
Teettt.....
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran di SMA Bhakti Luhur telah berbunyi. Seluruh siswa bersiap meninggalkan lingkungan sekolah menuju rumah masing-masing.
" Lo pulang bareng siapa Ra??" Pertanyaan dari Rhea menghentikan kegiatan Ara yang sedang mengemasi buku ke dalam tasnya.
" Biasa Rhee, gue pulang sendiri. Lo jadi pulang bareng Kak Gavin??" Kini Ara yang bertanya balik pada Rhea.
" Kayak nya sih Ra. Tapi orang nya belum nongol tu. Apa nggak jadi ya??" Rhea melihat jam yang ada di ponselnya. Sudah 10 menit Rhea menunggu tapi Gavin belum juga muncul.
" Paling bentar lagi Rhee. Kita tunggu di luar aja yuk!!" Ucap Ara. Lalu mereka berdua kompak berdiri dan berjalan keluar kelas.
Saat mereka masih menunggu kedatangan Gavin, dari kejauhan mereka melihat Bibi dan Shasa berjalan mendekati mereka.
" Hai Rhee..hai Ra!!" Sapa Bibi dengan centil saat berada di depan Rhea dan Ara.
" Hai juga Bi!! Makin gemoy aja Lo!! Hahaha..!!" Rhea langsung tertawa saat Bibi memasang tampang cemberut saat digoda.
" Enak aja Bibi di bilang gemoy. Bibi Udah kurusan tau!!" Bibi memperlihatkan body nya yang menurut nya sudah kurus pada Rhea.
" Iya deh, yang udah kurus." Rhea hanya bisa mengalah sambil menahan senyum agar bibi tidak cemberut lagi.
" Rhee...kata Ara Lo makan bareng sama kak Gavin, tapi kok gue nggak liat Lo berdua ada di kantin tadi??" Kini Shasa yang mulai kepo dengan hubungan Rhea dan Gavin.
" Gue makan di taman belakang. Emang kenapa?? Lo kangen ya sama gue??" Rhea Menaik turunkan alisnya menggoda Shasa.
" Ihhhh...nggak banget deh!! Gue cuma nanya doang. Btw, pada ngapain Lo berdua masih ada disini?? Lagi nungguin kita gitu??" Shasa menunjuk dirinya dan Bibi yang mungkin sedang ditunggu oleh Rhea dan Shasa.
" Yee...pede bener Lo Sha! Kita berdua lagi nungguin kak Gavin. Dia mau pulang bareng Rhea." Ara menjelaskan agar Shasa tidak salah sangka.
" Oohhh...trus kenapa Lo ikut nungguin, bukan nya balik aja duluan??" Shasa mengernyitkan dahinya heran melihat Ara yang masih setia berdiri di samping Rhea.
" Sebagai sahabat yang care, gue nggak tega biarin Rhea sendirian nunggu. Jadi gue berbaik hati menjadi pengawal sementara sampai pangeran menjemput putrinya. Hehehe.." Ara tertawa cengengesan karena mendengar perkataannya sendiri yang terdengar alay.
" Weeekkk...mau muntah gue!!" Shasa juga ikut mual mendengar ocehan Ara yang alay. Sedangkan Bibi dan Rhea hanya tertawa cekikikan menanggapinya.
Saat mereka berempat masih sibuk ngobrol, Bibi dapat melihat kak Gavin dari kejauhan berjalan dengan tergesa-gesa mendekati mereka.
" Rhee...pangeran Lo datang tuh!! Kok gue liat-liat dia tambah cakep aja ya??" Bibi tersenyum senang melihat rupa Gavin yang tampan tiada cela.
" Bi jangan senyum-senyum sama cowok orang. Lo mau jadi pelakor??" Shasa memperingati Bibi sambil tersenyum mengejek.
" Kalau pelakor nya modelan Bibi mah, kak Gavin bakal kabur duluan. Nggak kuattt..!!hahaha.." Ara memperagakan dengan tangan bentuk body bibi yang gempal dan gemoy.
" Sialan Lo!! Seneng banget hina gue. Gue sumpahin dapat cowok kayak gue baru tau rasa Lo!!" Bibi melotot kesal kearah Ara yang masih tertawa mengejeknya.
" Ihhh... amit-amit!! Mulut Lo bi!" Ara juga membalas pelototan Bibi sambil berkacak pinggang.
" Udah-udah, pada barentem aja. Ntar jodoh Lo!!" Rhea tersenyum mengejek keduanya yang masih sibuk berdebat nggak jelas.
" Nggak mau!!" Ara dan Bibi kompak membantah ucapan Rhea tadi.
" Kan...kan...jodoh!! Ngomongnya aja kompak." Kini giliran Shasa yang meledek mereka berdua.
" Enak aja Lo jodoh. Jongkook Oppa gue ntar nangis liat gue Ama dia." Bibi menunjuk Ara sambil bergidik ngeri.
" Gue juga. Jin oppa gue juga bakalan gantung diri kalau gue jodoh sama dia." Ara juga tidak mau kalah dari Bibi.
Saat mereka berempat sedang sibuk meledek satu sama lain, sepertinya mereka tidak sadar kalau Gavin sudah berada di depan mereka.
" Hhmm...." Deheman dari Gavin menyadarkan mereka berempat.
" Hai kak Gavin!!" Ara, Shasa dan Bibi kompak menyapa Gavin dengan ceria kecuali Rhea.
" Hai.." Gavin membalas singkat sapaan mereka sambil menganggukkan kepala sekilas.
" Sorry Rhee tadi gue nemuin pelatih basket di lapangan." Gavin memberi alasan keterlambatannya pada Rhea sambil menatap gadis itu.
" Iya nggak apa-apa." Rhea hanya mengangguk tanda mengerti.
" Kalau gitu kita balik duluan ya Rhee..kak Gavin!!"
Shasa yang sudah mengerti situasinya langsung berpamitan pada Rhea dan Gavin lalu menarik Bibi dan Ara meninggalkan tempat itu. Mereka bertiga juga tidak lupa melambaikan tangan ke arah Rhea lalu pulang menuju ke rumah masing-masing.
" Lo udah baik-baik aja kan Rhee??" Gavin memperhatikan lengan dan dagu Rhea bergantian karena merasa khawatir dengan keadaan gadis itu.
" Ii..ya gue baik-baik aja." Rhea seketika gugup terus diperhatikan Gavin begitu intens.
__ADS_1
" Sebelum pulang kita ke suatu tempat dulu ya Rhee??" Gavin menatap Rhea meminta persetujuan.
" Kita mau kemana??" Dahi Rhea mengernyit bingung kemana Gavin mau membawanya pergi.
" Nanti Lo juga bakal tau." Gavin tersenyum misterius membuat Rhea penasaran. Saat mereka berdua mulai berjalan, Gavin dengan santai nya menggenggam tangan Rhea. Membuat gadis itu salah tingkah dan berusaha melepaskan tangan Gavin.
" Lepasin kak!!" Cicit Rhea pelan.
Rhea terus berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman Gavin malah semakin erat. Gavin sebenarnya hanya ingin memamerkan kedekatannya dengan Rhea. Jadi Gavin tidak ingin melepaskan genggaman tangan itu bagaimanapun caranya. Akhirnya Rhea hanya bisa pasrah dan hanya bisa mengikuti kemana Gavin pergi.
****
" Kok kita kesini kak??" Rhea mengernyitkan dahinya heran kenapa Gavin membawanya ke taman,tempat pertama kali mereka bertemu.
" Gue kangen aja sama suasana di sini." Gavin menatap Rhea penuh makna membuat Rhea sedikit mengerti tujuan Gavin membawanya ke taman. Sepertinya Gavin ingin kembali mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka yang terjadi disini.
" Oohh.." Rhea hanya menanggapi singkat ucapan Gavin tadi.
" Kita kesana yuk Rhee!!" Gavin menunjuk sebuah gazebo kecil yang berada di sudut taman yang terlihat sepi. Rhea hanya menganggukkan kepala tanda setuju lalu mengikuti langkah kaki Gavin.
Saat mereka sudah sampai di gazebo itu, Gavin membersihkan tempat yang akan di duduki oleh Rhea dengan sapu tangannya.
" Makasih." Ucap Rhea singkat lalu duduk disebelah Gavin dengan tenang.
" Lo udah minta izin sama Tante Citra kalau pulang telat??" Gavin mulai membuka pembicaraan dengan gadis yang sudah duduk manis disampingnya.
" Udah sih, tapi nggak boleh pulang ke sorean." Rhea menatap Gavin sekilas lalu mengalihkan tatapannya pada langit yang begitu cerah siang ini. Rhea masih ingat bagaimana hujan pernah menahannya bersama Gavin di gazebo kecil ini. Kenangan itu sepertinya tidak akan pernah bisa Rhea lupakan sampai kapanpun.
" Rhee..." Panggilan lembut dari Gavin menyadarkan Rhea dari lamunannya. Rhea seketika menoleh kesamping dan mendapati Gavin tengah menatapnya dengan intens. Membuat jantung Rhea berdegup tidak karuan.
" Gue bisa kan sekarang jelasin semua kesalahpaham kita dulu. Gue harap setelah gue jelasin ini semua Lo bisa maafin semua kesalahan gue dan kita bisa mulai semuanya dari awal."
Gavin menatap Rhea penuh harap. Sementara Rhea hanya diam menantikan kelanjutan ucapan Gavin.
" Lo tau nggak Rhee, apa alasan gue nerima Tasya jadi cewek gue??" Rhea yang mendengar pertanyaan Gavin langsung menggelengkan kepalanya tidak tau.
" Gue cemburu sama Lo Rhee!!" Seketika Rhea langsung mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Gavin.
" Gue cemburu liat Lo pelukan sama Aiden dan itu alasan yang bikin gue nerima ajakan Tasya biar Lo juga cemburu sama gue." Ada rasa bersalah dan penyesalan di setiap ucapan Gavin membuat cowok itu hanya menundukkan kepala tidak berani menatap Rhea.
" Kenapa waktu itu lo nggak nanya kenapa gue bisa pelukan sama Aiden? Dan kenapa dengan seenak hatinya Lo simpulin kalau gue sama Aiden itu ada apa-apa?? Apa menurut Lo kedekatan kita waktu itu nggak berarti apa-apa dimata Lo?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Rhea semakin membuat Gavin merasa bersalah. Gavin ingin rasanya memutar kembali waktu agar dia tidak mengecewakan Rhea seperti ini.
" Gue minta maaf sama semua yang udah gue perbuat Rhee. Gue menyesal dan gue ingin memperbaiki semuanya. Gue minta satu kesempatan sama Lo Rhee. Please??"
Gavin menggenggam kedua tangan Rhea mencoba meyakinkan gadis itu dengan kesungguhannya kali ini.
" Gue butuh waktu kak!!" Rhea melepaskan genggaman tangan Gavin dan langsung berdiri meninggalkan Gavin seorang diri di tempat itu. Gavin yang tidak ingin Rhea pergi begitu saja, menahan lengan Rhea sekuat tenaga.
" Gue akan tunggu sampai kapanpun Rhee. Gue sayang sama Lo!!"
Gavin mengungkapan isi hatinya yang selama ini dia simpan hanya untuk Rhea. Melihat reaksi Rhea yang hanya diam membuat Gavin sedikit frustasi.
" Lo harus percaya sama gue Rhee!! Perasaan gue nggak pernah berubah dari dulu buat Lo." Gavin tidak akan menyerah untuk meyakinkan Rhea tentang perasaannya. Sementara itu Rhea kembali menatap mata Gavin dan sepertinya Rhea tidak menemukan kebohongan disana.
" Oke, gue percaya tapi lepasin dulu tangan gue!" Rhea menarik lengannya yang masih ditahan oleh Gavin.
Saat Gavin mendengar apa yang di ucapkan oleh Rhea dengan refleks Gavin menarik gadis itu kedalam pelukannya.
" Makasih Rhee udah percaya sama gue." Gavin tersenyum senang sambil memeluk Rhea dengan erat.
" Kak lepasin gue!!" Rhea meronta-ronta berusaha melepaskan pelukan Gavin. Rhea merasakan sesak saat Gavin memeluk nya dengan erat. Di samping itu Rhea juga mulai merasakan jantung nya yang berdebar tidak karuan karena perlakuan Gavin.
" Oke gue lepasin." Gavin masih tersenyum senang saat melepaskan Rhea dalam pelukannya. Gavin juga tidak lepas menatap Rhea dengan mata berbinar bahagia seakan Rhea telah menerima cintanya.
" Kenapa natap gue gitu??" Rhea merasa risih ditatap seperti itu oleh Gavin.
" Gue sayang banget sama Lo Rhee. Gue nggak akan kecewain Lo lagi. Gue janji!!"
Gavin membelai pipi Rhea membuat jantung Rhea kembali berdebar. Rhea tidak bisa berkata apa-apa selain menerima perlakuan lembut Gavin padanya.
" Lo mau ya Rhee jadi pacar gue??"
Akhirnya kalimat yang selama ini Gavin simpan tersampaikan pada Rhea. Gavin masih menunggu jawaban Rhea yang sepertinya terkejut dengan ajakan Gavin tadi.
" Nggak mau!!" Rhea menjawab dengan singkat ajakan berpacaran dari Gavin.
__ADS_1
" Kenapa Lo nggak mau Rhee? Lo masih nggak percaya kalau gue sayang sama Lo??" Gavin sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Rhea.
" Bukan gitu tapi..." Rhea menjeda ucapannya dan menatap wajah Gavin yang serius mendengarkan ucapannya. "Lo nggak ada romantis-romantis nya ngajak cewek pacaran. Minimal kasih bunga kek! Kan gue juga mau di kasih bunga."
Gavin yang mendengar ucapan Rhea langsung tersenyum bahagia. "Kalau gue kasih yang lain mau nggak??" Gavin memberikan pilihan yang lain pada Rhea.
" Apa??" Rhea penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh Gavin.
CUP😘
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Rhea. Membuat pipi gadis itu bersemu merah.
" Ihhh...apa sih! Kok jadi nyium gue?? Dasar cowok mesum!!" Rhea memukul lengan Gavin dengan keras hingga Gavin meringis kesakitan.
" Awww...sakit Yang!!" Gavin mengusap lengannya yang dipukul oleh Rhea. Gavin telah mengubah panggilan nya pada Rhea menjadi sayang.
" Yang...yang..sejak kapan gue ganti nama??" Rhea sedikit malu mendengar Gavin mengubah panggilannya menjadi sayang.
" Sejak tadi. Karena kamu udah jadi pacar aku jadi aku putusin buat panggil kamu sayang." Gavin semakin tersenyum senang karena hari ini mereka resmi jadian.
" Emangnya kapan kita jadian?? Perasaan gue nggak bilang iya tadi??" Rhea menatap kesal pada Gavin yang suka seenaknya sendiri.
" Stop bilang lo-gue Rhee, tapi ganti pakai aku-kamu." Gavin mencoba mengingatkan Rhee agar menukar panggilannya pada Gavin.
" Terserah Lo aja!!" Rhea yang masih merasa kesal dengan ulah Gavin berbalik ingin pergi meninggalkan cowok itu.
" Kamu mau kemana Rhee?? Jangan ngambek dong?? Mau aku cium lagi??"
Gavin mengejar Rhea yang berusaha kabur dari Gavin. Saat Rhea sudah berada di dekatnya, Gavin kembali meraih tangan Rhea dengan lembut sehingga gadis itu menghentikan langkahnya. Gavin yang tidak mau Rhea kesal lagi segera berlutut sambil menggenggam tangan gadisnya itu.
" Rhea Zhafira Adinata...mau nggak kamu jadi pacar aku?? Sorry ya kalau aku terkesan nggak romantis. Tapi aku cuma nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku sayang sama kamu dan aku janji bakal jagain kamu sampai kapan pun. Kamu mau ya nerima aku??"
Pertanyaan cinta dari Gavin yang begitu panjang, membuat Rhea sedikit terharu. Sehingga tanpa sadar Rhea menjatuhkan air matanya.
" Kok kamu nangis Rhee?? Jangan nangis dong!! Ntar ilang lagi cantiknya." Gavin segera berdiri dan mengusap air mata Rhea yang mengalir di pipinya.
" Jago banget sih kamu gombalnya. Belajar dari siapa??" Rhea masih sempat komplain dengan ucapan Gavin yang terkesan gombal di telinga Rhea.
" Kayak nya dari Azka deh!! Soalnya kan dia Playboy jadi...awww!!" Kok aku di cubit sih Yang??"
Gavin kembali mengusap lengannya yang di cubit oleh Rhea. Mungkin kalau lengan Gavin bisa bicara, dia pasti mengeluh karena terus di jadikan sasaran kemarahan oleh Rhea.
" Habis kamu belajar gombalnya dari Playboy. Aku kan nggak suka. Kamu mau juga belajar jadi playboy kayak dia?? Kalau gitu kita nggak usah jadian aja." Rhea menatap kesal pada Gavin sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
" Ehh..jangan gitu dong Yang!! Aku nggak mau belajar jadi playboy. Cinta aku cuma buat kamu aja." Gavin kembali memberikan gombalan nya pada Rhea, membuat gadis itu ingin muntah mendengarnya.
" Kita balik yuk. Udah sore ni. Ntar bunda nyariin aku." Rhea menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 3 sore.
" Oke!! Kita makan dulu ya sebelum pulang ke rumah kamu??" Gavin mengajak Rhea makan terlebih dahulu karena mereka berdua belum makan siang. Rhea hanya menganggukkan kepala menerima ajakan Gavin.
Saat mereka sudah sampai di parkiran motor, Gavin teringat kembali dengan pernyataan cintanya yang belum dijawab oleh Rhea.
" Yang...tadi kamu belum jawab mau nerima aku jadi pacar kamu atau nggak!!" Sepertinya Gavin belum puas kalau belum mendengar jawaban iya dari Rhea.
" Emang nya harus di jawab ya??" Rhea memutar matanya malas mendengar ucapan Gavin barusan. Walaupun Rhea bilang tidak, tetap saja dia akan dipaksa untuk jadi pacarnya Gavin.
" Iya lah, aku kan butuh kepastian!!" Sepertinya sifat alay Gavin sudah muncul secara tiba-tiba.
" Iya deh!!" Rhea hanya menjawab singkat pertanyaan Gavin tadi. Rhea malas berdebat Lama-lama dengan pacar barunya itu.
" Maksud nya kamu mau jadi pacar aku??" Gavin masih bertanya pada Rhea yang sepertinya sudah mulai bosan dengan tingkah Gavin.
" Hmm.." deheman dan anggukkan kepala Rhea menjadi jawaban dari pertanyaan Gavin.
" Yess!! Makasih ya Yang." Gavin tersenyum senang dengan jawaban singkat dari Rhea. Sepertinya malam ini dia akan bermimpi indah karena sudah menjadikan Rhea sebagai kekasihnya.
" Iya. Yuk buruan aku laper ni!! Pengen makan bakso tempat yang biasa." Rhea mulai mengambil helm yang berada di atas motor Gavin lalu memasangkan nya di kepala.
" Oke princess!! Your prince ready to serve you." Gavin tidak lupa mengedipkan mata nya genit menggoda Rhea lalu memasangkan helm juga di kepalanya.
Rhea cuma bisa tersenyum melihat kelakuan Gavin. Ternyata Gavin tidak pernah berubah. Sifat nya yang ceria dan terkesan alay hanya dia tunjukkan kepada Rhea. Sehingga orang-orang tidak akan percaya kalau Gavin akan memiliki sifat seperti itu.
" Ayo Yang!! Pegangan yang kencang ya, ntar kamu jatuh." Gavin mulai menyalakan motornya saat Rhea sudah duduk di boncengan motornya.
" Iya, kuy!!" Rhea melingkarkan tangan nya di pinggang Gavin, membuat Gavin tersenyum senang di balik helmnya.
Akhirnya mereka berdua meninggalkan taman menuju tempat penjual bakso. Dalam hati mereka berdua berharap semoga hubungan yang baru mereka jalin ini dapat bertahan dan selalu terjaga sampai kapanpun.
__ADS_1