
Hari Senin pagi yang cerah, Rhea melangkahkan kakinya penuh semangat menuruni tangga rumah menuju meja makan. Di sana sudah menunggu semua anggota keluarganya yang sedang menikmati sarapan pagi sambil sesekali terlibat obrolan ringan. Saat Rhea sedang berjalan mendekati meja makan, perhatian mereka semua langsung tertuju pada Rhea. Mereka semua sependapat kalau gadis itu terlihat tetap cantik meskipun matanya sedikit sembab karena menangis tadi malam.
" Kamu mau sarapan apa sayang?" Bunda menawarkan beberapa makanan yang tersaji di meja makan saat Rhea sudah mendudukkan bokongnya di kursi sebelahnya Rafka.
" Aku nggak selera Bun! Aku sarapan disekolah aja." Rhea menatap semua makanan yang terhidang di atas meja dengan tidak berminat sedikitpun. Rhea kemudian meraih segelas susu yang berada di depannya dan meneguknya hingga tandas.
" Ya udah, kamu bawa bekal aja ya, Rhee! Sebentar bunda siapin dulu." Bunda segera berdiri dan beranjak ke dapur untuk mengambil kotak bekal untuk Rhea.
" Kamu pergi sama siapa Rhee? Abang hari ini ada kuliah pagi, jadi nggak bisa nebengin kamu ya." Ucap Rafka terus terang di sela-sela kegiatannya mengunyah roti bakar. Rafka sebenarnya ingin sekali mengantar Rhea pergi sekolah, tapi dia tidak bisa melewatkan mata kuliah yang penting pagi ini.
" Nggak apa-apa Bang. Aku naik Ojol aja." Ucap Rhea santai sambil mengutak-atik ponselnya.
" Mendingan kamu pergi sama Ayah aja Rhee. Ayah bisa anterin kamu dulu sebelum berangkat ke kantor." Usul Ayah yang sedang menikmati secangkir kopi panas di hadapan Rhea.
" Nggak usah Yah. Ntar Ayah telat ke kantor lagi. Aku bisa naik Ojol kok. Ayah nggak usah khawatir."
Rhea terlalu malas untuk membahas masalah yang terjadi kemarin kalau seandainya Rhea pergi bersama Ayah hari ini. Rhea yakin Ayah pasti akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan mengenai kelanjutan hubungannya dengan Gavin. Rhea tidak ingin merusak moodnya pagi ini yang sudah mulai membaik saat membicarakan Gavin. Cowok yang menurut Rhea super menyebalkan dan seorang pembohong besar yang mau-maunya saja tergoda dengan cewek seperti Tasya. Padahal Rhea kurang apa sih? Mata Gavin saja yang buta karena lebih memilih Tasya daripada dirinya. Rhea berjanji akan memberikan pelajaran untuk cowok itu nantinya karena berani-beraninya menyakiti perasaannya.
" Nih bekal kamu!" Bunda menyodorkan sebuah paper bag kecil berisi kotak makanan untuk Rhea. Bunda tidak ingin Rhea sakit perut karena melewatkan sarapan paginya begitu saja.
" Makasih Bunda." Rhea tersenyum menatap Bunda sambil menerima paper bag pemberian Bunda itu. Rhea kemudian segera berdiri dan menyalami Ayah, Bunda serta Rafka bergantian. Setelah itu segera bergegas keluar rumah untuk menunggu Ojol yang sudah dia pesan saat berada di meja makan tadi.
****
Saat Rhea hendak keluar dari pagar rumahnya, sosok Gavin yang tinggi ternyata sedang berdiri di depan mobilnya dengan penampilan yang cukup keren pagi ini. Dengan kaca mata hitam yang bertengger manis di pangkal hidung Gavin yang tinggi, membuat cowok itu terlihat seperti model yang sedang berpose untuk majalah fashion ternama negeri ini. Rhea yang hampir terhipnotis dengan pesona Gavin, segera menggelengkan kepalanya agar tersadar dan kemudian memasang tampang permusuhan untuk cowok itu.
" Pagi sayang!" Sapaan lembut dari Gavin membuat Rhea mendegus kesal mendengarnya. Gavin seolah-olah melupakan kejadian yang terjadi kemarin dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan Rhea.
" Kok mukanya cemberut gitu sih Yang! Aku udah nungguin kamu loh dari tadi." Ucap Gavin santai sambil melepaskan kaca mata hitamnya. Gavin kemudian segera menghampiri Rhea yang sedang berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Rhea terlihat mengalihkan pandangannya saat Gavin menatap intens mata Rhea.
__ADS_1
" Sayang, kamu jangan marah lagi dong. Aku kan udah jelasin semuanya tadi malam." Gavin mengulurkan tangannya untuk memegangi kedua sisi bahu Rhea, tapi dengan cepat ditepis oleh gadis itu sambil memelototi Gavin.
" Nggak usah pegang-pegang." Ucap Rhea ketus. Rhea segera pergi dari hadapan Gavin saat melihat Ojol yang dia tunggu sudah datang. Rhea tidak menghiraukan ucapan Gavin sama sekali dan terus berjalan menghampiri Ojol itu.
Ketika sang Ojol memberikan helm ke tangan Rhea, Gavin dengan cepat menyambar helm itu dan menjauhkannya dari jangkauan Rhea. Rhea yang tidak terima di perlakuan seperti itu, segera merebut helm itu dari tangan Gavin. Tapi karena perbedaan tinggi badan mereka yang lumayan jauh, Rhea akhirnya hanya bisa menggerutu sambil menatap Gavin tidak suka.
" Sorry bang, cewek gue nggak jadi naik. Ini bonus buat cancel orderannya." Gavin segera menyodorkan selembar uang seratus ribuan ke tangan Ojol itu dan menyerahkan kembali helm Ojol itu. Dengan senyum yang merekah, sang Ojol segera menerima uang pemberian Gavin tanpa menolak sedikitpun.
" Makasih ya mas!" Ojol itu segera pergi meninggalkan Rhea dan Gavin dengan kecepatan tinggi agar mereka berdua tidak bisa berubah pikiran lagi.
" Lo apa-apa sih! Gimana gue mau ke sekolah coba!" Rhea memanyunkan bibirnya sebal karena dia tidak bisa menghindari Gavin lagi saat ini.
" Kan ada aku sayang!" Gavin mengedipkan sebelah matanya saat menatap wajah Rhea yang cantik. Membuat Rhea semakin jengah dengan kelakuan Gavin yang seenaknya saja terhadap dirinya.
Karena tidak punya pilihan lain, Rhea akhirnya menyerah dan segera berjalan mendekati mobil Gavin.
" Buruan! Ntar telat!" Ucap Rhea acuh tak acuh sambil melirik Gavin sekilas. Rhea tidak ingin terlambat ataupun bolos di hari Senin ini. Hari dimana semua mata pelajaran penting berkumpul dan tidak bisa di lewatkan begitu saja oleh Rhea.
Selama dalam perjalanan, Gavin tidak melewatkan kesempatan untuk menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di balik foto-foto itu secara detail di hadapan Rhea. Semua obrolannya dengan Tasya saat itu juga tidak luput dia ceritakan. Gavin tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi dengan Rhea dan berakibat kandasnya hubungan percintaan mereka.
Sementara itu, Rhea yang duduk di sebelah Gavin memilih tetap diam sambil mendengarkan semua penjelasan dari Gavin. Gadis itu tidak berkomentar sama sekali dan terlihat hanya fokus menatap jalanan yang berada di depannya. Rhea sebenarnya sudah mengerti kalau semua yang terjadi kemarin hanya kesalahpahaman, tapi karena dia masih merasa kesal dengan Gavin jadi Rhea memilih tetap mengabaikan pacarnya itu.
Melihat reaksi Rhea yang seperti itu, membuat Gavin hanya bisa menghela nafas berat. Gavin sepertinya harus lebih bersabar menghadapi sikap Rhea saat ini. Setelah Gavin selesai bercerita, Gavin kemudian juga ikut terdiam sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di parkiran sekolah.
Saat mereka hendak keluar dari dalam mobil, ternyata Tasya sudah menunggu di depan mobil Gavin sambil memasang senyuman semanis mungkin. Rhea yang melihat hal itu, hanya bisa menghela nafas dan berusaha menutupi kekesalannya di depan gadis itu.
" Hai Vin! Hai Rhee! Gue udah lama nungguin kalian disini tau nggak!" Sapa Tasya dengan ramah saat Gavin dan Rhea sudah turun dari mobil. Tasya memang sengaja menunggu mereka berdua di parkiran, agar Gavin berfikir kalau Tasya serius ingin membantu menyelesaikan masalahnya dengan Rhea.
" Sorry Sya, jalanan macet." Ucap Gavin singkat sambil tersenyum pada Tasya. Gavin terlihat sangat senang karena mendapati keberadaan Tasya di parkiran itu. Gavin berharap dengan penjelasan Tasya, Rhea bisa mengerti dan bisa menghilangkan kecurigaannya mengenai hubungan Gavin dengan Tasya yang hanya sebatas teman.
__ADS_1
Tasya yang mendapatkan senyuman manis dari Gavin juga ikut membalas senyuman cowok itu. Tasya kemudian bersorak dalam hati, 'Ini langkah awal gue buat dapetin kepercayaan lo lagi Vin.'
Rhea yang melihat interaksi keduanya melingkarkan kedua bola matanya jengah. Rhea merasa kesal dengan tingkah Gavin dan Tasya yang terkesan akrab dan sedikit mengabaikan keberadaan Rhea.
Tasya kemudian segera berjalan mendekati keduanya yang masih berdiri di depan mobil Gavin. "Rhee, Gavin kemaren udah cerita semua ke gue tentang masalah kalian berdua. Dan Gavin juga minta bantuan gue buat jelasin semuanya ke elo karena gue ikut terlibat di dalam masalah ini. Sebelumnya gue mau minta maaf sama Lo Rhee. Gue nggak nyangka bakalan ada orang yang sengaja fotoin kita berdua hari itu. Gue tau gue salah. Gue nggak seharusnya cari kesempatan buat ungkapin perasaan gue ke Gavin waktu itu. Tapi gue berani sumpah, hari itu Gavin nolak gue. Gavin bilang ke gue kalau cuma elo yang ada di cintai."
Tasya berhenti sejenak untuk mengatur nafas setelah berbicara panjang lebar pada Rhea. Tasya kemudian menggapai kedua tangan Rhea sebelum akhirnya melanjutkan lagi ucapnya yang sempat tertunda.
" Rhee, gue sama Gavin nggak ada hubungan apa-apa dan Lo harus percaya. Setelah Gavin nolak gue, gue udah introspeksi diri dan gue emang nggak sepadan di bandingin sama Lo. Cuma elo yang Gavin suka dari dulu dan gue nggak mau mengganggu hubungan kalian lagi. Tapi seenggaknya gue masih bisa berteman sama Gavin kan, Rhee?"
Tasya menatap Rhea serius, sambil menanti jawaban gadis itu. Tasya juga tidak lupa tersenyum dengan tulus, sehingga Rhea juga membalas tatapan Tasya. Mencari apakah ada kebohongan di mata sang mantan pacar kekasihnya itu.
" Kita bisa berteman Sya. Sorry kalau kemaren gue sempet meragukan ketulusan Lo." Jawab Gavin yang berdiri di samping Rhea. Gavin sepertinya tersentuh dengan ucapan yang keluar dari mulut Tasya. Sedangkan Rhea yang sedang mencerna ucapan Tasya, masih belum bereaksi apapun. Sehingga membuat Tasya dengan cepat memasang tampang sesedih mungkin di hadapan keduanya.
" Gue tau Lo belum seratus persen percaya sama gue. Tapi gue bakalan buktiin kalau gue tulus temenan sama Gavin. Dan gue juga mau temenan sama Lo, Rhee. Lo harus percaya ya Rhee sama gue!" Ucap Tasya menyakinkan Rhea.
Rhea yang tidak tau harus menjawab apa, akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Masih ada sedikit keraguan di hati Rhea saat mendengarkan semua ucapan Tasya tadi. Tapi Rhea sepertinya tidak bisa menolak keinginan Tasya, karena Rhea bisa melihat kalau Gavin sudah percaya dengan semua ucapan gadis itu.
" Makasih ya Rhee. Gavin emang beruntung banget bisa punya cewek baik kayak Lo. Dan gue juga seneng Lo mau temenan sama gue." Tasya kemudian memeluk Rhea sekilas dan setelah itu melemparkan senyuman untuk Rhea dan juga Gavin.
Gavin yang melihat hal itu, akhirnya bisa bernafas lega. Kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Rhea dapat diselesaikan berkat bantuan Tasya.
" Kuy kita ke kelas Vin!" Saat Tasya hendak meraih lengan Gavin, Rhea dengan cepat menarik tangan Gavin dan menggenggamnya dengan erat.
" Sorry ya kak, tapi kak Gavin mau anterin gue ke kelas. Kita duluan ya kak!" Rhea segera menarik tangan Gavin sehingga cowok itu mau tak mau harus mengikuti Rhea. Rhea tidak ingin lengah sedikitpun dengan perubahan sikap Tasya yang tiba-tiba. Jadi Rhea tidak akan memberikan kesempatan untuk Tasya berdekatan dengan Gavin.
Gavin yang mendapat perlakuan seperti dari Rhea, diam-diam mengulum senyuman nya. Ternyata Rhea masih cemburu kalau dirinya berdekatan dengan Tasya. Gavin kemudian mempererat genggaman tangannya pada Rhea sambil sesekali melirik wajah cantik gadisnya itu dari samping.
" Oh..oke! Sampe ketemu di kelas ya Vin!" Tasya kemudian melambaikan tangan pada Gavin dan juga Rhea yang sudah berjalan menjauhinya. Saat mereka berdua sudah hilang dari pandangan Tasya, gadis itu langsung merubah ekspresi nya yang tadinya tersenyum menjadi melotot kesal pada Rhea. Tasya tidak menyangka Rhea masih bersikap waspada dan menjaga jarak terhadap dirinya. Padahal Tasya sudah berakting dengan cukup bagus di hadapan keduanya. Tapi sepertinya Rhea masih belum percaya dengan perubahan sikap Tasya. Sehingga Tasya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.
__ADS_1
'Gue bakalan rebut Gavin dari tangan Lo! Walaupun gue jadi cewek bermuka dua sekalipun, gue nggak peduli. Gavin cuma punya gue. Selamanya cuma punya gue!' ucap Tasya dalam hati. Tasya kemudian tersenyum senang dan mulai berjalan meninggalkan tempat parkiran yang masih ramai dengan siswa-siswi yang baru sampai di sekolah hari ini.