
Huufftt...
Rhea menghembuskan nafas lelah saat gadis itu memasuki kamarnya. Saat ini Rhea baru saja kembali dari cafe bersama dengan anggota tim basket lainnya. Setelah gadis itu meletakkan tas olahraga secara asal di lantai, Rhea segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Rasa kantuk yang mulai menyerang, membuat Rhea tidak sempat untuk berganti baju terlebih dahulu. Saat gadis itu baru saja akan menyelami alam mimpinya, tiba-tiba Rhea di kagetkan dengan sebuah deringan ponsel yang begitu keras dari dalam tas olahraganya. Membuat Rhea dengan segera bangkit mengambil ponsel itu karena Rhea sedang menunggu telfon dari seseorang.
Ketika ponsel itu berhasil Rhea dapatkan, gadis itu dengan antusias segera menggeser icon warna hijau yang tertera dilayar tanpa melihat siapa yang menelfon.
Rhea : " Hallo! Kak Gavin kemana aja sih? Kok dari tadi nggak hubungin aku? Apa urusannya udah selesai?"
"...": .......
Rhea : " Kok diem aja?? Kak Gavin lagi sakit gigi?"
Shasa: " Markonah, ini gue Shasa! Mata Lo buta, nggak liat siapa yang nelfon Lo dari tadi?
Rhea : " Sialan Lo! Gue kira kak Gavin tadi. Soalnya gue baru bangun tidur, jadi mata gue rada burem dikit."
Shasa: " Alasan aja Lo! Btw, sorry banget ya Rhee, gue nggak jadi liatin Lo sama Ara latihan basket. Soalnya gue males pergi kalau nggak ada temen nya. Si Bibi pake alasan nolongin mas Brian di cafe lagi. Bohong banget!"
Rhea : " Si Bibi nggak bohong! Dia beneran nolongin mas Brian di cafe tadi. Gue liat sendiri. Kalau nggak percaya tanya aja sama Ara."
Shasa: " Emangnya ngapain Lo sama Ara ke cafe? Terus nggak ajak gue lagi! Nggak setia kawan banget sih Lo!"
Rhea : " Gue sama anak-anak tim basket lagi makan siang. Jadi nggak mungkinkan kalau gue ajak Lo ke situ juga."
Shasa: " Oh jadi gitu! Terus kenapa Kak Gavin nggak hubungin Lo dari tadi. Sampai menghayal segala lagi, kalau dia yang nelfon."
Rhea : " Dia bilang sih ada urusan penting. Tapi Sha, kak Gavin nggak mungkin selingkuh kan?? Gue jadi kepikiran deh! Kayak aneh aja gitu. Biasanya kan dia paling sering nelfon gue. Tapi dari kemarin cuma chatingan doang. Terus pagi ini cuma nelfon sebentar buat nanyain kabar. Kan gue jadi overthingking!"
Shasa: " Jangan lebay deh Rhee. Kak Gavin nggak mungkin selingkuh dari Lo. Mungkin aja emang bener kalau dia ada urusan penting. Jadi dia nggak sempet hubungin Lo."
Rhea : " Jadi gitu ya Sha! Tapi kan nyebelin banget!"
Shasa: " Nggak usah sebel-sebel. Lo harus percaya sama kak Gavin!"
Rhea : " Iya bawel!"
Shasa: " Rhee, gimana kalau nanti malem kita ke cafe nya Bibi. Biar Lo nggak kepikiran kak Gavin mulu. Kita ajak Ara sekalian biar rame. Gimana menurut Lo?"
Rhea : " Hmm... boleh deh. Tapi gue tanyain bunda dulu ya. Kalau dibolehin, gue kasih kabar deh!"
Shasa: " Sipp! Gue tunggu ya! Biar nanti gue hubungin Ara juga. Bye-bye Rhee!"
Rhea : " Iya, bye-bye juga Sha."
Saat panggilan telepon Shasa di akhir, Rhea segera merebahkan tubuhnya agar kembali fit untuk pergi malam ini ke cafe bersama Shasa dan Ara. Rhea tidak memikirkan lagi tentang Gavin yang belum menghubungi dia lagi sejak pagi. Rhea langsung terlelap dan masuk ke alam mimpinya dengan damai.
*****
" Malem Tante! Shasa mau jemput Rhea. Rhea nya udah minta izin kan sama Tante?" Shasa menyapa Bunda Citra saat dia memasuki kediaman Adinata.
" Malam juga Sha! Rhea udah minta izin sama tante. Yuk, masuk dulu! Tungguin Rhea di dalam aja. Anaknya juga belum keluar dari kamar." Ucap Bunda dengan ramah lalu mempersilahkan Shasa untuk masuk kedalam rumah.
" Makasih Tante cantik." Puji Shasa pada tante Citra. Tidak lupa Shasa juga menggandeng lengan bunda Citra lalu beriringan memasuki rumah itu.
Saat Shasa dan Bunda memasuki ruang keluarga, sudah ada Ayah Adinata dan Rafka yang sedang duduk sambil menikmati acara hiburan yang sedang tayang di televisi.
" Malam Om! Malam bang Rafka!!" Shasa menyapa kedua orang yang berbeda generasi itu dengan riang sambil memamerkan deretan giginya yang putih dan bersih.
" Malam juga Sha! Jawab Ayah dan Rafka bersamaan.
" Mau pergi kemana kamu Sha?" Tanya Rafka sedikit kepo pada Shasa yang sudah duduk di sampingnya.
" Rencananya sih mau main ke Teen cafe bang! Kebetulan temen aku lagi ada kerja part time di sana." Ucap Shasa jujur sambil menatap wajah Rafka yang sangat tampan malam ini. Shasa sedikit grogi karena di tatap balik oleh Rafka.
" Ooohhh gitu." Rafka hanya manggut-manggut tanda mengerti lalu kembali menatap layar televisi yang besar itu.
" Bang Rafka nggak pergi malam mingguan?" Tanya Shasa penasaran. Saat ini Rafka terlihat santai hanya memakai kaos serta celana pendek. Tidak ada indikasi yang menunjukkan Rafka akan pergi keluar malam ini.
" Abang lagi males Sha. Lagian nggak ada cewek yang di ajak. Mendingan Abang mendem di rumah aja. Kalau bosan palingan Abang main game di hp." Jawab Rafka santai sambil mengunyah keripik yang ada di pangkuan cowok itu.
" Bagus deh kalau gitu." Gumam Shasa pelan sambil tersenyum senang.
" Kamu bilang apa Sha?" Rafka kembali bertanya pada Shasa karena dia mendengar gadis itu bergumam pelan sendirian.
" Aku Nggak ngomong apa-apa bang. Hehehe..." Shasa hanya bisa tertawa cengengesan, menutupi ucapan yang tidak sengaja keluar dari mulutnya tadi.
Shasa yang tidak memiliki bahan obrolan lagi dengan Rafka, memilih ikut menonton acara yang di tayangkan di TV itu.
" Lo udah dateng Sha?" Suara keras Rhea dari arah tangga membuat Shasa sedikit terkejut karena gadis itu sedang asik menonton TV.
Saat ini Rhea telah siap pergi dengan penampilannya yang cukup simpel tapi tetap stylish. Gadis itu memakai rok tutu selutut berwarna putih, dipadukan dengan kaos simple motif berwarna kuning. Tidak lupa Rhea juga memakai sneaker putih favoritnya. Rambut panjangnya yang lurus di biarkan tergerai sehingga membuat gadis itu terlihat lebih cantik malam ini.
" Udah! Dari lebaran taon kemaren gue nungguin Lo di sini! Tapi baru sekarang Lo nongolnya!" Jawab Shasa jutek. Dia sudah menunggu Rhea selama lebih kurang 15 menit. Untung ada Rafka yang menemani Shasa di sampingnya, sehingga gadis itu tidak terlalu bosan menunggu Rhea turun dari kamar.
" Santuy Sha, jangan marah-marah! Ntar nggak gue kasih restu loh!" Ucap Rhea memperingati Shasa. Gadis itu mencibir pada Shasa yang sudah terlihat kesal karena Rhea menggodanya.
" Kamu mau kasih restu apaan Rhee?" Celetuk Rafka tiba-tiba. Ternyata cowok itu menyimak obrolan adiknya dengan sahabat baiknya itu.
" Ada deh, Abang kepo!" Jawab Rhea cepat. Rhea dapat melihat Shasa melotot sebal kearahnya. Jadi Rhea memilih tidak memberi tahu pada Rafka tentang restu yang dia maksud.
" Ya udah, jangan debat terus! Kalian jadi berangkat kan? Inget ya Rhee, pulangnya sebelum jam 10. Kalau nggak, bunda akan nyuruh bang Rafka nyariin kamu." Ucap Bunda Citra sedikit tegas. Bunda tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk, bila anak gadisnya itu pulang terlalu malam.
__ADS_1
" Sip bund!!" Jawab Rhea singkat sambil mengacungkan jempol pada Bunda.
" Jaga diri baik-baik ya nak!" Ucap ayah menambahkan.
" Oke Yah!" Rhea akhirnya menyalami semua anggota keluarga yang ada di ruangan keluarga itu lalu segera menarik Shasa keluar rumah agar bergegas menuju Teen Cafe.
*****
" Rame ya Sha!" Rhea dan Shasa baru saja turun dari Taxi. Mereka berdua dapat melihat Teen cafe saat ini begitu ramai dengan pengunjung yang rata-rata berusia remaja seperti mereka berdua.
" Iya Rhee! Tapi tenang aja, si Bibi udah siapin meja buat kita. Kuy, kita tunggu Ara di dalam aja!" Shasa langsung mengandeng lengan Rhea agar masuk ke dalam cafe. Saat mereka berdua berjalan menuju cafe, beberapa cowok yang berada di sana melempar tatapan memuji pada kecantikan mereka berdua. Tapi seolah tidak peduli, Rhea dan Shasa hanya bersikap acuh dan segera memasuki cafe itu untuk mencari Bibi.
" Bi..!" Shasa menyapa Bibi yang sedang berdiri di meja kasir. Saat melihat kedatangan Shasa dan Rhea, Bibi tersenyum senang lalu segera menghampiri kedua sahabatnya itu.
" Kok baru nyampe? Mana si Ara?" Bibi menoleh ke belakang dan tidak menemukan keberadaan Ara.
" Gara-gara ni anak Bi. Dia lelet banget." Shasa menyalahkan Rhea yang terlalu lama keluar kamar sehingga mereka berdua sedikit terlambat dari jam yang sudah disepakati. Sementara Rhea hanya memberikan cengiran nya pada Bibi tanpa membantah ucapan Shasa sama sekali.
" Si Ara katanya sih ntar lagi nyampe! Kita mau duduk dimana Bi?" Rhea segera mengalihkan topik pembicaraan agar Shasa tidak terus menyalahkannya.
" Di situ!" Ucap Bibi singkat sambil menunjuk meja yang berada di tengah-tengah cafe lalu mengiring Rhea dan Shasa untuk duduk di sana. Mereka dapat melihat Teen cafe sangat ramai malam ini. Untung Bibi sudah menyediakan meja untuk mereka, kalau tidak pasti mereka semua tidak kebagian tempat.
" Wah...ada yang main band Bi!" Ucap Rhea bersemangat. Suasana di cafe bertambah semarak dengan penampilan band yang sedang berada di atas panggung kecil yang ada di pojok cafe itu.
Saat Rhea memperhatikan lebih seksama, ternyata Rhea mengenali orang yang sedang bernyanyi dengan suaranya yang merdu itu.
" Kak Arga!" Ucap Rhea terkejut sambil menunjuk orang yang sedang bernyanyi didepan. Shasa dan Bibi yang melihat Rhea terkejut, segera mengikuti arah pandangan Rhea.
" Lo kenal sama kak Arga, Rhee?" Tanya bibi penasaran.
" Iya, dia kakak pembina OSIS gue Waktu acara ramah tamah kemaren." Ucap Rhea menjelaskan. Rhea tidak menyangka kalau Arga adalah seorang anak band. Suara Arga juga sangat bagus menurut Rhea.
" Cakep ya Rhee?" Celetuk Shasa tiba-tiba. Membuat Rhea mendelik sinis ke arah sahabatnya itu.
" Canda Rhee! Gue cuma muji dikit doang! Gue masih berminat jadi kakak ipar Lo! Hehehe.." ucap Shasa santai sambil tertawa cengengesan.
" Jangan mau punya kakak ipar model si Shasa, Rhee! Ntar Abang Lo sengsara dunia akhirat." Ledek Bibi kali ini.
" Sialan Lo!" Shasa menoyor kepala Bibi tidak terima. Sementara itu Rhea hanya bisa tergelak kecil melihat tingkah laku mereka berdua.
Saat mereka sedang menikmati lagu yang di bawakan oleh kak Arga bersama bandnya, Ara tiba-tiba muncul mengagetkan mereka bertiga.
" Woi..!!! Pada serius banget sih! Sampe nggak nyadar kalau gue udah dateng." Ara yang baru sampai di tempat itu, langsung mendudukkan dirinya di kursi sebelah Rhea.
" Markonah...kalau dateng itu kasih salam! Bukannya ngagetin!" Ucap Bibi sedikit kesal sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang karena Ara mengagetkannya tadi.
" Hehehe...sorry Bi! Btw, kalian udah pesan makanan?" Tanya Ara pada ketiga sahabatnya itu.
" Belum, kita juga baru aja nyampe." Jawab Shasa seadanya.
" Tunggu bentar ya!" Bibi segera berdiri dan meninggalkan Rhea, Shasa dan ara di meja itu.
" Yang lagi nyanyi itu, bukannya kakak kelas kita ya Rhee?" Tanya Ara pada Rhea. Ara pernah melihat Arga beberapa kali di sekolah. Dia baru menyadari setelah melihat Arga lebih lama.
" Iya, itu namanya kak Arga. Dia kakak pembina gue waktu acara ramah tamah kemaren." Jelas Rhea pada Ara lagi.
" Orangnya cakep ya! Suaranya bagus lagi!" Puji Ara kali ini. Rhea dan Shasa yang mendengarkan ocehan Ara cuma bisa tersenyum dan menganggukkan kepala membenarkan.
Saat satu lagu sudah berhasil di nyanyikan Arga dengan begitu bagus, Arga langsung menyapa semua pengunjung Teen cafe malam ini.
" Selamat malam semua. Kita dari Marvel Band. Senang bisa menghibur kalian semua di malam Minggu ini. Jika diantara kalian ada yang ingin menyumbangkan sebuah lagu atau ingin berduet dengan saya, silahkan maju ke depan ya!" Ucap Arga sambil memamerkan senyuman nya pada semua orang yang ada di Cafe itu.
Seketika semua orang yang ada di sana yang tadi nya diam mendengar ocehan arga, seketika langsung kasak-kusuk ke sesama temannya. Mereka sebenarnya ingin berduet dengan Arga, tapi malu dengan suara mereka yang pas-pasan.
Saat mereka semua belum ada yang mengajukan diri, dengan percaya diri Ara mengangkat tangan sehingga perhatian semua orang tertuju pada gadis itu termasuk Rhea dan Shasa yang sama-sama terkejut.
" Hai..kamu mau duet dengan saya?" Tanya Arga kepada gadis yang mengangkat tangan tadi.
" Bukan kak, tapi temen gue!" Ucap Ara dengan keras sambil menunjuk Rhea yang berada di sampingnya. Seketika Rhea mendelik sinis pada Ara, sementara Shasa cuma bisa tertawa cekikikan melihat Ara mengerjai Rhea.
Arga kemudian mengalihkan tatapannya pada gadis yang di tunjuk oleh temannya tadi. Seketika Arga sedikit terkejut mendapati bahwa gadis itu adalah Rhea. Seulas senyum pun langsung muncul di bibir Arga. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Rhea di cafe ini.
" Hai...kamu yang pakai baju kuning. Ayo kita duet!" Ajak Arga pada gadis pujaannya itu. Semua orang yang berada di cafe itu langsung bersorak, menyuruh Rhea agar segera naik keatas panggung untuk bernyanyi bersama Arga.
" Ayo! Ayo! Ayo!"
Teriakan semua orang, membuat Rhea dengan terpaksa berdiri dan menghampiri Arga. Tapi sebelum itu, Rhea tidak lupa mencubit lengan Ara dengan keras agar perasaan kesalnya tersalurkan.
" Awas Lo ya Ra!" Ucap Rhea sebal lalu meninggalkan kedua sahabatnya yang terkekeh geli.
Saat Rhea sudah berada di depan Arga, dia langsung menerima sebuah microphone dari kakak kelasnya itu.
" Kamu mau nyanyi apa Rhee?" Tanya Arga senang. Arga sangat bersemangat karena akan bernyanyi bersama Rhea.
" Terserah kak Arga aja!" Ucap Rhea pasrah.
Arga yang tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung membisikkan sebuah lagu yang sangat dia sukai pada Rhea. Rhea yang juga tau lagu itu langsung menganggukkan kepala setuju. Mereka berdua langsung berdiskusi sebentar dengan anggota band yang lain untuk menyepakati pilihan lagu mereka.
" Oke, kita berdua akan membawakan lagu dari Rizky febian dan Ziva Magnolya - Terlukis Indah. Enjoy this song!"
πΉπΈπ€π€
(Arga)
__ADS_1
Semenjak pertama ku jumpa dengannya
Ada rasa yang berbeda
(Rhea)
Ku tatap wajahmu tanpa ragu-ragu
Ku mulai tersipu
(Duet)
Oh inilah cinta pertama bagi diri ini oh
Takkan ada yang bisa mengganti
Semua rasa ini padamu
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Ku lukis sebuah kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir
Kini kita bersama dan mulai semuanya
Dan yakinkan hati kita berdua
Oh inilah cinta pertama bagi diri ini oh
Takkan ada yang bisa mengganti
Semua rasa ini padamu
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Ku lukis sebuah kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Ku lukis semua kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir
Ku yakin kau tahu
Bahwa kau segalanya
Ku pun merasa
Berjanjilah (berjanjilah pada diriku)
Tuk selamanya (selamanya)
Ku mulai merasakan rasa cinta
Cinta yang tumbuh di setiap saat
Ku lukis sebuah kisah yang nyata
Agar semua tak berakhir
Semua kisah terlukis indah
Kau dan aku akan selalu menyatu
Dan yakinkan hati kita berdua
Semua kisah terlukis indah
Kau dan aku akan selalu menyatu
Dan yakinkan hati kita berdua
Β
Prokk...Prokk...Prokk...
Tepukan tangan yang meriah dari semua orang yang ada di cafe itu menyambut kesuksesan Arga dan Rhea yang membawakan lagu tadi dengan sempurna.
Tapi di antara beberapa orang itu, ada tiga orang gadis yang tersenyum mengejek ke arah Rhea. Mereka sempat merekam Rhea dan Arga saat bernyanyi bersama tadi. Mereka juga mengambil beberapa foto yang memperlihatkan kedekatan Rhea dan Arga saat mereka berdua di atas panggung.
" Kita liat ntar, Lo bakalan perang sama Gavin nanti!" Seringai jahat timbul di bibir salah seorang gadis tadi. Dia seperti nya sangat membenci Rhea. Karena tidak ingin berlama-lama berada di cafe itu, gadis itu segera mengajak kedua temannya pergi.
" Makasih ya Rhee." Arga tersenyum tulus pada Rhea saat mereka berdua sudah selesai bernyanyi.
__ADS_1
" Sama-sama kak. Aku turun duluan ya kak." Rhea segera turun dari panggung kecil itu karena takut akan di suruh bernyanyi lagi. Ini pengalaman pertama bagi Rhea bernyanyi di cafe. Jadi gadis itu sangat gugup. Untung Rhea tidak sampai lupa lirik dan tidak fals dalam bernyanyi.
Arga hanya menganggukkan kepala menyetujui kepergian Rhea. Dia tidak bisa menahan gadis itu. Arga hanya bisa melihat punggung Rhea yang berlalu meninggalkannya. Dia berharap suatu hari nanti dia akan dapat bernyanyi kembali bersama Rhea.