Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
45. Keputusan Yang Terbaik


__ADS_3

Ketika jam pelajaran berakhir, Dhafi dan Azka langsung menyambangi kelas Gavin dan Alex yang tidak berada jauh dari kelas mereka. Saat keadaan kelas mulai sepi, mereka berempat mulai terlibat obrolan yang cukup serius. Hal itu sangat terlihat jelas dari raut wajah mereka yang mulai tegang saat obrolan itu baru di mulai.


" Lo serius mau keluar dari Tim Basket,Vin?"


Azka sangat terkejut dengan keputusan Gavin yang sangat tiba-tiba, begitu pula dengan Alex dan Dhafi. Mereka bertiga tidak menyangka, Gavin berani mengambil keputusan untuk meninggalkan tim basket yang selama ini Gavin cintai.


" Gue serius. Gue bakalan ngomong sama pak Hendrik besok. Gue harap Lo semua dukung keputusan gue." Ucap Gavin dengan tegas.


Gavin sudah berjanji pada Papa Ardana untuk membantu di perusahaan. Jadi Gavin harus merelakan basket demi bisa fokus pada urusan perusahaan kedepannya.


" Kita akan dukung semua keputusan Lo. Yang terpenting Lo nggak terbebani dengan tugas Lo sebagai penerus perusahaan saat ini." Dhafi menepuk-nepuk pundak Gavin seakan memberikan semangat pada sahabatnya itu.


" Thanks bro! Gue nggak akan merasa terbebani karena semua ini udah jadi tanggung jawab gue. Cepat atau lambat gue juga pasti akan bergabung dengan perusahaan bokap. Gue cuma berusaha meringankan urusan bokap di perusahaan supaya penyakitnya nggak kambuh lagi." Ucap Gavin dengan tulus.


Azka, Alex dan Dhafi kompak menatap Gavin dengan bangga. Ternyata sahabat mereka yang satu ini sudah berubah menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.


" Ayo kita rayain pesta perpisahan Lo sama anak-anak tim basket yang lain dan Lo nggak boleh nolak!" Alex segera berdiri dan menyampirkan tasnya ke bahu. Azka yang memang sudah berdiri dari tadi langsung bersemangat mendengar akan di adakan nya pesta. Sementara Dhafi bersikap acuh tak acuh mendengar rencana itu.


" Sorry bro! Tapi acaranya bisa di cancel nggak? Gue udah janji pergi sama Rhea." Ucap Gavin jujur. Dia hari ini berencana akan mengajak Rhea ke mall untuk membeli beberapa setelah kantor yang akan digunakan Gavin saat pergi ke perusahaan lusa.


" Gimana kalau acaranya nanti malam? Kita bakal rayain pesta perpisahan Gavin di club sama anak-anak yang lain. Lo semua pada setuju kan?"


Azka sangat antusias saat menyampaikan ide brilian nya pada ketiga sahabatnya tadi.


" Boleh juga ide Lo. Gue setuju!" Ucap Alex dengan semangat. Dia sama antusiasnya dengan Azka kalau berhubungan dengan dunia malam itu.


Sementara Dhafi hanya bisa menganggukkan kepalanya menyetujui usulan dari Azka karena dia tidak terlalu menyukai tempat keramaian seperti itu.


" Terserah Lo mau buat acara dimana. Lo atur aja semua!" Gavin tidak mau repot-repot memikirkan semua persiapan acara perpisahan itu. Yang terpenting semua teman-temannya senang dan Gavin tinggal membayar semua biaya yang dihabiskan untuk acara itu.


" Sip bro! Lo tenang aja. Urusan semua bakalan beres sama gue!" Azka tersenyum senang dan tidak sabar menantikan acara nanti malam.


" Gue cabut! Rhea udah nungguin gue di kelasnya." Gavin langsung berdiri dan pergi melangkah keluar kelas untuk menjemput Rhea di kelasnya. Sementara Dhafi, Alex dan Azka mengikuti Gavin dari belakang dengan santai.


*****

__ADS_1


" Lo pulang bareng kak Gavin ya Rhee?" Ucap Ara pada Rhea yang sedang menyapu kelas. Ara dan Rhea masih berada di dalam kelas karena mendapat jadwal piket membersihkan kelas hari ini.


" Iya, tapi kayaknya kita mau pergi ke mall dulu deh, Ra. Kak Gavin bilang ada yang mau di beli katanya." Rhea hampir menyelesaikan tugasnya menyapu kelas. Sementara Ara juga hampir selesai dengan tugasnya membersihkan papan tulis dan membereskan meja guru.


" Oohhh gitu!" Ara hanya menjawab singkat lalu menyimpan kembali kemoceng yang dia pakai untuk membersihkan meja guru. Sedangkan Rhea juga meletakkan kembali sapu yang dia pakai di belakang kelas.


Saat mereka berdua akan bersiap-siap meninggalkan kelas, Gavin datang dan langsung masuk ke kelas Rhea.


" Yang!" Gavin menghampiri Rhea yang sedang berdiri di sebelah Ara. Gavin tidak lupa tersenyum sambil menatap gadisnya itu.


" Ehh...kak Gavin udah dateng. Jadi pergi ke mall nya kak?" Rhea juga tersenyum pada Gavin lalu mulai bertanya saat Gavin sudah berdiri dihadapannya.


" Iya. Kamu kok keringetan gini sih?" Saat Gavin menatap Rhea, dia melihat ada bulir-bulir keringat menetes di kening gadisnya itu. Tanpa rasa malu Gavin langsung menyeka keringat Rhea. Membuat gadis itu sedikit malu dengan Ara yang masih berada di kelas itu.


" Aku sama Ara barusan habis piket kak." Jawab Rhea singkat. Rhea Lalu segera mengambil tasnya dan tidak lupa berpamitan pada Ara.


" Gue cabut dulu ya Ra! Sampai ketemu besok!" Rhea tersenyum dan melambaikan tangannya pada sahabatnya itu lalu meninggalkan Ara di dalam kelas sendirian.


Saat Rhea dan Gavin berjalan keluar kelas sambil bergandengan tangan, Ara juga langsung mengambil tas nya. Ara akan langsung pulang dan memesan ojek online seperti biasanya. Ketika Ara sedang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba seseorang merebut ponsel itu dari tangan Ara.


" Hai jelek..! Kalau jalan itu jangan sambil liatin hape mulu. Ntar nyungsep baru tau rasa Lo!" Ucap Azka dengan nada jahilnya. Azka lalu melempar-lemparkan ponsel Ara di tangannya seperti mainan.


" Kak, kasih hape gue balik dong! Gue mau mesen ojol ni buat pulang!" Ucap Ara sedikit kesal. Dia sedikit ngeri melihat Azka yang dengan santainya melempar-lemparkan ponsel Ara di tangannya. Kalau sampai ponsel itu terjatuh dan rusak, Ara akan langsung meminta ganti rugi pada cowok itu.


Sementara Dhafi dan Alex yang menjadi penonton, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah bocah yang satu itu. Mereka memilih meninggalkan Azka dan Ara yang masih berada di koridor depan kelas gadis itu.


" Kita cabut duluan bro! Selamat pacaran!" Ucap Alex santai. Alex dan Dhafi segera bergegas menuju parkiran. Sudah ada Felice pacarnya Alex yang menunggu cowok itu untuk pulang bersama. Sedangkan Dhafi juga sudah di tunggu oleh Flo karena gadis itu tidak membawa mobil hari ini.


" Sip bro!" Azka sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Alex tadi yang menyebutkan kalau dirinya dan Ara sedang pacaran. Sementara Ara malah cemberut karena di bilang berpacaran dengan kakak kelasnya yang terkenal Playboy itu.


" Kenapa kak Azka diam aja sih, pas mereka bilang kita pacaran. Ntar mereka salah paham lagi!" Ucap Ara ketus. Ara semakin mengerucutkan bibirnya kesal, karena Azka tidak membantah sama sekali ucapan sahabatnya itu.


" Nggak penting! Lo sekarang pulang bareng gue! Habis itu baru hape Lo bisa balik!" Azka berjalan meninggalkan Ara sendiri di belakang sambil mengutak-atik ponsel gadis itu.


Melihat tingkah laku Azka yang seenaknya, membuat Ara semakin kesal dan jengkel. Dia ingin sekali menghajar cowok itu. Tapi karena dia masih punya sisa kesabaran, jadi Ara berusaha dengan sekuat tenaga memaklumi sikap Azka kali ini.

__ADS_1


' Lo sepertinya perlu ngerasain bantingan gue deh kayak nya. Biar Lo kapok dan nggak ganggu gue lagi!' ucap Ara dalam hati. Dia menatap punggung Azka dengan lekat sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


" Woi...ngapai Lo masih berdiri di situ! Buruan!" Azka berbicara dengan keras pada Ara, karena gadis itu sudah jauh tertinggal di belakangnya.


" Iya, bawel!" Ara berjalan dengan tergesa-gesa untuk menghampiri Azka dan berdiri di samping cowok itu. Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju parkiran untuk mengambil motor Azka terlebih dahulu.


****


" Silahkan my princess!" Gavin membukakan pintu mobil untuk Rhea. Tidak lupa gavin menjaga kepala rhea agar tidak terbentur dengan atap mobil.


" Thanks my prince!" Rhea sedikit malu-malu untuk mengucapkan kata-kata seperti itu pada Gavin. Jadi pipi gadis itu sedikit bersemu merah setelah memasuki mobil Gavin.


Gavin langsung tersenyum saat mendengar ucapan Rhea tadi. Gavin segera bergegas mengitari mobil dan langsung duduk di kursi pengemudi.


" Kak Gavin mau beli apa sih emangnya?" Tanya Rhea penasaran. Rhea sudah memasang seat belt dengan erat. Menunggu Gavin akan menjalankan mobilnya menuju mall.


" Aku mau beli setelan kantor buat lusa. Kamu nanti bantu pilihin ya Yang!" Gavin juga sudah memasang seat belt nya dengan erat. Setelah itu mengelus-elus puncak kepala Rhea dengan sayang.


" Sip, ntar aku pilihin yang bagus buat kak Gavin!" Rhea mengangkat jempolnya dan tersenyum manis pada Gavin.


" Makasih ya sayang!" Gavin membalas senyuman pacarnya itu lalu segera menghidupkan mesin mobilnya.


Saat mobil sudah meninggalkan kawasan sekolah, Rhea kembali membuka obrolan dengan Gavin.


" Kak, aku mau nanya serius ni! Kak Gavin beneran mau ninggalin tim basket? Padahal kan sayang. Kalau kak Gavin ngomong sama pak Hendrik untuk minta izin untuk beberapa kali nggak ikut latihan, aku rasa beliau pasti kasih izin."


Rhea sedikit menyayangkan keputusan Gavin untuk berhenti bermain basket. Rhea tau kalau Gavin sangat mencintai olahraga basket. Tapi karena Gavin lebih mementingkan perusahaan untuk saat ini, jadi cowok itu harus melepaskan basket pada akhirnya.


" Aku rasa ini keputusan yang terbaik yang bisa aku ambil. Aku nggak mungkin ngejalanin keduanya di waktu yang bersamaan. Saat ini aku harus fokus untuk bantu Papa di perusahaan. Aku nggak mau Papa ngedrop kayak kemarin lagi."


Gavin sudah mempertimbangkan semua nya dengan matang, jadi dia tidak akan menyesali keputusannya kali ini. Gavin sangat menyayanginya Papanya dan tidak ingin kehilangan beliau lagi.


" Aku bakalan dukung keputusan kak Gavin. Kak Gavin harus semangat ya ngejalanin ini semua. Kalau ada apa-apa, kak Gavin harus cerita ya sama aku!" Ucap Rhea lembut lalu menatap Gavin dengan serius. Membuat Gavin sedikit terharu mendengar ucapan gadisnya itu.


" Makasih ya Yang!" Gavin menggenggam tangan gadis itu dengan erat lalu tersenyum senang. Mereka berdua kemudian sama-sama menikmati lagu yang sedang di putar dari tape mobil Gavin sambil sesekali mengikuti lirik lagu yang mereka hafal.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka berdua sampai di mall yang mereka tuju dengan selamat.


__ADS_2