
Setelah berkendara sekitar 20 menit dari Teen cafe, akhirnya Rhea dan Gavin sudah sampai di depan rumah Rhea dengan selamat.
" Nggak tawarin gue masuk Rhee??" Gavin bertanya saat Rhea sudah turun dari motor besarnya.
" Nggak mau. Kak Gavin pulang aja. Gue capek pengen istirahat." Rhea malas berbasa-basi karena masih merasa kesal dengan Gavin.
" Ya udah, gue balik dulu. Besok gue jemput lagi ya. Bye.." Gavin yang akan menyalakan motornya langsung ditahan oleh Rhea.
" Gue bisa pergi sama bang Rafka. Jadi nggak usah jemput gue lagi!!" Rhea langsung berbalik dan meninggalkan Gavin. Sementara itu Gavin yang mendengar ucapan Rhea tidak terima dan ikut turun dari motornya.
" Kenapa Lo kayak gini lagi sih Rhee?? Lo kan udah kasih gue kesempatan buat deketin Lo lagi. Gue cuma minta satu bulan Rhee nggak lebih. Tapi Lo terus ngehindar dari gue. Gue harus gimana Rhee??"
Gavin terlihat frustasi menghadapi sikap Rhea yang selalu menghindar dan menjaga jarak darinya.
Rhea yang mendengar ucapan Gavin, langsung berbalik dan menatap Gavin tajam. " Gue berubah pikiran kak. Mending kita jalan masing-masing aja!!"
Gavin seketika mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Rhea, "Apa ini ada hubungannya sama Devina?? Lo diancam lagi sama dia?"
Gavin memikirkan alasan kenapa Rhea bisa berubah pikiran. Sementara Rhea hanya diam mendengar pertanyaan Gavin. Rhea sepertinya sudah lelah menghadapi semua orang yang menyukai Gavin.
" Gue janji akan lindungin Lo dari siapapun Rhee. Lo harus percaya sama gue!!" Gavin masih berusaha menyakinkan Rhea agar percaya kepadanya.
" Terserah, gue capek." Akhirnya Rhea benar-benar pergi meninggalkan Gavin tanpa menoleh sedikitpun pada cowok itu.
Gavin menarik nafas lelah saat Rhea sudah masuk kedalam rumahnya. Sepertinya Gavin harus lebih bersabar dengan sikap Rhea yang keras kepala. Akhirnya Gavin kembali menaiki motor dan pergi menuju basecamp dimana teman-temannya berkumpul.
****
Rhea sudah memasuki rumah dan melihat Rafka sedang menonton TV di ruang keluarga. Rafka yang menyadari keberadaan Rhea, menyapa gadis itu yang mukanya terlihat kusut seperti baju belum di setrika.
" Eehh..adek abang udah pulang!! Kok muka nya kusut banget sih!! Padahal dianterin pulang ama cowoknya." Mata Rhea seketika melotot mendengar godaan dari Rafka.
" Isshh...dia bukan cowok aku." Rhea mendengus kesal lalu duduk di samping Rafka.
" Kenapa lagi sih Rhee?? Kamu berantem sama Gavin?" Rafka sudah tau dari bunda bahwa Rhea dekat lagi dengan Gavin.
" Bunda cerita ya soal Gavin sama Abang? Abang tadi pagi kemana? Kok nggak ikut sarapan sama kita?" Rhea terus bertanya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
" Abang kemaren malam habis begadang bikin tugas kampus jadi nggak bisa bangun pagi. Bunda tadi sempat cerita kalau kamu deket lagi sama Gavin dan dia bakal antar jemput kamu mulai sekarang. Ternyata kalian satu sekolah ya?? Emang jodoh nggak kemana...awww." Rafka mengusap tangannya yang sakit akibat dicubit oleh Rhea.
" Jangan bicara sembarangan!! Siapa yang mau jodoh sama dia." Rhea tidak terima mendengar ocehan Rafka.
" Masa sih kamu nggak mau sama Gavin? Dia cakep loh Rhee? Tajir lagi." Rafka menarik turunkan alisnya menggoda Rhea.
" Emang nya aku cewek matre apa. Lagi pula aku nggak mau di gebukin masal sama fans-fans Gavin di sekolah. Nanti aku jadi almarhumah lagi. Iiihh..Amit-amit." Rhea bergidik ngeri membayangkan keganasan fansnya Gavin.
" Nggak mungkin lah Rhee si Gavin biarin kamu di apa-apain sama orang lain. Kamu itu terlalu overthingking sama semua hal." Rafka mencoba mengubah pola pikir Rhea.
" Truss aku harus apa bang? Aku harus buka hati aku lagi buat dia? Jujur aku takut keadaannya akan berubah seperti dulu lagi bang." Rhea mulai menyadarkan kepalanya di bahu Rafka.
" Kamu udah tau alasan yang buat kalian salah paham dulu? Pasti belum kan?? Sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan Gavin biar semuanya jelas. Setelah itu baru kamu putuskan gimana kelanjutan hubungan kamu sama dia." Rafka kemudian menggenggam tangan Rhea untuk memberi semangat untuk adik satu-satunya itu.
" Harus gitu ya bang??" Rhea mulai menegakkan kepalanya lalu menatap mata Rafka meminta kepastian.
" Ya iya lah. Kamu mau salah paham terus sama Gavin? Emangnya kamu nggak suka lagi sama Gavin?" Rafka menatap balik mata Rhea menunggu jawaban gadis itu.
" Apa sihh...Abang kepo deh!!" Rhea memalingkan wajahnya dari hadapan Rafka.
" Cieee...salting ni ye!! Jangan kebanyakan jaim ya Rhee, ntar Gavin nya kabur!" Rafka menasehati Rhea sambil mengelus sayang kepala adiknya.
" Nggak tau ahh..aku ke kamar dulu. Capek!!" Rhea berdiri dari duduknya dan mengambil tas sekolah yang dia taruh diatas meja.
" Ya udah, istirahat sana. Kamu udah makan siang kan??" Rafka memperhatikan Rhea yang sudah berjalan kearah tangga.
Rhea hanya menjawab pertanyaan Rafka dengan mengangkat jempol keatas. Saat Rhea sudah berada di ujung tangga, dia berbalik dan kembali menatap Rafka.
" Makasih ya bang buat saran nya." Rhea tersenyum senang dan kemudian berbalik lagi menuju kamarnya.
" Iya, sama-sama. Jangan galau-galau lagi ya Rhee!" Rafka menaikan nada suaranya agar didengar oleh Rhea yang sudah berada di atas.
Rhea hanya menjawab "aku nggak galau" lalu masuk kedalam kamarnya. Setelah Rhea masuk, Rafka kemudiaan melanjutkan acara menonton TV sambil tidur-tiduran di sofa.
__ADS_1
****
" Lama amat anterin cewek lo balik Vin!! Rumah si Rhea di Bogor ya?? Hahaha.." Azka tertawa senang karena berhasil meledek Gavin hingga wajah cowok itu berubah masam.
Gavin baru sampai di basecamp pada sore hari setelah mengantar Rhea kembali kerumahnya.
" Sialan Lo!! Gue tadi ke cafe baru habis itu anterin Rhea balik." Gavin melempar Azka dengan bola basket yang berada didekatnya karena kesal.
Azka yang mengetahui ada bola basket yang terbang kearahnya, segera menghindar agar bola itu tak mengenai kepalanya.
" Ciee..yang habis ngedate. Jangan lupa PJ nya ya bro!!" Dhafi juga ikut menggoda Gavin lalu duduk disebelah cowok itu.
" Gue belum jadian." Gavin menyandarkan punggungnya disandaran sofa. "Si Alex mana??" Gavin melihat sekeliling dan tidak menemukan keberadaan Alex.
" Habis dari sekolah Alex pulang buat ganti baju terus pergi kerumah sakit tempat nyokap si Felice di rawat." Azka menjawab pertanyaan dari Gavin sambil memutar bola basket yang dilemparkan Gavin tadi.
Gavin hanya menjawab "Ooh" lalu memejamkan matanya karena lelah. Sementara Azka dan Dhafi kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
****
" Non, makan malam udah siap!" Bik Inah memanggil Rhea yang masih berada di dalam kamar.
" Iya bik, aku sebentar lagi turun." Rhea kemudian menutup buku yang sedang dia baca di meja belajar lalu begegas turun ke bawah agar bisa makan malam bersama keluarganya.
" Gimana hari ini disekolah Rhee?? Dapat banyak teman baru nggak?" Bunda Citra mulai membuka topik pembicaraan saat Rhea sudah duduk di kursinya. Bunda juga mengambilkan nasi dan lauk untuk di santap Rhea.
" Lumayan bund! Aku juga udah dapet 2 temen akrab. Sama-sama Army kayak aku. Makanya kita ngerayain pertemanan kita sambil nongkrong di cafe. Aku juga pulang sesuai jam yang bunda suruh. Jadi kalau aku kapan-kapan mau main ke cafe lagi boleh ya Bun??" Rhea menatap bundanya meminta izin.
" Boleh, tapi kamu harus tetap kasih tau bunda dulu. Biar bunda nggak nyariin." Bunda Citra kemudian melanjutkan kembali makan malamnya.
" Bunda nggak nanyain Gavin??" Celetuk Rafka tiba-tiba dan mendapatkan pelototan dari Rhea.
" Oh iya, kalau Gavin gimana Rhee??" Kali ini bunda bertanya sambil tersenyum menggoda Rhea.
" Nggak gimana-gimana bund. Dia baik-baik aja." Rhea hanya menjawab singkat dan kembali melanjutkan makannya.
" Masa iya??" Rafka kembali menggoda Rhea sehingga Rhea mendengus kesal.
" Abang mau aku lempar sama sendok ini." Rhea mengangkat sendok yang akan dilemparkan kearah Rafka.
" Udah-udah!! Kalian ini ribut terus kerjaannya. Bikin ayah pusing saja!" Ayah Adinata menghentikan kegiatan makannya dan menatap Rhea dan Rafka bergantian.
" Maaf yah" Rhea dan Rafka kompak meminta maaf kepada ayah dan melanjutkan kembali menyantap makan malam mereka.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam tadi, mereka semua pindah rumah keluarga.
" Rhee, kamu udah jadian sama Gavin?" Tiba-tiba bunda Citra bertanya pada Rhea yang lagi sibuk bermain ponsel.
" Belum bund!!" Rhea hanya menjawab singkat pertanyaan dari bunda dan kembali sibuk dengan ponselnya.
" Dia lagi galau bund. Bingung mau lanjut apa enggak sama Gavin." Rafka tersenyum meledek kearah Rhea. Sedangkan Rhea langsung cemberut mendengar ocehan Rafka.
" Kenapa galau sih Rhee. Ikutin aja apa kata hati kamu. Lagi pula bunda liat Gavin kayak nya serius sama kamu. Soalnya dia udah berani minta izin sama ayah dan bunda." Bunda Citra memberikan saran agar Rhea tau apa yang harus dia lakukan.
" Nggak tau ahh bund. Rhea pusing mikirin nya." Rhea kemudian berdiri dari duduknya. "Aku ke kamar dulu ya bund! Mau ngerjain tugas."
" Ya udah, jangan tidur malam-malam ya Rhee!!" Bunda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sifat Rhea yang keras kepala. Lalu membiarkan gadis itu pergi ke kamarnya tanpa bertanya lagi.
****
" Siapa ni yang telfon??" Rhea bingung melihat ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke ponselnya. Saat ini Rhea sudah masuk kedalam kamar karena ingin menghindari pertanyaan dari bunda soal gavin.
Saat panggilan pertama Rhea mencoba untuk mengacuhkannya karena tidak mengenal Nomor itu. Tapi saat panggilan kedua, Rhea jadi penasaran dan mencoba mengangkat panggilan itu.
Rhea : " Haloo...ini siapa ya??
"..:" : "............"
Rhea : " Hey...ini siapa? Kalau Lo nggak mau ngomong gue matiin ya telfonnya."
".." : " Ini gue Rhee...Gavin!!"
__ADS_1
Rhea : "............"
Gavin: " Lo masih disitu kan Rhee?"
Rhea : " iyaa!! Ada Lo nelfon gue??Terus dari mana lo bisa dapet nomor gue??"
Gavin: " Ada deh, Lo nggak perlu tau!!! Lo lagi ngapain Rhee??"
Rhea : " Gue lagi nerima telfon Lo. Kalau nggak ada yang mau di omongin, gue tutup ya??"
Gavin: " Jangan gitu dong Rhee! Gue cuma pengen denger suara Lo aja. Kangen!!"
Rhea : " Nggak usah ngegombal deh!! Nggak ngaruh!!"
Gavin: " Kok Lo gitu sih Rhee? Nggak boleh jutek-jutek sama calon pacar."
Rhea : " Ihh... ngaku-ngaku!! Cepetan ada perlu apa?? Gue lagi sibuk ni!!"
Gavin: " itu Rhee....besok gue jemput Lo ya??"
Rhea : " Terserah..!!"
Gavin: " Kalau Lo jawab terserah berarti gue boleh jemput kan Rhee??"
Rhea : " Iyaaa..."
Gavin: " Oke, thanks ya Rhee."
Rhea : " Iyaaa..."
Gavin: " Gue matiin ya Rhee??
Rhea : " Kak....."
Gavin: " Kenapa Rhee??"
Rhea : " Itu...mmm... masalah kesalahpahaman yang Lo maksud itu..."
Gavin: " Gue ngerti Rhee. Gue bisa nggak minta waktu Lo besok sehabis kita pulang sekolah??
Rhea : " Bisa..."
Gavin: " Oke, gue bakal jelasin semuanya sama Lo tanpa gue lewatin satupun. Thanks ya Rhee. Gue seneng banget Lo ngasih gue kesempatan."
Rhea : " Iya. Kalau nggak ada yang mau di omongin lagi gue tutup ya kak telfonnya."
Gavin: " Iya Rhee. Sleep well ya!! Night Rhee!!"
Rhea : " Night.."
Akhirnya sambungan telfon itu terputus juga. Rhea menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur dan mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan esok hari.
Sepertinya memberikan Gavin kesempatan untuk menjelaskan masalah mereka yang terdahulu tidak begitu buruk. Setidaknya itu bisa menjadi bahan pertimbangan Rhea untuk menentukan kemana arah hubungan mereka selanjutnya.
Sementara ditempat lain, Gavin bersorak kegirangan setelah Rhea mematikan telfonnya.
" Yess!!!"
" Kenapa Lo Vin?? Habis menang lotre Lo??" Alex keheranan melihat tingkah Gavin yang kegirangan nggak jelas.
" Ini lebih dari lotre bro!!" Gavin mencium ponselnya berkali-kali membuat ketiga sahabatnya bergidik ngeri.
" Lo kesambet apa sih bro?? Balik nelfon udah sarap aja Lo!!" Dhafi ikut meledek Gavin yang terlihat masih mengumbar senyuman sumringahnya pada ketiga sahabatnya itu.
" Sialan Lo. Gue nggak kesambet tapi gue seneng akhirnya Rhea mau denger penjelasan gue." Gavin kembali tersenyum senang mengingat percakapannya bersama Rhea tadi.
" Selamat kalau gitu bro. Gue doain semoga usaha Lo besok berjalan lancar." Azka memberikan selamat kepada sahabatnya itu dengan tulus.
" Thanks bro. Kalau gitu gue balik dulu." Gavin menyambar tas nya yang berada di bawah meja ruang keluarga Alex.
" Sipp!! Jangan lupa PJ nya ya bro!!" Azka masih sempat-sempatnya meminta "Pajak Jadian" pada Gavin.
__ADS_1
" Lo atur aja!!" Gavin membalas ucapan Azka dan melambaikan tangan tanpa membalikkan badan kepada ketiga sahabatnya itu.
Akhirnya Gavin keluar dari rumah Alex dan memilih pulang kerumahnya sendiri agar bisa beristirahat. Gavin berharap semoga pagi cepat datang agar dia bisa bertemu lagi dengan Rhea si Calon Pacar.