
Malam ini sekitar jam 8, seperti biasanya Gavin baru pulang ke rumahnya. Rumah yang tidak kalah mewah dari rumah Alex. Rumah yang penuh dengan kenangan bersama sang mama tercinta.
Tetapi malam ini sepertinya langkah Gavin terasa berat untuk memasuki rumah itu. Alasannya karena Gavin melihat sebuah mobil Alphard berwarna hitam yang sudah terparkir di teras dan pasti papanya sudah berada di dalam rumah.
Dengan memasang ekspresi yang dingin dan datar, Gavin akhirnya memberanikan diri memasuki rumah tersebut.
Tanpa mengucapkan salam, Gavin langsung masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan papanya yang sedang duduk di ruang tamu untuk menunggunya pulang.
" Dari mana saja kamu Gavin?? Jam segini kamu baru pulang!! Papa udah lama nunggu kamu."
Papa Gavin yaitu Ardana Wijaya mulai berdiri dari duduknya setelah melihat anak semata wayangnya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam dan terkesan mengabaikannya.
" Untuk apa papa tanya aku dari mana?? Biasanya papa nggak pernah peduli aku dari mana atau pulang jam berapa. Jangan Sok perhatian sama aku pa. Aku nggak butuh."
Gavin menjawab dengan dingin pertanyaan papa Ardana. Gavin yang ingin melanjutkan langkah nya menuju kamar yang berada di lantai atas tiba-tiba tertahan oleh seruan sang papa.
" Tunggu Vin!!! Apakah kamu tidak bisa bersikap baik sama papa. Tidak mengacuhkan papa seperti ini Vin!!"
Papa Ardana berbicara lirih sambil menatap Gavin, sedangkan Gavin langsung membuang mukanya ke arah lain.
" Sudah 2 tahun sejak mama kamu meninggal kamu nggak pernah sekalipun mau mendengarkan papa. Kamu selalu menghindar seperti ini. Setidaknya beri papa kesempatan untuk jadi papa yang baik buat kamu setelah mama kamu nggak ada Vin!!!"
Papa Ardana masih berusaha membujuk Gavin agar tidak lagi mengacuhkannya. Pria paruh baya itu hampir frustasi melihat sikap keras kepala Gavin.
" Apa papa bilang?? Menjadi papa yang baik buat aku??? Maaf pa, udah telat. Sejak mama meninggal, aku juga udah anggap papa meninggal. Jadi mari kita jalani hidup kita masing-masing."
Gavin berbicara dengan emosi sambil menatap tajam mata papa Ardana.
Mendengar apa yang diucapkan Gavin membuat papa Ardana sangat terkejut.
Begitu besar benci yang Gavin rasakan untuknya. Gavin membeci papa nya yang terlalu sibuk memikirkan uang, sampai-sampai dia melupakan keberadaan anak dan istrinya.
" Papa minta maaf Sama kamu kalau selama ini papa tidak pernah memberikan perhatian buat kamu sama mama kamu."
Papa Ardana menjeda ucapan nya sambil menahan air mata yang hampir turun di pipinya.
" Papa selama ini hanya sibuk mencari uang. Dulu papa mengira dengan uang yang banyak bisa membuat kamu dan mama kamu akan hidup bahagia tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi ternyata papa salah vin."
Akhirnya air mata yang coba di tahan papa Ardana luruh juga. Dia kembali teringat kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu.
__ADS_1
Sementara Gavin yang melihat air mata papa Ardana hanya bisa diam dan mencoba meredam emosinya yang sempat naik tadi.
" Setelah mama kamu nggak ada, papa sangat menyesal Vin. Setidaknya beri papa kesempatan untuk memperbaiki semuanya Vin???"
Papa Ardana menatap mata Gavin dengan tulus dan tidak ada kebohongan disana.
" Aku capek pa!! Aku nggak mau bahas ini lagi."
Gavin berusaha menghindar dari papa Ardana. Gavin sepertinya masih butuh waktu untuk memaafkan kesalahan yang pernah papa Ardana buat di masa lalu.
Saat mereka sama-sama terdiam, Gavin memutuskan meninggalkan papa Ardana seorang diri.
Papa Ardana yang melihat kepergian Gavin hanya menatap punggung putra nya dengan sendu sambil mengusap air mata nya yang masih menetes.
Setelah memasuki kamar, Gavin membuang tas dan sepatu nya secara asal di lantai kamar. Gavin lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas tempat tidur.
Gavin berusaha memejamkan mata, agar bisa melupakan sejenak kejadian yang dia alami seharian ini.
Kejadian dimana dia bertemu lagi dengan Rhea dan mengalami penolakan dari gadis itu.
Serta malam ini, Gavin juga bertemu dengan papa Ardana yang selama ini dia hindari. Orang yang menurut Gavin menjadi penyebab dia dan mamanya tidak bahagia sampai akhirnya mama Gavin meninggal dunia.
" Den Gavin nggak makan malam??? Mau si mbok antar ke kamar??"
Seorang wanita tua yang berusia sekitar 55 tahun bertanya pada Gavin dengan sopan. Dia adalah mbok Darmi. Mbok Darmi merupakan asisten rumah tangga yang sudah bekerja saat Gavin masih kecil.
" Nggak usah mbok, aku udah makan tadi di rumah Alex!!"
Gavin menjawab dengan lembut pertanyaan mbok Darmi. Gavin sangat menyayangi mbok Darmi sama seperti mamanya sendiri. Apalagi setelah mamanya tiada, mbok Darmi Yang menjadi tempat keluh kesah Gavin selama ini.
" Yang bener den Gavin udah makan?? Ntar maag nya kambuh Loh den?? Kalau ada perlu apa-apa panggil mbok aja ya den!! Kalau mbok udah tidur bangunin aja. Jangan sungkan ya den??"
Perlakuan mbok Darmi yang baik dan perhatian pada Gavin, membuat dia tersenyum senang.
" Iya mbok, bawel amat sih!!! Ntar aku bangunin kalau aku butuh sesuatu. Si mbok tenang aja. Aku mau lanjutin tidur lagi. Si mbok ganggu tidur aku aja, padahal aku lagi mimpiin cewek cantik tadi."
Gavin berbicara asal sehingga mbok Darmi tergelak senang mendengar ocehan Gavin.
" Cewek nya secantik neng geulis yang pernah den Gavin bawa kesini nggak?? Siapa namanya den?? Si mbok lupa."
__ADS_1
Mbok Darmi mencoba mengingat gadis yang pernah Gavin bawa ke rumah untuk menemui mbok Darmi saat Gavin masih SMP.
Gavin yang di tanyai Rhea mendadak jadi salah tingkah.
" Ihhh si mbok, masih inget aja cewek yang dulu. Emang dia cantik ya mbokk??"
Gavin bertanya karena penasaran dengan penilaian mbok Darmi terhadap Rhea.
" Ya cantik lah den!! Mana anak nya sopan lagi. Cocok sama den gavin yang ganteng."
Mbok Darmi menggoda Gavin sambil menjawil dagunya.
" Kapan-kapan bawa kemari lagi atuh den??? Si mbok jadi kangen sama si Eneng. Dulu kalau nggak salah dia pernah bawa brownies kesini kan den? Brownies nya enak Lo den, si Eneng sendiri yang bikin katanya."
Mbok Darmi berbicara panjang lebar sambil terus mengingat kenangan terakhirnya saat bertemu dengan Rhea.
" Nama nya Rhea, mbok. Mudah-mudahan Rhea mau kesini lagi ya mbok. Soalnya dia lagi marah sama aku sekarang. Doain aja supaya kita baikan lagi."
Gavin meminta doanya pada mbok Darmi.
" Aminnn, mbok doain supaya neng rhea nya nggak marah lagi sama den Gavin. Makanya den Gavin jangan nakal-nakal, ntar neng Rhea nya di ambil orang."
Mbok Darmi memberikan nasehat yang di balas anggukan kepala oleh Gavin.
" Iya mbok, aku nggak akan nakal lagi. Aku masuk dulu ya mbok. Selamat malam mbok."
Gavin mencium pipi si mbok sekilas dan langsung menutup pintu kamar nya lagi.
Sedangkan mbok Darmi yang di cium pipinya cuma tersenyum senang melihat tingkah Gavin.
Setelah masuk kamar, Gavin kembali berbaring di tempat tidurnya. Sambil melipat tangannya di belakang kepala Gavin memandang atap kamar yang kosong.
Gavin memikirkan apa yang harus dilakukannya esok hari untuk kembali merebut hati Rhea. Gadis yang selama ini tidak pernah hilang dari hati Gavin.
Setelah hampir 15 menit Gavin berfikir dengan keras, akhirnya Gavin memiliki ide untuk menjemput Rhea untu pergi sekolah bersama besok pagi.
Tentu saja Rhea tidak akan bisa menolaknya, karena Gavin akan langsung meminta izin pada orang tua Rhea. Ayah Rhea dan papa nya Gavin adalah teman semasa kuliah dulu dan pastinya dia tidak akan ditolak oleh kedua orang tua Rhea.
" Nggak sabar nunggu besok pagi Rhee, kamu nggak akan bisa nolak aku lagi kali ini."
__ADS_1
Gavin berbicara sendirian sambil tersenyum senang. Kemudian Gavin berusaha memejamkan mata dengan cepat agar bisa bangun lebih awal untuk menjemput Rhea esok hari.