Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
52. Satu Hari Rasa Setahun


__ADS_3

Tok...tok..tok...


" Non, ada mas Gavin di luar!" Bik Inah mengetuk pintu kamar Rhea dan memberitahukan kedatangan Gavin ke kediaman Adinata malam ini pada Rhea.


" Iya Bik, bentar lagi aku turun!" Rhea buru-buru menegakkan tubuhnya yang sedang rebahan di tempat tidur lalu segera berlari ke arah lemari untuk mengganti pakaian.


Sebelum keluar dari kamar, Rhea tidak lupa berdiri di depan cermin untuk memperbaiki penampilannya terlebih dahulu. Setelah semuanya beres, Rhea segera bergegas keluar kamar untuk menghampiri Gavin yang sedang menunggunya di luar.


Saat Rhea menuruni tangga, dia bisa melihat Gavin sudah duduk di ruang keluarga bersama Ayah Adinata dan Bunda Citra. Mereka semua tampak berbicara dengan santai dan terlihat sangat akrab satu sama lain.


" Eh...itu Rhea." Bunda menunjuk Rhea yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka semua.


" Hai kak!" Rhea memilih duduk di sebelah bunda lalu menyapa Gavin dengan ramah sambil melemparkan senyuman termanis untuk pacarnya itu.


" Hai juga Rhee! Sorry ya aku ganggu waktu istirahat kamu." Ucap Gavin tidak enak hati.


Gavin tidak bisa menahan kerinduannya untuk tidak bertemu dengan Rhea malam ini. Jadi Gavin segera menemui Rhea setelah acaranya bersama dengan Papa Ardana selesai.


" Nggak ganggu kok! Aku dari tadi cuma rebahan aja di kamar. Kak Gavin baru pulang dari acara yang tadi ya?"


Rhea memperhatikan Gavin yang masih mengenakan pakaian formal berupa kemeja dan celana bahan. Gavin terlihat sangat tampan, walaupun lengan kemeja itu di gulung sampai sebatas siku.


" Iya, habis acaranya selesai aku langsung ke sini." Jawab Gavin dengan jujur sambil tersenyum malu pada Rhea dan kedua orangtuanya.


" Gavin kangen sama kamu Rhee, makanya dia bela-belain main kesini dulu." Bunda mengedipkan matanya menggoda Rhea sehingga membuat pipi Rhea bersemu merah karena malu.


" Rhee, kamu ajak saja Gavin duduk di taman belakang. Biar kalian bisa bicara dengan santai berdua."


Ayah Adinata sepertinya paham bahwa kedua anak muda itu memerlukan waktu untuk berbicara berdua saja tanpa di ganggu dengan kehadiran orang lain.


" Iya Yah." Rhea menganggukkan kepalanya menuruti ucapan Ayah Adinata lalu segera berdiri untuk menunjukkan jalan pada Gavin.


" Makasih ya om..tante. Saya ikut Rhea dulu." Gavin membungkukkan sedikit badannya untuk menghormati kedua orang tua Rhea. Gavin lalu berjalan di belakang Rhea menuju taman.


Saat Gavin dan Rhea sudah berada di taman belakang, mereka berdua memilih duduk di bangku yang ada di depan tanaman bonsai milik Bunda Citra.


" Kak Gavin nggak capek ya, habis dari acara langsung ke sini?"


Rhea memperhatikan wajah Gavin yang terlihat sangat lelah tapi tetap memaksakan senyumannya saat menatap wajah Rhea.


" Capek aku langsung hilang habis ketemu sama kamu." Gavin mencolek hidung Rhea sambil tersenyum genit pada gadis itu.

__ADS_1


" Yee..gombal! Sorry ya kak aku nggak ada duit recehan." Rhea mendengus pelan melihat Gavin yang mencoba merayunya.


" Aku nggak gombal sayang. Aku tu kangen sama kamu. Nggak ketemu kamu sehari berasa kayak satu tahun tau nggak!" Ucap Gavin dengan serius.


Gavin memang merasakan apa yang dia sebutkan tadi untuk Rhea. Kedengarannya memang lebay, tapi begitu lah rasa rindu yang Gavin rasakan untuk pacarnya itu.


" kayak judul lagu dangdut aja omongan kak Gavin tadi." Rhea tersenyum mengejek ucapan Gavin tadi lalu segera berdiri dari duduknya.


" Kamu mau kemana Yang?" Tanya Gavin penasaran sambil memegang tangan Rhea dengan erat.


" Aku mau ambil minum dulu kak! Kak Gavin mau teh anget nggak?"


Gavin mengira Rhea sedang marah padanya karena Gavin terus menggoda gadis itu dan berniat untuk meninggalkan Gavin seorang diri di taman. Tapi ternyata Rhea ingin mengambilkan minuman untuk Gavin.


" Boleh deh! Sama cemilannya sekalian kalau ada." Ucap Gavin dengan entengnya tanpa malu sedikitpun pada Rhea.


" Oke." Rhea segera berjalan ke dalam rumah untuk mengambil minuman untuk mereka berdua.


Setelah beberapa menit berada di dalam rumah, Rhea akhirnya keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisi 2 gelas teh panas dan beberapa biskuit.


" Makasih ya!" Gavin mengusap-usap kepala Rhea dengan sayang, saat gadis itu sudah meletakkan nampan minuman di depan Gavin.


" Iya, sama-sama." Rhea tersenyum senang saat mendapat perlakuan yang lembut dari Gavin.


" Seru banget kak. Habis dari cafe kita semua langsung pergi ke bioskop. Kak Gavin tau nggak siapa yang kita temuin di bioskop tadi?"


Rhea menunggu jawaban dari Gavin untuk beberapa saat, tapi sepertinya cowok hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak tau.


" Tadi itu kita semua ketemu sama temen-temen kak Gavin di bioskop. Ternyata mereka suka nonton film Horor sama kayak aku dan sahabat aku juga."


Rhea menceritakan dengan antusias bagaimana pertemuannya dengan Azka, Alex dan Dhafi saat berada di bioskop tadi pada Gavin.


" Mereka emang suka nonton film horor. Tapi kalau aku lebih suka nonton film action. Kamu emangnya nggak takut apa nonton film Horor gitu? Nanti ke bawa mimpi Lo! Iii...serem!"


Gavin mencoba menakut-nakuti Rhea, agar gadis itu tidak menyukai film horor lagi. Gavin takut suatu hari nanti, Rhea akan memaksanya untuk menonton film horor saat mereka pergi ke bioskop bersama-sama.


" Itu kan cuma hantu bohongan kak! Kenapa mesti takut sih!"


Rhea tidak takut sama sekali saat menonton film horor. Yang ada Rhea merasakan sensasi yang berbeda saat menonton setiap adegan di film horor itu. Alur cerita yang tidak membosankan dan membuat penasaran, menjadikan Rhea sangat betah untuk menonton film itu sampai selesai di putar.


" Tapi ntar kalau kebayang pas lagi tidur gimana?" Gavin masih berusaha menakuti gadisnya itu sampai dia berubah pikiran.

__ADS_1


" Nggak mungkin lah. Aku kan tidur pules banget, jadi nggak mungkin ngebayangin hal-hal yang serem gitu." Jawab Rhea dengan pedenya.


" Terserah kamu aja deh Yang!" Gavin akhirnya menyerah untuk menakut-nakuti Rhea lagi. Sepertinya Gavin harus menyiapkan dirinya bila suatu saat Rhea mengajaknya menonton film horor ke bioskop.


" Kak, kak Azka itu Playboy kan?" Tanya Rhea tiba-tiba. Rhea menatap Gavin dengan lekat, karena ingin mengetahui bagaimana ekspresi Gavin saat Rhea membicarakan sahabatnya itu.


" Kok kamu nanya gitu? Apa jangan-jangan....?" Gavin menyipitkan matanya menatap Rhea seakan mencurigai gadis itu.


" Jangan ngomong yang aneh-aneh deh! Tadi itu, kak Azka coba deketin temen aku si Ara. Kak Azka sampe bela-belain tukeran tempat duduk sama Bibi biar dia bisa duduk deket Ara."


Rhea mencoba menjelaskan pada Gavin, agar cowok itu tidak berpikir yang macam-macam tentang dirinya.


" Ooohhh gitu! Si Azka itu emang playboy. Kamu suruh aja temen kamu itu kabur kalau si Azka deketin dia. Lama-lama pasti si Azka bakalan menyerah buat ganggu temen kamu."


Gavin tidak akan menutup-nutupi kalau Azka itu memang seorang Playboy di hadapan Rhea. Gavin khawatir temen Rhea itu akan berakhir patah hati, sama seperti cewek lain yang pernah dekat dengan Azka sebelumnya.


" Oke, aku bakalan bilang sama si Ara nanti." Rhea nampak senang karena Gavin tidak menutup-nutupi sifat buruk yang di miliki sahabatnya itu.


" Kak, udah malem banget ni! Kak Gavin pulang aja ya! Besok kan kita sekolah."


Rhea menyuruh Gavin untuk pulang ke rumahnya karena malam sudah semakin larut. Mereka besok juga harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah bersama.


" Kok kamu usir aku sih Yang? Aku kan masih kangen sama kamu." Gavin memasang tampang sedih di hadapan Rhea. Berharap gadis itu mengurungkan niatnya untuk menyuruh Gavin pulang kerumahnya.


" Aku nggak ngusir kak. Tapi kak Gavin itu perlu istirahat. Emangnya kak Gavin nggak capek apa, baru pulang dari acara sama om Ardana terus langsung ke sini. Nanti kak Gavin sakit lagi."


Rhea berusaha memberikan pengertian dengan lembut pada gavin, agar Gavin segera meninggalkan rumah Rhea.


" Ya udah deh aku pulang. Tapi kamu kasih ini dulu ya!"


Gavin menunjuk-nunjuk pipinya, seakan memberi tanda agar rhea memberikan ciuman di pipi cowok itu.


" Nggak mau." Rhea menggelengkan kepalanya dengan keras, menolak permintaan Gavin tadi.


Gavin hanya bisa menghela nafas berat, karena permintaannya di tolak oleh Rhea. Gavin tidak akan memaksa kalau Rhea memang tidak mau memberikannya sebuah ciuman.


Gavin dan Rhea kemudian berdiri dan pergi meninggalkan taman belakang itu. Gavin akan berpamitan terlebih dahulu pada kedua orang tua Rhea sebelum meninggal kediaman Adinata.


Setelah Gavin berpamitan dengan kedua orang tua Rhea, Rhea mengantarkan Gavin sampai di depan mobilnya yang terparkir di halaman rumah Rhea.


" Kak Gavin hati-hati ya! Sampai ketemu besok." Rhea melambaikan tangannya saat Gavin akan memasuki mobilnya.

__ADS_1


" Iya sayang." Gavin membalas lambaian tangan Rhea lalu segera memasuki mobilnya. Gavin menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang, lalu segera meninggalkan kediaman Adinata.


__ADS_2