput kamu." Jelas gavin panjang lebar.


Rhea hanya menganggukkan kepala mengerti dengan penjelasan Gavin. Rhea lalu melemparkan senyuman pada pacarnya itu lalu mengucapkan terima kasih.


" Kaki kamu masih sakit Yang? Ayo kita ke dokter kalau masih sakit!" Gavin tampak cemas melihat lutut Rhea sedikit lecet dan memar berwarna merah keunguan.


" Kok kak Gavin tau lutut aku sakit?" Tanya Rhea penasaran. Dia tidak melaporkan pada Gavin kalau dia di jegal Devina saat di kantin tadi.


" Aku kan punya mata-mata buat pantau kamu di sekolah. Makanya aku datang buat jemput kamu. Ayo kita ke dokter!" Ajak Gavin pada gadisnya itu.


" Nggak usah kak! Lutut aku udah baik-baik aja. Nggak usah ke dokter. Palingan besok juga udah sembuh." Rhea sebisa mungkin menghindar untuk pergi ke dokter karena dia takut akan di suntik atau di beri obat untuk di minum.


" Oke kalau gitu. Tapi kenapa kamu nggak bilang kalau Devina yang bikin kamu jatuh kayak gini? Dia udah keterlaluan. Aku bakal bikin perhitungan sama dia, karena bikin kamu celaka kayak gini." Ucap Gavin penuh amarah. Sepertinya Devina tidak pernah jera untuk terus menyakiti Rhea.


" Bairin aja kak! Aku nggak apa-apa kok. Nggak usah memperpanjang masalah."


Rhea malas untuk membalas tindakan Devina, karena Rhea yakin gadis itu lama-kelamaan akan bosan untuk menyakitinya.


Mendengar ucapan Rhea, membuat Gavin hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat. Pacarnya itu mudah sekali melupakan kesalahan orang lain yang sudah menyakitinya.


" Kita mau langsung pulang atau kamu mau ke tempat lain dulu?" Gavin bertanya pada Rhea sambil mengelus puncak kepala gadis itu dengan sayang. Sehari saja tidak bertemu dengan Rhea, membuat Gavin sangat kangen dengan pacarnya itu.


" Hmm...emangnya boleh mampir ke tempat lain dulu? Kan ini mobilnya sekretaris om Ardana. Ntar kalau kita lama-lama, dia bakalan marah lagi." Ucap Rhea sedikit takut.


" Nggak bakalan. Aku bakal ngirim pesan sama mas Edwin, pasti nanti di bolehin." Ucap Gavin percaya diri.


" Bagus deh kalau gitu. Sebenarnya sih hari ini aku juga mau ke suatu tempat sehabis pulang sekolah bareng sahabat aku yang lainnya. Tapi karena kaki aku lagi sakit jadi di undur deh! Kak Gavin mau temenin aku nggak kesana?" Rhea menatap Gavin penuh harap, membuat Gavin mencubit pipi Rhea gemas.


" Ya mau lah! Emangnya kamu mau pergi kemana sih?" Gavin kali ini menguyel-uyel pipi Rhea seperti squishy membuat Rhea kesal lalu mencubit lengan pacarnya itu dengan keras.


" Aaawww...sakit Yang! Hobi banget sih cubitin aku!" Gavin kembali merasakan cubitan maut dari Rhea. Rasanya sangat perih, membuat Gavin tidak berhenti mengusap lengannya.

__ADS_1


" Rasain! Kak Gavin juga hobi banget mainin pipi aku. Di cubit lah..diuyel-uyel lah. Kan pipi aku juga jadi sakit"


Rhea mendengus kesal membuat Gavin mencolek-colek dagu Rhea agar gadis itu tidak marah lagi.


" Maafin aku ya Yang! Besok-besok aku nggak bakalan mainin pipi kamu lagi. Tapi mainin yang ini aja." Gavin menunjuk bibir Rhea sekilas membuat Rhea mengepalkan tinjunya ke arah Gavin untuk memberikan ancaman.


" Awas aja kalau kak Gavin macam-macam sama aku! Aku kaduin sama om Ardana." Ucap Rhea kesal sambil mengarahkan tinjunya pada Gavin.


" Hehehe....canda Yang! Serius amat. Ya udah kita mau kemana sekarang?" Gavin segera mengakhiri perdebatannya bersama Rhea dan menanyakan tujuan gadisnya itu selanjutnya.


" Aku mau ke cafe ice cream. Boleh ya kak?" Ucap Rhea bersemangat. Sudah lama Rhea ingin sekali makan ice cream coklat favoritnya. Dengan mata yang berbinar Rhea menatap Gavin meminta persetujuan. Rhea sepertinya sudah melupakan kekesalannya tadi terhadap Gavin.


" Boleh dong. Kuy berangkat!" Gavin kembali mengusap kepala Rhea lalu kemudian menjalankan mobilnya menuju cafe ice cream yang Rhea inginkan.


Di sepanjang perjalanan, Gavin terus menggenggam tangan Rhea dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangan yang lain memegang setir kemudi. Mereka tidak henti-hentinya melemparkan senyuman sambil sesekali mengikuti lirik lagu yang mereka putar di tape mobil.


*****


Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah cafe ice cream yang di design sangat unik dan Instragramable untuk para remaja.


" Wah...cafe nya bagus banget." Rhea memandang takjub dari dalam mobil, cafe yang baru saja mereka datangi. Sementara Gavin segera keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu untuk Rhea.


" Silahkan turun tuan putri!" Gavin membungkuk hormat lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Rhea keluar dari mobil.


Rhea tidak dapat menutupi rona merah yang terpancar dari wajahnya akibat perlakuan Gavin. Rhea segera menyambut tangan Gavin lalu keluar dari mobil dengan perlahan. Mereka berdua lalu saling bergandengan tangan dan memasuki cafe itu.


Saat berada di dalam cafe, Rhea dan Gavin di sambut oleh salah satu pelayan. Mereka di arahkan ke salah satu meja yang masih kosong lalu memberikan daftar menu untuk Rhea dan Gavin pesan.


" Kak Gavin mau pesen apa?" Rhea masih sibuk menatap daftar menu sambil sesekali melirik Gavin.


" Kamu aja yang pesen." Aku lagi nggak pengen makan ice cream." Jawab Gavin jujur. Dia sebenarnya tidak terlalu menyukai ice cream. Gavin hanya mengikuti saja keinginan pacarnya itu untuk pergi ke cafe ini.


" Ya udah deh!" Rhea sedikit cemberut tapi tetap memilih ice cream yang akan dia nikmati. Setelah beberapa saat, akhirnya pilihan Rhea jatuh pada sebuah ice cream coklat dan vanilla dengan tambahan potong brownies cokelat di sampingnya. Di tambah topping whipped cream dan buah ceri diatasnya. Lalu sebuah waffle cone ice cream berbentuk mangkok semakin mempercantik tampilan ice cream itu. Membuat Rhea tidak sabar untuk segera mencicipinya.



" Iya, itu aja kak." Jawab Rhea singkat. Rhea kemudian mengambil ponselnya yang terletak di meja lalu mengambil aplikasi kamera di ponselnya.


" Kita Selfi yuk kak!" Rhea menggoyang-goyangkan ponselnya di hadapan Gavin sambil tersenyum manis di hadapan cowok itu.


" Boleh!" Gavin segera berpindah duduk di samping Rhea lalu merangkul pinggang gadis itu agar lebih dekat dengannya. Gavin dan Rhea belum memiliki foto Selfi berdua semenjak pacaran. Jadi hari ini mereka mengambil foto sebanyak-banyaknya untuk koleksi pribadi mereka. Berbagai gaya mereka tunjukkan di depan kamera. Membuat mereka tersenyum senang melihat semua hasil foto yang mereka tangkap.


" Fotonya boleh aku share di Ig nggak kak?" Rhea harus meminta izin terlebih dahulu karena takut mengganggu privasi Gavin.


" Ya boleh dong sayang!" Gavin menganggukkan kepalanya setuju lalu tersenyum senang pada kekasihnya itu.


Setelah mendapatkan izin dari Gavin, Rhea dengan semangat membagikan beberapa fotonya bersama Gavin di sosial media Ig.


" Kamu nulis caption apa?" Tanya Gavin penasaran. Dia melihat Rhea sedang mengernyitkan dahinya bingung sambil terus menatap layar ponselnya.


" Aku belum tau kak. Enaknya kasih caption apa ya?" Tanya Rhea sedikit bingung.


" Sini aku kasih caption nya!" Gavin mengulurkan tangan untuk meminta ponsel di tangan Rhea. Rhea yang tidak tau harus menulis apa, memilih memberikan ponselnya pada Gavin.


Setelah lima menit berkutat dengan ponsel Rhea, akhirnya Gavin tersenyum senang lalu meng-upload foto-foto tadi tanpa konfirmasi dari Rhea terlebih dahulu.


" Kak Gavin nulis apa? Coba sini aku liat!" Rhea mengambil kembali ponselnya dari tangan Gavin.


Seketika Rhea tercengang dengan apa yang Gavin tulis di caption Ig nya.


" Kok gini sih kak caption nya. Aku akan jadi malu." Gavin menulis 'With My Handsome Boyfriend" di feed terbaru Rhea.


" Kok kamu malah malu sih. Kan emang bener aku ganteng!" Jawab Gavin dengan pedenya. Membuat Rhea memutar matanya malas mendengar ucapan Gavin barusan.

__ADS_1


" Tapi nggak gitu juga kali kak. Aku kan kayak keliatan Bucin banget gitu jadinya." Rhea mengerucutkan bibirnya kesal. Membuat Gavin begitu gemas dengan pacarnya itu. Saat ingin mengangkat tangannya untuk mencubit pipi Rhea, gadis itu langsung menepis tangan Gavin agar segera menjauh.


" Cubit dikit boleh lah Yang! Gemes tau liat muka kamu kayak gitu." Ucap Gavin sambil tersenyum senang.


" Nggak boleh! Nanti pipi aku melar, kalau dicubit terus." Jawab Rhea asal.


Pipi Rhea memang terasa sakit bila Gavin mencubitnya dengan gemas. Jadi dia tidak akan membiarkan Gavin mencubit pipinya lagi.


Akhirnya perdebatan mereka berhasil di hentikan karena seorang pelayan cafe mengantarkan ice cream pesanan Rhea.


" Silahkan di nikmati!" Ucap pelayan itu dengan sopan lalu meninggalkan meja dimana Gavin dan Rhea duduk.


Rhea dengan segera menggeser mangkok ice cream itu agar mendekat ke hadapannya. Rhea lalu menyendok kan satu suap ice cream ke dalam mulut dan segera menutup matanya untuk merasakan sensasi dingin, lumer dan manis di mulut nya.


" Enak banget kak!" Rhea segera membuka mata dan menatap Gavin yang berada di sampingnya. Rhea sangat menyukai ice cream yang saat ini dia makan. Tanpa menunggu persetujuan Gavin, Rhea menyendok kan ice cream coklat vanila itu lalu mengarahkannya ke mulut Gavin.


" Ayo buka mulutnya kak...aaaaa!" Rhea sedikit memaksa Gavin agar membuka mulutnya, walaupun cowok itu telah menggelengkan kepalanya menolak ice cream pemberian Rhea tadi.


Hupp...


Akhirnya suapan pertama ice cream dari Rhea, sukses mendarat di mulut Gavin.


Gavin segera menelan ice cream itu tanpa menikmatinya terlebih dahulu di mulut nya.


" Enak kan kak?" Tanya Rhea memastikan. Rhea tau Gavin tidak begitu menyukai ice cream. Jadi dia sengaja mengerjai cowok itu agar memakan ice cream yang dia pesan.


" Iya, enak!" Jawab Gavin singkat sambil memasang senyum terpaksa di bibirnya.


" Kak Gavin mau lagi?" Rhea kembali menggoda Gavin untuk makan ice cream itu lagi.


" Nggak usah Yang! Nanti gigi aku sakit, kalau kebanyakan makan yang manis-manis." Jawab Gavin sedikit berbohong.


" Ya udah deh kalau gitu. Aku makan sendiri ya ice cream nya!" Rhea akhirnya menyerah untuk mengerjai Gavin. Dia lebih baik menikmati sendiri ice cream coklat vanila kesukaannya.


Gavin yang tidak ikut memakan ice cream, hanya memandang Rhea sambil menopang kepala dengan sebelah tangannya. Gavin dapat melihat Rhea sangat menikmati ice cream coklat vanila itu.


" Pelan-pelan Yang! Ice cream nya bakalan lari!" Ucap Gavin mengingatkan. Rhea hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gavin. Dia kembali menikmati ice cream itu hingga habis tidak tersisa.


" Ahh...enak nya!" Ucap Rhea puas. Rhea memandangi mangkok Ice cream nya yang sudah kosong.


" Tunggu bentar Yang!" Salah satu tangan Gavin memegang sebelah pipi Rhea dan satu tangan lainnya mengusap bibir Rhea yang sedikit belepotan karena ice cream. Rhea hanya bisa pasrah menerima perlakuan Gavin yang tiba-tiba.


Setelah Gavin membersihkan mulut Rhea dengan tisu, Gavin tersenyum pada gadisnya itu.


" Sweet!" Ucap Gavin singkat.


" Apa nya yang sweet kak? Ice cream nya?" Tanya Rhea memastikan.


Gavin segera menggelengkan kepalanya lalu menjawab singkat pertanyaan Rhea.


" YOU!!"


Seketika pipi Rhea merona, saat mendengar ucapan Gavin. Gavin mengatakan kalau Rhea manis sehingga membuat Rhea jadi salah tingkah sendiri.


Gavin lalu mengusap kepala Rhea dengan sayang lalu menggenggam tangan gadisnya dengan erat.


" Pulang yuk Yang! Udah sore, kamu belum istirahat dari tadi!" Gavin segera berdiri dan membayar ice cream pesanan Rhea tadi. Setelah Gavin kembali dari meja kasir, Gavin segera mengandeng Rhea keluar cafe.


" Kapan-kapan kita kesini lagi ya kak?" Ucap Rhea penuh harap sambil memamerkan puppy eyes nya pada Gavin.


" Oke sayang!" Jawab Gavin singkat sambil tersenyum pada Rhea. Gavin lalu membukakan pintu mobil untuk pacarnya itu sambil mengamankan kepala Rhea agar tidak terbentur. Setelah Rhea sudah duduk manis di bangku depan, Gavin menutup pintu dengan perlahan.


Gavin juga segera berjalan mengitari mobilnya untuk naik ke bangku pengemudi. Setelah memastikan seat belt mereka terpasang dengan baik, Gavin segera menjalankan mobilnya ke rumah Rhea dengan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


__ADS_2