Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
Curahan Hati Rhea


__ADS_3

"Sorry Rhee.." Gavin menatap Rhea lalu menggenggam tangan gadis itu dengan erat setelah mereka berdua meninggalkan kantin.


Sedangkan Rhea hanya diam sambil terus mengalihkan pandangannya dari Gavin tanpa mau membalas tatapan cowok itu. Gavin yang melihat keterdiaman Rhea hanya bisa menghela nafas dengan berat.


Devina selama ini yang dia kenal, selalu berusaha mendekatinya tanpa kenal lelah. Gavin selalu menolak dengan berbagai alasan tapi sepertinya itu semua tidak mampu membuat Devina menyerah.


" Rhee, Lo harus percaya sama gue. Gue bakal lindungin Lo apapun yang terjadi. Jadi gue mohon jangan jauhin gue." Gavin berusaha meyakinkan Rhea bahwa apa yang terjadi tadi tidak akan mempengaruhi jalan cerita cinta mereka kedepannya.


Rhea yang mendengar ucapan Gavin, kemudian melepaskan genggaman cowok itu dari tangannya.


" Gue pengen sendiri dulu kak." Rhea berbalik dan meninggalkan Gavin dengan perasaan bersalahnya. Sepertinya Gavin harus membiarkan Rhea memenangkan diri terlebih dulu.


" Tungguin kita Rhee..!!" Teriakan dari Shasa dan Ara yang berada dibelakang menghentikan langkah kaki Rhea. Rhea hanya diam menunggu hingga mereka datang menghampiri dan kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan segera.


" Biarin Rhea tenangin diri dulu bro!!" Dhafi menepuk pundak Gavin dengan lembut diikuti oleh Azka dan Alex bergantian.


" Iya, gue tau!!" Gavin hanya bisa menatap kepergian Rhea dan teman-temannya dengan sendu. Gavin berjanji akan terus berusaha meyakinkan Rhea kalau dia benar-benar menyayangi gadis itu dan tidak akan pernah melepaskan Rhea untuk kedua kalinya.


****


Rhea, Shasa dan Ara memilih menghabiskan jam istirahat mereka dengan duduk dibawah pohon yang rindang yang ada di taman belakang sekolah.


" Adem banget ya guys??" Shasa mengibaskan rambutnya karena merasakan angin yang bertiup menyejukkan kulit lehernya.


" Iya, adem sha." Ara membalas ocehan Shasa dan mengikuti apa yang dilakukan sahabat barunya itu.


Sedangkan Rhea hanya diam menatap kosong ke arah depan tanpa menghiraukan obrolan Shasa dan Ara.


" Udah Rhee nggak usah dipikirin omongan cewek nggak jelas tadi!! Dia itu cuma sampah yang nggak dihirauin sama kak Gavin. Jadi lo jangan terpengaruh ya Rhee??"


Shasa memberikan nasehatnya pada Rhea sambil mengelus bahu sahabat kesayangannya itu.


" Betul Rhee, dia itu nggak ada apa-apa dibandingin sama Lo. Lo harus semangat Rhee. Fighting!!!" Ara juga ikut memberikan nasehat sambil mengepalkan kedua tangannya diudara untuk menyemangati Rhea.


Rhea yang mendengar ocehan mereka berdua hanya bisa tergelak kecil.


" Iya, bawel Lo berdua. Kayak emak-emak di pasar aja. Hahaha.." Rhea melirik kedua sahabatnya dan kemudian tertawa senang.


" Ish..dikasih nasehat malah bales ledekin ni anak!!" Shasa menoyor kepala Rhea karena kesal.


" Sorry..sorry!! Gue nggak ledekin tapi bicara fakta. Hahaha.." Kembali Rhea meledek kedua sahabatnya itu dan mendapat toyoran lagi dari Ara.


" Ehh...kalau Lo berdua noyor gue terus, lama-lama gue bisa begok tau nggak!!" Rhea tidak terima dengan kelakuan mereka berdua.


" Rasain Lo, biarin Lo begok biar si Gavin diambil orang." Shasa masih terus menggoda Rhea yang kini merubah ekspresi wajahnya menjadi sendu.


" Canda Rhee!! Jangan pasang tampang kayak gitu. Jelek tau nggak!!"

__ADS_1


Rhea kemudian menghela nafas lelah dan menatap lagi ke arah depan.


" Lo tau kan Sha, gue juga pernah ngalamin hal kayak gini waktu SMP. Gue dimusuhin sama beberapa cewek yang juga pernah naksir Gavin. Tapi waktu itu gue berani melawan mereka karena gue yakin Gavin bakal milih gue dan usaha gue untuk melawan mereka nggak akan sia-sia."


Rhea menjeda ucapannya sambil terus mengingat-ingat apa yang terjadi di masa lalu. Sedangkan Shasa dan Ara terus mendengarkan curahan hati sahabatnya itu tanpa menjeda nya sama sekali.


" Tapi gue keliru Sha. Ternyata gue salah mengartikan perhatian yang diberikan Gavin ke gue sebagai sinyal rasa suka dia ke gue. Karena pada akhirnya gue juga nggak dipilih Gavin sama seperti cewek yang musuhin gue dulu.


Tanpa Rhea sadari, tetesan bening itu keluar dari sudut matanya.


" Gue kayak cewek begok yang rela di bully buat orang yang nggak punya perasaan apapun buat gue. Dan sekarang kejadian itu keulang lagi Sha. Gue nggak mungkin jadi cewek begok untuk kedua kali nya kan Sha??"


Sekarang tatapan Rhea tertuju pada Shasa yang sedang mengelus punggung nya dengan lembut.


" Lo nggak begok Sha. Lo cewek ya paling pinter yang pernah gue kenal. Gue bakal dukung semua keputusan yang akan Lo ambil Rhe dan Lo nggak perlu takut sama siapa pun karena gue selalu ada di belakang Lo Rhe."


Shasa mengusap tetesan bening yang terus mengalir deras dari mata Rhea dan menyandarkan gadis itu di bahunya. Shasa juga dapat merasakan kesedihan Rhea karena selama ini dialah orang yang selalu ada bersama Rhea.


" Iya Rhe, gue juga nggak akan biarin siapapun berani menindas Lo lagi Rhe. Lo harus kuat ya Rhe."


Ara juga ikut mengelus punggung Rhea guna meredakan perasaan sahabatnya yang sedang bersedih.


Saat mereka bertiga masih sibuk dengan dunia kegalauan mereka, terdengar sebuah sorakan yang begitu keras dari seseorang di ujung taman.


" Sha...Sha...Shasa..." Tampak seorang cowok berbadan tambun yang mencoba menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk di kursi taman.


Saat cowok itu mulai mendekat, ketiga sahabat itu mulai membenahi penampilan mereka yang sedikit berantakan akibat tangisan kegalauan tadi.


Cowok yang berpenampilan kemayu itu mengerucutkan bibirnya dengan kesal pada Shasa. Sedangkan Shasa memutar matanya jengah dengan kelakuan teman sebangkunya itu.


" Ihh...apaan sih Bi. Datang-datang main menyerocos aja kayak petasan. Budeg tau nggak nih!"


Shasa mulai berdiri dan mengusap-usap telinga nya yang berdengung akibat mendengar suara temannya yang terlalu nyaring.


" Sorry..sorry! Ya elo sih, tega bener ama gue. Btw, mereka siapa Sha?"


Cowok yang di panggil Bi itu memandang dua orang gadis yang tadi duduk bersama Shasa.


" Ohh...ini sahabat-sahabat gue. Ayo kenalan dulu Bi!!" Shasa menarik lengan temannya itu untuk berkenalan.


" Hai..nama gue Bibi. Gue temen sebangku nya Shasa."


Rhea dan Shasa ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada Bibi.


" Hai juga...nama gue Rhea." Rhea mengulas senyuman pada Bibi.


" Kalau gue Ara. Seneng kenalan sama Lo Bi." Ara membalas sapaan Bibi dengan ramah.

__ADS_1


" Temen Lo cantik-cantik ya Sha! Gue boleh gabung nggak sama kalian bertiga??" Bibi memandang ketiganya penuh harap.


" Ya elah Bi. Kenapa gabung sama kita. Gabung sama yang satu spesies lah sama Lo!" Shasa yang berbicara seperti itu mendapat sikutan dari Rhea yang berdiri disampingnya.


" Ihh..jahat banget si Lo! Emang nya gue hewan apa pake bawa-bawa spesies segala??"


Bibi memonyongkan bibirnya kesal mendengar istilah yang diberikan Shasa kepadanya.


" Hehehe..sorry Bi. Maksud gue tu temen sesama cowok lah. Masak Lo mau gabung sama kita-kita yang cewek gini." Shasa masih berusaha menolak keinginan Bibi untuk bergabung bersama mereka.


" Nggak ahh...gue takut di lecehin sama mereka secara gue kan nggak beda jauh cantiknya sama Natasya Wilona." Bibi dengan pedenya menyamakan kecantikannya dengan artis sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.


Shasa yang mendengar ocehan Bibi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sebangkunya yang terlalu kepedeaan. Sementara Rhea dan Ara tertawa cekikikan melihat gaya centil yang diperagakan Bibi.


" Ya udah lo gabung aja sama kita Bi! Makin rame makin asyik." Rhea akhirnya mengajak Bibi untuk bergabung bersama mereka.


" Yeee...Lo baik bingits sih Rhee. Gemess deh!" Bibi berbinar senang dan mencubit pipi Rhea sekilas.


" Seneng bener Bi bisa gabung sama cewek-cewek cakep kayak kita." Shasa juga ikut tertular virus kepedeaan nya si Bibi.


" Iya dong. Sebagai ucapan terima kasih karena ngebolehin gue gabung sama kalian, gue mau traktir makan di cafe pas sekolah bubaran. mau nggak??" Bibi menatap ketiga gadis yang berada di depannya menunggu jawaban.


" Serius Bi?" Ara memastikan kembali ucapan Bibi barusan.


" Ya serius lah. Emang nya gue ada tampang becanda apa. Mumpung masih awal bulan. Duit jajan gue masih banyak. Hehehe..." Bibi tertawa senang sambil memukul dompetnya yang masih tebal.


" Kuy lah bi, kapan lagi makan gratisan di cafe." Shasa menerima ajakan bibi dengan senang hati.


" Gue juga mau ikut Bi tapi gue izin sama bunda gue dulu ya. Terus satu lagi, lo jangan sampai nyesel ya bi, soalnya si Shasa makannya banyak. Hahaha.."


Rhea tertawa senang karena berhasil meledek Shasa. Sedangkan Shasa yang mendengar ocehan Rhea melotot tidak terima sambil berkacak pinggang.


" Enak aja Lo bilang makan gue banyak. Body gue bagus gini. Nggak mungkin lah gue makan banyak. iya ka Ra??" Ara yang baru mengenal dan tidak mengetahui apa-apa tentang Shasa hanya menganggukan kepala setuju dengan ucapan Shasa.


" Udah-udah jangan pada berantem. Tenang aja gue anak orang kaya. Bokap gue pengusaha batubara. Jadi duit gue nggak habis-habis. Lo bertiga bisa pesen apa aja yang kalian mau."


Bibi membanggakan pekerjaan orang tuanya sambil tersenyum senang.


" Sipp!!" Rhea, Shasa dan Ara mengacungkan jempol menerima ajakan Bibi.


Tak berselang lama bel tanda masuk berbunyi dan menyudahi percakapan mereka berempat.


" Eehh udah bel tu. Kita masuk kelas yuk. Nanti habis jam pelajaran, gue sama Shasa bakal jemput Lo ke kelas. Lo berdua harus ikut ya!!" Bibi menggandeng lengan Shasa menuju ke kelas mereka di 10 IPA 4.


" Iya Bibi bawel. Kita bakal ikut." Ara juga ikut menggandeng lengan Rhea menuju kelas mereka di 10 IPA 1.


Akhirnya mereka berempat menuju kelas masing-masing. Rhea yang sebenarnya masih sedih dengan kejadian tadi berusaha melupakannya untuk sesaat.

__ADS_1


"Lo harus semangat Rhee. Lo nggak boleh lemah dan nggak boleh takut sama siapapun. Fighting!!" Rhea menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


Rhea akhirnya kembali tersenyum senang dan meneruskan langkahnya bersama Ara menuju kelas.


__ADS_2