
Prang....
Bunyi benda jatuh terdengar cukup keras di lantai bawah. Ara yang sedang tidur-tiduran di kamarnya merasa terganggu dan segera berlari ke luar untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Saat Ara berada di pembatas tangga lantai dua, dia bisa melihat kalau keadaan di bawah sangat berantakan. Ada pecahan vas bunga yang berserakan di lantai. Sementara kedua orangtuanya sedang sibuk bertengkar seperti biasanya.
Ara yang sudah terbiasa menyaksikan hal itu, hanya bisa menghela nafas lelah. Kedua orang tuanya tidak pernah bosan bertengkar. Pernikahan mereka sudah berjalan selama 18 tahun, tapi itu semua sepertinya tidak berarti sama sekali untuk mereka berdua.
Ara yang menyaksikan hal itu kadang bertanya-tanya, mengapa mereka tidak berpisah saja? Mengapa mereka terus bersama kalau pada akhirnya saling menyakiti satu sama lain? Atau semua itu ada hubungannya dengan Ara? Ara ingin sekali bertanya kepada mereka berdua. Tetapi mulut Ara selalu berat untuk mengeluarkan pertanyaan seperti itu jika berhadapan dengan kedua orangtuanya. Ara lebih senang menghindar dan melarikan diri dari mereka sampai suasana hatinya kembali tenang.
Tapi sepertinya hari ini Ara tidak memiliki kesabaran lagi. Ara sudah lelah menghadapi situasi seperti ini setiap hari. Dengan langkah pasti, Ara segera menuruni tangga untuk menghampiri kedua orangtuanya. Ketika mereka menyadari kedatangan Ara, mereka seketika menghentikan pertengkaran itu dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan Ara.
" Ara...kamu mau makan nak?" Tanya Mama Ara dengan lembut. Mama memaksakan senyumannya untuk Ara sambil mengelus kepala anak gadisnya itu dengan sayang.
Sebelum Ara menjawab, Papa Ara terlebih dahulu menyela dan berkata dengan acuh tak acuh. "Saya pergi dulu!" Papa Ara segera berbalik dan pergi meninggalkan Ara dan juga Mamanya.
" Tunggu Pa!" Teriak Ara dengan keras. Ara ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Jadi Papanya tidak boleh pergi meninggalkan rumah mereka.
Papa seketika berhenti dan berbalik menatap Ara sambil menautkan alisnya. Papa tetap berdiri di tempatnya tanpa mau mendekati Ara dan juga mamanya sama sekali.
" Aku mau ngomong serius Pa. Papa jangan pergi!" Ara mulai berjalan mendekati Papanya sambil menarik pelan lengan mamanya.
" Kamu mau ngomong apa? Kalau nggak ada hal yang penting, mendingan kita bicarakan lain kali saja. Papa lagi sibuk." Papa sepertinya tidak berminat untuk mendengarkan apa yang ingin di sampaikan Ara. Jadi Papa Ara kembali berbalik menuju pintu rumah dengan tergesa-gesa.
" Pa, kenapa kalian nggak cerai aja!" Ucap Ara dengan keras saat menatap punggung Papanya. Mama yang berada di samping Ara langsung terkejut mendengar hal itu. Sementara Papa langsung berhenti berjalan dan berbalik menatap Ara dengan tajam.
" Apa kamu bilang? Cerai? Tau apa kamu soal hubungan papa sama mama? Kamu itu cuma anak kecil. Jadi kamu nggak perlu ikut campur dalam urusan kami!" Bentak Papa dengan tegas sambil menunjuk muka Ara.
" Aku bukan anak kecil lagi Pa! Aku udah ngerti hubungan apa yang kalian jalanin selama ini. Dan apa kalian nggak sadar kalau aku yang jadi korban dari keegoisan kalian! Aku udah capek dengar kalian ribut terus. Nggak ada yang perhatian sama aku. Kalian selalu aja sibuk kerja. Kalau kalian ketemu, pasti ujung-ujungnya berantem. Aku muak liat kalian berdua!" Teriak Ara menggebu-gebu sambil menatap kedua orang tuanya bergantian. Ara akhirnya bisa menyampaikan isi hatinya yang terpendam selama ini.
" Anak kurang ajar!"
Plak....
Papa melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras di pipi mulus Ara. Papa lalu memelototi gadis itu sambil mengatupkan rahangnya dengan keras. Papa sepertinya sangat marah saat mendengarkan ucapan Ara itu.
Sementara mama menutup mulutnya karena terkejut melihat kejadian yang tiba-tiba terjadi di depan matanya. Mama sangat menyesal karena tidak bisa membantu Ara lolos dari amukan suaminya.
Sedangkan Ara terlihat memegangi sebelah pipinya yang terasa perih karena tamparan Papanya tadi. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya luruh bersama rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
" Apa Papa udah puas tampar aku? Puas nyakitin aku ha..?" Teriak Ara histeris. Air mata semakin deras meluncur di pipinya.
" Kamu..." Papa tidak bisa berkata apa-apa saat melihat ekspresi menyedihkan di wajah anak gadisnya itu.
" Ara...mama minta maaf." Mama mengucapkan kata maaf sambil berurai air mata menatap ara. Mama juga memegangi lengan Ara dengan lembut agar emosi gadis itu segera reda.
" Lepas!" Ara menyentakkan tangan mama dengan kasar sampai pegangan itu terlepas. Ara kemudian segera berlari keluar rumah agar terhindar dari kedua orang tuanya itu.
" Ara...kamu mau kemana nak?" Mama berusaha mengejar Ara tapi segera ditahan oleh Papa.
__ADS_1
" Biarkan anak kurang ajar itu pergi." Ucap Papa dengan tegas. Papa sepertinya tidak terlalu peduli dengan Ara yang sudah pergi dari rumah sambil menangis.
" Kamu udah gila ya mas. Kalau terjadi sesuatu sama Ara gimana? Aku nggak mau sampai Ara kenapa-kenapa." Ucap Mama lirih. Mama berusaha melepaskan lengannya yang di cengkram erat oleh Papa.
" Nggak akan terjadi apa-apa sama anak itu. Sebentar lagi dia juga pasti pulang." Papa semakin mempererat cengkraman tangannya pada lengan mama.
" Ceraikan aku Mas!" Ucap Mama dengan tegas. Dia juga sama lelahnya dengan Ara selama ini. Kelakuan Papa yang tidak pernah berubah membuat dia harus menyerah dengan hubungan ini. Mama sadar kalau dia selama ini terus mengabaikan Ara. Tapi dia terlalu egois untuk mengakui hal itu. Mama lebih memilih menyibukkan diri dengan bekerja di luar rumah agar dia bisa melupakan semua yang terjadi dengan masalah rumah tangganya. Sehingga dia tidak menyangka kalau waktu sudah berlalu begitu cepat dan Ara yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang kekurangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya.
" Sampai mati saya tidak akan menceraikan kamu. Ingat itu!" Papa Ara menarik lengan Mama dengan kasar menuju kamar mereka. Setelah Mama masuk, Papa segera mengunci kamar itu dari luar agar Mama tidak bisa pergi kemana-mana.
Suara gedoran pintu menggema dengan keras di rumah yang sepi itu. Papa Ara ternyata sudah pergi dari rumah, sementara Mama masih terkurung di dalam kamarnya. Lama kelamaan suara gedoran itu melemah dan akhirnya berhenti. Sekarang yang ada hanya suara tangisan pilu dari dalam kamar itu. Sepertinya Mama memang sudah sangat lelah dengan pernikahannya. Dia memutuskan akan mengakhiri penderitaan ini dan akan menebus semua waktu yang dia sia-siakan untuk menyayangi Ara dengan sepenuh hati.
*****
" Mau kemana Ka?" Tanya Mami Azka yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah di ruang tengah.
" Mau main ke rumah Alex, Mi! Suntuk di rumah seharian." Ucap Azka dengan santai sambil berjalan menghampiri Maminya.
" Ya udah, tapi pulangnya jangan kemalaman ya!" Perintah Mami dengan tegas. Mami memang harus selalu mengingatkan Azka karena anak itu selalu lupa waktu jika bermain ke rumah sahabatnya itu.
" Sipp Mi!" Azka mengacungkan jempolnya pada Mami dan setelah itu dia segera menyalami Maminya. Saat hendak berbalik Azka teringat sesuatu dan kembali menatap Mami. "Mi, aku pinjam mobil dong!"
Azka mencoba peruntungannya kali ini agar bisa merasakan naik mobil sendiri. Azka sepertinya sudah bosan naik motor, sehingga dia memberikan diri meminta izin pada Maminya yang terkenal galak.
Saat Mami mendengar permintaan Azka, Mami seketika melotot kesal ke arah anaknya itu. "Nggak boleh! Cepetan pergi, kalau nggak Mami berubah pikiran nih!" Ancam Mami dengan tegas.
Setelah motor itu melesat keluar dari area komplek perumahan nya, Azka tiba-tiba melihat sesosok gadis yang sepertinya sangat dia kenal sedang berjalan kaki sendirian. Azka mengenali gadis itu saat melihat rambutnya yang ikal serta tinggi badannya. Karena penasaran Azka segera menghentikan motornya di depan gadis itu.
" Hai jelek! Mau kemana lo?" Azka membuka kaca helmnya dan menyapa Ara dengan riang. Sepertinya moodnya kembali baik saat bertemu dengan Ara.
Sementara Ara, sama sekali berbanding terbalik dengan Azka. Ara semakin merasa kesal karena Azka tiba-tiba muncul di hadapannya dan membuat moodnya semakin berantakan. Ara kemudian mendegus dan memilih mengabaikan Azka. Ara lalu berjalan meninggalkan Azka sendiri tanpa mau menjawab pertanyaan cowok itu.
Merasa diabaikan, Azka kemudian turun dari motornya dan segera mencekal lengan Ara dengan kuat.
" Ehh...gue tadi lagi nanya sama Lo! Lo budeg apa....?" Perkataan Azka tiba-tiba terhenti saat melihat sebelah wajah Ara yang bengkak dan memerah. Mata gadis itu juga sembab seperti habis menangis. Azka terlihat sangat terkejut dan tanpa sadar merenggangkan cengkram tangannya pada Ara.
" Gue lagi nggak mood dengerin Lo ngomong." Ara menghempaskan tangan Azka yang masih bertengger di lengannya hingga terlepas. Ara kemudian kembali berjalan meninggalkan cowok itu.
" Ra, tunggu!" Azka kembali memegangi lengan Ara tetapi tidak terlalu kuat seperti tadi.
" Apa sih?" Ara mulai jengah dengan kelakuan Azka yang terus menghalangi dirinya untuk segera pergi. Ara sudah sangat lelah dengan pertengkaran di rumah tadi. Jadi Ara tidak punya tenaga sama sekali untuk meladeni Azka.
" Lo kenapa Ra? Lo habis nangis ya? Terus Pipi Lo ini..?" Saat Azka hendak menyentuh pipi Ara, gadis itu langsung menepis tangan itu dengan kasar.
" Nggak usah sok peduli sama gue! Gue lagi nggak pengen di ganggu!" Ucap Ara dengan ketus. Ara memelototi Azka agar cowok itu segera pergi dari hadapannya.
Seakan tidak mendengarkan ucapan gadis itu, Azka kembali menarik tangan gadis itu menuju motor nya tanpa mengucapkan satu katapun. Azka sepertinya sangat marah saat melihat wajah Ara yang bengkak dan tampak sangat menyedihkan itu.
__ADS_1
" Kak, lepasin gue! Lo mau bawa gue kemana?" Ara menarik tangannya dengan paksa dari Cengkraman Azka. Ara tidak ingin mengikuti cowok itu karena Ara ingin sendirian saat ini.
" Pipi Lo harus di kasih obat!" Ucap Azka dengan singkat tanpa menoleh pada Ara. Azka tidak ingin hatinya bertambah sedih dan sakit saat melihat penampilan gadis itu.
" Nggak perlu kak. Pipi gue nggak kenapa-kenapa." Semakin keras Ara menarik tangannya, semakin kuat pula Azka mencengkram tangan Ara. Ara yang sudah sangat kelelahan akhirnya memilih pasrah mengikuti Azka untuk mendekati motornya. Sepertinya percuma melawan Azka, karena dia sangat keras kepala melebihi Ara.
" Buruan naik! Jangan kabur!" Ucap Azka dengan tegas seakan bisa membaca pikiran Ara yang ingin melarikan diri darinya. Azka segera menaiki motor dan melirik sekilas kebelakang saat gadis itu juga menaiki motornya.
" Pegangan!" Perintah Azka lagi.
Ara hanya bisa mendengus kesal, saat mendengar ucapan Azka itu. Tapi karena Ara juga takut jatuh, Ara akhirnya dengan terpaksa melingkar tangannya di pinggang cowok itu.
Motor Azka akhirnya melaju menuju apotik untuk membeli obat. Selama dalam perjalanan, Ara dan Azka sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing. Sesampainya di depan apotik, Azka menyuruh Ara untuk tetap berada di samping motornya. Sedangkan Azka pergi ke dalam untuk membeli obat yang di butuhkan untuk menyembuhkan pipi Ara yang masih bengkak dan lebam.
Setelah beberapa menit berada di dalam apotik, Azka dengan tergesa-gesa keluar sambil membawa obat di tangannya. Saat Azka sudah berada di depan Ara, dia langsung mengeluarkan obat itu untuk di pakaikan langsung pada Ara.
" Lo tahan bentar ya! Gue bakal pelan-pelan." Azka mengulurkan tangannya untuk mengobati pipi Ara menggunakan salep. Ara hanya bisa pasrah saat sebelah tangan Azka mengusap pipinya dengan lembut.
" Ssshhh..." Ara meringis karena Azka tidak sengaja mengusap pipi Ara dengan keras.
" Sorry!" Azka merasa bersalah dan dengan cepat meniup pipi Ara. Kejadian yang tiba-tiba itu membuat Ara membeku karena jarak mereka berdua terlalu dekat. Sedangkan Azka tidak menyadari hal itu dan tetap meniup pipi Ara. Karena tidak tahan dengan perlakuan Azka, Ara akhirnya mendorong bahu Azka agar segera menjauh darinya.
" Lo mau cari kesempatan ya?" Ucap Ara dengan ketus. Ara berusaha menutupi kecanggungan nya dengan bersikap jutek dengan Azka.
" Gue juga liat-liat sikon kali, kalau gue cari kesempatan sama Lo!" Balas Azka tidak mau kalah. Azka merasa kesal karena niat baiknya di salah artikan oleh gadis itu.
" Oh...kirain!" Ara hanya bisa memasang tampang tidak berdosa karena menuduh Azka sembarangan. Ara kemudian mengalihkan topik pembicaraan agar dia tidak merasa canggung dengan kejadian tadi.
" Btw, thanks ya kak udah beliin gue obat. Tapi sorry gue nggak bawa duit. Jadi obatnya gue bayar besok aja ya!" Ucap Ara dengan santainya. Ara kemudian mengulurkan tangannya untuk meminta obat yang masih di pegang oleh Azka.
" Gue nggak kekurangan duit. Jadi Lo nggak mesti ganti obat yang gue beli." Jawab Azka dengan sombongnya sambil menyodorkan obat itu ke tangan Ara.
" Iya, gue tau." Ara melingkarkan kedua matanya menatap Azka jengah. Ara berpikir lebih baik segera pergi dari hadapan Azka, dari pada terus mendengarkan setiap kalimat yang bernada kesombongan dari mulut cowok itu.
" Kalau gitu gue balik dulu ya kak. Sekali lagi thanks buat ini." Ara tersenyum manis sambil menggoyang-goyangkan obat itu di hadapan Azka.
" Lo mau kemana? Tapi tadi Lo bilang nggak punya duit? Terus Lo pulang pake apa?" Tanya Azka beruntun. Azka menautkan alisnya saat menatap Ara.
" Gue jalan kaki aja. Deket ini kok." Jawab Ara cuek. Ara kemudian segera berbalik pergi meninggalkan Azka.
" Eh....tunggu!" Azka menahan lengan Ara agar tidak pergi. "Lo mau refreshing nggak? Kayaknya kalau keliling boleh juga tuh! Dari pada Lo suntuk di rumah. Lo mau nggak?"
Azka bisa menebak kalau Ara sedang memiliki masalah saat ini. Tapi Azka tidak berani bertanya dan ikut mencampuri urusan gadis itu. Azka akan menunggu sampai Ara yang bercerita sendiri tentang masalahnya pada Azka. Jadi Azka lebih memilih untuk menghibur gadis itu, agar suasana hatinya kembali baik dan bisa ceria seperti biasanya.
" Hmm...boleh deh!" Setelah berfikir beberapa saat, Ara akhirnya menyetujui penawaran Azka itu. Ara berharap dia bisa melupakan sesaat tentang kejadian di rumah hari ini. Ara hanya ingin mendapatkan kembali ketenangan hatinya, sebelum kembali menghadapi realita hidup yang tidak sesuai dengan harapannya.
" Sipp!" Azka tersenyum bahagia karena Ara tidak menolak tawarannya. Azka kemudian berjanji dalam hatinya, akan membuat Ara senang sehingga gadis itu tidak akan mengingat lagi kesedihan yang dia alami hari ini.
__ADS_1
Ara dan Azka akhirnya menaiki motor sport itu dan pergi meninggalkan apotik. Azka akan mengajak Ara mengelilingi kota Jakarta hari ini. Azka berharap hubungannya dengan Ara akan menjadi lebih dekat. Sehingga Azka memiliki kesempatan untuk menjadikan Ara sebagai kekasih hatinya. 'Azka Lo pasti bisa!!' ucap Azka dalam hati untuk menyemangati diri sendiri. Azka kemudian tersenyum senang di balik helm full face nya dan kemudian menjalankan motor sport itu dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan mereka.