Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
44. Gara-Gara PMS


__ADS_3

Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi. Guru yang sedang mengajar di kelas Rhea segera mengakhiri pelajaran yang sedang dijelaskan di depan kelas. Saat guru itu keluar dari dalam kelas, semua siswa langsung berhamburan meninggalkan kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang mulai lapar.


" Kuy Rhee, gue laper berat ni!" Ara mulai berdiri saat dia sudah selesai membereskan beberapa buku yang ada di atas meja.


" Kuy!" Rhea hanya menjawab singkat lalu Rhea mengikuti langkah sahabatnya itu dari belakang. Saat Rhea dan Ara berada di depan pintu kelas, Gavin tiba-tiba masuk dan berdiri di hadapan mereka berdua. Dengan memasang senyuman yang manis, Gavin menyapa Rhea yang terlihat tidak suka dengan kedatangannya.


" Hai sayang! Aku bawain ini untuk kamu!" Gavin mengulurkan sebuah Paper bag ke tangan Rhea. Rhea yang masih merasa kesal, hanya menerima pemberian Gavin tanpa melihat isi di dalam Paper bag itu.


" Rhee, gue ke kantin duluan ya!" Ara sengaja meninggalkan Gavin dan Rhea berdua, agar masalah yang sedang mereka hadapi cepat di selesaikan.


" Tungguin gue Ra!" Saat Rhea ingin mengejar Ara, tangan Gavin langsung menahan pergelangan tangan gadis itu agar tidak pergi kemana-mana.


" Kamu mau kemana Rhee? Kamu masih marah soal yang tadi pagi?" Tanya Gavin memastikan. Gavin sepertinya harus ekstra sabar menghadapi kelakuan Rhea yang sedikit keras kepala dan kekanak-kanakan seperti ini.


" Enggak!" Jawab Rhea singkat. Saat tangan Gavin terlepas dari pergelangan tangannya, Rhea segera menyilangkan tangan di depan dada sambil mengalihkan tatapannya dari Gavin.


" Kalau nggak marah, kenapa mukanya cemberut gitu sih sayang!" Gavin memegang kedua pipi Rhea agar gadis itu kembali menoleh kearahnya.


" Kamu nggak mau liat apa yang ada di dalam Paper bag itu?" Gavin menunjuk Paper bag yang masih berada di tangan Rhea dengan isyarat matanya.


Karena juga penasaran, Rhea akhirnya menganggukkan kepalanya menuruti ucapan gavin. "Iya, aku mau liat! Tapi lepasin dulu pipi aku!" Ucap Rhea datar.


" Oke!" Gavin langsung melepaskan pipi Rhea, dan kembali tersenyum pada pacarnya itu.


Rhea tanpa ragu, langsung mengambil barang yang berada di dalam Paper bag pemberian Gavin itu. Saat Rhea melihat isinya, raut wajah Rhea langsung berubah senang. Ternyata Gavin memberikan sekotak coklat berbentuk bola-bola kecil yang di bungkus dengan kertas berwarna emas. Di susun dengan cantik di dalam kotaknya lalu di beri pita berwarna pink sebagai hiasannya.


" Wah...coklat!" Rhea menatap Gavin tidak percaya. Senyuman langsung terukir indah di bibir gadis itu.


" Maafin aku soal yang tadi ya Yang! Aku cuma bercanda. Kamu jangan kesel-kesel lagi ya sama aku!" Gavin mengusap-usap kepala Rhea dengan sayang. Ternyata hanya dengan sekotak coklat, amarah Rhea langsung hilang.


" Iya, tapi awas ya ngomong kayak gitu lagi!" Rhea memonyongkan bibirnya kesal membuat Gavin semakin gemas dengan pacarnya itu.


" Oke sayang! Aku nggak akan ngomong kayak gitu lagi." Gavin kemudian menarik Rhea kedalam pelukannya lalu mencium sekilas puncak kepala gadisnya itu.


" Kak, coklatnya boleh aku cobain nggak?" Rhea lalu mendorong dada Gavin, agar pelukan itu terlepas. Sebenarnya Rhea malu kalau ada orang yang melihat, jadi dia sengaja mencari alasan agar Gavin melepaskannya.


" Nanti aja ya sayang! Kamu kan belum makan!" Gavin takut Rhea akan sakit perut karena belum makan dari tadi.


" Ya udah deh! Yuk ke kantin kak! Aku udah laper." Rhea kemudian menarik tangan Gavin agar meninggalkan kelas Rhea yang sudah sepi.


" Iya!" Gavin hanya mengikuti saja Rhea yang menarik tangannya ke kantin. Saat mereka berdua tengah berjalan beriringan, tiba-tiba Gavin teringat sesuatu dan langsung menghentikan langkahnya bersama Rhea.


" Kamu lagi PMS ya Yang?" Gavin mencoba memastikan kenapa emosi Rhea tadi pagi cepat sekali naiknya. Padahal kan biasanya Rhea tidak seperti itu.


" Kok kak Gavin tau sih?" Rhea mengernyitkan dahinya heran karena Gavin bisa tau dengan jadwal menstruasinya.


' Pantesan dia kayak macan betina tadi. Ternyata dia lagi PMS.' Ucap Gavin dalam hati.


" Kak Gavin kenapa sih? Kok diem aja?" Rhea menggoyang-goyangkan tangan Gavin agar tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


" Aku nggak apa-apa.Yuk ke kantin!" Gavin segera menggenggam tangan Rhea menuju kantin agar gadis itu tidak bertanya lagi pada Gavin.


****


" Duduk dimana ya?" Ara melihat sekeliling kantin tapi tidak menemukan satu meja pun yang kosong. Padahal Ara sudah membawa bakso dan jus nya sendiri di atas nampan.


" Ara...sini!" Azka memanggil Ara dari arah belakang sambil mengayunkan tangannya agar Ara datang menghampiri Azka. Karena tidak ada meja yang tersisa, akhirnya Ara membawa makanannya ke meja dimana Azka dan teman-temannya duduk.


" Sini, duduk sebelah gue!" Azka menggeser sedikit posisi duduknya ke samping, agar Ara bisa duduk.


Sementara kedua temannya, Dhafi dan Alex langsung mengernyitkan dahinya melihat tingkah laku Azka yang tidak seperti biasanya. Mereka berdua sedikit heran melihat Azka yang mau berbagi tempat duduk dengan seorang gadis. Apalagi gadis ini bukan tipikal kesukaan Azka. Azka biasanya menyukai gadis yang cantik, modis, dan lebih agresif. Sedangkan Ara adalah tipikal cewek yang sederhana dan terkesan cuek.


" Makasih kak!" Ara segera meletakkan nampannya di atas meja. Saat Ara sudah duduk di samping Azka, dia segera menyantap makanannya dengan cepat. Ara sedikit risih duduk dengan tiga orang cowok paling Most Wanted di sekolahnya.


" Rhea sama Gavin mana Ra?" Azka mulai membuka obrolan saat Ara hanya diam saja dari tadi. Gadis itu hanya makan dengan tenang tanpa bersuara sama sekali.


" Mereka tadi lagi di kelas kak. Kayaknya lagi selesain masalah yang tadi pagi deh!" Ucap Ara santai sambil mengunyah bakso di dalam mulutnya.


" Ooo gitu ya!" Azka hanya bisa manggut-manggut tanda mengerti. "Ra, emang nya kalau ceweknya lagi PMS itu suka marah-marah ya?" Tanya Azka tiba-tiba.


Uhhukk...uhhukk..


Ara langsung tersedak saat Azka bertanya tentang hal yang sensitif bagi perempuan itu.


" Lo nggak apa-apa Ra? Pelan-pelan dong makannya?" Azka menepuk-nepuk punggung Ara dengan lembut lalu menyodorkan minuman pada pada gadis itu.


" Aku nggak apa-apa kak!" Rhea menerima minuman dari Azka dan menengguk nya perlahan untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokannya. Saat Ara selesai minum, dia meraih beberapa tisu untuk mengusap mulutnya yang sedikit basah karena minumannya tadi.


" Lo belum jawab pertanyaan gue tadi Ra?" Emangnya bener gitu ya Ra?" Tanya Azka lagi. Sepertinya Azka sangat penasaran sekali karena dia belum pernah merasakan imbas dari cewek yang lagi PMS.


Dhafi dan Alex yang pernah merasakan pengalaman itu, hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil mengingat kembali kejadian yang pernah mereka alami. Lebih baik menghindar dari cewek yang sedang mengalami PMS.


" Iya." Jawab ara singkat. Dia tidak tau harus menjelaskan bagaimana kepada seorang cowok.


" Kenapa bisa gitu Ra?" Tanya Azka lagi.


" Pengaruh hormon kak!" Jawab Ara malas. Dia jadi tidak berselera menghabiskan bakso yang ada di dalam mangkoknya, karena mendengar pertanyaan dari Azka tadi.


" Emangnya hormon apaan?" Azka sepertinya memerlukan alasan yang lebih jelas mengenai hubungan PMS dengan tingkat emosi seorang gadis.


" Kalau kak Azka pengen tau lebih detail, tanya aja sama guru biologi. Terus, kalau kak Azka mau rasain emosi cewek yang lagi PMS, mendingan kak Azka pacaran aja!" Saat Ara yang mulai jengah dengan pertanyaan Azka, dia mulai berdiri dan bersiap akan meninggalkan meja itu.


" Lo mau kemana Ra? Makanan nya kan belum habis." Azka berusaha menahan tangan Ara yang akan pergi meninggalkan meja mereka. Azka juga bisa melihat makanan Ara masih tersisa setengahnya.


" Tiba-tiba gue sakit perut kak!" Ara akhirnya berbohong agar terlepas dari pertanyaan Azka yang tidak bermutu sama sekali.


" Lo PMS juga Ra?" Tebak Azka asal.


" Nggak, gue mau pup! Kak Azka mau ikut?" Tanya Ara dengan nada sinis. Dia rasanya ingin membanting Azka ke lantai karena asal bicara saja tadi.

__ADS_1


" Nggak deh! Ya udah, pergi sana!" Kini Azka mengusir Ara begitu saja, karena mendengar cewek itu akan buang air besar.


Ara dengan kesal, menghentakkan kakinya ke lantai lalu segera pergi dari hadapan Azka dan teman-temannya.


" Otak Lo korslet ya Ka?" Alex tidak menyangka, Azka akan berani bertanya langsung pada seorang gadis.


" Enak aja Lo! Gue cuma pengen bikin dia kesel! Seneng aja gue liat muka dia kayak gitu! Lucu!" Jawab Azka senang sambil tertawa cengengesan.


" Gila Lo!" Ucap Alex dan Dhafi bersamaan. Mereka berdua kemudian menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sahabatnya itu.


Saat Azka, Dhafi dan Alex kembali menyantap makanan masing-masing, Gavin dan Rhea datang dan langsung duduk di hadapan mereka bertiga.


" Kak, tadi liat temen gue nggak si Ara?" Rhea telah melihat ke sekeliling kantin tapi tidak menemukan keberadaan Ara. Jadi dia berinisiatif bertanya langsung kepada ketiga sahabat Gavin itu.


" Liat lah! Malahan dia ikut makan bareng sama kita tadi. Mangkoknya aja tuh masih ada." Azka menunjuk mangkok bakso yang Ara santap tadi.


" Terus orangnya kemana kak?" Tanya Rhea penasaran. Rhea merasa sedikit aneh, karena melihat bakso di mangkok Ara masih tersisa setengah. Padahal Ara bilang, dia sangat kelaparan tadi. Tapi kenapa bakso yang dia makan tidak habis.


" Katanya dia mau pup Rhee! Tiba-tiba perutnya mules karena liat mukanya si Azka! Makanya dia buru-buru ke toilet." Jawab Alex asal sambil tertawa. Alex sangat senang karena berhasil membuat Azka cemberut dengan ucapannya.


" Sembarang Lo!" Azka yang tidak terima, langsung menoyor kepala Alex dari samping. Saat Alex ingin membalas perbuatan Azka, Gavin segera menghentikan aksi balas dendam sahabatnya tersebut.


" Udah-udah! Jangan pada berantem!" Gavin ingin makan dengan tenang bersama Rhea, makanya Gavin harus segera menghentikan keduanya agar tidak terjadi keributan.


Akhirnya Alex dan Azka sama-sama diam saat Gavin menghengtikan aksi keduanya.


" Kamu tunggu bentar ya! Aku pesen makanan dulu!" Gavin segera berdiri setelah mendapat anggukan kepala dari Rhea.


Saat Gavin sudah pergi ke tempat penjaga kantin, Azka dengan iseng bertanya langsung pada Rhea mengenai hal yang dia tanyai pada Ara tadi.


" Lo lagi PMS ya Rhee?" Tanya Azka to the point.


Seketika mata Rhea langsung melotot mendengar pertanyaan dari Azka. Kedua teman Azka yaitu Alex dan Dhafi juga menujukkan reaksi yang sama saat mendengar pertanyaan Azka pada Rhea.


" Nggak usah di jawab Rhee! Otak dia lagi korslet." Dhafi segera menarik Azka agar segera berdiri meninggalkan meja mereka. Dhafi tidak ingin Azka menjadi samsak hidupnya Gavin karena berani menanyakan hal yang sensitif itu pada pacarnya.


" Lepasin gue bego! Gue belum selesai nanya?" Azka berusaha meronta-ronta melepaskan diri dari Dhafi.


" Diem Lo!" Dhafi kembali menarik Azka dengan lebih keras dan di bantu dengan Alex juga pastinya.


Saat mereka bertiga sudah pergi, Gavin kembali dan langsung heran melihat Rhea yang tinggal sendiri di meja itu. Padahal tadi masih ada ketiga sahabatnya yang masih duduk manis menemani Rhea.


" Yang lain pada kemana Yang?" Gavin langsung bertanya saat dia sudah meletakkan dua mangkok bakso dan dua gelas jus di hadapan Rhea.


" Katanya mau ke kelas kak!" Jawab Rhea singkat. Rhea tidak mungkin menyampaikan alasan yang sebenarnya kepada gavin. Bisa ngamuk pacarnya itu kalau tau pertanyaan macam apa yang di lontarkan Azka pada Rhea tadi.


Saat Gavin mendengar alasan yang disebutkan Rhea tadi, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti.


" Ya udah, yuk makan!" Gavin dan Rhea akhirnya makan dengan tenang sambil sesekali bercerita dan saling bercanda satu sama lain. Mereka berdua tidak menghiraukan tatapan semua orang yang terus memperhatikan interaksi mereka berdua. Mereka seolah berkata bahwa, dunia ini milik mereka berdua sedangkan orang lain cuma ngontrak.

__ADS_1


__ADS_2