
" Ada perlu apa sih kak?? Gue beneran laper ni??" Rhea menatap kesal Gavin yang sudah membawa nya ke taman belakang sekolah bukannya kantin.
" Tunggu sebentar!!" Gavin menatap Rhea sekilas lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
" Ok gue tunggu, tapi cepetan ya!!" Rhea memasang muka cemberut sambil mengusap-usap perutnya yang lapar.
" Lo masih suka nyanyi ya Rhee?" Gavin mulai bertanya saat dia sudah selesai dengan ponselnya.
" Suka, tapi nggak terlalu sering. Palingan cuma nya sesekali doang. Emang kenapa??" Rhea menatap Gavin yang sedang duduk disampingnya.
" Tadi gue denger Lo nyanyi di ruangan musik. Suara Lo masih bagus." Gavin membalas tatapan Rhea sehingga Rhea sedikit salah tingkah dan segera memutus kontak mata diantara mereka.
" Ohh..makasih." Rhea merasakan jantungnya berdegup lebih cepat sehingga dia hanya membalas singkat ucapan Gavin.
Saat mereka masih sama-sama diam, datang seorang cowok yang berpenampilan cupu menghampiri mereka dengan membawa kantong kresek berisi makanan.
" Kak, ini dari kak Azka!" Cowok itu memberikan barang yang dia bawa pada Gavin dengan sopan, lalu berpamitan meninggalkan Rhea dan Gavin lagi.
" Thanks." Gavin langsung membuka kantong kresek yang berisi makanan tadi yang dia pesan melalui Azka. Didalamnya ada 1 porsi somay, 1 porsi batagor, beberapa gorengan dan 2 botol air mineral.
" Kita makan di sini aja ya Rhee." Gavin menyodorkan makanan tadi pada Rhea sehingga muka Rhea berubah menjadi senang.
" Oke!! Gue juga udah kelaperan." Tanpa malu-malu Rhea langsung saja mengambil somay yang ada didalam kantong dan menyantapnya dengan lahap. Sedangkan Gavin mengambil batagor karena makanan itu yang masih tersisa.
" Pelan-pelan Rhee, ntar keselek!!" Gavin memperhatikan Rhea yang sedang mengunyah makanan dengan cepat. Sepertinya gadis itu sangat kelaparan.
" Iya." Rhea hanya bergumam pelan dan kembali melanjutkan makannya.
Gavin tersenyum senang melihat Rhea ada di sampingnya. Sehingga Gavin ingin sedikit menggoda gadis itu.
" Enak banget keliatannya. Bagi dong Rhee!!" Gavin sengaja menatap lama-lama makanan Rhea, menunggu respon gadis itu. Apakah Rhea akan memberikannya atau tidak.
Rhea menatap Gavin dan makanan nya secara bergantian. Rhea sedikit malu menyodorkan bekas makanannya pada Gavin. Tapi melihat Gavin yang sepertinya sangat berminat maka Rhea akhirnya menyodorkan juga makanan itu.
" Nih..!!" Rhea menyendokkan somay tadi ke mulut Gavin. Gavin menerimanya dengan senang hati. Hupp...suapan pertama mendarat di mulut Gavin.
" Enak Rhee. Lo juga mau cobain makanan gue??" Gavin juga menyodorkan makanannya pada Rhea. Rhea melirik sekilas lalu menggeleng dengan cepat. Rhea sebenarnya mau mencoba makanan itu tapi dia gengsi pada Gavin.
" Ya udah." Gavin kembali melanjutkan makannya begitu pula Rhea. Mereka sama-sama diam hingga makanan itu habis tidak tersisa.
" Ahhh... kenyang nya!! Thanks ya kak." Rhea mengusap perutnya yang akhirnya terisi penuh dengan makanan.
" No problem!!" Gavin tegelak kecil melihat tingkah Rhea yang sangat menggemaskan dimata Gavin.
" Kenapa kita nggak makan di kantin sih kak??" Akhirnya Rhea bertanya alasan Gavin mengapa mengajak nya makan di taman.
" Gue pengen makan berdua sama Lo dengan tenang kayak gini Rhee. Lo pasti risih sama tatapan orang lain kalau Lo jalan bareng gue kan Rhee??" Gavin bisa menyimpulkan hal tersebut karena Rhea selalu menghindar dari Gavin saat mereka sudah berada di lingkungan sekolah.
" Itu cuma perasaan Lo aja kak. Gue nggak gitu kok. Gue biasa aja." Rhea berusaha membantah apa yang diucapkan gavin tapi sepertinya cowok itu tidak percaya.
" Gue minta Lo sabar ya Rhee. Semuanya bakal baik-baik aja. Lo harus percaya sama gue." Gavin selalu meyakinkan Rhea agar gadis itu tidak lagi menjauhinya.
" Hmm.." Rhea hanya menganggukkan kepalanya meyakini apa yang di ucapkan Gavin.
" Rhee...soal yang kemaren yang mau kita bahas..." Gavin sedikit ragu menyambung ucapannya pada Rhea.
" Iya, gue tau. Kita bahas ntar pulang sekolah aja ya!!" Rhea malas membahas masalah itu karena mereka masih berada di lingkungan sekolah.
" Oke, thanks ya Rhee. Hmm...itu..gue pengen ngomong sesuatu lagi sama Lo." Gavin menatap Rhea menunggu persetujuan gadis itu.
" Ngomong aja!! Mumpung bel belum bunyi." Rhea memperhatikan jam yang ada di ponselnya. Masih ada 15 menit lagi sebelum bel tanda masuk berbunyi.
__ADS_1
" Lo bisa nggak jangan senyum-senyum sama cowok lain!!" Akhirnya Gavin menyampaikan apa yang sebenarnya ingin dia katakan dari tadi.
Rhea yang mendengar hal itu mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Gavin melarangnya tersenyum pada cowok lain.
" Emang apa alasannya sampai gue nggak boleh senyum sama cowok lain?? Masa gue harus pasang tampang jutek setiap ketemu cowok lain. Atau jangan-jangan Lo cemburu ya sama gue?" Rhea hanya asal menebak apa yang dipikirkan Gavin saat ini.
" Iya gue cemburu!! Lo itu cantik kalau lagi senyum Rhee, jadi gue nggak rela cowok lain liat senyuman Lo itu. Gue nggak mau liat mereka semua juga suka sama Lo." Gavin mengatakan apa yang dia rasakan agar Rhea paham dengan tujuannya melarang Rhea tersenyum.
Seketika pipi rhea bersemu merah mendengar ucapan Gavin. Rhea merasa malu karena Gavin mengatakan kalau dia cantik saat tersenyum. Rhea segera berdiri dan mengalihkan wajahnya agar tidak diperhatikan oleh gavin.
" Lo mau kemana Rhee??" Gavin sedikit terkejut melihat reaksi Rhea yang langsung berdiri setelah dirinya memuji gadis itu.
" Gue mau ke toilet." Rhea segera berjalan meninggalkan Gavin yang masih duduk di bangku taman.
" Mau gue temenin nggak Rhee??" Gavin sedikit berteriak karena Rhea sudah semakin jauh dari pandangannya.
" Nggak.." kemudian Rhea mempercepat langkahnya menuju toilet.
" Imut banget sih Lo Rhee? Pengen gue cium!!" Monolog Gavin sendiri dan kemudian tersenyum senang melihat tingkah malu-malu yang ditunjukkan oleh Rhea tadi.
" Isshhh....dasar playboy!! Pakai acara muji-muji gue segala lagi. Kan gue jadi malu." Rhea mengomel sendiri saat dirinya sedang berjalan menuju toilet. Rhea berencana tidak akan menghampiri Gavin di taman lagi tapi akan langsung masuk kelas setelah dirinya keluar dari toilet.
Saat Rhea masih sibuk dengan pemikirannya, tanpa Rhea sadari ada tiga cewek sedang menunggu kedatangan Rhea di depan pintu toilet. Mereka adalah Devina, Maya dan Ratu.
" Mau kemana Lo cewek kecentilan??" Devina langsung menghadang Rhea yang akan masuk ke dalam toilet.
Mendengar ocehan Davina yang tidak penting, Rhea hanya bisa menghela nafas lelah.
" Gue mau pipis kak! Lo nggak liat Lo lagi berdiri didepan toilet!!" Rhea masih berbicara sopan pada Devina karena malas meladeni kakak seniornya itu.
" Gue ada urusan sama Lo!! Jadi Lo harus ikut gue!!" Devina berusaha menarik lengan Rhea tapi ditepis oleh gadis itu.
" Gue nggak ada urusan sama lo. Jadi gue nggak akan kemana-mana." Rhea segera berbalik agar terhindar dari Devina dan kawan-kawan.
" Lepasin atau gue teriak!!" Rhea masih berusaha melepaskan diri dari mereka bertiga.
" Jangan banyak bacot Lo!!" Devina mencengkram dagu Rhea dengar erat sampai Rhea meringis kesakitan.
" Ayok buruan, ntar ada yang liat!!" Devina melihat situasi sekeliling lalu menyuruh kedua temannya bergegas menyeret Rhea dengan paksa. Karena tenaga Rhea yang tidak seberapa akhirnya gadis itu terseok-seok mengikuti langkah mereka bertiga.
" Lepasin dia.."
Suara berat cowok dari belakang menghentikan aksi Devina, Maya dan Ratu. Mereka bertiga termasuk Rhea langsung berbalik dan melihat cowok itu mulai mendekat.
" Arga!!!"
Mereka kompak menyebutkan nama cowok yang satu angkatan dengan mereka dan merupakan salah satu anggota OSIS di sekolah mereka.
" Lo bertiga mau bawa kemana Rhea ha??" Tatapan tajam Arga membuat mereka semua bergidik ngeri. Maya dan Ratu refleks melepaskan tangan Rhea yang mereka tarik tadi.
" Tadi Rhea nya nyasar, jadi kita bertiga berbaik hati mau nunjukin dia jalan. Iya kan girls??" Devina berusaha mencari alasan agar Arga tidak curiga dengan mereka bertiga yang berniat jahat pada Rhea.
Arga memicingkan mata menatap curiga pada mereka bertiga. Lalu mengalihkan tatapannya pada Rhea. Gadis itu terlihat seperti orang ketakutan jadi kemungkinan besar Devina dan kawan-kawan sedang melakukan aksi bullying pada Rhea.
" Biar gue yang antar Rhea. Lo bertiga balik aja ke kelas." Arga mendekati Rhea yang masih diapit oleh Maya dan Ratu lalu menarik lengan gadis itu dengan lembut.
" Biar kita aja Ga. Lo bukannya mau rapat anggota OSIS ya??" Kini Ratu yang berusaha meyakinkan Arga agar meninggalkan Rhea bersama mereka.
" Rapat nya udah kelar. Biar gue aja yang antar Rhea ke kelasnya. Gue dulu kakak pembina Rhea jadi kita sedikit akrab."
Kali ini arga semakin curiga dengan mereka bertiga. Melihat mereka begitu ingin mempertahankan Rhea membuat Arga tidak akan tinggal diam. Arga tidak ingin terjadi apa-apa terhadap gadis yang dia sukai itu.
__ADS_1
" Oke kalau gitu Ga. Kita bertiga balik ke kelas dulu ya. Anterin Rhea dengan selamat ya. Bye!!"
Mereka bertiga memasang senyuman semanis mungkin agar Arga tidak curiga. Lalu mereka segera bergegas pergi meninggalkan Rhea dan Arga. Sedangkan Rhea akhirnya bisa bernafas lega karena berhasil menyelamatkan diri.
" Makasih ya kak." Rhea mengucapkan rasa terima kasih nya pada Arga yang telah menyelamatkannya dari ketiga gadis jahat tadi.
" Nggak masalah Rhee. Tapi kamu nggak apa-apa kan?" Arga memperhatikan dagu Rhea yang memerah lalu berusaha menyentuh nya. Rhea langsung menghindar sebelum tangan itu sampai ke dagunya.
" Maaf kak. Aku nggak apa-apa. Aku balik ke kelas dulu." Rhea segera berbalik menuju kelas agar tidak ditanyai lagi oleh Arga. Rhea tidak ingin memperpanjang urusannya dengan Devina dan kawan-kawan.
" Biar aku antar." Arga mencekal lengan Rhea agar gadis itu menghentikan langkahnya.
" Biar gue yang antar cewek gue!!"
Suara berat Gavin membuat Rhea dan Arga segera menoleh. Gavin segera mendekati mereka berdua dan menatap tajam tangan Arga yang masih setia mencekal lengan Rhea. Sadar dengan apa yang sedang di lihat Gavin, Arga segera melepaskan lengan Rhea.
" Kemana aja lo Vin? Cewek lo hampir di bully Devina dan kawan-kawan, Lo malah nggak ada. Nggak guna Lo jadi cowok!!"
Arga menatap sinis pada Gavin. Sedangkan Gavin mengeraskan rahangnya mendengar pernyataan dari Arga. Bukan marah karena menyebutnya tak berguna tapi karena mendengar bahwa Devina membully Rhea.
Gavin lalu menarik lembut tangan Rhea agar berdiri lebih dekat dengannya. Gavin bisa melihat dagu Rhea berwarna sedikit kemerahan sepertinya sehabis di cengkram seseorang dan begitu pula dengan kedua lengan Rhea yang meninggalkan bekas seperti ditarik paksa.
" Sakit nggak Rhee?" Gavin menangkup kedua pipi rhea lalu mengelus dagu gadis itu dengan lembut. Setelah itu berpindah mengelus kedua lengan Rhea dengan hati-hati.
Rhea yang mendapat perlakuan lembut dari Gavin hanya bisa diam membeku. Badannya terasa kaku untuk menolak sentuhan dari Gavin yang berdiri sangat dekat dengannya.
Sementara itu, Arga yang melihat sikap Gavin yang sangat perhatian pada Rhea hanya bisa mengalihkan tatapannya. Ada sedikit rasa cemburu di hati arga melihat sikap Rhea yang tidak menolak sama sekali saat Gavin mendekatinya berbanding terbalik dengan dirinya tadi.
" Hmm..." Deheman yang keras dari Arga menyadarkan keduanya. " Baiknya Lo antar Rhea sekarang ke kelas. Bentar lagi bel bunyi." Arga sepertinya malas berlama-lama melihat kedekatan antara Gavin dan Rhea.
" Thanks." Hanya kalimat singkat yang Gavin ucapkan. Lalu merangkul bahu Rhea meninggalkan Arga sendiri. Sedangkan Rhea sempat mengucapkan kata terima kasih lagi walaupun tanpa suara dan hanya melalui gerakan bibir yang dapat di baca oleh Arga.
Setelah keduanya tidak terlihat lagi, Arga memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Ternyata seperti ini rasanya patah hati. Arga menyukai seorang gadis yang telah memberikan hatinya untuk orang lain.
Kadang rasanya arga ingin menyerah, tapi hati kecilnya selalu menolak dan mengatakan bahwa cinta itu pasti akan berbalik padanya jika dia bersabar menunggu.
Arga memiliki prinsip tidak akan merusak ataupun menghancurkan hubungan orang lain karena Arga percaya karma itu berlaku dan akan berbalik pada orang yang melakukannya.
Jadi sekarang Arga akan menyerahkan semuanya pada takdir. Takdir yang akan membawa kemana cintanya berlabuh.
" Gue bakal bikin perhitungan sama Devina!!" Geraman Gavin yang keras membuat Rhea menatap Gavin yang masih setia berdiri disampingnya. Mereka berdua sudah hampir sampai di depan kelas Rhea.
" Nggak usah kak. Gue malas berurusan lagi sama mereka. Bukannya jadi kapok, tapi malah semakin dendam sama gue."
Rhea mencoba menghalangi niat Gavin agar tidak membalas dendam pada Devina dan kawan-kawan.
" Tapi kalau seandainya mereka jahatin Lo lagi gimana Rhee?? Gue takut terjadi apa-apa sama Lo." Gavin Takut Devina akan bertindak di luar batas dan akan menyakiti Rhea lagi.
" Kan ada Lo. Lo kan janji bakal lindungin gue. Jadi kenapa gue harus takut." Rhea memberikan alasan yang langsung membungkam mulut Gavin.
" Oke, gue nggak akan bikin perhitungan sama Devina tapi Lo harus janji apapun yang terjadi Lo harus beritahu gue. Gue nggak mau orang lain anggap gue nggak berguna karena nggak bisa jagain Lo!!" Gavin teringat dengan ucapan Arga tadi sehingga hatinya sedikit panas.
" Iya, gue janji. Ya udah balik sana. Udah mau bel juga." Rhea mendorong bahu Gavin agar segera beranjak dari depan kelas Rhea.
" Iya gue balik. Jangan lupa nanti siang ya Rhee!! Lo jangan kemana-mana!! Gue bakal jemput Lo ke kelas langsung." Gavin kembali mengingatkan Rhea perihal apa yang akan mereka lakukan sepulang sekolah nanti.
" Iya bawel amat dah. Kalau gitu gue aja lah yang masuk kelas duluan. bye!!"
Rhea akhirnya masuk kedalam kelas nya terlebih dahulu meninggalkan Gavin seorang diri di luar kelas yang sedang tersenyum senang memandangi punggung Rhea.
Gavin berjanji akan memberi peringatan lagi kepada Devina agar gadis itu menjauhi Rhea. Karen jika tidak dia tidak akan segan-segan menyakiti Devina sekalipun dia adalah seorang perempuan.
__ADS_1
Akhirnya Gavin juga berbalik menuju kelas nya yang berada di lantai dua. Semoga apa yang akan dilakukan Rhea dan Gavin saat pulang sekolah nanti akan berjalan lancar. Aminnn...