
Sore ini disebuah kamar yang didominasi warna biru muda, Rhea sedang menikmati sebuah lagu dari boyband kesayangannya yaitu BTS yang berjudul Boy With Luv.
Lagu ini menggambarkan tentang perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta sama seperti yang dialami oleh Rhea saat ini. Gadis itu dengan lihainya berjoget mengikuti irama musik. Tanpa Rhea sadari pintu kamarnya sudah diketuk berulang kali dari luar.
" Rhe...Rhe...Rhea!! Buka pintunya!!" Teriakan Rafka dari luar sama sekali tidak didengarkan Rhea.
Saat Rafka sudah lelah berteriak, muncul sebuah ide untuk mendobrak pintu kamar Rhea. Rafka mulai mengambil ancang-ancang dengan mundur kebelakang beberapa langkah. Saat hitungan dimulai Rafka bersiap berlari untuk mendobrak pintu itu dengan bahunya.
Rhea yang kebetulan akan keluar dari kamar, tidak menyadari bahwa Rafka telah bersiap untuk mendobrak pintu kamar nya. Saat hitungan berakhir Rafka langsung berlari kencang ke arah pintu. Tanpa dia sadari pintu itu sudah terbuka dan Rafka tidak bisa menghentikan laju lari nya sehingga Rafka tersungkur kedepan dengan wajah membentur lantai.
Bugghhh...
Suara jatuhnya Rafka ke lantai menyerupai suara pohon tumbang. Rhea sampai kaget dan meringis melihat kondisi abangnya yang sudah tergeletak di lantai.
" Abang nggak apa-apa?" Rhea langsung mendekati Rafka yang sudah mulai duduk dilantai. Kepala Rafka seperti berputar-putar karena jidatnya membentur lantai dengan cukup keras.
" Kepala Abang pusing Rhee." Rafka memegang kepalanya yang masih berdenyut sakit. Rhea yang tidak tega dengan Abangnya itu, memapah Rafka untuk duduk di atas tempat tidurnya.
" Abang kenapa sih? Kok lari-lari di depan kamar aku? Abang kurang kerjaan ya??" Pertanyaan bertubi-tubi dari Rhea serta ditambah lagi dengan suara rhea yang cempreng membuat kepala Rafka bertambah pusing.
" Kamu bisa pelan-pelan nggak ngomongnya?? Kepala Abang tambah sakit gara-gara dengerin suara kamu." Rafka mendelik sebal pada Rhea dan kembali memegangi kepalanya.
" Ya habis nya Abang gaje banget. Untung aku sempat ngehindar tadi, kalau nggak ketimpa gajah Afrika akunya. Hehehe.." Rhea masih sempat tertawa cengengesan dan mengatai Rafka dengan sebutan gajah Afrika.
" Kamu ya, udah bikin orang nyungsep masih sempet ngatain lagi. Nih rasain!!" Rafka menjewer kuping Rhea, hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Awww...sakit bang! Ampun!! Aku nggak akan ledekin Abang lagi!" Rhea berusaha melepaskan kupingnya yang dijewer Rafka.
Melihat Rhea yang sudah minta ampun dan meringis kesakitan, Rafka memutuskan untuk melepaskan kuping Rhea saat itu juga.
" Abang jahat banget sih!! Aku kan cuma bercanda." Rhea mengusap telinganya yang dijewer oleh Rafka tadi.
" Kalau mau ledekin orang itu harus liat sikon dulu. Udah tau Abang kamu lagi sakit. Masih aja diledikin." Rafka memasang wajah yang sangar hingga Rhea sedikit takut dengan Rafka.
" Iya, sorry deh bang! Besok aku nggak gitu lagi." Rhea memanyunkan bibirnya kesal kemudian bertanya lagi pada Rafka perihal maksud kedatangan nya ke kamar Rhea.
" Abang belum jawab pertanyaan aku tadi. Ngapain Abang lari-larian di depan kamar aku?" Rhea menatap heran dengan tingkah laku Rafka yang absurd.
" Abang bukannya lari-larian, tapi abang mau coba dobrak pintu kamar kamu. Soalnya Abang panggil-panggil kamu dari tadi nya nggak nyaut. Abang kira kamu kenapa-kenapa di dalam." Rafka ternyata mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.
" Hehehe...sorry bang! Aku tadi lagi dengerin musik pake headphone jadi nggak kedengaran kalau Abang panggil aku." Rhea hanya bisa tertawa cengengesan karena merasa bersalah pada Rafka.
" Kamu itu kebiasaan ya. Kalau pakai headphone itu jangan keras-keras. Mau kuping kamu budeg?" Rafka menaikan suaranya satu oktaf membuat Rhea hanya bisa menggeleng ketakutan.
" Ya udah, Abang kesini mau pinjam gunting. Gunting di kamar Abang nggak ketemu. Gunting kamu mana??" Sakit di kepala Rafka sudah mulai membaik, jadi dia mulai berdiri dari tempat tidurnya Rhea.
" Kayak nya di atas meja belajar aku deh bang. Coba aku liat bentar ya!" Rhea juga berdiri dan mulai mencari apa yang diinginkan Rafka.
__ADS_1
Saat Rhea sedang sibuk mencari gunting di meja belajar, Rafka yang tidak melakukan apa-apa memilih untuk melihat-lihat poster yang di tempel di setiap sudut dinding kamar Rhea. Disana terpampang poster idola Rhea yaitu semua member BTS dengan berbagai gaya.
" Kamu inget Rhee siapa nama mereka semua?? Muka nya sama gini. Abang aja bingung liat nya??" Rafka menatap semua poster tadi sambil mengernyitkan dahi.
Saat Rhea mendengar pertanyaan dari Rafka, Rhea segera memutar tubuhnya agar melihat apa yang dimaksud oleh Rafka. Rhea dapat melihat bahwa Rafka sedang memperhatikan semua poster nya sambil mengernyitkan dahinya bingung.
" Ohh... mereka semua?? Ya bisa lah aku bedain nya." Rhea berjalan menghampiri Rafka lalu menunjuk semua member BTS yang ada di poster itu.
" Ini RM, ini Jin, ini Suga, ini J-Hope, Ini Jimin, ini V, dan ini Jungkook." Rhea tersenyum senang karena berhasil memperkenalkan semua member BTS pada Rafka.
Rafka yang mendengar ocehan Rhea hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub. Rhea bisa menghafal semua nama-nama orang yang ada di poster itu. Rafka saja mengira kalau orang-orang yang ada di poster itu sama karena tampang mereka hampir sama menurut Rafka.
" Mereka semua boyband BTS dari Korea bang!! Masa Abang bilang mukanya pada sama semua. Abang ngawur ni!!" Rhea mendelik kesal kearah Rafka karena sudah menganggap semua orang yang ada di poster itu sama.
" Sorry Rhee, Abang kirain sama tadi. Siapa namanya tadi?? hmm...BTS ya? Kenapa kamu suka sama mereka semua?? Pasti karena mereka semua cakep kan menurut kamu??" Rafka memberikan tatapan mengejek pada Rhea sehingga Rhea hanya bisa menghembuskan nafas lelah.
" Jujur sih pas awal-awal memang aku suka sama mereka karena mereka semua cakep-cakep. Tapi setelah aku mengenal mereka lebih dalam, rasa suka itu bertambah dengan rasa respect. Melihat perjuangan mereka dari nol, sempat di remehin orang karena berasal dari agensi yang kecil. Mereka tetap bisa membuktikan kemampuan mereka dengan menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Bukan hanya bisa terkenal di negara asal mereka aja. Tapi mereka juga bisa terkenal di seluruh dunia. From Nothing to Something. Keren kan bang??" Mata Rhea berbinar senang karena bisa mengungkapkan alasannya menyukai boyband BTS.
" Iya, idola kamu keren. Ya udah mana gunting nya? Udah ketemu?" Rafka kembali teringat dengan gunting yang sedang dia butuhkan tadi.
" Tunggu sebentar bang!" Rhea kembali berbalik mencari gunting di meja belajar. "Ini bang. Emang guntingnya buat apa?" Rhea menyodorkan gunting ke tangan Rafka.
" Mau buka paket. Abang pinjam dulu ya." Rafka mengedipkan sebelah matanya dan berjalan keluar kamar Rhea.
" Iya." Setelah Rafka keluar dari kamar, Rhea kembali memasang headphone ke telinganya. Saat Rhea hendak menekan tombol play untuk menghidupkan lagu, sebuah panggilan masuk ke ponsel nya.
" Siapa sih? Gangguin orang aja." Saat Rhea melihat ponselnya, ada nama Gavin tertera di sana. "Ngapain dia nelfon ya? Kan tadi udah ketemu?"
Rhea : " Hallo..!!"
Gavin: " Hallo juga Yang! Kamu lagi apa?"
Rhea : " Lagi angkat telfon kamu. Ngapain kamu telfon aku?"
Gavin: " Kok nanya nya gitu sih Yang? Aku cuma kangen sama kamu? Emang nya kamu nggak kangen sama aku?"
Rhea : " Nggak, kan tadi udah ketemu. Kalau nggak ada yang mau diomongin, telfonnya aku matiin ya?"
Gavin: " Kok cepet banget matiin nya, aku kan masih kangen."
Rhea : " Jangan lebay deh. Besok kan kita ketemu lagi."
Gavin : "Ya udah deh kalo gitu. Besok aku jemput ya? Love you.."
Rhea : " Love you too."
Akhirnya panggilan singkat dari gavin berakhir. Rhea menghembuskan nafas lelah melihat tingkah Gavin yang lebay dan terlalu bucin.
__ADS_1
Setelah Rhea meletakkan ponselnya di atas nakas, gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Menatap ke atas langit-langit kamarnya.
Rhea masih tidak menyangka akan menjadi kekasih Gavin secepat ini. Niat hati ingin memberi Gavin pelajaran dengan berpura-pura jual mahal agar Gavin mengejarnya, ternyata Rhea tidak bisa menolak ajakan Gavin untuk berpacaran. Rhea tidak tega melihat wajah Gavin yang memelas minta kesempatan pada nya.
Saat Rhea masih asyik dengan lamunannya, ponsel Rhea kembali berbunyi dengan nyaring. Membuat Rhea terpaksa bangun dari tidur nya. Di sana ada nama Shasa yang sedang menghubungi Rhea. Dengan sigap Rhea mengangkat panggilan itu.
Rhea : " Hallo Sha!"
Shasa: " Hallo Rhee!"
Rhea : " Ngapain Lo nelfon gue? Jangan bilang Lo kangen sama gue??"
Shasa: " Nggak banget deh kangen sama Lo! Gue cuma pengen nanyain kelanjutan hubungan lo sama kak Gavin. Feeling gue bilang sih, Lo udah jadian tadi sama dia. Bener nggak sih feeling gue Rhee?
Rhea : " Mau jadi peramal Lo? Sok-sokan pake feeling segala."
Shasa: " Jawab aja sih Rhee, apa susahnya coba!!"
Rhea : "......."
Shasa: " Kok diem Rhee. Mendadak bisu Lo??"
Rhea : " Sialan Lo!! Gue di bilang bisu!"
Shasa: " Ya makanya jawab kalau orang nanya."
Rhea : " Iya, udah! Puas Lo!!"
Shasa: " Whatt.....??"
Rhea : " Shasa....Lo mau bikin telinga gue budeg ya?? Benar-benar Lo ya!!"
Shasa: " Sorry Rhee, gue nggak sengaja. Oh my God akhirnya sahabat gue jadian juga sama crush nya. Ternyata bener feeling gue. Selamat deh kalau gitu."
Rhea : " Hmm...makasih, tapi jangan kasih tau yang lain dulu ya Sha. Apalagi si Bibi, mulut temen Lo itu kayak ember bocor. Ntar gue di gebukin lagi sama fans nya Gavin."
Shasa: " Lo tu negatif thinking aja tau nggak sih! Nggak mungkin lah Lo di gebukin sama fans nya Gavin. Yang ada mereka duluan yang di gebukin Gavin."
Rhea : "Emang nya gitu ya Sha??"
Shasa: "Ya iya lah. Lo nggak usah takut. Babang Gavin yang tampan akan selalu lindungin Lo."
Rhea : "Oke deh, gue nggak akan takut lagi."
Shasa: "Itu baru namanya temen gue. Ya udah, besok kita lanjutin lagi ngobrolnya. Jangan lupa PJ nya ya Rhee! Hahaha...bye Rhee!!"
Rhea :" Iya, dasar tukar palak. Bye juga Sha!!"
__ADS_1
Akhirnya Shasa juga mematikan panggilan telepon nya. Rhea yang melihat jam dinding nya sudah menunjukan pukul setengah enam sore, segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepertinya berendam dengan air panas akan membuat Rhea sedikit lebih rileks.
Rhea tidak akan memikirkan lagi bagaimana hubungan nya kedepan bersama Gavin. Rhea akan menjalani saja semuanya dengan baik. Semoga semua nya berjalan dengan lancar dan berakhir indah.