
Akhirnya Gavin dan Rhea sampai di toko pakaian yang mereka tuju. Dengan langkah yang riang, mereka berdua masuk ke toko itu sambil bergandengan tangan.
" Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan toko menyambut Gavin dan Rhea dengan ramah.
" Siang juga mbak. Bisa tolong bantu saya carikan beberapa setelan kantor seperti kemeja dan celana bahan. Saya juga perlu beberapa jas." Ucap Gavin dengan sopan.
" Baik, silahkan ikut saya!" Karyawan toko itu menggiring Gavin dan Rhea menuju ke sebuah kursi tunggu yang berada di dalam toko. Dengan sigap karyawan toko itu membawakan beberapa kemeja serta celana bahan yang di minta Gavin. Dia juga membawa beberapa jas dengan warna yang berbeda.
" Tunggu bentar ya Yang!" Gavin menerima pakaian itu lalu mencobanya di ruang ganti.
" Iya." Rhea menganggukkan kepala lalu menyibukkan diri dengan bermain ponsel sambil menunggu Gavin keluar.
" Gimana penampilan aku Yang!" Gavin keluar dari dalam ruang ganti dengan penampilan yang luar biasa. Gavin terlihat sangat keren dengan setelan kantornya yang berwarna abu-abu. Membuat Rhea berdecak kagum dengan ketampanan Gavin yang bertambah 10 kali lipat.
" Keren kak! Udah kayak eksekutif muda." Rhea tersenyum senang sambil mengangkat keduanya jempol memuji penampilan Gavin.
Gavin langsung mendekati Rhea sambil mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.
" Ih...kok rambut aku di acak-acak sih!" Rhea memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Gavin.
" Habisnya gemes!" Gavin terkekeh kecil lalu berbalik menghadap cermin yang ada di depannya. Gavin sangat puas dengan pilihan pakaian nya kali ini.
" Udah kak, nggak usah ngaca terus! Ntar kacanya retak!" Ejek Rhea dari belakang.
Gavin lalu kembali menghadap Rhea yang berada di belakang dan langsung mencubit pipi gadis itu.
" Awww... sakit kak!" Rhea sedikit meringis tapi tangannya tidak tinggal diam untuk membalas cubitan Gavin.
" Awww...ampun Yang!" Gavin dengan cepat melepaskan tangannya di pipi Rhea dan langsung mengusap sendiri pinggangnya yang di cubit gadis itu.
" Rasain! Siapa suruh cubit pipi aku!" Rhea tersenyum mengejek Gavin, lalu menjulurkan lidahnya. Sedangkan Gavin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rhea yang selalu membalas perbuatannya.
" Yang, pilihin aku beberapa dasi ya! Aku mau ganti baju dulu." Gavin segera memasuki ruang ganti setelah Rhea menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan Gavin.
Rhea langsung di arahkan oleh pegawai toko ke rak yang memajang dasi dengan berbagai warna dan motif. Rhea segera memilih beberapa dasi dengan warna yang berbeda dan motif yang simpel, lalu memberikannya kepada pegawai itu untuk di bayar. Setelah itu Rhea kembali duduk untuk menunggu Gavin selesai mengganti baju.
Saat Gavin keluar dari ruang ganti, dia juga menyerahkan beberapa kemeja,celana dan jas yang menjadi pilihannya pada pegawai toko tadi.
Setelah semuanya dihitung, Gavin membayar semua belanjaannya itu dengan menggunakan kartu kredit yang sudah diberikan oleh Papa Ardana sebelumnya.
" Wah, bapak udah punya kartu kredit ya sekarang? Saya berasa lagi jalan sama sultan nih kayaknya." Rhea tersenyum menggoda Gavin, membuat Gavin kembali gemas dengan gadisnya itu.
" Kamu mau beli sesuatu nggak? Biar sultan yang bayarin! Tinggal gesek aja!" Gavin tertawa kecil sambil menggoyang-goyangkan kartu kredit itu di hadapan Rhea.
" Idih... sombong! Kartu punya om Ardana juga!" Gavin dan Rhea sama-sama melemparkan candaan hingga mereka berdua keluar dari toko pakaian itu.
" Kak, beli makanan yuk! Laper ni." Rhea mengusap-usap perutnya yang lapar sambil memasang tampang sesedih mungkin.
" Maaf sayang, kamu laper ya! Kamu mau mau makan dimana?" Gavin mengusap-usap kepala Rhea dengan sayang lalu menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
" Ke restoran Jepang aja boleh nggak kak? Aku pengen makan sushi sama ramen." Rhea menatap Gavin penuh harap, membuat Gavin akhirnya menyetujui usulan dari pacarnya itu.
" Makasih kak!" Rhea tersenyum senang lalu segera menarik tangan Gavin untuk segera pergi ke restoran Jepang.
Saat Gavin dan Rhea sudah sampai di depan pintu restoran Jepang itu, Rhea dengan semangat kembali menarik tangan Gavin untuk masuk ke tempat itu. Rhea tidak memperdulikan kondisi Gavin yang saat ini sedang kesusahan membawa begitu banyak Paper bag di tangannya.
Ketika mereka berdua sudah berada di dalam restoran, Rhea langsung memesan ramen dan sushi favoritnya. Sementara Gavin hanya memesan ramen karena dia tidak begitu menyukai sushi.
" Kak, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk! Aku pengen ke suatu tempat bareng kak Gavin. Mau ya kak?" Rhea menatap Gavin serius sambil menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja.
" Kan hari ini kita udah jalan-jalan! Emangnya kamu mau kemana sih Yang?" Gavin membalas tatapan Rhea sambil memasang senyuman termanis untuk gadis itu, membuat Rhea sedikit grogi dengan ulah Gavin itu.
__ADS_1
" Hari ini mah bukan jalan-jalan, tapi pergi belanja! Aku pengen pergi ke Dufan kak! Aku udah lama nggak kesana. Kak Gavin mau kan temenin aku?" Rhea mengkedipkan matanya genit menggoda Gavin. Membuat Gavin terkekeh geli dengan tingkah Rhea yang satu ini.
" Kalau ketempat lain aja gimana Yang! Aku takut naik wahana di sana?" Ucap Gavin jujur. Gavin takut akan berakhir muntah-muntah karena mencoba menaiki wahana yang mengaduk-aduk isi perutnya.
" Nggak mau! Aku mau nya ke Dufan. Aku nggak mungkin ajak Shasa ke sana karena dia takut ketinggian. Terus aku perginya sama siapa dong?" Rhea mengerucutkan bibirnya kesal karena Gavin secara terang-terangan menolak usulan nya untuk pergi ke Dufan.
" Gimana kalau kita pergi ke Puncak aja Yang? Di sana kan udaranya sejuk. Terus kita ntar jalan-jalan ke kebun teh. Habis itu kita hunting makanan yang enak-enak deh di sana."
Gavin mencoba mengalihkan minat Rhea pada Dufan dengan mengajak gadis itu ke Puncak. Gavin tidak ingin berakhir mengenaskan saat berada di Dufan nantinya.
" Kalau kak Gavin nggak mau temenin aku pergi ke Dufan, aku pergi sama cowok lain aja!" Rhea mendengus kesal, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Seperti keinginan Rhea tidak bisa di tukar dengan apapun juga.
" Eehh..kamu mau pergi sama cowok lain? Jangan macem-macem ya Yang!" Gavin mulai marah mendengar ancaman Rhea yang berani-beraninya membawa cowok lain untuk pergi bersama gadis itu.
" Ya habisnya kak Gavin nggak mau pergi sih! Aku kan mau banget pergi ke sana." Rhea akhirnya memasang tampang sedih, membuat Gavin menghela nafas dengan berat melihat begitu keras kepalanya pacarnya itu.
" Ya udah, Minggu depan kita pergi ke Dufan. Tapi kalau seandainya aku nggak kuat naik wahananya, kamu naik sendirian aja ya!"
Gavin akhirnya luluh dengan permintaan Rhea. Dia tidak tega melihat wajah Rhea yang begitu sedih karena Gavin mencoba menolak permintaan gadis itu tadi.
" Yee...kak Gavin baik deh! Makasih ya!" Rhea melebarkan senyumnya karena berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Iya, yuk makan!" Gavin dan Rhea akhirnya mulai makan dengan tenang saat makanan mereka sudah tersaji di meja. Sesekali Rhea menjahili Gavin dengan memaksa cowok itu makan sushi yang tidak Gavin sukai.
" Nggak Yang! Aku nggak suka yang mentah. Kamu makan aja sendiri!" Gavin menjauhkan kepalanya dari sumpit makanan Rhea yang mengarah ke mulutnya.
" Coba dikit aja kak! Enak kok sushi nya!" Rhea masih kekeuh memaksa Gavin memakan sushi itu. Hingga Gavin akhirnya menyerah dan membuka mulutnya.
" Enak kan kak?" Rhea tersenyum senang karena berhasil memasukkan sushi itu ke mulut Gavin.
Gavin sama sekali tidak menjawab. Dia memaksakan diri menguyah makanan itu sambil menutup mata. Karena tidak tahan dengan rasa yang aneh di mulutnya, Gavin segera menelan dengan cepat makanan itu dan langsung meneguk air di hadapannya.
" Hahaha..." Rhea tertawa senang melihat ekspresi Gavin yang sangat lucu saat terpaksa memakan sushi di mulutnya.
" Maaf deh!" Rhea kembali tertawa cekikikan sambil melirik Gavin yang sedang memasang wajah cemberut.
Saat Gavin dan Rhea sedang sibuk menghabiskan makanan masing-masing, dua orang gadis menghampiri Gavin dan menepuk pundak cowok itu.
" Hai Vin!" Salah satu dari gadis itu tersenyum sambil menyapa Gavin dengan ramah.
" Eh..hai juga Man!" Gavin membalas sapaan gadis yang bernama Amanda itu.
Dia adalah temen sekelas Gavin saat di SMP dulu.
" Tambah cakep aja lu Vin! Gimana kabar temen-temen Lo yang lain Vin?" Tanya Amanda lagi. Dia sepertinya mengacuhkan Rhea, walaupun Rhea sedang duduk di hadapan Gavin.
" Yang lain baik! Lo sendiri gimana kabarnya?" Tanya Gavin berbasa-basi. Gavin tidak mungkin mengusir Amanda begitu saja dari hadapannya dan juga Rhea.
" Gue baik juga kok. Eh..Lo tau nggak Vin, Si Tasya bakal sekolah lagi loh di Jakarta. Beberapa hari yang lalu dia sempet kontak gue. Dia juga bilang kalau dia kangen banget sama Lo. Makanya dia bela-belain balik lagi ke Jakarta. Biar bareng Lo terus katanya."
Amanda tersenyum saat menceritakan tentang Tasya yang merupakan mantan pacar Gavin saat SMP. Mereka putus saat Tasya pergi ke Bandung mengikuti kedua orang tuanya yang pindah karena pekerjaan.
Sesaat Gavin hanya diam mendengarkan penjelasan Amanda. Tapi ketika dia melihat wajah Rhea yang berubah murung, Gavin langsung menggenggam tangan gadis itu yang sedang berada di atas meja dengan erat. Rhea mengenal siapa Tasya karena mereka satu sekolah saat SMP dulu.
" Sorry Man, tapi gue sama Tasya udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita juga udah putus waktu kita lulus SMP. Lagi pula gue sekarang juga udah punya cewek. Jadi gue harap Lo nggak usah bahas dia lagi di depan gue."
Setelah berbicara begitu panjang, akhirnya Gavin bisa bernafas lega. Rhea tidak lagi memasang tampang murung seperti tadi. Tapi saat ini, Rhea sedang tersenyum menatap Gavin. Membuat Gavin juga membalas senyuman pacarnya itu.
" Oh...maaf deh Vin, gue nggak bermaksud bahas si Tasya. Gue cuma mau ngasih info aja. Sebagai sahabatnya gue seneng aja dia bakalan balik lagi ke sini."
Amanda memaksakan senyumannya saat berbicara dengan Gavin. Dia tau Tasya dan Gavin sudah lama putus. Tapi Amanda hanya ingin membuat gadis yang duduk di depan Gavin merasa cemburu dengan kedatangan mantan pacar Gavin saat SMP dulu.
__ADS_1
" Iya, gue tau. Kalau nggak ada yang mau di bahas, Lo bisa pergi kan Man? Gue mau lanjutin makan sama cewek gue!"
Kali ini Gavin langsung mengusir Amanda untuk segera meninggalkan meja Gavin dan Rhea. Dia sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Amanda. Mereka saling mengenal karena Tasya berteman baik dengan Amanda dulu.
" Oke, sorry ya Vin kalau gue ganggu acara makan Lo sama cewek Lo ini." Amanda menatap Rhea dengan tatapan mengejek, membuat Rhea memelototi gadis itu dengan kesal.
" Bye Vin!" Amanda segera menarik temannya yang sejak tadi hanya diam di samping Amanda sambil mendengarkan pembicaraan antara Amanda dengan Gavin.
" Bye!" Gavin tersenyum singkat pada Amanda lalu mengalihkan tatapannya pada Rhea lagi.
Saat Amanda dan temannya sudah ke luar dari restoran, Gavin mulai mengajak Rhea kembali berbicara.
" Yang, jangan dengerin omongan Manda tadi ya. Walaupun Tasya balik sekali pun, itu nggak akan ada pengaruhnya sama hubungan kita. Kamu tau kan alasan aku jadian sama dia dulu. Kamu yang selalu aku sayang. Jadi kamu harus percaya sama aku ya!"
Gavin menatap Rhea dengan serius. Tidak ada kebohongan sedikitpun terlihat dari sorot mata Gavin. Membuat Rhea hanya bisa mengangguk kepala meyakini ucapan Gavin tadi.
" Makasih ya Yang! Gavin tersenyum bahagia lalu mempererat genggaman tangannya pada Rhea. Gavin tidak akan melepaskan Rhea sampai kapan pun.
Saat mereka telah puas saling menatap, Rhea menggoyang-goyangkan tangan Gavin untuk melepaskan genggaman tangan mereka.
" Kak, pulang yuk! Aku Udah capek!" Rhea sangat lelah hari ini. Rhea sudah menemani Gavin memilih baju tadi di tambah lagi dengan bertemu teman dari mantan pacar Gavin yang sangat menyebalkan. Membuat mood Rhea menjadi buruk bila mengingat kejadian tadi.
" Oke, tunggu sebentar ya Yang! Aku bayar dulu!" Gavin segera ke meja kasir untuk membayar. Setelah itu dia segera menghampiri Rhea yang masih duduk di tempat tadi.
" Yuk Yang!" Gavin mengulurkan tangannya untuk membantu Rhea berdiri. Saat Rhea sudah berada di samping Gavin, dia tidak lupa menggenggam tangan gadisnya itu dengan erat lalu melangkah pergi keluar dari restoran.
Ketika Gavin dan Rhea sudah meninggalkan restoran, Rhea melihat ada toko aksesoris yang berada tidak jauh dari tempat mereka berjalan saat ini.
" Kak, kita kesana Yuk! Aku pengen beli sesuatu." Rhea menunjuk sebuah toko aksesoris pada Gavin dengan antusias.
" Kamu mau beli apa?" Tanya Gavin penasaran.
" Ada deh, kak Gavin ikut aja!" Rhea menarik tangan Gavin dengan cepat agar segera bergegas ke toko itu.
Saat sudah berada di depan toko, Rhea menginstruksikan agar Gavin tetap berdiri di depan toko. Sementara Rhea masuk ke dalam toko seorang diri.
" Tunggu bentar ya kak!"
Rhea masuk ke dalam toko aksesoris itu dengan semangat. Dia langsung pergi ke rak yang memajang barang yang dia inginkan tadi. Ketika Rhea sudah memilih barang yang dia suka, dia langsung membayarnya kepada petugas kasir.
" Sorry yak kak, aku nggak lama kan?" Rhea tersenyum senang saat menemukan Gavin masih berdiri di tempatnya seperti tadi.
" Nggak kok! Kamu beli apa?" Gavin memperhatikan Rhea yang sedang memegang bungkusan kecil di tangannya.
" Tada...!Aku beli ini! Bagus nggak kak?" Rhea menyodorkan sebuah gelang couple berwarna hitam kehadapan Gavin. Membuat gadis itu tersenyum senang dengan apa yang berhasil dia beli.
" Bagus!" Gavin juga tersenyum senang melihat gelang couple itu di tangan Rhea.
Tanpa basa-basi Gavin langsung mengambil gelang itu dan memasangkan gelang yang ada simbol gembok berbentuk hati ke tangan Rhea. Sedangkan Gavin memakai sendiri gelang yang ada simbol kunci di tangannya.
" Dari mana kamu dapat ide beli gelang couple kayak gini?" Gavin menatap senang gelang yang dia pakai serta gelang yang juga di pakai Rhea secara bergantian.
" Liat di IG kak. Lucu aja keliatan nya. Emang nya kenapa kak? Norak ya menurut kak Gavin?" Rhea yang tadi nya senang, mendadak cemberut mendengar pernyataan Gavin tadi.
" Nggak norak, bagus banget malah!" Gavin mengusap-usap kepala Rhea dengan sayang. Membuat Rhea tersipu malu mendengar ucapan serta tindakan Gavin barusan.
" Janji jangan di lepas ya kak!" Rhea mengacungkan jari kelingking nya di hadapan Gavin. Gavin dengan segera menautkan jari kelingking mereka berdua.
" Nggak bakalan aku lepas. Gembok hati kamu cuma aku yang bisa buka." Gavin tersenyum senang lalu menggenggam tangan Rhea saat jari kelingking mereka sudah terlepas.
__ADS_1
Gavin dan Rhea akhirnya meninggalkan toko aksesoris itu dengan perasaan bahagia. Mereka lalu mereka bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobil terlebih dahulu. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Gavin kembali menggenggam tangan gadisnya itu dengan erat. Gavin segera menghidupkan mobil lalu meninggalkan mall itu untuk mengantar Rhea pulang terlebih dahulu.