Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
54. Siswa Pindahan


__ADS_3

Setelah upacara bendera selesai di laksanakan, semua siswa yang ada di lapangan langsung membubarkan diri menuju kelas masing-masing. Sebelum proses belajar mengajar di mulai, mereka semua mendapatkan waktu sekitar 15 menit untuk istirahat.


Ketika bel kembali berbunyi, semua guru-guru yang berada di ruangan guru segera bersiap-siap memasuki kelas yang akan mereka ajar pagi ini.


" Selamat pagi semua." Seorang guru wanita yang berusia sekitar 40 tahun bernama bu Fatma memasuki kelas Gavin pagi ini.


" Selamat pagi Bu fatma." Semuanya siswa yang ada di kelas itu membalas sapaan guru mereka dengan kompak.


" Sebelum kita mulai pelajaran pagi ini, ibu akan memperkenalkan seorang siswa pindahan kepada kalian semua."


Bu Fatma menoleh ke arah luar kelas, dan memerintahkan siswa baru itu untuk masuk. Ketika siswa itu berjalan perlahan saat memasuki kelas, semua mata langsung tertuju pada siswa itu. Dia terlihat sangat cantik dan memiliki rambut panjang sepunggung serta memiliki kulit putih yang bersih.


" Silahkan perkenalkan diri kamu terlebih dahulu!" Bu Fatma memerintahkan gadis itu untuk berdiri di depan kelas agar memperkenalkan diri kepada semua siswa yang lain.


" Baik bu!" Ucap gadis itu dengan sopan sambil menganggukkan kepala.


" Selamat pagi semua. Nama saya Tasya Syakira Gunawan. Biasa di panggil Tasya. Saya pindah dari Bandung. Semoga kita semua bisa berteman dengan baik ya!"


Saat Tasya mengakhiri sesi perkenalan diri di depan kelas, dia langsung melemparkan senyuman pada setiap orang yang menatapnya. Ketika dia menangkap sosok Gavin yang sedang duduk di barisan belakang, Tasya semakin memperlebar senyumannya untuk cowok itu.


Semua siswa cowok yang berada di kelas itu juga terlihat sangat antusias saat Tasya sudah memperkenalkan diri di hadapan mereka. Beberapa dari mereka ada yang bersiul senang dan ada pula yang berani mengajak Tasya untuk berpacaran padahal ini kali pertama mereka bertemu.


" Wah...itu si Tasya bro!" Alex menyikut lengan Gavin yang berada di sampingnya. Alex menatap Tasya yang berdiri di depan kelas dengan takjub. Mereka sudah lebih dari satu tahun tidak bertemu. Tasya terlihat semakin cantik menurut Alex saat ini.


" Diam Lo!" Ucap Gavin dengan datar pada Alex. Gavin tidak menyangka Tasya akan kembali pindah ke Jakarta dan masuk ke sekolah serta kelas yang sama dengan dirinya.


" Baik Tasya, kamu sekarang bisa duduk di sana!" Bu Fatma menunjuk satu kursi kosong yang berada di barisan tengah.


" Terima kasih Bu." Ucap Tasya dengan sopan. Tasya kemudian berjalan menuju kursi yang di tunjuk Bu Fatma tadi. Tasya kembali berkenalan dengan teman sebangkunya dan juga teman-teman yang ada di sekitar tempat dia duduk.


" Baiklah kita mulai pelajaran pagi ini. Kalian semua bisa buka halaman 155...." Bu Fatma mulai memberikan materi pelajaran kepada seluruh siswa yang ada di kelas itu.


Saat Bu Fatma masih sibuk menjelaskan pelajaran di depan kelas, Tasya sempat beberapa kali melirik Gavin yang sedang duduk di bangku belakang. Tasya kembali tersenyum senang dan berniat untuk menyapa Gavin saat jam istirahat nanti.


****


" Hai Vin! Hai Lex!" Sapa Tasya dengan ramah. Tasya saat ini sedang menghampiri meja Gavin dan Alex setelah jam pelajaran pertama berakhir dan guru meninggalkan kelas mereka.

__ADS_1


" Hai juga Sya! Apa kabar Lo?" Alex bersikap selayaknya teman lama yang sudah lama tidak saling bertemu. Sedangkan Gavin hanya menjawab sekedarnya tanpa mau berbasa-basi dengan gadis itu.


" Kabar gue baik. Lo sekarang tambah keren aja lex. Btw, Azka sama Dhafi sekolah dimana sekarang?"


Tasya berusaha membuka obrolan yang lebih panjang dengan mereka berdua. Tasya sebenarnya sedikit kecewa dengan sikap Gavin yang terlihat sangat cuek padanya saat ini. Tapi Tasya tidak terlalu ambil pusing karena dia akan terus berusaha untuk mendekatkan diri lagi dengan Gavin.


" Azka sama Dhafi sekolah di sini juga tapi kita beda kelas. Paling bentar lagi juga mereka ke sini. Kita biasa nya ke kantin bareng pas jam istirahat."


Alex merasa sedikit canggung berbicara dengan Tasya, karena Gavin dari tadi hanya diam saja seperti tidak berminat sama sekali untuk berbicara dengan gadis itu. Padahal Tasya dan Gavin dulu putus dengan cara baik-baik.


" Lex, gue mau ke kelas Rhea dulu!" Gavin segera berdiri dari duduknya dan segera berjalan meninggalkan kelas tanpa menghiraukan Tasya sama sekali.


Tasya sampai tercengang melihat kepergian Gavin yang begitu tiba-tiba, padahal dia ingin lebih banyak mengobrol dengan cowok itu.


" Gavin mau kemana Lex?" Tanya Tasya penasaran saat Gavin sudah menghilang di balik pintu. Tasya kembali kecewa karena Gavin meninggalkan dirinya bersama Alex berdua saja.


" Gavin mau ke tempat ceweknya. Dia anak kelas 10." Jawab Alex dengan jujur. Alex sepertinya harus mengatakan yang sebenarnya agar Tasya tidak terlalu berharap perasaannya akan di terima kembali oleh Gavin.


Seketika ekspresi keterkejutan terpampang di wajah cantik Tasya. Dia tidak menyangka Gavin sudah memiliki seorang pacar saat ini. Tiba-tiba perasaan kecewa kembali datang di hati Tasya untuk yang kesekian kalinya.


" Ooohhh...Gavin udah punya pacar. Pasti orang nya cantik kan Lex? Gue jadi penasaran siapa cewek yang berhasil ambil hati si Gavin."


" Iya, dia..." Ucapan Alex tiba-tiba terhenti saat Dhafi memasuki kelas mereka.


" Si Gavin mana Lex?" Tanya Dhafi saat berada di depan Alex. Dhafi tidak sadar kalau Tasya berdiri di sebelahnya.


" Gavin udah cabut duluan." Tasya mewakili Alex untuk menjawab pertanyaan Dhafi.


Saat Dhafi mendengar orang lain yang menjawab pertanyaannya, membuat dia segera menoleh kesamping. Seketika ekspresi terkejut langsung terlihat di wajah Dhafi. Dia tidak mengira akan bertemu dengan Tasya lagi setelah sekian lama.


" Hai Fi! Lo apa kabar?" Tasya tersenyum senang saat menatap wajah tampan Dhafi yang tidak pernah berubah dari dulu.


" Baik, Lo sendiri?" Dhafi berusaha menormalkan ekspresi nya di hadapan Tasya.


" Seperti yang Lo liat, gue baik-baik aja." Ucap Tasya dengan riang.


" Si Azka mana Fi?" Alex menyela obrolan antara Dhafi dan Tasya karena tidak menemukan keberadaan Azka setelah Dhafi masuk ke kelasnya.

__ADS_1


" Dia lagi sama asistennya." Dhafi menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan Azka yang saat ini sudah memiliki asisten hanya karena masalah sepele.


" Asisten? Si Playboy cap kutu itu punya asisten? Gimana ceritanya?"


Alex sangat terkejut mendengar pernyataan Dhafi yang menyebutkan kalau Azka sudah memiliki seorang asisten.


" Ntar Lo juga tau. Mendingan kita ke kantin sekarang."


Dhafi terlalu malas untuk menceritakan soal Azka pada Alex. Jadi lebih baik Alex melihat sendiri apa yang terjadi pada Azka saat ini sampai-sampai cowok itu bisa memiliki seorang asisten.


Mereka bertiga akhirnya meninggal kelas menuju kantin. Saat berjalan di sepanjang koridor lantai dua dan lantai satu, mereka menjadi pusat perhatian seperti biasanya. Lebih tepatnya , Tasya yang menjadi pusat perhatian saat ini.


Semua orang terlihat sangat penasaran dengan gadis yang diapit oleh Alex dan Dhafi. Mereka sepertinya belum pernah melihat gadis itu sebelumya. Jadi mereka semua terus menatap Tasya dengan intens, sampai ketiga nya menghilang dari pandangan mereka.


*****


' Sialan tu cowok! Gue cuma di kasih waktu lima menit buat ke tempat dia. Dia kira gue Spiderman apa, bisa naik ke lantai dua dengan cepet.'


Ara menggerutu sendiri dalam hati saat dia berjalan menuju kelas Azka yang berada di lantai dua. Ara rasanya ingin sekali mencubit mulut Azka yang seenaknya sendiri memberi perintah kepada dirinya.


" Lo telat dua menit. Lelet amat sih Lo jadi cewek!" Azka menggerutu sebal sambil menyilangkan tangan di depan dada saat Ara masuk ke dalam kelasnya yang sudah sepi.


" Jangan banyak bacot deh kak! Mendingan Lo sebutin apa yang Lo mau sekarang!" Ucap Ara dengan ketus. Ara terlalu malas berdebat dengan Azka untuk saat ini.


" Dasar asisten nggak tau sopan santun Lo! Pinggang gue sakit dan itu semua gara-gara Lo tau nggak!"


Azka masih terus berusaha memprovokasi Ara. Membuat gadis itu mati-matian meredam rasa marah yang ada di hatinya saat mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Azka.


" Sorry kalau gitu." Ara menghela nafas perlahan agar tidak tersulut emosi lagi. "Jadi apa tugas pertama gue sekarang?" Tanya Ara dengan lembut.


" Gue mau makan di kantin. Lo harus bantuin gue ke sana." Ucap Azka dengan nada perintah.


" Kenapa nggak makan di sini aja sih kak? Kak Azka mau makan apa? Ntar gue bawain ke sini deh. Kantin pasti lagi rame banget sekarang. Pinggang kak Azka kan lagi sakit, ntar ke senggol sama orang-orang yang lewat gimana?"


Ara berusaha untuk bernegosiasi dengan Azka agar membatalkan rencana cowok itu untuk pergi ke kantin. Ara hanya takut semua gadis akan semakin tidak suka dengan dirinya karena terus berdekatan dengan Azka.


" Lo kan ada. Lo yang bakal lindungin gue nanti." Sepertinya keputusan Azka tidak bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


" Oke!" Akhirnya Ara hanya bisa pasrah menerima keputusan Azka. Ara segera membantu Azka untuk berdiri lalu memapah cowok itu dengan perlahan menuju ke luar kelas. Mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan menuju kantin.


Ara yang sadar dengan tatapan semua orang, hanya bisa diam dan terus membantu Azka untuk berjalan. Sementara Azka diam-diam tersenyum senang karena bisa berdekatan dengan gadis yang dia suka. Azka akan terus memanfaatkan kesempatan ini, sampai Ara bisa menyukai dirinya.


__ADS_2