
Dhafi sedang berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong lantai dua menuju kelas 11 1PA 1 yang merupakan kelas Flo. Dhafi sengaja menghampiri gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama karena kondisi Flo yang masih belum sehat hingga saat ini.
Saat berada di depan kelas Flo, Dhafi langsung mengintip ke dalam kelas dan menemukan Flo masih berada di sana bersama teman-temannya.
" Flo!!" Dhafi berdiri di depan pintu kelas dan memanggil nama flo dengan suara yang cukup keras.
Merasa namanya dipanggil, Flo mengalihkan tatapannya ke luar dan mendapati Dhafi sedang berdiri di depan pintu kelasnya sambil memamerkan senyumnya yang manis.
" Cie..Flo, di jemput yayang tuh! Samperin sana!" Semua teman-teman Flo yang berada di sana, kompak menggoda Flo yang hari ini di jemput Dhafi sampai ke kelas mereka.
" Berisik Lo pada!" Flo segera berdiri dan menghampiri Dhafi yang berada di luar kelas.
Saat berada di hadapan Dhafi, Flo memasang tampang cemberut lalu bertanya dengan nada sedikit ketus pada cowok itu.
" Ngapain Lo di sini?" Flo menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Dhafi dengan malas.
" Gue mau jemput Lo. Kita pulang bareng! Lo masih sakit kan?" Dhafi mengulurkan tangannya dan meletakkannya di dahi Flo dengan perlahan. Dhafi bisa merasakan gadis itu masih demam tapi untungnya panas tubuh Flo tidak setinggi tadi.
" Ngapain sih? Gue nggak sakit! Lo pulang aja sana!" Flo segera menepis tangan Dhafi yang masih bertengger di dahinya.
" Lo masih demam Flo! Ayo pulang bareng gue! Lo harus istirahat." Dhafi menarik tangan Flo agar mengikutinya pulang ke rumah.
" Gue ada latihan Fi. Lo pulang duluan aja!" Flo masih bersikeras tidak ingin mengikuti Dhafi pulang karena Flo akan mengikuti latihan basket hari ini.
" Apa perlu gue telfon Om Danu biar jemput Lo ke sekolah?" Dhafi akhirnya mengeluarkan jurus andalannya untuk mengancam Flo. Flo yang mendengar nama papanya di sebut langsung mendengus kesal lalu berbalik ke dalam kelas untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal.
" Nah...kalau Lo nurut gini kan cakep!" Ucap Dhafi dengan senang lalu mengacak-ngacak rambut Flo hingga berantakan. Flo langsung memasang tampang cemberut sambil memperbaiki rambutnya.
" Dasar tukang ngancem!" Flo menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan duluan meninggalkan Dhafi.
" Tungguin gue Flo!" Dhafi berusaha mensejajarkan langkahnya bersama Flo yang wajahnya masih di tekuk. Saat Dhafi mulai mendekat, Flo langsung berlari menghindari cowok itu.
" Flo jangan lari!" Dhafi juga ikut berlari mengikuti Flo dari belakang.
" Kejar gue kalau bisa!" Flo menjulurkan lidahnya meledek Dhafi lalu berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari cowok itu.
" Awas Lo ya!" Dhafi berteriak dengan keras sambil menunjuk Flo yang berada di depannya. Mereka berdua berlarian seperti anak kecil menuruni tangga lantai dua lalu berlari di sepanjang koridor lantai satu menuju lapangan basket.
Saat Flo hampir sampai di lapangan basket, dia segera berhenti berlari dan terlebih dahulu memperbaiki penampilannya sebelum bertemu dengan pak Hendrik. Dhafi yang berada di belakang juga ikut berhenti berlari lalu berdiri di samping Flo sambil berkacak pinggang.
" Ngapain Lo?" Ucap Dhafi sedikit ngos-ngosan. Ternyata lumayan melelahkan juga berlari bersama Flo tadi pikir Dhafi.
" Gue lap keringet bego! Lo nggak liat apa keringet gue Segede biji jagung gini!" Ucap Flo dengan ketus sambil menyeka keringatnya yang ada di dahi serta leher.
" Makanya siapa suruh Lo pake lari segala? Jadi keringetan kan lo? Lo lagi sakit bukannya anteng, malah lari-larian kayak kucing kampung!" Dhafi yang merasa kesal karena mengikuti Flo berlari, akhirnya mengatai Flo dengan sebutan kucing kampung.
" Sialan Lo! Lo tu yang kucing garong! Minggir sana!" Flo lalu mendorong bahu Dhafi dengan kasar lalu segera menghampiri pak Hendrik yang sedang berdiri di pinggir lapangan bersama dengan beberapa anggota tim basket yang lainnya.
" Siang pak!" Ucap di Flo dengan ramah pada pak Hendrik.
" Siang juga Flo." Jawab pak Hendrik sambil tersenyum. Pak Hendrik lalu memperhatikan penampilan Flo dari atas ke bawah dengan heran. "Kamu kok belum ganti baju?"
__ADS_1
" Hmm...saya minta izin istirahat hari ini pak. Saya kurang enak badan." Jawab Flo dengan jujur. Flo sebenarnya tidak ingin melewati sesi latihan hari ini. Tapi karena Dhafi yang mengancamnya untuk segera pulang ke rumah untuk istirahat jadi Flo terpaksa harus meminta izin pada pak Hendrik terlebih dahulu.
" Oke, kamu bisa istirahat hari ini. Jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup ya Flo! Kamu harus menjaga kesehatan kamu. Pertandingan kita tinggal dua hari lagi dan kamu harus dalam kondisi yang fit sebagai kapten Tim basket ini. Kamu mengerti kan Flo?" Ucap pak Hendrik dengan tegas sambil menepuk bahu gadis itu dengan pelan.
" Iya, saya mengerti pak. Saya izin pulang dulu." Flo menganggukkan kepalanya sekilas untuk memberi hormat pada pak Hendrik.
" Baik, hati hati di jalan." Pak Hendrik lalu berjalan meninggalkan Flo untuk menghampiri anggota tim basket yang lainnya.
Sebelum Flo pergi meninggalkan lapangan, Flo tidak lupa melambaikan tangannya pada teman-temannya yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil tersenyum. Kemudian Flo segera bergegas menghampiri Dhafi yang sedang berdiri menyenderkan tubuhnya di tembok sambil bermain ponsel.
" Gue udah selesai. Buruan anterin gue pulang!" Flo ingin segera pulang ke rumah agar bisa istirahat. Flo ingin segera sembuh dan bisa mengikuti latihan basket lagi bersama teman-temannya.
" Sipp!" Dhafi memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu berjalan bersama Flo menuju parkiran untuk mengambil motor terlebih dahulu.
" Nih pake!" Dhafi melepaskan Hoodie yang dia pakai lalu melemparkannya ke hadapan Flo saat mereka sudah sampai di parkiran motor.
" Nggak usah!" Flo mengulurkan kembali Hoodie itu ke tangan Dhafi tapi cepat di tolak oleh cowok itu.
" Pake Flo! Biar lo nggak masuk angin!" Perintah Dhafi dengan tegas sambil memelototi gadis itu.
Flo akhirnya menuruti keinginan Dhafi untuk memakai Hoodie itu walaupun sebenarnya dia enggan. Saat Hoodie itu sudah di pakai oleh Flo, Dhafi kemudian memasangkan helm ke kepala Flo. Mereka berdua memang beberapa hari ini pergi ke sekolah bersama karena mobil yang biasa di kendarai Flo sedang rusak.
" Pegangan! Ntar Lo jatoh!" Perintah Dhafi di balik helm full face nya.
" Iya bawel!" Flo melingkar kan tangannya di pinggang Dhafi dengan erat sambil diam-diam tersenyum di balik punggung cowok itu. Flo sangat senang karena dia bisa sedekat ini dengan Dhafi. Flo berharap Dhafi tidak merasakan detak jantungnya yang tidak karuan karena memeluk cowok itu dari belakang.
Dhafi dan Flo akhirnya meninggalkan parkiran sekolah menuju ke rumah mereka. Jarak yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit berkendara membuat mereka dengan cepat sampai ke rumah.
" Mau kemana lo?" Dhafi mencekal pergelangan tangan Flo dengan erat agar gadis itu tidak pergi meninggalkannya.
" Mau pulang lah Fi. Masak gue pergi ke mall. Ada-ada aja pertanyaan Lo." Flo memutar matanya jengah saat mendengar pertanyaan Dhafi barusan.
" Istirahat di rumah gue aja! Di rumah Lo nggak ada siapa-siapa. Ntar nyokap gue bisa bikinin bubur buat Lo." Dhafi kemudian menarik tangan Flo dengan paksa agar masuk kedalam rumahnya.
" Gue nggak mau bikin Tante Sofi repot Fi. Gue pulang aja!" Flo berusaha sekuat tenaga menahan tarikan tangan Dhafi, yang memaksanya untuk masuk ke rumah itu.
" Jangan ngeyel!" Dhafi akhirnya mengangkat tubuh Flo dan meletakkannya di bahu layaknya seperti mengangkat karung beras.
" Turunin gue Fi! Gue bisa jalan sendiri!" Flo akhirnya pasrah untuk beristirahat di rumah Dhafi. Sepertinya Flo tidak bisa membantah omongan cowok yang keras kepala itu.
" Makanya nurut kalau gue bilang." Dhafi akhirnya menurunkan Flo dari bahunya dengan perlahan. Untuk mencegah Flo agar tidak kabur, Dhafi memegang tangan gadis itu dengan erat sambil berjalan memasuki rumahnya.
" Ma...Dhafi pulang!" Dhafi berteriak dengan keras saat memasuki rumahnya yang terlihat sepi.
" Iya, mama di sini." Mama Sofi keluar dari dapur saat Dhafi akan berteriak untuk kedua kalinya.
" Kamu kenapa sih Fi? Masuk rumah bukannya ucap salam, malah teriak gitu." Ucap Mama Sofi dengan ketus. Mama Sofi merasa kesal dengan kelakuan putra nya yang satu itu.
Saat menyadari Dhafi membawa seseorang pulang kerumah, Mama Sofi lalu terkejut mendapati kalau orang itu ternyata Flo. " Eh...ada Flo ternyata." Mama Sofi merubah intonasi suaranya menjadi lembut saat menyapa Flo. Berbanding terbalik saat berbicara dengan Dhafi tadi.
" Iya Tante. Maaf ya Tan, aku main ke sini." Ucap Flo dengan tidak enak hati.
__ADS_1
" Kamu ngomong apa sih Flo? Kamu itu udah Tante anggap kayak anak Tante sendiri. Jadi kamu boleh aja main ke sini kapanpun kamu mau. Oke?"
Mama Sofi mendekati Flo dan menggandeng lengan gadis itu dengan lembut. Mama Sofi sudah mengenal Flo sejak kecil karena mereka sudah bertetangga sejak lama. Apalagi setelah mama Flo meninggal, rasa sayang yang dimiliki Mama Sofi semakin bertambah untuk gadis itu.
" Oke Tante." Flo tersenyum senang saat menatap Mama Sofi. Flo sudah menganggap Mama Sofi seperti mama kandungannya sendiri. Jadi Flo juga sangat menyayanginya Mama Dhafi itu.
" Tunggu sebentar!" Mama Sofi merasakan suhu tubuh Flo tidak seperti biasanya saat mengandeng lengan Flo. Mama Sofi kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Flo dengan lembut.
" Kamu anget Flo. Kamu demam ya nak?" Mama Sofi terlihat cemas saat menatap Flo. Mama Sofi kemudian menarik Flo untuk duduk di sofa ruang keluarga untuk memeriksa keadaan gadis itu.
" Flo emang demam Ma. Makanya aku bawa dia kesini." Ucap Dhafi dengan nada khawatir. Dhafi kemudian ikut duduk di samping Flo setelah melepaskan tas dan juga sepatunya.
" Maaf ya Tan, Flo ngerepotin aja!" Flo merasa malu karena selalu merepotkan Mama Sofi kalau dia terkena demam seperti ini.
" Kamu ini gimana sih Flo. Kan Tante udah bilang tadi, kamu itu udah Tante anggap kayak anak Tante sendiri. Jadi Tante nggak merasa kerepotan sama kamu." Mama Sofi mengusap kepala Flo dengan sayang lalu membawa Flo kedalam dekapannya.
" Makasih ya Tan." Ucap Flo sedikit tercekat sambil menahan tangis. Flo merasa beruntung mengenal keluarga Dhafi yang begitu menyayanginya.
" Ma..aku juga mau di peluk dong!" Ucap Dhafi dengan manja sambil merentangkan tangan ke arah Mama Sofi dan juga Flo.
" Jangan cari-cari kesempatan kamu. Biasanya kalau Mama mau peluk, kamu langsung kabur. Ini giliran ada Flo, kamu mau peluk juga." Ucap Mama Sofi dengan nada kesal.
" Jangan gitu dong ma. Gini-gini aku anak Mama juga." Dhafi langsung cemberut saat mendapatkan penolakan dari Mama Sofi.
" Kapan-kapan deh Mama peluk kamu. Sekarang Flo lagi sakit, jadi kamu harus ngalah sama Flo." Ucap Mama Sofi dengan tegas. Mama Sofi kemudian semakin mengeratkan pelukannya pada Flo, membuat Flo menjulurkan lidahnya untuk mengejek Dhafi.
" Wah...berani Lo ya melet-melet ke gue!" Dhafi menunjuk-nunjuk Flo dengan kesal.
" Udah-udah jangan berantem." Mama Sofi akhirnya melepaskan pelukannya dari Flo.
" Tante bikin kamu bubur dulu ya Flo. Kamu istirahat aja di kamar Tamu." Mama Sofi kemudian mengusap kepala Flo dengan sayang.
" Makasih ya Tan!" Ucap Flo dengan tulus sambil tersenyum menatap Mama Sofi.
" Iya sayang." Mama Sofi akhirnya pergi meninggalkan Dhafi dan juga Flo menuju ke dapur.
" Istirahat sana! Gue juga mau istirahat di atas." Dhafi mengulurkan tangannya untuk membantu Flo berdiri.
" Thanks ya Fi." Flo menerima uluran tangan Dhafi lalu perlahan berdiri dari duduknya.
" Iya, masuk sana!" Dhafi mendorong bahu Flo dengan perlahan menuju pintu kamar tamu.
Saat mereka sudah berada di depan pintu, Flo berbalik menatap Dhafi dengan serius.
" Kenapa Lo?" Dhafi mengeryitkan dahinya heran saat melihat flo menatapnya dengan intens.
Dengan keberanian yang besar, Flo akhirnya memeluk Dhafi dengan erat. Membuat Dhafi tiba-tiba tersentak merasakan pelukan Flo yang tiba-tiba.
Saat Dhafi ingin membalas pelukan Flo, gadis itu langsung melepaskan pelukannya begitu saja.
" Sorry!" Ucap Flo dengan pelan sambil melirik Dhafi sekilas. Flo kemudian segera berbalik dan langsung masuk ke dalam kamar. Flo sangat malu untuk melihat reaksi yang akan diberikan Dhafi untuk nya. Flo hanya bisa berdiri di balik pintu sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Sementara Dhafi masih berusaha mencerna maksud Flo memeluknya tadi.
__ADS_1
' Apa si Flo suka ya sama gue?' Ucap Dhafi dalam hati. Tapi saat memikirkan alasan kenapa Flo bisa menyukainya, Dhafi tidak bisa menemukan jawabannya. Dhafi kemudian menyerah untuk memikirkan itu semua lalu segera berbalik menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Dhafi juga ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah. Lalu setelah itu dia akan bertanya langsung pada Flo, apa maksud gadis itu memeluknya tadi.