Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
56. Playboy Yang Tobat


__ADS_3

" Kapan sampai ke kantin nya kalau gini." Ara bergumam pelan saat dirinya dan Azka sedang berjalan dengan perlahan menuju kantin sekolah.


" Apa Lo bilang?" Azka menghentikan langkah kakinya dan memelototi Ara yang sedang membantu dirinya untuk berjalan. Walaupun Ara berbicara dengan pelan tapi tetap saja bisa di dengar dengan jelas oleh Azka.


" Gue nggak ngomong apa-apa." Ara memilih berbohong pada Azka agar cowok itu tidak memperlama waktu mereka untuk segera pergi ke kantin.


" Gue nggak budeg. Lo lupa siapa yang bikin pinggang gue jadi gini?" Tanya Azka dengan sinis sambil menatap Ara dengan tajam.


" Iya, gue tau. Gue minta maaf." Ucap Ara dengan tulus.


" Bagus kalau Lo sadar. Buruan bantuin gue jalan lagi! Gue udah laper." Azka mengulurkan tangannya lagi di bahu Ara lalu mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju kantin.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Azka dan Ara sampai di depan kantin. Mereka segera mencari tempat duduk yang masih kosong agar bisa menikmati makanan yang akan mereka pesan.


" Mau duduk dimana kak?" Ara menoleh ke arah Azka yang sedang sibuk melihat lihat ke sekeliling untuk mencari meja yang masih kosong.


" Hmm....duduk di sana aja!" Azka menunjuk sebuah meja yang ada di sudut kantin yang sedang di isi oleh tiga orang.


" Oke!" Ara hanya menuruti saja apa yang di katakan Azka, lalu mereka berjalan beriringan menuju meja itu.


" Wahh... akhirnya Bapak Azka Permana Nugraha sampai juga di kantin. Jadi ini asisten Pribadi Lo?" Alex tersenyum mengejek saat pertama kali menyadari kedatangan Azka dan Ara yang menghampiri meja mereka.


" Bacot Lo. Gue mau ma....Tasya!!" Azka sangat terkejut karena melihat Tasya sedang duduk di samping Dhafi dan juga Alex.


" Hai Ka! Apa kabar?" Tasya menyapa Azka yang berdiri mematung sambil menatapnya. Tasya tidak lupa tersenyum sambil melambaikan tangan pada Azka.


Saat Azka sudah bisa meredakan rasa keterkejutan nya, dia juga membalas sapaan Tasya dengan ramah.


" Kabar gue baik. Lo pindah ke sekolah sini ya Sya? Di kelas mana?" Tanya Azka penasaran.


" Iya, mulai hari ini gue bakal sekolah bareng kalian semua. Dan kebetulan gue sekarang sekelas sama Alex dan juga Gavin." Tasya sangat antusias saat berbicara dengan Azka. Dia sampai lupa dengan makanan yang ada di hadapannya.


Saat Tasya dan Azka sedang sibuk mengobrol, Ara tiba-tiba menyela dan berkata berkata dengan cepat,


" Kak duduk yuk! Gue pegel ni!" Ara yang sedang berdiri memapah Azka, mulai merasa lelah karena terus berdiri dari tadi.


" Oh...sorry!" Azka akhirnya memilih duduk setelah di bantu oleh Ara. Mereka berdua memilih duduk di hadapan Tasya, Alex dan Dhafi.


" Huufftt..." Ara akhirnya bisa bernafas lega karena sudah berhasil duduk dengan nyaman di sebelah Azka. Ara juga menyeka keringatnya yang membanjiri pelipis dan juga dahinya.


" Gitu aja capek Lo!" Sindir Azka. Sebenarnya Azka merasa kasih dengan Ara, tapi karena gengsi jadi hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.


" Berisik! Lo mau apa? Gue mau pesen nih!" Ara menatap Azka dengan jengkel saat gadis itu sudah berdiri untuk memesan makanan.


" Samain aja sama punya Lo. Terus jangan pake lama ya!" Perintah Azka dengan tegas. Membuat Ara mendengus sebal lalu pergi meninggalkan meja itu.


Ketiga sahabat Azka yang menjadi penonton, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi keduanya.


" Lo kok gitu sama cewek Ka? Lo tu mestinya harus lembut sama cewek biar dia suka sama Lo. Bukannya main suruh-suruh gitu. Nggak ada romantis-romantis nya tau nggak." Tasya mulai berkomentar saat Ara sudah meninggalkan meja mereka.


" Dia beda dari cewek yang lain, makanya gue pake strategi lain buat bisa bikin dia suka sama gue." Ucap Azka dengan percaya diri.


" Yang gue tau semua cewek itu sama. Nggak ada beda nya bego. Bukannya dia suka, malah lama-lama eneg liat muka Lo yang sok perintah itu." Alex juga ikut berkomentar karena gemas melihat kepercayaan diri Azka yang terlalu tinggi.

__ADS_1


" Lo liat aja, gue pasti bisa dapetin dia." Ucap Azka dengan keyakinan yang kuat sambil menatap Ara dari kejauhan.


" Serah Lo deh. Tapi kalau gue boleh saran mendingan Lo cepat ubah deh strategi Lo sekarang. Mumpung dia belum eneg-eneg banget liat muka Lo!"


Dhafi yang sedari tadi diam, akhirnya menyuarakan pendapatnya. Walaupun dia belum punya pengalaman pacaran, tapi setidaknya dia tidak sebodoh Azka untuk mendapatkan seorang gadis.


Saat Azka ingin membalas perkataan Dhafi tadi, Ara sudah sampai terlebih dahulu ke meja mereka dengan membawa dua porsi bakso dan dua gelas jus jeruk di atas nampan.


" Nih!" Ara meletakkan makanan itu di hadapan Azka lalu dia duduk dengan tenang di samping Azka untuk menikmati makanannya.


" Thanks!" Ucap Azka singkat lalu melirik Ara yang sudah mulai makan dengan tenang tanpa menghiraukan orang yang ada di sekitarnya.


" Hai, kita belum kenalan. Nama gue Tasya. Gue siswa pindahan dari Bandung. Gue temen satu SMP sama mereka semua dulunya." Tasya mengajak Ara berkenalan karena sedikit penasaran dengan gadis yang sedang di dekati oleh Azka itu.


" Oh..hai juga kak! Nama gue Ara. Gue anak kelas 10." Ucap Ara dengan ramah. Ara sedikit tidak menyangka gadis secantik Tasya, ternyata tidak sombong seperti beberapa kakak kelas yang dia kenal.


" Lo udah pacar belum Ra?" Tanya Tasya lagi sambil menatap Ara yang sedang sibuk dengan makanannya.


" Belum kak." Jawab Ara dengan singkat.


" Kok gitu? Lo kan cantik Ra. Emangnya nggak ada yang ngajak pacaran giu? Atau Lo mau nggak gue kenalin sama temen gue? Mana tau kalian cocok." Ucap Tasya dengan semangat. Tasya sangat penasaran menunggu jawaban yang akan di sampaikan oleh Ara.


" Kak Tasya bisa aja. Nggak ada yang ngajak gue pacaran kak. Dan makasih juga buat rencana kak Tasya buat ngenalin gue sama temen kakak. Tapi gue rasa untuk saat ini nggak perlu deh kak. Gue bisa cari sendiri." Ucap Ara dengan percaya diri sambil menatap Tasya.


" Yah....padahal aku mau ngenalin kamu sama temen aku loh. Dia itu orangnya baik Lo Ra, ganteng lagi." Tasya menaik turunkan alisnya saat menatap Azka sekilas. Sepertinya ini cara yang di gunakan Tasya untuk mendekatkan Ara dengan Azka.


" Gue rasa nggak perlu kak." Ara masih tetap bersikeras tidak ingin mengenal orang yang di sebutkan Tasya tadi.


" Oke kalau gitu. Tapi gue boleh tau nggak kriteria cowok Lo gimana?" Walaupun Tasya tidak bisa membantu menjodohkan Azka dengan Ara. Setidaknya dia bisa membantu Azka untuk mengetahui bagaimana kriteria cowok idaman gadis itu.


" Yang penting nggak Playboy!" Ucap Ara dengan enteng. Senyum juga terbit di bibirnya setelah mengatakan hal singkat itu.


" Uhhukk..." Azka tersedak makanannya sendiri saat mendengar ucapan Ara tadi.


Sementara Alex, Dhafi dan Tasya mencoba menahan tawa mereka masing-masing karena melihat ekspresi keterkejutan di wajah Azka.


" Kalau Playboy nya udah tobat gimana Ra?" Tanya Tasya lagi sambil sesekali melirik Azka yang sedang cemberut di samping Ara.


" Nggak ada yang namanya Playboy tobat kak dan gue udah buktiin sendiri." Ucap Ara cuek. Dia kembali menyuapkan bakso ke mulutnya lalu memakannya dengan santai di hadapan semua orang.


Azka yang mengetahui siapa orang yang di maksud Ara, hanya bisa diam. Sedangkan Tasya, Alex dan Dhafi mengkerut kan kening karena tidak mengetahui siapa yang di maksud oleh Ara.


" Buktiin gimana Ra?" Sepertinya Tasya sangat penasaran dengan ucapan Ara tadi.


" Udah, jangan di bahas lagi." Azka segera menghentikan pembicaraan itu, agar suasana tidak semakin canggung.


" Bokap gue Playboy kak. Walaupun dia udah punya nyokap dan gue, dia tetap nggak bisa hilangin sifat itu. Jadi gue harap gue nggak bernasib sama kayak nyokap gue." Ara menjelaskan kepada semua orang yang ada di meja itu dengan santai seperti tanpa beban sama sekali.


Semua orang yang ada di meja itu kecuali Azka, langsung melongo mendengar penjelasan Ara tadi. Mereka tidak menyangka Ara dengan entengnya menceritakan sedikit cerita hidupnya di hadapan semua orang.


" Gue minta maaf ya Ra. Gue tadi terlalu banyak nanya sama Lo. Gue bener-bener nggak tau." Tasya menyatukan kedua telapak tangannya serta menatap Ara dengan tulus untuk meminta maaf.


" Santai aja kak. Gue nggak apa-apa kok. Tapi gue harap setelah ini Lo nggak berminat lagi buat ngenalin gue ke temen kakak itu." Ara tersenyum meledek Tasya yang sedang menatap malu-malu pada Ara.

__ADS_1


" Tenang aja Ra, gue nggak berminat lagi. Temen gue itu juga keliatannya nggak cocok-cocok amat sama Lo. Lo terlalu baik buat dia." Tasya kembali melirik Azka yang semakin memanyunkan bibirnya karena kesal.


" Thanks ya kak." Ara tersenyum senang dan melanjutkan kembali menyantap makanannya yang masih tersisa. Mereka semua akhirnya tidak berbicara lagi sampai Gavin dan Rhea kembali dari toilet.


" Woi Vin! Dari mana aja Lo?" Azka adalah orang yang pertama menyapa Gavin saat keduanya kembali dari toilet. Mereka berdua memilih kembali ke kantin, karena merasa tidak enak dengan Tasya.


" Gue habis nemenin Rhea dari toilet." Gavin menarik sebuah kursi untuk di duduki Rhea dan juga dirinya. Mereka memilih duduk di samping Azka dan juga Ara.


Saat suasana sedikit canggung, Dhafi mencoba membuka obrolan di meja itu.


" Sabtu depan kita semua bakal ikut laga persahabatan sama anak-anak Bina Utama. Lo harus liat kita main ya Vin!"


" Gue udah tau, tapi gue nggak janji bakal nonton pertandingan nya dari awal. Lo tau sendiri kan gue sibuk di kantor bokap. Gue harus selesain tugas gue dulu, baru gue bisa liat Lo pada tanding." Ucap Gavin dengan serius.


Rhea sudah memberi tau Gavin sebelumnya bahwa tim basket putra dan putri akan mengikuti pertandingan persahabatan melawan SMA Bina Utama Sabtu depan.


" Wah..sayang banget ya Vin, Lo nggak bisa ikut tanding. Padahal kan Lo dari dulu suka banget sama basket." Tasya ikut berkomentar dengan nada sedih sambil menatap mata Gavin.


Rhea yang merasa risih dengan tatapan mata Tasya pada Gavin, hanya bisa menurunkan pandangannya dan meremas kedua tangannya dengan cukup keras.


" Gue emang suka basket. Tapi sekarang prioritas gue adalah nolongin bokap." setelah Gavin berbicara dengan Tasya, dia langsung menatap Rhea yang berada di sampingnya. Gavin kemudian meraih tangan Rhea dan menggenggamnya dengan erat, membuat gadis itu kembali mengangkat pandangannya pada Gavin.


" Lo bener Vin. Kita memang harus memprioritaskan orang tua dari pada hanya mengejar kesenangan aja." Ucap Tasya dengan bijak sambil tersenyum. Tapi setelah itu Tasya langsung mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, saat melihat interaksi antara Gavin dan Rhea. Tasya bertekad akan merebut kem0bali Gavin dari tangan Rhea.


Saat mereka semua masih terlibat dalam obrolan seru, suara bel akhirnya berbunyi dan mengakhiri jam istirahat mereka saat ini. Semua siswa yang berada di dalam kantin mulai pergi menuju kelas masing-masing. Termasuk juga Gavin dan teman-temannya.


" Gue antar Rhea ke kelasnya dulu." Ucap Gavin pada ketiga sahabatnya dan juga Tasya. Mereka semua menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu Tasya tidak lupa melambaikan tangan pada keduanya sebagai salam perpisahan.


Setelah itu Gavin langsung membantu Rhea berdiri dan mereka mulai berjalan beriringan meninggalkan kantin menuju ke kelas Rhea dengan bergandengan tangan.


Pemandangan itu pun tidak luput dari perhatian Tasya. Tasya hanya mampu memasang senyuman palsu saat keduanya semakin menjauh dari pandangan Tasya.


' Nikmatin waktu lo sama Gavin, Rhee! Karena gue bakalan pastiin kalau Gavin akan kembali lagi sama gue.' Ucap Tasya dalam hati.


" Lo antar gue ke kelas dulu ya! Pinggang gue masih sakit." Azka menatap Ara yang hendak berdiri meninggalkan meja mereka.


Saat Ara ingin menolak permintaan Azka itu, Dhafi dan Alex langsung menyela dan mulai berjalan menghampiri Azka.


" Azka biar ama kita aja. Lo bisa balik sekarang. Thanks ya Ra." ucap Dhafi dengan lembut pada Ara. Setelah itu Dhafi menepuk-nepuk pundak Azka dengan keras lalu tersenyum jahil pada sahabatnya itu.


" Oke kak. Gue ke kelas dulu." Ara segera pergi meninggalkan meja itu tanpa menoleh ke belakang lagi.


" Puas Lo berdua, bikin si Ara kabur dari gue?" Ucap Azka dengan ketus pada Dhafi dan juga Alex. Azka kemudian berusaha berdiri perlahan agar pinggangnya tidak terlalu merasakan sakit.


" Kasihan kalau dia mesti anter Lo ke kelas dulu monyet!" Alex membantu memegangi tangan Azka, agar memudahkan sahabatnya itu untuk berdiri.


" Berisik Lo." Azka tetap menerima pertolongan Alex walaupun dirinya merasa kesal.


" Lo beneran mau deketin Ara ya, Ka? Kalau Lo cuma mau main-main sama dia, mendingan nggak usah aja deh. Kasihan tau, pasti dia nggak mau ngerasain apa yang di rasain Ama nyokap nya." Ucap Tasya terus terang pada Azka. Tasya sedikit merasa kasihan mendengar cerita Ara tadi.


" Gue bakalan buktiin kalau gue beda dari bokap dia." Ucap Azka dengan sungguh-sungguh sambil menatap ketiga temannya itu.


" Serah Lo deh Ka." Alex akhirnya membantu memapah Azka berjalan keluar dari kantin. Di ikuti dengan Dhafi dan juga Tasya di belakang. Mereka semua berjalan menuju kelas yang berada di lantai dua dengan perlahan agar Azka tidak terlalu merasakan sakit pada punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2