
" Lo mau kemana Vin?" Alex melihat Gavin segera berdiri dan menyambar tas nya saat jam pelajaran telah usai.
" Gue mau anter Rhea balik! Ntar gue nyusul ke basecamp." Gavin mengangguk sekilas dan meninggalkan Alex di dalam kelas.
Saat Alex hendak berdiri dan mengambil tasnya, datang Dhafi dan Azka menghampiri cowok itu.
" Gavin mana Lex?" Dhafi melihat sekeliling kelas dan tidak menemukan keberadaan Gavin.
" Gavin mau anter Rhea balik. Ntar dia nyusul ke basecamp."
Dhafi dan Azka hanya menjawab "Ooh" sambil menganggukkan kepala. Lalu mereka bertiga meninggalkan kelas yang mulai sepi.
*****
" Rhee, Lo udah di izin Ama bunda Lo mau pergi ke cafe??" Ara bertanya pada Rhea sambil membereskan buku yang ada di meja lalu memasukan nya ke dalam tas.
" Gue udah kirim pesan sama bunda. Bunda izinin sih tapi pulangnya nggak boleh lewat dari jam 5." Rhea sudah membaca pesan dari bunda saat jam pelajaran usai.
" Gue juga udah izin sama mama. Yuk kita tunggu Shasa dan Bibi di luar." Rhea dan Shasa menyampirkan tas di bahu masing-masing.
Saat mereka berdua sudah berada di luar kelas, Shasa dan Bibi datang sambil melambaikan tangan senang.
" Seneng banget keliatannya nya bi??" Tanya Ara kepo pada Bibi.
" Iya dong. Lo tau nggak si Shasa ternyata Army sama kayak gue." Bibi baru mengetahui kalau shasa adalah army sama seperti dirinya.
" Yeee...telat amat tau nya bi. Kita berdua juga Army kali." Rhea memberikan fakta yang membuat Bibi terkejut.
" Serius Lo berdua Army?? Gue biasnya Jungkook Oppa. Kalau Lo berdua siapa??" Bibi bertanya dengan antusias pada Rhea dan Ara.
" Kalau gue Kim Namjoon Oppa. Soalnya dia punya dimple sama kayak gue. Hahaha.." Rhea tertawa senang sambil menunjukkan dimple nya yang sama persis dengan biasnya.
" Kalau gue Kim Seok Jin Oppa. Keren kan Bi??" Ara juga tidak mau kalah membanggakan biasnya.
" Lebih kerenan Kim Taehyung Oppa." Shasa juga tidak mau kalah.
" Udah-udah!! Semua Oppa kita sama-sama keren. Waahhh kalau Oppa kita ke indo, kita tengokin bareng ya??" Bibi mulai berkhayal tentang kedatangan boyband BTS ke indonesia.
" Boleh deh, mana tau gue langsung di bawa pulang ke Korea sama Oppa gue." Shasa juga berkhayal sama seperti Bibi.
" Heyy...jangan pada halu lo berdua!! Jadi pergi ke kafe nggak ni??" Rhea menyadarkan keduanya dari kehaluan yang nggak penting.
" Iya, sabar Napa. Gangguin orang lagi ngehalu Aja!! Kuy berangkat girls!!" BIbi memimpin rombongan para gadis sambil berjalan dengan lemah gemulai.
"Rhe...Rhe...Rhea!!"
Teriakan seorang cowok yang berada di belakang, membuat mereka menghentikan langkah dan berbalik.
" Kak Gavinn!!" Teriak Bibi terkejut.
Sedangkan Rhea, Shasa dan Ara hanya saling lirik dan kemudian terdiam saat Gavin sudah sampai di hadapan mereka.
" Lo bareng sama gue ya Rhee!!" Gavin datang menghampiri Rhea untuk pulang bersama.
" Sorry kak, Rhea mau pergi ke kafe sama kita-kita." Shasa yang mewakili Rhea menjawab pertanyaan Gavin.
" Lo udah izin sama Tante Citra??" Gavin kembali bertanya pada Rhea yang masih diam tidak menjawab.
" Rhea..." Ucapan Shasa tiba-tiba di potong oleh Gavin.
" Gue nggak nanya sama Lo!" Gavin memberikan tatapan tajam pada Shasa sehingga gadis itu mengunci mulutnya dengan rapat.
" Jawab Rhee? Lo udah izin??" Gavin belum menyerah sampai Rhea membuka mulutnya.
Sambil menahan kekesalan hati, Rhea menjawab pertanyaan Gavin dengan malas. " Gue udah izin sama bunda tadi. Jadi gue pulang bareng mereka aja."
" Lo mau ke cafe mana??" Gavin masih mengintrogasi Rhea dengan pertanyaan.
" Kita mau ke Teen cafe kak. Bibi mau traktir mereka semua." Bibi yang kini menjawab pertanyaan dari Gavin dengan senang. Bibi tidak menyangka bisa berbicara langsung dengan cowok paling populer di sekolah.
Mendengar jawaban dari Bibi membuat Gavin menghela nafas berat. Padahal niatnya pulang bersama Rhea hari ini agar dia dapat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu.
" Lo mau pulang jam berapa?? Nanti gue jemput!!" Gavin masih berusaha untuk mengantarkan Rhea pulang.
" Rhea pulang jam 5 kak, soalnya nggak boleh pulang terr....awww!!" Ara mendapat cubitan dari Rhea karena memberitahukan jam kepulangannya pada Gavin. Sambil memasang cengiran kuda, Ara mengusap tangannya yang terasa sakit.
" Oke, nanti gue jemput. Lo jangan kemana-mana ya Rhe!!" Gavin kemudian maju sambil mengusap kepala Rhea dengan sayang lalu berbalik meninggalkan Rhea yang diam terpaku dengan debaran jantung yang tidak karuan.
" Wahh...sumpah demi apa, kak Gavin sweet bangits sis!!" Bibi berteriak histeris setelah kepergian Gavin.
" Rhe...sadar Rhe..!! Orangnya udah cabut!!" Shasa menepuk pipi Rhea yang masih terkejut dengan ulah Gavin barusan.
__ADS_1
" Gue juga pengen digituin dong. Bikin hati ambyarrr deh." Ara tersenyum senang sambil membayangkan dirinya diposisi Rhea.
" Pada jadi pergi ke cafe nggak ni?? Kalau nggak gue juga cabut deh!!" Shasa yang hendak pergi, ditahan oleh Bibi.
" Isshh...Lo nggak sabaran banget sih! Kuy lah girls!! Cafe we are coming!!!" Akhirnya mereka berempat pergi menuju kafe dengan hati riang.
****
" Wahh...kafenya bagus banget Bi." Shasa berdecak kagum menatap dekorasi kafe yang baru mereka masuki.
" Iya dong, pilihan Bibi nggak pernah salah deh!!" Kita duduk disitu yuk!!" Bibi menunjuk meja yang berada di bagian dalam kafe.
Rhea, Ara dan Shasa hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki Bibi menuju meja itu.
" Kalian mau pesen apa??" Bibi dan teman-temannya mulai membuka buku menu dan langsung memilih makanan yang mereka sukai.
Saat mereka telah menentukan makanan yang mereka pilih, Bibi memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka masing-masing.
" Di cafe ini ada live music juga loh girls setiap malam Minggu. Jadi kalau kalian mau hang out bareng pacar jangan lupa mampir kesini ya!!" Bibi mempromosikan Teen cafe pada ketiga teman barunya layaknya SPG dadakan.
" Pinter banget sih Bi promosiin cafe nya. Lo yang punya ya??" Ara bertanya penuh selidik sambil memicingkan matanya pada Bibi.
" Bukan punya gue, tapi punya kakak sepupu gue. Namanya mas Brian. Tu orang nya." Bibi menunjuk seorang pria yang sedang berdiri didepan meja bar cafe dan memanggil pria itu untuk menghampiri meja mereka.
" Hai mas Brian! Makin cakep aja. Liat ni Bibi bawa teman-teman sekolah. Ini Shasa, ini Rhea dan ini Ara." Bibi memperkenalkan ketiga sahabatnya dengan antusias pada mas Brian.
" Hai mas Brian!!" Ketiga gadis itu kompak menyapa Brian dengan ramah.
" Hai juga semua. Wah..temen kamu pada cakep-cakep ya. Kamu doang yang burik. Kenapa kalian mau temenan sama Bibi?? Kalian nggak di paksa kan??" Mas Brian sengaja meledek Bibi agar cowok itu kesal.
" Nggak maksa sih mas tapi cuma nyogok makan gratisan di cafe. Yah terpaksa deh nerima Bibi jadi temen. Hahaha..". Mereka bertiga dan mas Brian kompak menertawakan Bibi yang mukanya ditekuk sebal.
" Mas kita mau dengerin lagu BTS dong. Puterin ya mas!!" Bibi merequest lagu kesukaannya pada mas Brian.
" Sipp, mas tinggal ke dalam dulu ya. Jangan lupa promosiin Teen cafe di sosmed kalian ya. Nanti mas kasih diskon buat kalian semua. Oke!!" Mas Brian mengangkat jempolnya dan pergi meninggalkan mereka semua.
" Oke mas!!" Mereka berempat kompak menjawab permintaan mas Brian sambil tersenyum senang.
Saat mereka masih duduk menunggu pesanan datang, terdengar sebuah lagu dari boyband BTS yang berjudul Permission To Dance.
" Wahh...mas Brian emang top deh. Ayo girls let's dance." Bibi memberi aba-aba pada teman-temannya saat lagu di putar. Mereka semua menjadikan tangan mereka sendiri sebagai mic dadakan.
" Asyik banget ya lagu nya guys. Bikin tambah semangat." Mereka berempat masih menggerakkan tubuh mengikuti irama musik tanpa mempedulikan keadaan sekitar yang menatap mereka keheranan.
Mereka kompak menyantap makanan yang baru sampai itu dengan lahap. Mereka kehabisan tenaga akibat ngedance lagu BTS yang easy listening.
" Makanan enak ya Bi. Nggak nyesel gue ikut sama Lo. Mantep!!" Rhea mengangkat jempolnya memuji Bibi.
" Bagus deh kalau kalian suka. Besok-besok kita kesini lagi ya!!" Bibi menatap ketiga gadis itu menunggu jawaban.
" Iya Bi boleh. Tapi kalau elo yang bayarin ya!! Hahaha.." Shasa tertawa senang karena menggoda Bibi.
" Yeee...mau nya gratisan Mulu." Bibi memonyongkan bibirnya kesal pada ucapan Shasa.
" Canda bi. Jangan manyun gitu. Tambah jelek Lo!!" Shasa sepertinya tidak puas untuk tidak menggoda Bibi.
" Sialan Lo." Bibi hanya menjawab singkat godaan Shasa dan kembali melanjutkan makannya.
" Ehh...Lo semua pada ngerasa aneh nggak sama semua cewek yang ada disini. Dari tadi mereka semua pada noleh kebelakang terus Loh. Mereka pada liatin apaan sih??"
Ara merasa heran dengan semua gadis yang berada di Teen cafe sepertinya sedang terhipnotis dengan seseorang yang duduk di belakang meja mereka.
" Masak iya Ra??" Bibi memperhatikan sekitar dan ternyata benar gadis-gadis itu sedang mencuri-curi pandang ke arah belakang.
" Ternyata bener yang Lo bilang Ra. Gue juga pengen liat ahh..!!" Bibi membalikkan tubuhnya dan menatap sekilas cowok yang sedang duduk tenang dibelakang mereka. Seketika Bibi terkejut dan menatap kembali ketiga sahabatnya dengan serius.
" Ohh my God!! Girls itu kak Gavin. Patesan mereka semua liat kebelakang terus. Ternyata ada cowok cakep pake banget girls!!"
Ketiga gadis itu langsung shock dan memutuskan untuk menoleh kebelakang guna memastikan apakah benar apa yang dilihat oleh Bibi.
Dan ternyata yang dilihat Bibi benar adanya. Gavin sudah duduk manis dibelakang mereka sambil meminum segelas jus.
Mereka tidak menyangka Gavin akan datang ke cafe itu dan mereka yakin hanya satu alasan kenapa Gavin sampai berada di sana. Itu semua pasti karena menunggu Rhea.
" Ciee...Rhea yang di ikutin ama yayang." Shasa menggoda Rhea hingga membuat pipi gadis itu bersemu merah karena malu.
" Dasar penguntit" Rhea mendumel sendiri tapi masih bisa didengar oleh ketiga sahabatnya itu.
" Iya Rhee, Penguntit Ganteng!! hahaha.."
Ketiga teman Rhea kompak tertawa senang melihat ekspresi Rhea yang berubah manyun karena kesal.
__ADS_1
" Sejak kapan Lo sama kak gavin jadian Rhee?? Ternyata bener gosip yang gue denger kemarin. Kak Gavin cowok paling populer di sekolah udah punya pacar anak kelas 10. Wah...hari patah hati nasional ini mah." Bibi mengerucutkan bibinya kecewa.
" Lo kayak admin Lambe Turah aja Bi, pakai gosip-gosip segala." Ara meledek Bibi yang masih manyun nggak jelas.
" Gue sama kak Gavin nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma kenal gitu aja. Nggak lebih!!" Rhea menjelaskan hubungannya dengan Gavin secara singkat pada Bibi.
" Tapi yang gue liat nggak kayak gitu deh Rhee? Kayak ada something gitu??" Tanya bibi penuh selidik sambil memicingkan mata.
" Sok tau Lo!! Kuy kita cabut!! Gue udah nggak mood ada disini." Rhea mulai bosan dengan semua pertanyaan dari Bibi. Ditambah lagi kehadiran Gavin membuat mood nya berantakan. Rhea mulai berdiri dan mengambil tas nya.
" Tungguin kita Rhee! Gara-gara Lo ni Bi. Rhea jadi bete kan Lo tanyain mulu." Shasa mengikuti langkah Rhea menuju luar cafe begitupula dengan Ara.
" Ishh...kok Bibi di salahin sihh!! Ya udah kalian tunggu diluar ya, bibi mau bayar dulu." Bibi juga berdiri dan menghampiri mas bibi yang sudah duduk manis di meja kasir.
****
" Rhe...jangan ngambek Mulu ihh!! Jelek banget tau!!" Shasa membujuk Rhea yang masih diam sambil menyilangkan tangan di depan dada.
" Iya Rhee, ntar cakep nya hilang Lo??" Ara juga ikut membujuk Rhea yang masih tetap diam walaupun terus digoda.
Mereka bertiga sudah berada di luar cafe sedang menunggu kedatangan Bibi yang sedang membayar makanan mereka semua.
" Gue kesel aja sha. Dia selalu aja ganggu hidup gue. Padahal gue kan nolak dia. Tapi tetap aja ngeyel." Rhea mengeluh pada Shasa tentang apa yang dia rasakan pada Gavin.
" Yakin Lo Rhee beneran nggak suka lagi sama kak Gavin?? Ntar kalau dia jauhin Lo, ntar Lo nya sedih lagi truss na....." Mulut Shasa langsung ditutup oleh kedua tangan Rhea agar berhenti bicara.
" Terus apa lagi Sha??" Ara sangat kepo dengan kelanjutan omongan Shasa tadi.
" Ishh...diam nggak Sha!!" Rhea melotot sebal sambil mengancam Shasa. Sedangkan Shasa hanya tertawa cekikikan melihat ekspresi Rhea.
" Ya nangis dong Ra. Apalagi...awww.." Shasa kembali menghentikan ucapannya karena dicubit Rhea.
" Jahat banget Lo Rhee. Sakit tau!!" Shasa cuma bisa mengelus tangan nya yang terasa perih akibat cubitan Rhea.
Sedangkan Ara tertawa senang melihat penderitaan Shasa.
" Ehh...Bibi tu!! Dia keluar bareng kak Gavin." Ara menunjuk Bibi dan Gavin yang baru keluar dari cafe dan berjalan mendekati mereka.
" Ehhh...Lo semua harus bilang makasih sama kak Gavin. Soalnya dia yang bayarin makanan kita semua. Hehehe.." Bibi tertawa cengengesan karena tidak jadi mengeluarkan duit jajannya untuk mentraktir mereka semua. Sementara Rhea, Shasa dan Ara langsung cemberut mendengar pernyataan Bibi barusan.
" Lo kok gitu sih Bi! Kalau nggak niat traktir jangan ajak kita kesini dong!! Kan jadi nggak enak sama kak Gavin." Shasa mengajukan protes pada Bibi sambil menggerutu sebal.
" Ihh..nggak gitu ceritanya. Kak Gavin yang maksa buat bayarin. Bibi kan jadi nggak enak nolak nya." Bibi memberikan alasan agar ketiga temannya menerima traktiran dari Gavin.
" Sorry...gue yang maksa bibi supaya mau nerima traktiran gue." Gavin akhirnya menjelaskan yang sebenarnya kepada ketiga gadis itu.
Akhirnya mereka bertiga hanya bisa pasrah menerima dan megucapkan "terima kasih" kepada Gavin dengan tulus.
" Rhee...ayo pulang. Ntar Lo di cariin Tante Citra." Gavin akan menarik tangan Rhea, tetapi gadis itu segera menghindar.
" Gue pulang bareng Shasa aja. Iya kan Sha??" Rhea mengapit lengan Shasa dan mencoba meminta bantuan agar terhindar dari Gavin.
" Ee....iya kak. Rhea pulang bareng gue." Shasa nampak takut melihat sorot mata Gavin yang mengintimidasi.
" Sorry...tapi gue udah janji sama orang tua Rhea bakal anter dia balik dengan selamat." Gavin tidak menyerah begitu saja dengan semua tindakan yang Rhea perbuat.
" Ohh..gitu ya kak. Ya udah bawa aja Rhea nya." Shasa melepaskan tangan Rhea dari tangannya secara paksa. Shasa malas berdebat terlalu lama dengan Gavin. Shasa juga ingin segera pulang agar bisa beristirahat dengan nyaman dirumahnya.
Rhea hanya menghela nafas lelah. Percuma dia melawan Gavin. Cowok itu tidak akan melepaskan Rhea dengan mudah.
" Ya udah guys, gue balik dulu ya. Sampai ketemu besok!!" Rhea melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya dan mulai mengikuti Gavin yang berjalan menuju motornya yang sedang terparkir.
" Ni helm Lo Rhe! Mau gue pakein??" Gavin menyodorkan helm pada Rhea sambil menggoda gadis itu agar mau sedikit tersenyum.
" Nggak usah!! Gue bisa sendiri." Rhea mengambil helm di tangan Gavin lalu memasangkan sendiri ke kepalanya.
" Ayo Rhee, jangan lupa pengangan." Gavin tersenyum senang karena berhasil mengajak Rhea pulang bersama.
"Dasar penguntit" Rhea hanya bergumam kecil saat menaiki motor besar Gavin.
" Tapi ganteng kan Rhee?? Hahhaa" Gavin membalas gumaman Rhea tadi sambil tertawa senang.
Rhea yang mendengar ocehan Gavin hanya memasang wajah cemberut lalu menepuk pundak Gavin dengan keras. "Ayo buruan!! Lelet amat sih!!"
Gavin hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Rhea lalu menyalakan motornya meninggalkan Teen cafe.
Sementara ketiga teman Rhea, hanya bisa melihat kepergian mereka dengan perasaan senang.
" Asyik ya Sha, jadi Rhea?? Dianterin pulang sama babang tampvan." Bibi menyandarkan kepalanya pada bahu Shasa.
" Iri..bilang boss!!Hahaha..." Shasa tertawa senang berhasil meledek Bibi.
__ADS_1
" Ya udah, kita juga balik yuk. Tu ada taksi." Ara menunuju taksi yang akan melintas.
" Kuy girls." Bibi mengapit lengan Shasa dan Ara bersamaan dan meninggalkan Teen Cafe menuju rumah masing-masing.