
Motor ninja berwarna hitam milik gavin sudah berhenti didepan rumah yang cukup besar.
Dengan pilar-pilar yang tinggi berwarna putih serta di desain bergaya Eropa, membuat rumah itu terlihat sangat mewah dari luar.
Rumah itu adalah rumah Alex, yang di jadikan sebagai basecamp bagi semua anggota "the devil".
Biasanya Gavin tidak akan langsung pulang ke rumahnya, melainkan berkumpul dulu di basecamp bersama yang lain.
Seperti hari ini, satpam yang melihat kedatangan Gavin langsung membuka pagar karena gavin sudah terbiasa keluar masuk rumah itu dengan bebas.
" Kemana aja Lo Vin?? Sibuk banget Lo hari ini?"
Alex menyapa Gavin yang baru masuk kerumah dan langsung mengambil posisi berbaring di sofa ruang keluarga yang empuk.
Sedangkan Azka yang melihat kedatangan Gavin cuma menoleh sekilas lalu melanjutkan kembali permainan game di ponselnya.
" Gue ada urusan tadi. Jangan ganggu gue dulu sekarang, gue capek!!"
Gavin langsung memejamkan matanya tanpa menunggu jawaban dari Alex.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Gavin. Bukan melelahkan secara fisik melainkan hati.
Gavin tidak menyangka hari ini akan bertemu kembali dengan Rhea. Niat hati ingin memperbaiki hubungan di masa lalu dengan gadis itu, tetapi justru penolakan yang dia dapat. Membuat hati gavin sedikit kecewa dan marah.
Dhafi yang baru keluar dari toilet, merasa heran karena menjumpai Gavin yang sudah berbaring di sofa sambil memejamkan mata.
" Si Gavin kenapa Lex??? Kok malah tiduran di sini???
Dhafi bertanya pada Alex sambil menunjuk Gavin yang berbaring di sofa.
" Nggak tau gue, kata nya dia capek. Biarin aja, ntar kalau ada apa-apa dia juga cerita."
Alex yang sudah mengetahui sifat Gavin hanya membiarkan sahabatnya itu dan kembali melanjutkan permainan game online nya.
" Oh ya, gue baru inget!!! Tadi gue ketemu sama cewek cantik. Lo berdua pengen tau nggak siapa..??"
Azka tiba-tiba teringat pertemuan nya dengan seorang gadis saat berada di sekolah.
" Lah mulai lagi ni anak!!! Sehari aja bisa nggak si Lo jangan bahas cewek. Siapa lagi sekarang inceran Lo??? Adek kelas?"
Alex menggerutu sebal pada Azka. Sepertinya Alex sudah bosan mendengar Azka selalu membahas masalah cewek pada semua sahabatnya.
" Weihhhhh, woles bro!!! Dengerin dulu gue ngomong. Lo berdua inget nggak omongan gue waktu kita main basket di lapangan??"
Azka menunggu jawaban kedua sahabatnya yang tengah berfikir keras mengingat omongan Azka saat mereka berada di lapangan basket.
" Lo ngomongin adek kelas yang cakep-cakep kan?? Kampret Lo!! Gue kira apaan!!"
Dhafi ternyata masih mengingat apa yang di ucap kan Azka tadi. Dhafi yang merasa kesal melempar sandal nya ke arah Azka.
Azka yang terkejut tidak sempat mengelak dan sendal itu mengenai jidat Azka yang lebar.
" Aduhh...sakit tai!!"
Azka mengumpat kesal sambil mengusap jidat nya yang memerah.
Dhafi dan Alex hanya bisa tertawa dengan keras memperhatikan ekspresi Azka yang sangat lucu menurut mereka.
" Lo berdua seneng ya liat temen Lo sengsara. Sialan Lo!"
Azka menunjuk muka mereka berdua bergantian. Jidatnya masih sakit terkena lemparan sendal.
" Cewek yang gue maksud itu Rhea, begok!!!"
Azka langsung menyebutkan nama Rhea agar Alex dan Azka berhenti menertawakannya.
" Lo ketemu Rhea dimana??"
__ADS_1
Alex menatap Azka dengan serius.
" Gue ketemu Rhea disekolah. Ternyata dia emang Adek kelas kita bro! Jadi cewek yang gue liat di lapangan tadi emang Rhea. Btw, Doi tambah cantik Lo bro!!"
Azka tersenyum sambil membayangkan pertemuannya kembali dengan Rhea.
" Jangan macam-macam bro, punya Gavin tu!"
Dhafi memberikan peringatan pada Azka agar tidak sampai menaruh hati pada Rhea.
" Gila Lo, nggak mungkin lah gue nikung temen gue sendiri. Gini-gini gue sohib sejati man!!"
Azka menepuk-nepuk dada nya membanggakan diri.
" Serah Lo deh nyett!!"
Dhafi malas meladeni Azka yang mulai bicara ngelantur.
" Tapi menurut Lo berdua, apa mungkin tadi Gavin udah ketemu sama Rhea?? Jadi ni anak uring-uringan nggak jelas di sini."
Alex menunjuk Gavin yang masih berbaring di sofa dengan tenang.
"Bisa jadi Lex!! Kalau nggak mana mungkin dia kayak gini."
Azka juga sependapat dengan Alex. Mereka akhirnya tidak berkomentar lagi saat melihat Gavin mulai memindahkan posisi tubuhnya dari tiduran menjadi duduk bersandar di sofa.
" Lo, udah bangun Vin??? Mau gue mintak bibik siapin makanan sekarang??"
Alex menawari Gavin yang baru bangun tidur untuk makan siang.
" Nggak usah, gue nggak laper. Kalian tadi lagi ngomongin gue kan Waktu gue tiduran?"
Gavin menatap ketiga sahabatnya dengan serius. Saat mereka berbicara tadi, Gavin tidak tidur sama sekali melainkan mendengarkan pembicaraan mereka.
" Ohhh...itu, Lo udah denger semuanya. Jadi bener Lo udah ketemu sama Rhea?"
Sambil membenarkan posisi tubuh nya yang sedang duduk di sofa empuk milik Alex, Gavin mulai bercerita kepada ketiga sahabatnya.
" Gue emang udah ketemu sama Rhea tadi di sekolah dan gue juga antar dia pulang ke rumahnya."
Gavin mencoba berterus terang kepada ketiga sahabatnya agar Gavin mendapatkan solusi untuk masalahnya.
" Gercep amat lu bro, baru ketemu dah bisa anter doi balik. Bau-bau CLBK alias Cinta Lama Belum Kelar nih kayak nya!!!"
Azka menggoda Gavin sambil memainkan mata nya ke arah Gavin.
Gavin yang mendengar godaan dari Azka hanya bisa tersenyum kecut.
"Dia udah nolak gue tadi."
Ketiga sahabat Gavin kompak terkejut dengan pengakuan Gavin.
" Pantesan si Gavin semenjak datang tadi muka nya ditekuk mulu, ditolak gebetan rupanya!!"
Alex ikut meledek gavin dan kemudian merasakan sebuah sandal melayang ke bahunya.
" Awwww....Sakit ogeb!!!
Alex mengusap bahunya yang dilempar dengan sendal oleh Dhafi.
" Lo nggak ada simpatinya dikit sama temen!!"
Dhafi menunjuk Alex yang masih mengusap bahunya yang terkena sendal.
" Trus gimana kelanjutannya vin??"
Dhafi masih penasaran dengan kelanjutan cerita Gavin.
__ADS_1
" Ya, habis tu dia bilang suruh gue cari cewek yang lebih baik dari dia. Intinya gue ditolak."
Gavin lalu mengusap wajahnya frustasi.
" Tapi sampai sekarang gue masih penasaran sama Lo Vin. Kenapa Lo dulu bisa jadian sama Tasya temen sekelas kita, padahal Lo sebelumnya deket banget sama si Rhea??"
Azka teringat dengan kisah percintaan Gavin sewaktu mereka duduk di bangku SMP.
Gavin yang ditanya Azka mengenai masa lalunya, langsung menghela nafas berat.
Dia masih mengingat kejadian dimana Rhea mulai menjauhinya saat dia menerima ajakan Tasya, teman sekelasnya untuk berpacaran.
" Sebenernya hari itu gue mau nembak Rhea buat jadi cewek gue. Tapi sebelum itu terjadi gue liat dengan mata kepala gue sendiri dia pelukan sama Aiden si Ketua OSIS di dekat tangga lantai 2."
Gavin menjeda obrolan nya sambil menarik nafas yang dalam.
" Gue waktu itu emosi banget. Tapi gue nggak berani labrak mereka. Habis kejadian itu, siangnya pas pulang sekolah Tasya ngajak gue pacaran di dekat parkiran. Kebetulan Rhea ada disana. Gue Nerima Tasya waktu itu karena gue mau manas-manasin Rhea."
" Tapi yang aneh nya Rhea sama sekali nggak terlihat marah. Dia cuma senyum dan ngucapin selamat ke gue dan Tasya. Lalu semenjak hari itu dia mulai menjauh dan menghindar dari gue."
Gavin bercerita sambil menerawang memikirkan nasib cinta nya yang kandas sebelum di mulai.
" Harus nya hari itu Lo tanya langsung sama si Rhea, kenapa dia bisa pelukan sama Aiden?? Bukan malah nerima si Tasya buat jadi cewek Lo!! Gue nggak yakin si Rhea ada apa-apa sama si Aiden. Soalnya gue bisa liat dari tatapan matanya buat Lo tu beda vin. Kayaknya dia suka banget sama lo."
Dhafi memberikan pendapatnya pada Gavin. Sementara Gavin hanya bisa menghela nafas dengan keras karena terlalu gegabah mengambil keputusan.
" Iya, gue tau. Waktu itu gue terlalu emosi, sampai nggak bisa mikir dengan benar. Rhea pasti kecewa sama gue."
Gavin semakin frustasi karena menyadari kesalahannya di masa lalu.
" Trus Lo sekarang gimana Vin?? Rhea kan udah nolak Lo!!! Lo mau nyerah aja ngejar Rhea nya??"
Alex menatap Gavin dengan serius menunggu keputusan dari sahabatnya itu.
" Kalau si Gavin mundur, biar gue yang maju ngejar Rhea."
Azka tiba-tiba mengajukan diri untuk mengejar Rhea. Gavin yang mendengar ucapan Azka melotot tidak terima.
" Canda Vin, nggak mungkinlah gue embat juga gebetan sahabat gue."
Azka hanya tertawa jahil memperhatikan ekspresi Gavin yang menyeramkan.
" Kalau Lo masih suka sama Rhea, Lo harus kejar terus dia sampe dapet. Lo jangan nyerah. Tunjukan sama Rhea kalau kali ini Lo benar-benar serius sama dia."
Dafhi memberikan nasehat bijaknya pada Gavin.
" Lo bener fi, gue masih suka sama Rhea. Gue nggak boleh nyerah gitu aja. Thanks bro, gue nggak tau lagi harus ngomong ini sama siapa."
Gavin sangat bersyukur memiliki para sahabat yang selalu mensupport dan memberikan nasehat yang baik padanya.
" Itu gunanya sahabat Vin. Sekarang yang harus Lo fikirin gimana caranya agar Rhea mau lagi sama lo. Soalnya nggak mudah bikin hati cewek itu percaya lagi sama lo yang pernah nyakitin dia."
Alex ikut memberikan nasehatnya pada Gavin.
" Lo nggak usah khawatir Vin, ada gue yang bakal jadi dokter cinta buat Lo. Gue kan lebih berpengalaman masalah cewek dari pada dua curut itu."
Azka menunjuk muka Alex dan Dhafi bergantian.
" Kampret Lo!! Jangan dengerin saran Playboy cap Kampak itu Vin. Bisa-bisa Rhea kabur karena Lo ngikutin saran dia."
Alex mencegah Gavin agar tidak menerima bantuan dari Azka.
" Tenang aja gue nggak begok untuk ngikutin saran Playboy cap Kampak itu. Hahaha."
Gavin akhirnya bisa tertawa setelah semua bebannya hilang. Ketiga sahabatnya juga ikut tertawa karena melihat kebahagiaan di wajah Gavin.
Dalam hati Gavin bersyukur walaupun mamanya sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia masih memiliki para sahabat yang menyanyangi dan mendukungnya layaknya seperti saudara kandung.
__ADS_1