Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
37. PDKT Yang Gagal


__ADS_3

Hari Minggu sudah datang. Matahari bersinar cerah pagi ini. Sama cerahnya dengan hati Azka yang akan bertemu dengan gebetan nya hari ini. Senyuman manis tidak henti-hentinya terpampang dari bibir Azka. Berbanding terbalik dengan Gavin yang memasang wajah masam sambil memperhatikan ponselnya yang tidak kunjung mendapatkan balasan pesan dari seseorang yang spesial di hatinya.


" Asem bener tu muka! Nggak ada enak-enak nya gue liat!" Azka berani menggoda Gavin yang suasana hatinya sedang buruk saat ini. Gavin sudah memberi tahu perihal permasalahannya yang belum selesai bersama Rhea. Jadi Gavin hanya bisa menampilkan ekspresi yang kurang bersahabat sedari tadi.


" Nggak usah banyak bacot! Mendingan Lo cabut sekarang atau nggak gue lempar Lo ke kandang buaya!" Ancam Gavin sambil melotot kan matanya pada Azka.


" Woles bro!! Tega bener, ntar lagi gue cabut kalau si Alex udah dateng." Jawab Azka santai. Azka kemudian mulai sibuk dengan ponselnya lagi. Dia sedang mengetikkan sebuah pesan pada seseorang yang akan jadi target pacar berikutnya.


💌


To : Si Jelek


" Pagi jelek!! Lo nggak lupa kan sama janji kita siang ini?"


^^^" Iya, gue inget! Kak Azka mau makan dimana? Ntar gue nyusul ke sana!"^^^


" Nggak bisa, biar gue yang jemput Lo! Ntar Lo kabur lagi!"


^^^" Siapa yang mau kabur sih! Asal deh tuh mulut!"^^^


" Terserah mulut gue mau ngomong apa! Nggak usah protes. Nanti gue jemput jam 1 siang! Jangan lupa siapin duit yang banyak! Gue mau makan enak hari ini."


^^^" DASAR KERE! TUKANG PALAK!!"^^^


" Apa Lo bilang!!!"


^^^😛😛😛^^^


" Awas Lo ya! Gue bakal palak duit Lo habis-habisan ntar!!"


---------------------------------------------------------------


Azka menyunggingkan senyuman saat membalas pesan dari Ara. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Gadis yang akan menjadi calon pacar dari si Playboy Azka.


" Kenapa Lo senyum-senyum gitu! Lo udah gila?" Tanya Gavin penasaran dengan tingkah Azka yang tersenyum sendiri saat menatap ponselnya.


" Enak aja Lo! Gue belum gila! Gue lagi seneng, karena nanti siang gue bakalan ketemu sama calon pacar gue." Azka memperlebar senyumannya saat Membayangkan pertemuannya nanti dengan Ara.


" Dasar Playboy!" Gavin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata masih ada cewek yang terjebak dengan rayuan Playboy seperti Azka.


" Bilang aja Lo sirik! Lo nggak mampu kan kayak gue??" Cibir Azka pada sahabatnya itu.


" Serah Lo deh!" Gavin sedang tidak mood untuk meladeni ocehan Azka kali ini. Lebih baik Gavin terus menghubungi kekasih nya daripada berdebat tidak jelas dengan Azka.


Melihat reaksi Gavin yang hanya diam tidak membalas ucapannya lagi, membuat Azka melemparkan senyuman kemenangan.


Saat mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, Alex datang menghampiri mereka berdua sambil membawa satu kantong besar cemilan dan minuman untuk dia dan Gavin yang akan berjaga hari ini di rumah sakit.


" Wooii...pada sibuk aja Lo berdua! Gue udah dateng ni." Kedatangan Alex yang tiba-tiba membuat Gavin dan Azka sedikit terkejut.


" Udah dateng aja Lo Lex! Kayak jailangkung aja, datang tak di undang pulang nggak di anter! Hahaha..." Azka tertawa senang karena berhasil meledek Alex.


" Sialan Lo!" Alex yang tidak terima di katai jailangkung, menoyor kepala Azka dengan kuat hingga cowok itu hampir terhuyung ke samping.


" Sakit ******!" Azka memegangi kepalanya yang ditoyor oleh Alex. Saat Azka melihat Alex membawa satu kantong besar cemilan, cowok itu segera merebutnya dari tangan Alex.

__ADS_1


" Eh... punya gue sama Gavin tu! Main embat aja lo!" Alex tidak terima persediaan makanannya di habiskan oleh Azka.


" Sama temen sendiri nggak boleh pelit! Ntar rezeki Lo seret, baru tau rasa Lo!" Ucap Azka asal. Dia sengaja menakut-nakuti Alex agar temannya itu tidak protes lagi. Saat Azka sedang memilih cemilan yang akan dia santap, Alex dengan segera merebut kembali makanan itu.


" Kalau mau beli sendiri! Lo punya duit kan??" Alex menyindir Azka dengan telak hingga sahabatnya itu memanyunkan bibirnya kesal.


" Dasar pelit Lo! Mendingan gue cabut, dari pada gue eneg liat muka Lo berdua!" Ucap Azka sinis lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Gavin dan Alex yang tertawa senang karena berhasil mengerjai Azka!


" Kayak cewek Lo Ka! Pakai acara ngambek segala!" Goda Alex dengan sedikit keras karena Azka sudah semakin menjauh dari tempat mereka duduk tadi.


" Bodo amat!!" Azka berseru dengan keras tanpa menoleh kebelakang. Azka kemudian semakin mempercepat langkahnya meninggalkan rumah sakit. Lebih baik dia segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap untuk pergi kencan bersama Ara nanti siang.


****


Ara saat ini sedang mematut diri di cermin. Penampilannya sangat sederhana, hanya memakai kaos simple berwarna pink dan di padukan dengan celana jeans panjang. Ditambah dengan bando kecil menghiasi rambut nya yang ikal tergerai bebas. Tidak lupa Ara juga memakai riasan tipis dan lip tint berwarna pink. Membuat penampilan Ara lebih manis dari biasanya.


" Mendingan gue nunggu di luar aja kali ya!" Ucap Ara seorang diri sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12.50. Berarti 10 menit lagi Azka akan datang menjemputnya ke rumah.


Ara tidak lupa memakai Sling bag mini berwarna senada dengan bajunya. Lalu mengambil sebuah Paper bag yang berada di atas nakas di samping tempat tidur. Paper bag itu berisi sebuah Hoodie hitam milik Azka. Ara sudah mencuci bersih Hoodie itu, dan akan memberikannya langsung pada pemiliknya.


Ara berharap setelah Hoodie itu di kembalikan, dia tidak akan berurusan lagi dengan si Playboy Azka. Ara masih waras untuk tidak berdekatan dengan cowok seperti Azka. Dari pada patah hati, lebih baik dia menghindar sejauh mungkin.


Saat Ara sudah menunggu Azka sekitar 5 menit di depan pagar rumahnya, akhirnya cowok itu datang dengan mengendari motor sportnya. Penampilan Azka juga tidak kalah keren hari ini. Dia memakai kemeja santai lengan panjang berwarna putih. Tidak lupa dia menggulung lengan kemejanya sebatas siku lalu Azka memadukannya dengan celana jeans berwarna hitam. Sneaker putih yang dia gunakan juga menunjang penampilan cowok itu. Membuat Ara juga hampir terpesona dengan ketampanan Azka.


" Gue nggak telat kan?" Ucap Azka pada Ara yang baru turun dari motornya.


" Nggak telat kok! Btw, ini Hoodie yang kemaren. Thanks ya kak udah di pinjemin." Ara mengulurkan Paper bag berisi Hoodie itu ke tangan Azka.


" Nggak masalah!" Ucap Azka singkat kalau menerima Paper bag Ara tanpa melihat isinya.


" Liat aja ntar!" Azka tersenyum misterius membuat Ara menelan ludahnya kasar.


'Dia nggak mau bawa gue ke restoran mahal kan? Bisa bangkrut ni gue!' ucap Ara dalam hati. Ara hanya bisa memaksakan senyumannya pada Azka. Lebih baik dia menuruti saja kehendak Azka kali ini.


" Yuk cabut!" Azka segera menaiki motor, diikuti dengan Ara di belakangnya. Azka lalu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan mereka.


Setelah berkendara lebih kurang 15 menit, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan. Azka dan Ara segera turun dari motor dan menatap bangunan restoran yang akan menjadi tempat makan siang mereka kali ini.


" RESTORAN MASAKAN PADANG." Ara mengeja dengan keras nama restoran yang dia datangi bersama Azka. Ara sedikit mengernyitkan dahinya heran dengan restoran pilihan Azka saat ini. Bukan karena makanan nya yang tidak enak, tapi Ara tadi membayangkan Azka akan membawanya ke restoran mahal yang menjual makanan Eropa seperti steak daging atau spaghetti.


" Kok Lo bengong? Buruan masuk! Perut gue udah keroncong minta di isi nih! Lo nggak lupa bawa duit kan? Gue mau makan yang puas hari ini." Ucap Azka santai lalu masuk ke restoran itu terlebih dahulu dari Ara.


Ara yang tersadar dari lamunannya, segera berlari kecil menyusul Azka yang sudah berdiri di depan menunggu gadis itu.


Saat mereka berdua sudah duduk di salah satu meja yang ada di restoran Padang itu, mereka langsung di suguhkan beragam hidangan yang menggugah selera.


Dari mulai rendang daging, dendeng balado, gulai jeroan sapi, kerupuk kulit dan lain-lain. Ara dan Azka kompak tersenyum senang dengan semua makanan yang tersaji di hadapan mereka berdua.


" Kuy, sikat!" Azka mengambil beberapa lauk yang berada di atas meja lalu memindahkannya kedalam piringnya yang sudah diisi dengan nasi panas. Saat Azka akan menyuapkan makanan itu ke mulut nya, Ara dengan segera menahan pergerakan tangan cowok itu.


" Berdoa dulu, baru makan! Gimana sih!" Ucap Ara mengingatkan.


" Iya bawel! Gue lupa!" Azka langsung merapal kan doa dalam hati lalu segera menyantap makanan yang sudah dia ambil tadi.


Ara juga tidak ketinggalan untuk menikmati makan siangnya kali ini. Dia tidak memikirkan lagi berapa biaya yang akan dia bayar untuk menyantap semua makanan itu. Karena semua ini makanan kesukaan Ara, jadi dia menikmati saja setiap hidangan yang ada di meja itu.

__ADS_1


Azka dan Ara akhirnya menyelesaikan makan siangnya dengan suka cita. Makanan di meja pun juga hampir ludes tidak bersisa. Perut Azka dan Ara sudah penuh dengan berbagai makanan lezat membuat keduanya kompak bersendawa dengan keras.


" Lo jadi cewek nggak ada jaim-jaim nya dikit sama gue. Lo nggak takut gue jadi ilfil sama Lo?" Ucap Azka jujur sambil menatap gadis yang duduk di sebelahnya dengan heran.


Biasanya cewek akan bersikap malu-malu saat makan bersama seorang cowok. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Ara. Gadis itu terlihat santai menghabiskan semua makanan tadi bersama Azka.


" Ngapain gue takut. Kalau kak Azka ilfil sama gue malah bagus dong! Jadi gue nggak bakalan susah-susah jauhin kak Azka karena kakak sendiri yang bakalan jauhin gue duluan." Ara berucap santai sambil menyeka mulutnya yang sedikit berminyak.


Mendapat jawaban yang sangat amat jujur dari Ara, membuat Azka sedikit bingung. Bagaimana dia akan mulai mendekati Ara, kalau gadis itu dari awal sudah menolak kehadiran Azka.


" Emangnya Lo udah punya cowok? Sampai-sampai Lo nggak mau deket sama gue?" Tanya Azka penasaran. Azka tidak pernah di tolak oleh semua cewek yang dia dekati. Ara lah yang pertama menolaknya. Membuat Azka sedikit penasaran tentang gadis yang sedang duduk di sampingnya ini.


" Enggak ada! Gue jomblo kok! Tapi gue termasuk selektif dalam memilih cowok. Gue berharap cukup satu orang Playboy yang pernah gue kenal di hidup gue. Gue nggak mau kenal sama orang kayak gitu lagi." Ara menjelaskan dengan serius sambil menatap mata Azka. Membuat cowok itu sedikit salah tingkah dengan tatapan Ara.


" Kalau boleh gue tau, siapa Playboy yang Lo maksud itu?" Tanya Azka lagi.


" Bokap gue!" Jawab Ara sambil tersenyum getir. "Gue nggak mau kenal lagi sama cowok yang nggak setia sama kayak dia." Ara kemudian mengalihkan tatapannya pada Azka, lalu sedikit menoleh kesamping untuk menghapus air mata yang ada di sudut matanya. Ara selalu berdoa pada yang maha kuasa, agar di berikan pendamping yang setia. Agar anak-anaknya kelak tidak merasakan penderitaan yang pernah dia alami saat ini.


Seketika Azka tidak bisa berkata-kata lagi. Lidah nya seakan kelu untuk bertanya lebih banyak pada Ara. Dia kembali teringat malam di mana dia melihat Ara menangis di taman. Waktu itu Ara hanya menceritakan bahwa orang tuanya sedang bertengkar, jadi dia tidak ingin pulang ke rumah. Tapi saat itu Ara tidak menjelaskan dengan rinci mengenai alasan orang tuanya bertengkar.


Jadi Azka dapat menyimpulkan hal itu lah yang membuat Ara ingin menjauh darinya. Ara menyamakan Sifat Playboy yang di miliki papanya sama persis seperti Azka. Membuat kesempatan Azka untuk PDKT dengan Ara gagal sudah.


" Oh gitu, jadi bokap Lo Playboy. Tapi seenggaknya Lo nggak harus jauhin gue kan. Kita kan bisa jadi temen. Lagi pula siapa juga yang mau jadiin Lo pacar. Lo rakus gini, bisa bangkrut gue kalau jadian sama Lo!"


Saat ini Azka akan mencoba untuk berteman terlebih dahulu dengan Ara. Mungkin gadis itu akan berubah pikiran kalau sudah mengenal Azka dengan lebih baik.


Selama ini semua orang mengenal Azka sebagai Playboy yang sering berganti-ganti pacar. Padahal Azka hanya ingin menemukan seorang gadis yang benar-benar menyukainya apa adanya. Bukan seorang gadis yang hanya ingin tenar di mata orang lain karena berhasil memacari Azka. Tetapi Azka ingin memiliki seorang gadis yang menjadi dirinya sendiri saat bersama Azka dan dia tidak menuntut Azka untuk menjadi apa yang gadis itu mau.


" Sialan Lo kak! Bilang gue rakus segala lagi. Lo tu yang rakus." Ara mendelik sinis pada Azka sambil memonyongkan bibirnya kesal. Gadis itu tidak terima di ejek oleh Playboy seperti Azka.


" Iya deh, yang sama-sama rakus. Puas Lo?" Jawab Azka lagi sambil mendengus pelan. Dia sebenarnya sangat gemas dengan ekspresi Ara tadi. Sangat imut dan lucu saat Ara memonyongkan bibirnya. Membuat Azka ingin mencubit pipi Ara dengan keras.


" Gitu dong! Sesama orang rakus nggak boleh menghina. Hehehe...Btw, beneran kak Azka mau jadi temen gue?" Ara memicingkan matanya sedikit curiga dengan alasan Azka yang ingin menjadikannya teman.


" Iya bener, Lo mau kan jadi temen gue?" Tanya Azka lagi.


" Tapi apa alasannya kak Azka mau jadi temen gue?" Ara balik bertanya pada Azka dengan heran.


" Karena lo unik dan antik. Gue belum pernah punya temen cewek modelan nya kayak Lo gini." Azka berusaha menahan tawanya karena mendengar alasannya sendiri yang begitu aneh.


" Emang nya gue barang lama apa! Bener-bener Lo ya kak. Pengen gue tabok juga Lo lama-lama." Ara sedikit geram dengan jawaban Azka tadi.


" Kan..kan..bener kata gue, Lo itu unik! Coba Lo liat temen-temen cewek gue yang lain, mereka semua mana ada yang berani nabok gue. Lo satu-satunya yang beda dari yang lain." Ucap Azka asal, membuat Ara sedikit jengah dengan semua ucapan cowok itu.


" Serah Lo deh kak! Yang waras ngalah! Tapi Lo jangan sampai jatuh cinta ya sama gue. Gue nggak tanggung jawab loh kalau Lo sampai patah hati." Ara menaik turunkan alisnya menggoda Azka.


" NGGAK BAKALAN!! Ya udah panggil Uda Uda nya sana. Biar dia hitung semua makanan yang udah kita makan tadi. Jangan lupa Lo yang bayar! Jangan kabur Lo ya!!" Ucap Azka sedikit ketus pada Ara. Dia sedikit kesal pada Ara karena di ingatkan untuk tidak jatuh cinta pada gadis itu.


" Iya bawel!" Lalu Ara memanggil pelayan restoran untuk menghitung semua harga makanan yang sudah mereka berdua santap. Setelah itu Ara membayar ke kasir dan kembali pada Azka yang masih duduk manis di kursinya tadi.


" Kuy kak, gue udah bayar! Anterin gue pulang ya!" Ucap Ara dengan sopan.


" Temenin gue dulu ke mall. Baru gue anterin pulang!" Azka sengaja mengajak Ara ke mall agar lebih lama berdekatan dengan gadis itu.


" Ya udah deh. Kuy buruan!" Ara menarik lengan Azka dengan kuat agar cowok itu segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua meninggalkan restoran Padang menuju mall yang berada tidak jauh dari tempat itu.


__ADS_2