Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
28. Sahabat Atau Pacar


__ADS_3

Matahari bersinar cerah pagi ini, menemani dua orang gadis yang saling menautkan lengan memasuki sekolah mereka dengan perasaan yang riang dan gembira.


" Asyik, juga ya Rhee berangkat ke sekolah bareng!!" Shasa terus mengumbar senyuman di sepanjang jalan menuju ke kelas mereka.


" Ya asyik lah!! Bisa nebeng sama bang Rafka gitu! Dasar modus!" Rhea mencebikan bibirnya menyindir Shasa yang terlihat senang bisa kembali berdekatan dengan bang Rafka di dalam mobil tadi.


" Nggak gitu juga Rhee! Gue juga..." Shasa menghentikan ucapannya karena mendengar seseorang memanggil namanya.


" Shasa...Sha...tungguin gue!!" Bibi memanggil Shasa yang berada jauh di depannya. Bibi sedikit berlari untuk menghampiri keduanya yang sedang berdiri menunggu kedatangan Bibi.


" Jangan lari-lari Bi! Gue nggak mau pagi-pagi gini liat atraksi gajah guling-guling di lantai!" Shasa masih sempat-sempatnya meledek Bibi yang baru saja sampai di hadapannya. Cowok itu sedang mengatur nafasnya yang sesak karena habis berlarian di koridor lantai satu itu.


" Sialan Lo Sha! Gue bukan gajah tapi kuda Nil! Puas Lo!!" Bibi berkacak pinggang sambil melotot sebal pada Shasa yang masih terus menertawakannya.


" Udah-udah! Pada berantem mulu! Buruan jalannya ntar keburu bel nya bunyi!" Ucap Rhea sambil menarik lengan Shasa dan Bibi bergantian.


" Lo udah tau nggak Bi, kalau si Rhea mau ikut gabung sama tim basket sekolah!" Ucap Shasa membuka obrolannya kali ini. Saat ini mereka bertiga sedang berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.


" Serius Sha..Rhee!" Bibi menatap Shasa dan Rhea tidak percaya.


" Ya serius lah! Besok Rhea sama Ara bakal latihan di sekolah sama anak-anak basket yang lain." Ucap Shasa sambil menatap bangga pada sahabatnya itu.


" Si Ara juga ikut gabung?" Tanya Bibi sedikit terkejut.


" Iya, si Ara juga! Tu anak ternyata jago juga loh main basket nya!" Ucap Rhea senang. Rhea tidak bisa meremehkan kemampuan dan kelincahan Ara dalam mengolah si bola orange itu.


" Nggak nyangka gue! Kalau gitu besok gue juga ikutan liatin kalian main basket ah! Gue bakal jadi cheerleaders buat kalian berdua." Ucap Bibi senang sambil memperagakan gaya seorang cheerleaders yang sedang melompat-lompat kecil memberikan semangatnya pada pemain basket yang ada di lapangan.


" Please jangan Bi! Bukannya tambah semangat, yang ada mereka semua bakalan kehilangan konsentrasi liat Lo joget-joget nggak jelas gitu!" Shasa sampai melipat kedua tangannya di depan dada memohon pada Bibi agar mengurungkan niatnya.


" Ya udah deh kalau gitu. Tapi bibi tetep liatin kalian berdua main ya!" Ucap Bibi pasrah.


" Gue juga ikutan deh, sekalian cuci mata! hehehe..." Shasa tergelak senang membayangkan akan ada tim basket cowok yang juga akan berlatih esok hari.


" Boleh juga tu idenya, Sha!! Tumben Lo pinter biasanya lemot." Ucap Bibi spontan, membuat Shasa mendelik sinis dengan ucapan sahabatnya itu.


" Kampret lo!! Lo dibilangin gue lemot? Awas Lo ya kalau nyontek PR gue lagi, kagak bakal gue kasih biarpun lo sampai nangis darah sekalipun." Ucap Shasa menggebu. Shasa tidak terima dikatain lemot oleh orang yang selalu mencontek PR dari nya.


" Hehehe..canda Sha!! Gitu aja sewot!! Lo kan baik, cakep, pinter lagi. Kasihanilah temen lo yang kurang pinter ini Sha!" Ucap Bibi sambil memasang tampang sok memelas di hadapan Shasa.


" Lo itu bukan kurang pinter, tapi bego! Kebanyakan gaya Lo nyet! Gue lempar ke kandang macan juga Lo!" Geram Shasa pada Bibi.


" Udah-udah jangan pada berantem! Buruan kalian masuk ke kelas, berantem nya ntar di lanjutin lagi! Sampai ketemu besok ya guys!"


Rhea melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya bibi dan sasha, lalu memasuki kelas yang sudah mulai ramai. Di sana ternyata sudah ada Ara yang sedang duduk manis, sambil bermain ponsel di tangannya. Gadis itu sedang tersenyum senang, sambil menatap layar ponselnya sehingga tidak menyadari kehadiran Rhea di sampingnya.


" Lagi apa Lo Ra??" Suara keras Rhea dari samping membuat Ara terkejut dan hampir membuat ponselnya terlepas dari tangan gadis itu.

__ADS_1


" Ihh...ngagetin aja Lo Rhee!! Hampir gue jantung tadi. Untung hp gue juga nggak jadi jatoh kan!" Ara masih mengusap dada nya yang berdegup cukup kencang karena ulah Rhea yang mengagetkan nya.


" Hehehe...sorry Ra! Habisnya Lo konsentrasi banget liatin hp Lo. Sambil senyum-senyum lagi. Ya gue kagetin aja deh!! Emang nya Lo lagi liatin apa sih Ra?" Tanya Rhea penasaran. Gadis itu sudah mendudukkan dirinya di kursi samping Ara lalu meletakkan tasnya di atas meja.


" Ni, lagi liatin suami gue!! Tambah cakep aja dia." Ara terus saja memperhatikan gambar yang ada di ponselnya sambil tersenyum senang. Rhea yang penasaran, merebut ponsel itu dari tangan Ara. Ternyata gadis itu sedang melihat postingan terbaru bias favorit nya Jin BTS.


" Ooo...Gue kirain siapa!" Rhea mengembalikan lagi ponsel itu ke tangan Ara. "Btw, tumben Lo datangnya lebih cepat Ra? Biasanya kan selalu telat atau minimal 5 menit sebelum bel bunyi?" Tanya Rhea sedikit penasaran.


" Kebetulan tadi dapat tebengan gratis! hehehe..." Ara tertawa cengengesan karena teringat dengan apa yang terjadi pagi tadi. Sebenarnya pada saat Ara ingin menunggu taksi yang lewat, Azka yang datang dengan mengendarai motornya menawarkan tumpang untuk pergi sekolah bersama. Karena Azka sedikit memaksa dan di tambah lagi dengan taksi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung lewat, membuat Ara akhirnya menyetujui ajakan kak kelasnya yang terkenal Playboy itu untuk berangkat bersama.


" Ooo gitu! Bagus dong! Lain kali nebeng aja terus sama orang itu, biar Lo nggak telat terus!" Ucap Rhea lagi lalu mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.


" Nggak ah Rhee ntar ngerepotin! Oh ya..lo udah dapet izin sama orang tua lo, buat ikut gabung sama tim basket sekolah?" Tanya Ara penasaran. Ara sengaja mengubah topik pembicaraan agar Rhea tidak bertanya lagi tentang orang yang memberi tumpangan padanya tadi pagi.


" Udah dong Ra. Gue senang banget. Besok kita tunjukin kemampuan terbaik kita ya Ra, didepan semua senior kita! Supaya mereka semua nggak ngeremehin kemampuan kita nantinya!" Ucap Rhea bersemangat. Rhea tidak sabar menunggu hari esok. Rhea berharap semua nya akan berjalan dengan lancar dan menyenangkan.


" Sipp!!" Ara mengacungkan jempolnya menyetujui usulan Rhea. "Tapi gue boleh minta tolong nggak sama lo Rhee?" Ara menatap ragu pada sahabatnya itu.


" Minta tolong apa Ra?" Tanya Rhea penasaran.


" Lo mau nggak temenin gue ke mall nanti pas pulang sekolah? Gue mau beli sepatu buat latihan besok. Gimana Rhee?" Ara menatap Rhea dengan tatapan permohonan membuat Rhea tidak tega untuk menolaknya.


" Boleh deh gue temenin! Gue juga pengen lihat-lihat sepatu yang bagus untuk latihan besok. Siapa tau ada yang cocok." Rhea menyetujui saja permohonan Ara tadi, sekalian dia juga ingin cuci mata.


" Thanks ya Rhee." Ucap Ara tersenyum senang. Sedangkan Rhea hanya menganggukkan kepala menerima ucapan terima kasih dari sahabatnya itu.


Kemudian kedua gadis itu kembali melanjutkan kegiatan masing-masing sambil menunggu bel tanda masuk berbunyi.


" Kak...ntar pulang sekolah, aku sama Ara mau pergi ke mall ya! Kita mau beli sepatu buat latihan besok." Ucap Rhea santai sambil menikmati bakso yang tersaji di hadapannya. Saat ini Rhea dan Gavin sudah berada di kantin dan sedang menikmati makanan masing-masing.


" Kamu kan bisa pergi sama aku! Kenapa harus pergi sama temen kamu?" Ucap Gavin datar sambil menghentikan kegiatan makannya lalu menoleh ke arah Rhea yang ada di sampingnya.


Tadi pagi, Gavin harus merelakan Rhea pergi ke sekolah bersama sahabatnya. Dan sekarang Rhea meminta izin untuk pergi lagi dengan sahabatnya yang lain saat pulang sekolah nanti. Kali ini Gavin tidak akan mengizinkan nya.


" Aku udah janji kak sama Ara! Kasihan dia sendirian pergi ke mall nya. Boleh ya kak aku temenin dia?" Tanya Rhea sambil memasang tampang memelas agar Gavin mengizinkan dia dan Ara pergi ke mall.


" Nggak bisa. Kalau kamu mau pergi, biar aku yang temenin!" Ucap Gavin bersikeras. Cowok itu menatap tajam Rhea, membuat gadis itu sedikit takut dengan Gavin.


" Tapi aku mau nya pergi sama Ara! Terserah kakak mau bolehin atau enggak. Aku nggak peduli!" Ucap Rhea marah lalu pergi meninggalkan Gavin seorang diri di meja kantin.


Gavin yang melihat kepergian Rhea, hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya Gavin hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan kekasih nya itu, tetapi karena Rhea yang kurang peka membuat semuanya jadi


lebih rumit.


" Kenapa lo, Vin??" Dhafi menghampiri dan menepuk bahu Gavin yang sepertinya sedang frustasi sendiri saat Rhea sudah meninggalkannya pergi.


" Gue nggak apa-apa!" Jawab Gavin berbohong. Dia sedang malas menjelaskan apapun saat ini.

__ADS_1


" Lo lagi berantem sama Rhea?" Tebak Dhafi. Dia dapat melihat itu semua karena dia dan sahabatnya yang lain sedang duduk tidak jauh dari tempat duduknya Gavin dan Rhea. Walaupun mereka tidak mendengar apa yang mereka perdebatkan, tapi nampak terlihat jelas bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja saat ini.


" Iya!" Jawab Gavin singkat. Dhafi hanya menganggukkan kepalanya mengerti, mungkin sahabatnya ini belum mau menceritakan lebih lanjut masalahnya dengan Rhea.


" Gue nggak tau apa masalah lo sama Rhea. Tapi gua harap lo bisa menyelesaikan masalah lo dengan kepala dingin. Lo ingatkan betapa kerasnya usaha lo buat dapetin Rhea. Gue nggak mau sampe usaha lo itu sia-sia." Ucap Dhafi mengingatkan.


Saat gavin mendengar semua yang di ucapan Dhafi tadi, membuat cowok itu hanya bisa menghela nafas berat. "Gue cuma pengen punya waktu berdua sama Rhea lebih lama Fi! Tapi kenapa seakan Rhea lebih memilih sahabatnya dari pada gue yang pacarnya sendiri?" Ucap Gavin kembali frustasi. Dhafi yang sudah mengerti situasi, langsung mengangguk paham dengan apa yang terjadi saat ini.


" Gue mau jawaban yang jujur dari Lo sekarang! Udah berapa kali Lo ngerasa Rhea lebih mentingin sahabatnya dari pada Lo?" Tanya Dhafi serius, membuat Gavin mengernyitkan dahinya bingung dengan maksud pertanyaan sahabatnya itu.


" Berapa kali Vin? Kok Lo bengong? Lo udah lupa karena saking seringnya Rhea milih sahabatnya daripada Lo sendiri?" Tanya Dhafi lagi. Gavin yang sudah mulai mengerti dengan pertanyaan Dhafi tadi, segera menjawab dengan cepat.


" Dua kali!" Ucap Gavin singkat sambil menunjukan jari tengah dan jari telunjuk bersamaan.


" Apa....dua kali Vin?" Tanya Dhafi tidak percaya. "Kalau boleh gue tau kapan dan gimana ceritanya?" Kali ini Dhafi berusaha tetap tenang. Dia tidak ingin cepat menghakimi Gavin tanpa mendengar cerita yang lebih lengkap terlebih dahulu.


" Pertama, tadi pagi Rhea lebih milih pergi ke sekolah bareng sama Shasa yang tadi malam nginep di rumahnya dari pada pergi sama gue." Terang Gavin membuat Dhafi menganggukkan kepalanya mengerti.


" Kedua, siang ini Rhea lebih milih Ara buat temenin dia ke mall dari pada sama gue. Alasannya cuma karena udah janji sama Ara. Kan itu semua bisa dia batalin. Kenapa dia mesti nggak mau pergi sama gue?" Terang Gavin lagi.


Dhafi yang sudah mendengar semua penjelasan itu, hanya bisa menghela nafas berat. Temannya ini sedang OTW menjadi cowok yang posesif ternyata.


" Gue boleh jujur nggak Vin?" Tanya Dhafi serius. Membuat Gavin hanya menganggukkan kepala menerima perkataan Dhafi selanjutnya.


" Hidup Rhea itu bukan hanya di kelilingi sama Lo aja Vin. Tapi ada sahabat-sahabat sama keluarganya juga. Lo nggak bisa ngomong kalau Rhea tu lebih milih sahabatnya dari pada Lo yang jadi pacarnya. Karena kalian semua sama-sama di butuhin oleh Rhea. Lo harusnya lebih ngerti dan lebih memahami situasi dong Vin! Bukannya gue nyuruh Lo ngalah sama mereka. Tapi Rhea juga butuh orang lain supaya hidupnya nggak berputar sama Lo aja. Lo nggak mau kan Rhea menjauh dari Lo, karena Lo terlalu ngatur dia buat dekat sama Lo terus?"


Dhafi memberikan nasehat yang begitu panjang, agar Gavin mengetahui dimana letak kesalahannya kali ini. Nasehat itu seketika membuat Gavin terdiam, dia kembali merenungkan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu. Saat dirinya sudah mulai mengerti, dia menatap sahabatnya itu dengan serius.


" Lo bener Fi! Gue nggak boleh terlalu ngatur Rhea buat terlalu dekat sama gue. Rhea juga butuh sahabat-sahabat nya yang lain. Gue nggak mau bersikap egois dan membuat Rhea jadi jauh dari gue." Ucap Gavin lagi lalu tersenyum menatap sahabatnya itu.


" Itu baru temen gue!!" Dhafi tidak lupa mengacungkan jempolnya pada gavin seraya membalas senyuman sahabatnya itu. " Terus Lo ngapain masih ada di sini? Mending Lo cari Rhea! Minta maaf sana! Dari pada Lo kena talak tiga sama doi. Bisa mampus Lo yang ada!" Ucap Dhafi sambil terkekeh kecil.


" Sialan Lo!" Umpat Gavin pada Dhafi. "Gue cabut! Thanks buat nasehatnya!" Lalu Gavin bergegas keluar dari kantin untuk mencari keberadaan Rhea.


Sedangkan Dhafi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Saat Dhafi masih sibuk menatap punggung Gavin yang semakin menjauh, kedua sahabatnya yaitu Alex dan Azka menghampiri Dhafi yang ada di meja itu.


" Gavin kenapa Fi?" Tanya Azka penasaran. Cowok itu sudah duduk disebelah Dhafi yang saat ini sudah mengalihkan tatapannya dari punggung Gavin tadi.


" Biasa, masalah rumah tangga!" Jawab Dhafi asal. Membuat kedua temannya itu mendelik sebal pada Dhafi.


" Lo itu ditanya serius, malah jawabannya asal. Kampret lo emang!!" Ucap Alex sedikit kesal.


" Santuy bro!! Gue cuma becanda! Biasa lah temen Lo itu, kemaren kena virus Bucin Sekarang kena virus Posesif. Makanya gue beri vaksin tadi, supaya dia cepetan sembuh. Biar nggak di talak tiga sama ceweknya. Hahaha..." Dhafi menertawakan kebodohan Gavin kali ini. Membuat Azka dan Alex ikut tertawa mendengarnya.


" Biar mampus tu si Gavin! Ya udah bro kita balik kelas! Bosen juga gue duduk lama-lama disini. Perasaan nggak ada cewek cantik yang lewat. Apa mereka semua pada mendem di kelas kali ya? Pada puasa berjamaah gitu??" Tanya Azka bingung. Azka memang sama sekali tidak melihat cewek cantik hari ini di kantin. Makanya dia tidak terlalu bersemangat saat makan tadi.


" Dasar Playboy cap kutu lo! Cewek cantik aja isi otak Lo!" Alex menoyor kepala Azka lalu segera berlari untuk menyelamatkan diri dari amukan Azka.

__ADS_1


" Sialan Lo!! Sini nggak Lo!! Kalau ketangkep, gue bikin bonyok Lo!!" Ancam Azka sambil mengejar Alex yang tengah berlari menghindarinya.


Dhafi yang tertinggal di belakang hanya bisa menggelengkan kepala lagi melihatnya tingkah laku kedua sahabatnya itu, sambil terus mengikuti keduanya yang sedang berlari menuju kelas mereka yang berada di lantai dua.


__ADS_2