
" Dasar cowok sok ngatur!" Ucap Rhea kesal sambil mendudukkan dirinya di bangku taman sekolah. Sepertinya Rhea masih marah karena Gavin melarangnya pergi bersama Ara nanti siang. Padahal kan Rhea sudah berjanji pada Ara. Tidak mungkin kan dia membatalkan begitu saja. Ara pasti akan marah kalau sampai hal itu terjadi.
Saat Rhea masih memikirkan apa yang terjadi di kantin tadi, tiba-tiba dia di kaget kan oleh suara seorang cowok yang berada di belakangnya.
" Cewek cantik nggak boleh bengong sendirian, ntar kesambet!!" Ucap cowok itu dengan nada jahil.
Saat Rhea membalikkan badannya, dia bisa melihat bahwa kak Arga lah yang baru saja mengagetkan nya tadi.
" Kak Arga ngapain sih? Ngagetin aja deh!!" Ucap Rhea sebal sambil memasang tampang tidak bersahabat. Mood Rhea saat ini sangat berantakan, hingga orang lain yang sedang dekat dengannya akan terkena imbasnya.
" Kok judes banget sih Rhee? Lagi PMS ya?" Tanya Arga lagi. Cowok itu sepertinya tidak takut sama sekali, melihat perubahan sikap Rhea yang biasanya ramah menjadi sedikit ketus dan berwajah masam saat ini.
" Nggak!" Jawab Rhea singkat. Rhea sedang malas untuk berbicara panjang lebar saat ini pada Arga. Dia takut tidak bisa mengontrol emosinya dan melampiaskan pada Arga.
" Kalau gitu, pasti berantem sama Gavin kan?" Tebak Arga kali ini. Hanya itu alasan yang tersisa menurut Arga.
Saat Rhea mendengar tebakan Arga, gadis itu hanya diam membisu. Rhea tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada Arga karena mereka tidak sedekat itu untuk saling bertukar cerita apalagi untuk curhat.
" Kalau kamu diam, berarti tebakannya benar kan?" Arga tidak menyerah untuk membuat Rhea berbicara. Sedangkan reaksi Rhea tidak berubah sama sekali. Dia tetap diam sambil menatap ke arah rumput yang berada di bawah kakinya.
" Ya udah deh, kalau kamu nggak mau jawab. Kita ganti topik aja! Kak Arga denger kamu di tawarin gabung sama tim basket putri ya, Rhee? Keren dong! Selamat ya Rhee!" Ucap Arga tulus. Arga mengetahui informasi itu karena sempat mendengar obrolan pak Hendrik dengan salah seorang guru saat dirinya sedang ada urusan dengan pak Taufik guru pembimbing OSIS di ruangan guru.
" Thanks ya kak." Ucap Rhea senang dan kembali menatap Arga karena pemuda itu sudah merubah topik pembicaraan mereka.
" Kamu udah makan Rhee?" Tanya Arga memastikan. Arga ingin mengajak gadis itu makan di kantin, karena dia sama sekali belum makan karena terlalu sibuk dengan tugas nya di ruangan OSIS tadi.
" Udah kak!" Jawab Rhea cepat. Rhea tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang sudah makan tadi di kantin, tapi makanan itu masih tersisa banyak sekali karena Gavin membuatnya kesal lalu meninggalkan makanan itu begitu saja.
" Ooo...kirain belum! Padahal kak Arga mau ajak kamu makan bareng ke kantin!" Ucap Arga sendu. Hati Arga sedikit kecewa tapi dia mungkin memaksa Rhea untuk mengikutinya.
" Sorry ya kak. Next time deh!" Jawab Rhea berbasa-basi pada Arga. Sebenarnya perut gadis itu masih merasa lapar. Tapi tidak mungkin Rhea kembali ke kantin, sedangkan Gavin masih berada di sana. Rhea masih sangat marah dengan cowok itu. Jadi dia lebih memilih menahan rasa laparnya dari pada bertemu untuk saat ini.
" Ya udah, kak Arga ke kantin dulu! Jangan lanjutin bengong disini. Mending kamu balik ke kelas aja!" Ucap Azka memberi saran. Lalu pemuda itu bangkit dari duduknya dan memberikan sedikit cubitan di pipi Rhea.
" Awww..." Rhea meringis karena pipinya di cubit oleh Arga secara tiba-tiba. Setelah Arga melepaskan cubitannya, Rhea segera mengusap pipinya sambil mendengus sebal pada Arga. "Dasar kak Arga nyebelin!"
__ADS_1
Arga yang mendengar ucapan Rhea tadi, hanya bisa tergelak kecil. "Sorry Rhee tapi pipi kamu itu chubby banget! Kak Arga jadi gemes!" Ucap Arga santai.
Saat tangan Arga terulur ingin mencubit pipi Rhea yang satu lagi, tiba-tiba datang sebuah tangan dari arah samping yang menahan pergerakan lengan Arga dengan cukup kuat.
" Mau apa lo sama cewek gue?" Tanya Gavin yang terlihat sangat marah pada apa yang ingin dilakukan Arga. Gavin tidak suka gadis nya di sentuh oleh orang lain selain dirinya.
Sedangkan Arga hanya melemparkan sebuah senyuman mengejek pada gavin dan kemudian menghempaskan tangan Gavin yang masih bertengger di lengannya.
" Gue nggak mau apa-apa!" Jawab Arga santai. Dia tidak takut sama sekali dengan tatapan Gavin yang mengintimidasi.
" Kak Arga ke kantin dulu ya Rhee!" Pamit Arga pada Rhea. Arga sama sekali tidak mengacuhkan Gavin dan memutuskan untuk meninggalkan taman itu tanpa memperpanjang urusan nya degan Gavin.
Saat gavin dan Rhea hanya tinggal berdua, Gavin segera duduk di samping gadisnya itu. Gavin dapat melihat bahwa Rhea sepertinya masih marah karena masalah di kantin tadi. Rhea juga sedari tadi tidak mau menatap Gavin dan lebih memilih mendiamkan Gavin seolah-olah dia tidak berada di sana.
"Rhee, aku minta maaf soal kejadian di kantin tadi. Aku nggak akan larang-larang kamu pergi sama temen-temen kamu lagi." Ucap Gavin penuh keseriusan sambil menggenggam tangan Rhea dengan lembut.
Saat Rhea masih tidak merespon sama sekali ucapan dari Gavin, cowok itu kembali berbicara dengan gadisnya itu. Tapi kali ini Gavin tidak menggenggam tangan Rhea lagi, melainkan menangkup kedua pipi gadis itu agar mau menatap Gavin saat berbicara.
" Kamu tahu nggak Rhee, alasan aku larang kamu pergi sama teman kamu? Aku sedikit cemburu karena kamu lebih milih teman kamu daripada aku. Tapi kemudian aku sadar, kalau aku itu nggak mungkin selalu ada di samping kamu. Kamu pasti juga butuh teman-teman kamu yang lain. Jadi kamu jangan marah lagi ya sama aku! Maaf kalau tadi aku sedikit emosi. Tapi aku janji, aku nggak akan ulangin lagi." Ucap Gavin jujur sambil terus menatap mata Rhea yang indah.
Rhea yang tidak tega dengan Gavin, akhirnya cuma bisa melampiaskan kekesalannya tadi dengan memukul lengan cowok itu dengan keras.
" Sakit Yang!" Gavin meringis sambil mengusap lengannya yang terasa sakit akibat pukulan dari tangan Rhea. Gavin juga sudah melepaskan kedua tangannya dari pipi gadis itu.
" Rasain! Siapa suruh bikin aku kesal. Gara-gara kak Gavin aku nggak jadi habisin bakso aku yang tadi! Aku masih laper tau nggak! Nyebelin banget!" Rhea kembali menyalurkan amarah yang tersimpan dihatinya dengan kembali memukul Gavin.
" Ampun Yang!" Gavin yang tidak tahan dengan pukulan bertubi-tubi dari pacarnya itu, segera menahan pergerakan tangan Rhea dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.
" Kak..lepasin!!" Rhea menggeliat melepaskan pelukan Gavin yang semakin erat.
" Nggak mau! Ntar kamu pukul aku lagi kayak tadi! Sakit Lo Yang! Kenapa tenaga kamu kuat banget sih, kayak kuli pasar!" Gavin masih sempat-sempatnya meledek Rhea yang masih berusaha melepaskan pelukan Gavin.
" Enak aja aku di bilang kuli! Cepetan lepasin aku! Malu di liatin banyak orang!" Ucap Rhea lagi. Saat ini mereka masih berada di taman sekolah. Jadi pasti ada beberapa orang yang melihat adegan mereka sedang berpelukan. Rhea hanya takut di cap cewek yang tidak benar, karena hanya pasrah di peluk Gavin di depan umum.
" Tapi janji ya jangan pukul lagi!" Ucap Gavin dengan serius. Gavin masih merasakan sakit di lengannya. Ternyata kekuatan gadis yang sedang marah itu tidak bisa di remehkan.
__ADS_1
" Oke!" Ucap Rhea singkat. Berada lama-lama dalam pelukan Gavin, sepertinya tidak bagus untuk kesehatan jantung Rhea.
Saat pelukan itu terlepas, Gavin segera menyunggingkan senyuman terbaiknya agar kemarahan Rhea sedikit berkurang.
" Jangan senyum-senyum! Jelek tau!" Ucap Rhea asal. Padahal dia sempat terpesona dengan senyuman itu, tapi karena gadis itu masih gengsi jadi dia hanya bisa mengucapkan kebalikannya.
" Jangan marah-marah terus dong sayang! Aku kan udah minta maaf. Apa perlu aku berlutut supaya kamu maafin aku?" Ucap Gavin tulus. Dia akan melakukan apapun agar Rhea mau memaafkannya.
" Nggak usah!" Ucap Rhea cepat. Rhea tidak ingin Gavin melakukan hal-hal yang berlebihan seperti itu.
" Ya udah, aku maafin! Tapi kak Gavin harus janji ya, jangan larang aku buat main sama sahabat aku lagi. Terus nggak usah cemburu juga sama mereka. Terus jangan suka marah-marah. Terus..." Ucapan Rhea tiba-tiba berhenti karena Gavin meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis itu.
" Lama-lama kamu cerewet juga ya Rhee! Gemes pengen aku gigit!" Ucap Gavin sedikit gemas melihat tingkah laku Rhea.
" Ih apaan sih! Awas aja ya kalau sampai berani gigit aku! Aku bakalan nggak ngomong-ngomong Sama kak Gavin Selama 1 bulan! Ehh..nggak 2 bulan aja deh!" Ucap Rhea lagi.
" Tega banget Rhee! Ya udah deh, aku nggak bakalan gigit kamu, tapi bakalan cium aja. Boleh kan?" Ucap Gavin sambil menaik turunkan alisnya menggoda Rhea. Membuat gadis itu mendelik sinis pada Gavin yang mengucapkan kata mesum seperti itu.
" Hehehe...Aku becanda Yang!!" Gavin segera memasang cengiran nya agar Rhea tidak jadi marah padanya.
" Ya udah kalau gitu." Ucap Rhea singkat. Dia tidak ingin berdebat lebih lama dengan Gavin.
" Makasih sayang." Gavin rasanya ingin kembali memeluk Rhea. Tapi situasi nya tidak mungkin untuk melakukan hal itu lagi.
" Kak, aku boleh minta tolong nggak?" Tanya Rhea kali ini. Sepertinya ada hal serius yang ingin dia mintai bantuan pada Gavin.
" Boleh! Apa sih yang nggak buat kamu!" Ucap Gavin sedikit gombal, membuat Rhea sedikit mual mendengarnya.
" Aku masih laper kak! Boleh beliin aku makanan nggak?" Tanya gadis itu dengan polosnya. Rhea mengusap-usap perutnya yang kembali lapar karena cuma diisi sedikit saat berada di kantin tadi.
Mendengar Rhea yang menyebutkan dirinya kelaparan, membuat Gavin merasa bersalah. Tidak seharusnya dia tadi marah-marah pada gadisnya yang manis ini.
" Kamu mau apa? Ntar aku beliin." Tanya Gavin singkat sambil mengusap-usap kepala Rhea dengan sayang.
" Hmm..aku mau roti aja deh kak! Sama susu coklat juga." Rhea sudah tidak berminat untuk makan bakso lagi. Di samping itu, jam istirahat juga akan segera habis. Jadi Rhea lebih memilih memakan roti karena lebih cepat dan efisien.
__ADS_1
" Kamu tunggu di sini bentar ya! Jangan kemana-mana!" Gavin segera berdiri dan begegas meninggalkan Rhea menuju kantin untuk membeli pesanan gadis itu.
Rhea hanya bisa memandangi punggung Gavin saat cowok itu semakin menjauh dari pandangannya. Tidak lupa Rhea juga mengulas senyuman yang manis untuk cowok itu. Rhea berharap, Gavin akan selalu memperlakukan nya dengan istimewa seperti ini terus kedepannya.