
Pagi ini Rhea sudah rapi dengan seragam sekolah dan bersiap untuk sarapan bersama keluarganya di ruang makan.
" Pagi semua...!!" Rhea menyapa semua yang ada di meja makan dengan riang.
" Pagi juga Rhee!!" Ayah, bunda dan Rafka kompak membalas sapaan Rhea.
" Gavin nggak jemput kamu Rhee??" Bunda Citra bertanya saat Rhea sudah duduk di bangkunya.
" Nggak tau bund. Mungkin bentar lagi." Rhea mulai menyendokkan nasi goreng kedalam mulutnya.
Saat Rhea sudah menyelesaikan sarapan, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Ternyata Gavin mengirimkan pesan kepada Rhea bahwa gavin sudah menunggu Rhea di depan pintu gerbang rumah gadis itu dan memberikan alasan keterlambatan nya karena bangun kesiangan.
" Yah, aku berangkat dulu ya. Kak Gavin udah nunggu di luar, kata nya dia bangun kesiangan jadi nggak sempet nyapa bunda sama ayah ntar takut telat." Rhea mulai berdiri dan menyalami kedua orang tuanya beserta Rafka.
" Ya udah, hati-hati ya Rhee!! Titip salam buat Gavin." Ayah kemudian melanjutkan kembali menyantap sarapan paginya.
Rhea hanya menganggukkan kepala dan kemudian mengambil tasnya.
" Rhee..tunggu bentar!!" Bunda menghentikan langkah Rhea yang akan meninggalkan ruang makan lalu bunda bergegas ke dapur untuk mengambil sesuatu.
" Kamu bawain Gavin sarapan ya Rhee. Pasti Gavin belum sarapan." Bunda memasukkan nasi goreng dengan telur mata sapi kedalam kotak bekal lalu memasukkannya kedalam Paper bag.
" Ni Rhee, kamu kasih ke Gavin ya!!" Bunda Citra menyodorkan Paper bag itu pada Rhea.
" Ciee...bunda, Care banget sama calon mantu!!" Rafka tersenyum meledek bunda.
" Abang bisa nggak sehari aja nggak ngeledekin orang terus??" Rhea melotot sebal pada Rafka lalu menerima Paper bag dari bunda.
" Nggak bisa. Hahaha...awwww..sakit bund!!" Rafka menerima hadiah cubitan dari bunda karena tidak bisa diam.
" Rasain. Hahaha.." Kini Rhea yang tertawa senang melihat penderitaan Rafka dan bergegas keluar menemui Gavin.
" Ini dari bunda!!" Rhea menyodorkan Paper bag pemberian bunda saat gadis itu sudah berada di hadapan Gavin.
" Apa isi nya Rhee??" Gavin penasaran dan kemudian melihat isi dalam paper bag itu. "Wahh...nasi goreng. Tau aja Tante Citra kalau gue belum sarapan. Thanks ya Rhee." Gavin tersenyum senang dan memasukan kembali sarapannya tadi kedalam Paper bag.
" Hmm...yuk ntar telat!!" Rhea mengambil sendiri helm yang berada diatas motor Gavin dan memakainya.
Gavin hanya menganggukkan kepala dan mulai menyalakan motornya. Sedangkan Rhea langsung naik ke atas motor Gavin tanpa mengatakan apa-apa lagi.
****
" Rhee...Rhea...!!" Teriakan Ara berhasil menghentikan langkah kaki Rhea dan membuat gadis itu berbalik.
" Pagi Rhee!! Lo tadi berangkat bareng kak Gavin kan??" Ara yang baru menghampiri Rhea langsung mengintrogasi sahabatnya itu.
" Sok tau Lo!!" Rhea hanya menjawab singkat dan melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.
" Ya tau lah!! Gue kan liat Lo duduk di boncengan motornya Kak Gavin tadi." Ara kemudian menggandeng lengan Rhea.
" Kalau udah tau kenapa nanya?? Aneh deh!!" Rhea hanya tersenyum kecut dan kemudian mempercepat langkahnya bersama Ara.
" Terus kenapa Lo nggak bareng kak Gavin Rhee?? Mana orang nya?? Kok Lo sendirian aja??" Ara memberondong Rhea dengan banyak pertanyaan membuat Rhea mendelik kesal.
" Dia lagi nungguin temen-temen nya di parkiran. Nggak mungkin kan kalau gue juga ikutan??"
" Iya juga sih!! Btw hari ini kita ada kelas kesenian kan rhee?? Lo bisa main alat musik nggak Rhee??" Ara dan Rhea sudah memasuki kelas dan meletakkan tas mereka di atas meja.
" Gue bisanya cuma main piano. Kalo Lo Ra??" Rhea memiliki keahlian bermain piano karena bunda Citra memasukkan Rhea ke tempat les piano saat dirinya masih kecil.
" Gue bisa main gitar sih Rhee dikit-dikit. Soalnya gue pernah diajarin sama kakak sepupu gue."
Ara tersenyum senang karena dia juga bisa bermain alat musik walaupun tidak terlalu mahir.
" Bagus tu Ra. Kapan-kapan ajarin gue ya. Gue juga pengen belajar main gitar. Keliatannya keren kalau cewek main gitar." Rhea juga ikut tersenyum membayangkan jika dia bisa bermain gitar pasti kelihatan keren juga.
" Sipp!! Tapi Lo juga harus ngajarin gue piano juga ya. Deal??" Ara mengulurkan tangannya pada Rhea.
" Deal!!" Rhea membalas uluran tangan Ara dan mereka berdua tertawa bersama.
****
" Apaan tu Vin??" Azka melihat Gavin membawa sebuah Paper bag saat mereka berempat berjalan menuju kelas.
" Owhh...ini sarapan gue dari bundanya Rhea." Gavin tersenyum senang menatap Paper bag yang dia bawa.
" Wahh...Baek banget Camer Lo Vin!! Jangan lupa bagi-bagi ya Vin!" Dhafi sepertinya berminat dengan sarapan milik Gavin.
" Nggak bisa!! Lo makan di kantin aja! Yang ini punya gue." Gavin memeluk Paper bag nya dengan erat agar tidak di mangsa oleh ketiga temannya itu.
__ADS_1
" Pelit Lo!!" Alex ikut meledek Gavin lalu berusaha mengambil Paper bag yang berada di pangkuan Gavin.
" Jangan macam-macam Lo ya!! Mau gue hajar!!" Gavin mencoba menghindar dan memberikan ancaman sehingga Alex menghentikan aksinya. Alex sedikit takut mukanya tidak akan tampan lagi kalau Gavin benar-benar menghajarnya.
" Woii...buruan!! Lo berdua jadi tontonan adek kelas tu!!" Dhafi dan Azka sudah berjalan di depan Alex dan Gavin yang masih sibuk dengan Paper bag tadi. Ternyata mereka berdua sudah menjadi tontonan adik kelas yang sedang berdiri di koridor menuju tangga kelas 11.
Gavin dan Alex saling menatap dengan sengit lalu menyusul kedua sahabatnya tadi menuju kelas mereka yang berada di lantai dua.
****
Teetttttt...
Bunyi bel tanda istirahat telah berbunyi. Rhea dan semua teman-temannya di kelas 10 IPA 1 saat ini baru menyelesaikan pelajaran kesenian di ruangan musik.
" Oke anak-anak. Ibu harap Minggu depan kalian semua dapat menunjukkan keahlian kalian dalam bermain alat musik. Tugas ini akan menambah nilai plus dalam nilai kesenian kalian masing-masing. Jadi ibu harap kalian berlatih dengan sungguh-sungguh. Karena bel istirahat sudah berbunyi, pelajaran hari ini ibu akhiri sampai disini. Terima kasih."
Bu Siska yang merupakan guru kesenian langsung meninggalkan ruangan musik begitu beliau selesai memberikan tugas kepada semua siswanya.
" Kita bagusnya bawain lagu apa ya Rhee buat Minggu depan?? " Ara tengah berpikir keras mengenai lagu yang akan dia pilih untuk tugas keseniannya kali ini.
" Gue juga nggak tau Ra. Nggak ada ide. Ntar aja kita pikirin." Rhea sedang malas memikirkan tugas untuk saat ini karena perutnya mulai merasa lapar.
" Emang nya Lo berdua bisa main alat musik apa??" Pertanyaan dari Adit sang ketua kelas menghentikan obrolan Rhea dan Shasa.
" Kalau gue bisa main gitar tapi nggak jago-jago amat sih. Terus kalau Rhea bisa main piano. Kalau Lo dit??" Ara mempertanyakan keahlian Adit dalam bermain alat musik.
" Kalau gue bisa main gitar sama drum." Adit sedikit membanggakan keahliannya kepada Rhea dan Shasa.
" Hebat dong dit!! Jago nggak mainnya?? Gue pengen liat ni!!" Rhea sedikit penasaran dengan kemampuan Adit.
" Boleh. Mau liat gue main drum apa gitar??" Adit memberikan pilihan pada Rhea.
" Gitar aja deh. Gimana Ra??" Rhea menatap Ara untuk menanyakan pendapat.
" Gitar boleh juga." Ara sepertinya sependapat dengan Rhea.
" Sipp!! Tapi gue mainnya nggak sendirian ya!! Salah satu dari kalian harus nyanyi buat temenin gue main gitar. Mau nggak??" Adit menatap Rhea dan Ara bergantian menunggu jawaban.
" Lo aja yang nyanyi ya Rhee. Kalau gue yang nyanyi ntar kuping Lo berdua pada bakalan geser karena dengerin suara gue. Hehehe.."
Ara hanya bisa nyengir kuda membayangkan telinga Rhea dan Adit akan bergeser karena suaranya yang sumbang.
" Bisa aja Lo Ra. Ya udah Lo mau bawain lagu apa dit?" Rhea kemudian menatap Adit menanyakan lagu apa yang akan mereka berdua bawakan.
" Hmmm...kalau lagu lama bisa nggak dit??" Rhea kini mulai bernegosiasi dengan Adit.
Adit yang mendengar permintaan Rhea sedikit mengernyitkan dahinya." Boleh sih, tapi nggak jadul amat kan Rhee?"
" Hahaha..nggak kok dit" Rhea tergelak kecil mendengar ucapan Adit. " Gue pengen nyanyiin lagu dari Mytha Lestari judulnya Menghapus Yang Terukir. Bisa nggak dit?"
Adit nampak berpikir sejenak, " oohhh...lagu itu. Kuy lah!! Gue ambil gitar dulu." Adit kemudian berdiri dan mengambil gitar yang ada disudut ruangan musik.
" Fighting Rhee!!" Ara memberikan semangat pada Rhea yang dibalas acungan jempol oleh Rhea.
Adit mulai memetik gitarnya. Mencari nada yang pas dengan lagu yang akan di bawakan nya bersama Rhea.
" Ready Rhee??" Adit menatap Rhea menanyakan kesiapan gadis itu dan di balas anggukkan kepala oleh Rhea. Adit mulai memetik gitarnya.
Tak mudah tuk melepas bayangmu
Kau yang pertama mengisi relung hatiku oh...
Tak mudah tuk melepas rasa ini
Tapi ku sadari diriku lebih berarti
Berlari dan terus ku berlari
Hingga rasa ini pergi
Apa yang harus ku lakukan
Untuk melupakanmu
Sampai matikan ku coba
Aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan
Untuk menghapuskanmu oh
__ADS_1
Yang terukir di hatiku
Pernah ku berpikir semua salahku
Kau berpaling pada cinta yang lain
Namun akhirnya aku mengerti oh
Yang kau miliki bukanlah cinta sejati
Berlari dan terus ku berlari
Hingga rasa ini pergi..
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskan mu
Sampai mati kan kucoba aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskan mu
Yang terukir di hati oh..
Ku kira kita akan berdua selamanya
Tak ku duga kau kan mendua oh
Tapi buat apa ku bersama dia
Yang tak mencintai ku..
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskan mu
Sampai mati kan coba aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskan mu
Yang terukir di hatiku ho..ho..
Apa yang terukir dalam hatiku
Tak mungkin ku hapus ho..
Apa yang terukir
Yang terukir di hatiku oh..ho..
Kau yang terukir dalam hatiku
Tak mungkin ku hapus kan..
Prokk...prokkk...prokk
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan musik siang itu. Semua siswi yang masih berada di ruangan itu menatap Rhea kagum.
" Waahhh...suara Lo bagus banget Rhee!!!" Ara mendekati Rhea dan Adit yang sudah menampilkan pertunjukan yang luar biasa.
" Lo juga hebat dit!" Ara mengacungkan dua jempolnya mengakui kehebatan Adit bermain gitar.
Rhea dan Adit hanya tersenyum saling menatap kemudian berdiri dari duduk masing-masing.
Adit meletakkan kembali gitar yang dia pakai tadi ke sudut ruangan sementara Rhea merangkul lengan Shasa, mengajak sahabatnya itu segera keluar menuju kantin karena perutnya mulai merasa lapar.
" Ternyata Lo bisa nyanyi juga ya Rhee?? Sumpah suara Lo merdu banget. Lo biasa ngamen di mana Rhee??" Ara yang tadinya memuji Rhea kini berbalik menggoda sahabatnya itu.
" Gue biasanya ngamen di perempatan lampu merah. Puas Lo??" Rhea mendelik sebal menatap ara yang berjalan di sampingnya.
" Kalau pengamen nya cantik kayak Lo, gue bakal betah bolak-balik perempatan demi liat Lo nyanyi Rhee." Tiba-tiba Adit sudah berjalan di samping Rhea.
" Yeee...mau nya. Lo juga mau ke kantin dit?? Rhea menatap Adit yang tingginya melebihi kepala Rhea.
" Yoi..cacing di perut gue lagi demo mintak diisi. hahaha.." Adit tertawa senang sambil mengusap perutnya yang lapar.
" Ya udah kita bareng aja. Kuy!!" Mereka bertiga beriringan menuju kantin yang tidak begitu jauh dari ruang musik.
Saat mereka bertiga masih asyik mengobrol, tiba-tiba Gavin datang menghadang langkah mereka. Gavin menarik tangan Rhea agar gadis itu berdiri di sampingnya.
" Rhea bareng gue!! Lo berdua duluan aja!!" Gavin menatap tajam Adit dan Ara sehingga mereka berdua hanya menganggukkan kepala dan bergegas meninggalkan Gavin dan Rhea.
" Gue mau ngomong sama Lo!!" Gavin menatap Rhea sebentar lalu menggenggam tangan gadis itu agar mengikutinya.
" Gue laper kak!!" Rhea berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin.
__ADS_1
" Ntar gue beliin makanan. Lo ikut gue dulu!!" Gavin kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Rhea hanya bisa pasrah dan diam saja mengikuti kemauan Gavin. Lebih baik mengalah daripada membuang energi pikir Rhea.