Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
59. Pertandingan Basket


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu semua orang akhirnya telah tiba. Hari ini tepatnya akan di laksanakan Pertandingan Basket yang akan mempertemukan dua SMA yang cukup terkenal di Jakarta yaitu SMA Bhakti Luhur dan SMA Bina Utama.


Pagi ini semua pendukung dari kedua tim sedang memasuki gerbang SMA Bhakti Luhur sambil membawa beberapa atribut serta spanduk untuk memberikan semangat bagi tim kesayangan masing-masing.


Ketika suasana masih begitu ramai, sebuah mobil putih memasuki area parkir sekolah dengan perlahan. Saat mobil itu sudah terparkir sempurna, Rhea dan Rafka turun secara bersamaan lalu berjalan menuju lapangan basket indoor yang ada di gedung belakang sekolah.


" Rhee, tunggu bentar!" Rafka menahan lengan Rhea agar berhenti berjalan. Rafka kemudian merogoh saku celananya untuk mencari sesuatu.


" Kenapa bang?" Tanya Rhea keheranan.


" Hape Abang ketinggalan di mobil Rhee. Kamu tunggu bentar ya!" Rafka segera berbalik menuju mobil tanpa menunggu jawaban dari Rhea.


Rhea hanya bisa mendegus pelan saat melihat kepergian Rafka. Setelah itu Rhea memilih untuk mengutak-atik ponselnya sambil menunggu Rafka kembali.


Saat Rhea sedang sibuk dengan ponsel di tangannya, seseorang datang dari belakang dan menepuk pundak Rhea dengan lembut.


" Hai, Rhee!" Sapa seorang cowok dengan ramah. cowok itu terlihat sangat tampan dan juga tinggi. Dia juga mengenakan seragam tim basket SMA Bina Utama dan melemparkan senyuman yang manis untuk Rhea.


Rhea yang sadar di sapa oleh seorang, mendongakkan kepalanya dan melihat orang itu secara seksama. Ketika Rhea akhirnya mengenali orang itu, Rhea langsung terkejut dan menyebut nama cowok itu dengan keras.


" Kak Aiden!!" Rhea tidak menyangka akan bertemu kakak kelasnya sewaktu SMP dulu. Saat Rhea menyadari semua orang menatapnya, Rhea segera menutup mulutnya karena merasa malu telah mengeluarkan suara yang cukup keras tadi.


Aiden yang melihat tingkah laku Rhea, hanya bisa tersenyum menatap gadis itu. Aiden juga tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Rhea setelah sekian lama. Rhea merupakan gadis yang pernah singgah di hati Aiden saat mereka sama-sama duduk di bangku SMP. Walaupun mereka tidak pernah berpacaran, setidaknya Aiden pernah menyatakan perasaan pada gadis itu. Jadi Aiden tidak memiliki rasa penyesalan walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan pada Rhea.


" Ternyata Lo anak Bhakti Luhur ya Rhee? Gimana kabar Lo sekarang?" Aiden memperhatikan Rhea dengan lekat. Membuat Rhea sedikit salah tingkah dengan tatapan Aiden padanya.


" Kabar gue baik kak. Gue emang sekolah di sini. Kak Aiden anak Bina Utama ya?" Rhea juga memperhatikan seragam yang di pakai Aiden saat ini sambil tersenyum canggung. "Terus kak Aiden gimana kabarnya? Keliatan nya tambah keren aja sekarang."


Rhea berusaha menutupi kegugupannya dengan berusaha bersikap santai layaknya teman lama pada Aiden. Rhea tidak ingin percakapan mereka kali ini menjadi canggung dan membuat Rhea tidak enak hati pada Aiden karena dulu pernah menolak perasaan cowok itu.


" Lo bisa aja Rhee. Tapi makasih ya udah bilang gue keren." Aiden tersenyum sangat manis saat menatap Rhea. Aiden juga merasa bahagia karena Rhea tidak menjaga jarak dengan dirinya saat ini.


" Woi...Den! Buruan!" Beberapa cowok yang memakai seragam yang sama dengan Aiden, memanggil cowok itu dengan keras. Mereka sedari tadi terus memperhatikan interaksi antara Rhea dengan Aiden. Tapi karena mereka sudah bosan menunggu, jadi mereka akhirnya memanggil Kapten Tim Basket itu untuk segera kembali.


" Bentar!" Aiden memberikan tatapan maut kepada semua anggota tim basketnya sehingga mereka semua akhirnya menutup mulut rapat-rapat dan kemudian berdiri dengan manis untuk menunggu Aiden datang. Setelah itu, Aiden kembali menatap Rhea dengan lembut lalu berpamitan dengan gadis itu.


" Sorry ya Rhee, gue harus gabung sama mereka lagi." Ucap Aiden dengan tidak enak hati. Sebenarnya Aiden belum ingin berhenti mengobrol dengan Rhea. Tapi karena hari ini dia akan bertanding, jadi Aiden dan rekan-rekan setimnya harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum pertandingan di mulai.


" Iya, nggak apa-apa kak." Rhea akhirnya bisa bernafas lega karena dia tidak perlu pusing lagi memikirkan apa yang mesti dia bicarakan dengan Aiden.


" Btw, gue boleh nggak Rhee minta nomor Lo? Tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa. Gue nggak maksa." Ucap Aiden dengan canggung. Aiden saat ini mencoba peruntungannya untuk kembali mendekati Rhea. Bila gadis itu memberikan nomor ponselnya, itu berarti kesempatan masih ada untuk Aiden. Tapi bila gadis itu menolak, berarti dia harus mengurungkan niat untuk mendekati gadis itu kembali.


" Hmm...sorry kak. Gue udah punya pacar. Jadi gue nggak..." Ucapan Rhea tiba-tiba dipotong oleh Aiden dengan cepat.


" Nggak masalah Rhee. Gue paham. Kayaknya kita emang nggak jodoh dari dulu. Tapi sebelum janur Kuningan melengkung, Lo masih bisa gue tikung kan Rhee? Hehehe.." Aiden berusaha menutupi kekecewaannya dengan sedikit menggoda Rhea lalu tertawa kecil di hadapan gadis itu.


" Kayak nggak ada cewek yang cakep aja di Bina Utama?" Rhea berusaha mencairkan suasana dengan meledek Aiden.

__ADS_1


" Yang cakep banyak Rhee, tapi hati gue udah terlanjur kena pelet sama Lo!" Ucap Aiden lagi. Membuat Rhea langsung terdiam mendengarkan ucapan Aiden tadi.


Aiden yang tersadar dengan ucapannya sendiri, menggaruk kepalanya yang tidak gatal kerena merasa telah salah bicara pada Rhea.


" Gue becanda Rhee! Serius amat." Aiden membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan lalu mencolek hidung Rhea sekilas. Ketika mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari Aiden, Rhea seketika membeku dan tidak merespon ucapan Aiden sama sekali.


" Gue cabut dulu ya Rhee. Jangan lupa kasih semangat buat gue pas lagi tanding nanti." Aiden langsung berbalik setelah mengedipkan sebelah matanya pada Rhea. Kemudian Aiden segera pergi menuju teman-temannya yang sudah menunggunya sejak tadi dan menggiring mereka semua memasuki lingkungan sekolah SMA Bhakti Luhur.


Setelah kepergian Aiden, Rhea hanya bisa memandangi punggung cowok itu dengan perasaan yang tidak menentu. Saat Rhea kembali teringat dengan apa yang di ucapkan Aiden tadi, Rhea hanya bisa menghela nafas pelan. Rhea berharap Aiden bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari dirinya.


" Kamu kok bengong Rhee?" Tanya Rafka keheranan. Rafka melihat adiknya itu nampak sedang termenung sambil menatap lurus kedepan.


" Aku nggak bengong bang, tapi lagi mikirin sesuatu. Abang dari mana aja sih? Ambil hape kok sampe lama banget." Ucap Rhea dengan ketus. Rhea sudah lama berdiri menunggu Rafka, hingga dia akhirnya bertemu dengan Aiden secara tidak sengaja.


" Sorry ya dek, tadi Abang nerima telfon dulu dari temen." Rafka tersenyum malu-malu saat menatap Rhea yang masih memasang tampang cemberut padanya.


" Bilang aja nerima telfon dari pacar. Pake bohong segala lagi. Nyebelin." Rhea menghentakkan kakinya dengan keras, lalu dia pergi meninggalkan Rafka seorang diri.


" Tungguin Abang Rhee! Abang beneran nggak bohong." Rafka segera mengikuti Rhea dari belakang. Setelah berhasil berjalan di samping Rhea, Rafka langsung merangkul bahu adiknya itu agar mereka berdua berjalan beriringan menuju lapangan basket sekolah.


" Wah...rame banget!" Rhea berdecak kagum saat memasuki lapangan basket indoor SMA Bhakti Luhur yang mulai ramai dengan para pendukung kedua tim. Mereka semua nampak sedang bersiap-siap di tribun untuk meneriakkan yel-yel penyemangat bagi tim basket putra yang akan bertanding sebentar lagi.


" Rhea...!!" Shasa dan Bibi kompak memanggil nama Rhea dengan keras karena suasana di pinggir lapangan yang begitu ramai dan cukup berisik. Mereka berdua sudah mengambil tempat duduk yang sangat strategis agar bisa menonton pertandingan dengan nyaman dan tanpa hambatan sama sekali.


Saat Rhea melihat ke arah tribun, ternyata Shasa dan Bibi lah yang memanggil dirinya. Dengan tergesa-gesa Rhea segera menghampiri keduanya sambil mengandeng lengan Rafka agar mereka berdua tidak terpisah saat berjalan menuju tempat duduk Shasa dan juga Bibi.


" Gue lama karena nungguin orang yang lagi sibuk teleponan sama pacarnya. Jadi gue telat deh." Rhea melirik Rafka dengan sinis karena membuat dirinya hampir terlambat menonton pertandingan tim basket kali ini.


" Abang beneran teleponan sama temen Rhee! Bukan pacar!" Ucap Rafka dengan tegas sambil melirik Shasa yang terlihat acuh tak acuh saat menatapnya.


" Terserah Abang." Rhea memutar matanya jengah saat berbicara dengan Rafka. Rhea terlalu malas untuk berdebat dengan Rafka saat ini.


" Rhee, anggota tim basket cewek pada duduk di sana tuh! Mendingan Lo gabung sama mereka! Sekalian siap-siap buat pertandingan nanti." Bibi menunjuk beberapa anggota tim basket putri yang sudah berkumpul di pinggir lapangan bersama dengan Pak Hendrik.


" Oh iya. Gue kesana dulu ya guys. Gue nitip bang Rafka boleh kan? Tolong jagain ya!" Rhea melirik Shasa sekilas lalu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda sahabatnya itu.


Shasa yang sangat paham dengan kode Rhea tadi, memilih tidak menjawab ucapan sahabatnya itu. Sedangkan Bibi langsung bersemangat saat Rhea menyodorkan Abangnya yang terlihat sangat tampan itu untuk di jaga.


" Tenang aja Rhee, gue bakalan jagain Abang Lo dengan aman. Yang paling penting sekarang, lo harus menangin pertandingan hari ini. Oke?" Ucap Bibi dengan nada centil sambil tersenyum penuh semangat pada Rhea.


Rafka yang berdiri di sebelah Rhea tiba-tiba merasa geli saat melihat ekspresi serta gaya bicara Bibi yang centil. Rafka rasanya ingin pergi saja dari tempat itu, tapi karena Rafka melihat ada Shasa di sana, jadi dia mengurungkan niatnya itu.


" Oke. Gue cabut ya! Bye.." Rhea melambaikan tangannya pada Rafka, Shasa dan juga Bibi dengan riang, lalu segera menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul bersama pak Hendrik di pinggir lapangan.


" Hai Sha! Kamu apa kabar?" Rafka melirik Shasa yang sedang duduk diam di sampingnya lalu mulai membuka obrolan saat dia sudah duduk di sebelah gadis itu.


" Hai juga Bang. Kabar aku baik, kabar Abang sendiri gimana?" Shasa berusaha bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan Rafka sebelumnya.

__ADS_1


" Kabar Abang juga baik. Kok kamu sekarang jarang main ke rumah Sha? Apa kamu masih marah sama Abang karena kejadian yang waktu itu?" Tanya Rafka penasaran sambil menatap Shasa yang terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Rafka tadi.


" Aku nggak marah Kok bang. Beberapa hari ini aku sibuk sama tugas sekolah, makanya aku jarang main ke rumah Abang." Ucap Shasa dengan tenang sambil tersenyum. Shasa sudah mempersiapkan alasan jauh-jauh hari untuk mengantisipasi pertanyaan Rafka hari ini.


" Oh...bagus kalau gitu." Rafka menganggukkan kepalanya lalu tidak mengatakan apa-apa lagi karena Shasa juga terlihat enggan untuk berbicara dengannya.


Mereka berdua akhirnya sibuk dengan pemikiran masing-masing sampai pertandingan basket itu di mulai.


****


" Hai Fi! Mana si Gavin?" Aiden menghampiri Dhafi di pinggir lapangan sebelum pertandingan di mulai. Mereka berdua cukup akrab karena sering bertemu di setiap pertandingan basket antar sekolah atau sekedar tanding di taman kompleks perumahan mereka.


" Gavin udah keluar dari Tim." Ucap Dhafi dengan cuek. Dhafi saat ini sedang duduk bersama teman satu timnya sambil menunggu pertandingan di mulai.


" Oh...bagus kalau gitu. Sampai ketemu di lapangan Fi. Gue nggak kan berbelas kasihan sama Lo nanti." Aiden menaikan sudut bibirnya sebelum berbalik meninggalkan Dhafi dan teman-temannya.


" Gue nggak butuh belas kasihan Lo!" Teriak Dhafi dengan keras. Dhafi bertekad akan membuktikan pada Aiden, kalau tim nya bisa menang walaupun Gavin sudah keluar dari Tim basket mereka.


****


Akhirnya Pluit panjang dari wasit berbunyi ditengah lapangan. Kedua tim basket saat ini sedang sibuk saling menyerang untuk mendapatkan poin agar meraih kemenangan.


Dhafi yang menjadi kapten Tim basket mewakili SMA Bhakti Luhur, menjalankan beberapa strategi agar bola orange itu tidak bisa di rebut dengan mudah oleh tim lawan.


Kapten Tim basket SMA Bina Utama yaitu Aiden, harus bekerja ekstra bersama anggota timnya agar bisa menembus pertahanan dari tim Dhafi yang begitu kuat.


Hingga babak pertama usai, tim basket SMA Bhakti Luhur mendapatkan poin lebih unggul dari tim basket Bina Utama. Saat Dhafi masih berada di tengah lapangan, dia menatap Aiden dengan remeh sambil melemparkan senyuman mengejek pada lawannya itu.


' Sialan ' gumam Aiden pelan. Aiden hanya bisa mengepalkan tinjunya saat membalas tatapan Dhafi. Ternyata Aiden telah salah meremehkan kemampuan tim Dhafi tadi. Walaupun Gavin tidak ikut bergabung bersama mereka, tapi tim basket SMA Bhakti Luhur tetap solid dan tangguh saat ini.


Hingga babak selanjutnya di mulai, tim basket SMA Bhakti Luhur masih tetap mendominasi permainan dengan berbagai teknik shooting yang menakjubkan dari masing-masing anggota.


Contoh saat ini, Dhafi yang sedang memegang bola dengan mulus melewati setiap pemain dari SMA Bina Utama dan langsung melakukan lay up shoot dan berhasil mencetak 2 poin untuk tim SMA Bhakti Luhur.


Alex dan juga Azka juga tidak mau kalah untuk menunjukkan skill masing-masing. Mereka berdua mampu menambah poin untuk tim SMA Bhakti Luhur dan membuat poin SMA Bina Utama tertinggal jauh di belakang.


Sampai pertandingan usai, tim SMA Bina Utama akhirnya harus mengakui keunggulan dari tim SMA Bhakti Luhur. Walaupun pertandingan kali ini hanya sekedar pertandingan persahabatan, tapi tetap membuat tim SMA Bina Utama cukup kecewa karena berhasil di kalahkan lagi oleh saingan lama mereka.


Sementara itu, tim basket SMA Bhakti Luhur merayakan kemenangan mereka dengan penuh suka cita. Mereka semua kompak mengangkat Dhafi, lalu melemparkannya ke udara sebagai bentuk euforia kegembiraan mereka hari ini.


Setelah puas meluapkan rasa kegembiraan, tim basket SMA Bhakti Luhur tidak lupa menyambangi tim basket lawan untuk memberikan Salam persahabatan pada mereka semua. Dhafi dan Aiden yang merupakan kapten tim basket masing-masing tim, kompak berjabat tangan begitu pula dengan anggota tim yang lainnya.


" Selamat atas kemenangannya. Sorry tadi gue sempet meremehkan kemampuan kalian semua." Ucap Aiden dengan tulus sambil berjabat tangan dengan Dhafi.


" It's oke. Sampai ketemu di pertandingan selanjutnya." Dhafi membalas jabatan tangan Aiden lalu tersenyum sekilas pada lawannya itu.


Setelah selesai berjabat tangan, mereka semua meninggalkan lapangan dan kembali berkumpul untuk menyaksikan pertandingan tim basket putri yang akan di laksanakan sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2