Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
62. Rafka Yang Sangat Menyebalkan


__ADS_3

Hari Minggu siang di kediaman keluarga Adinata terlihat begitu sepi. Ayah Adinata dan Bunda Citra sedang pergi menghadiri sebuah acara seorang kerabat jauh di luar kota. Sementara Rhea dan Rafka yang tidak ikut bersama kedua orangtuanya, memilih berdiam diri di rumah sambil melakukan kegiatan masing-masing.


Contohnya saat ini Rafka sedang asyik tidur selonjoran di sofa ruang keluarga sambil menyaksikan televisi. Rafka menikmati hari Minggu nya yang tenang dengan menikmati semua jenis cemilan yang sudah tersedia di meja. Rafka juga sesekali tertawa saat menyaksikan tingkah konyol para pelakon dalam drama yang dia tonton di televisi.


Sementara Rhea yang baru saja mandi, langsung keluar dari kamar karena perutnya merasa lapar. Rhea tadi melewatkan sarapan paginya karena dia ingin tidur lebih lama di hari Minggu yang cerah ini.


Saat menuruni tangga, Rhea bisa melihat Rafka masih tidur-tiduran di sofa sambil menikmati cemilannya. Rafka sepertinya tidak menyadari kedatangan Rhea karena Rafka terlalu fokus menonton televisi. Tiba-tiba sebuah ide untuk mengejutkan Rafka terlintas di pikiran Rhea. Gadis itu berjalan mengendap-endap menuju ruang keluarga sambil melirik Rafka yang masih sibuk dengan kegiatannya.


Dddooorrr...


Rhea menepuk pundak Rafka dengan keras, hingga pemuda itu terkejut dan jatuh terjungkal ke bawah sofa. Rhea sampai tertawa dengan keras melihat ekspresi Rafka yang sangat lucu saat terjatuh tadi.


Sedangkan Rafka mengumpat kesal, sambil mengusap bokongnya yang sakit karena mendarat di lantai dengan cukup keras.


" Sialan kamu Rhee!" Rafka berusaha berdiri agar bisa duduk di sofa lagi. Tapi karena bokongnya masih sakit, Rafka jadi terlihat kesusahan untuk berdiri. Rhea yang tidak tega melihat Rafka meringis kesakitan akhirnya mengulurkan tangannya untuk membantu Rafka.


" Sorry bang! Hehehe.." Rhea masih tertawa cengengesan di hadapan Rafka padahal Abangnya itu sudah memelototinya dengan kesal.


Ketika Rhea sudah selesai membantu Rafka untuk duduk kembali di sofa, Rhea langsung berbalik meninggalkan Rafka menuju dapur. Rhea akan meminta tolong pada Bik Inah agar segera menyiapkan makan siang karena perutnya sudah minta jatah untuk diisi.


" Rhee...tunggu!" Seru Rafka dengan tegas sambil menatap tajam adiknya itu.


Rhea langsung menghentikan langkahnya menuju dapur dan berbalik menatap Rafka keheranan. Rhea dapat melihat kalau Rafka sedang memindai penampilannya dari atas ke bawah dengan seksama.


" Baju siapa yang kamu pake Rhee?" tanya Rafka lagi. Rafka memperhatikan Rhea yang sedang memakai pakaian yang tidak seperti biasanya saat gadis itu berada di rumah.


Rhea terlihat menggunakan atasan crop top lengan pendek berwarna biru muda yang memperlihatkan pinggang nya ramping. Lalu Rhea memadu padankan dengan celana hot pant blue jeans yang hanya sebatas setengah paha, sehingga penampilan Rhea terlihat lebih seksi saat ini.


" Ya, baju aku lah bang. Bagus kan bang?" Rhea berputar-putar di hadapan Rafka, membuat Rafka menatap jengah adik satu-satunya itu.


" Nggak! Buruan ganti!" Rafka memberikan perintah pada Rhea sambil menunjuk ke arah kamar Rhea yang berada di atas. Rafka sangat risih melihat cara berpakaian Rhea yang terlalu terbuka menurut pandangannya itu. Kalau gadis lain yang memakai pakaian seperti itu mungkin Rafka akan cuek dan memilih tidak menghiraukan orang itu. Tapi karena ini adiknya sendiri, jadi Rafka tidak bisa untuk tidak menghiraukannya.


" Ihh...nggak mau. Baju ini kan oleh-oleh dari Shasa waktu balik dari Korea. Aku belum pernah pake sekalipun. Jadi Abang jangan ngatur aku!" Ucap Rhea dengan ketus sambil menatap Rafka dengan sengit.


" Kamu berani ngelawan Abang?" Rafka langsung berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Rhea. Rafka terlihat kesal sekali karena Rhea tidak mengikuti perintahnya.


" Bodo amat!" Rhea menjulurkan lidahnya dan segera berlari menuju dapur.


" Eh...berani kamu ya! Pokoknya Abang nggak mau tau, tuker bajunya sekarang!" Perintah Rafka dengan tegas.


" Nggak mau!!" Teriak Rhea dari arah dapur.


Rafka yang mulai kesal karena ulah Rhea, akhirnya menghampiri adiknya itu di dapur dan menyeretnya menuju lantai atas untuk berganti baju.


" Lepasin Bang! Aku nggak mau ganti baju!" Rhea masih menolak keinginan Rafka dengan berusaha sekuat tenaga agar tidak bisa diseret oleh Abangnya itu.


" Pokoknya ganti!" Rafka semakin menarik tangan Rhea dengan keras hingga mereka berdua sampai di depan tangga.

__ADS_1


Saat adegan tarik paksa itu sedang berlangsung, bel rumah tiba-tiba berbunyi dan membuat aksi Rafka terhenti untuk sesaat.


" Ada tamu Bang. Buruan bukain pintunya!" Perintah Rhea dengan cepat agar Rafka menghentikan niatnya untuk memaksa Rhea berganti baju.


" Biar Bik Inah yang bukain. Kamu cepetan ikut Abang ganti baju! Bener-bener norak banget selera temen kamu itu. Pilih baju kekurangan bahan gini. Sampe bisa pamerin udel segala lagi."


Rafka terus saja mengomel sambil menarik paksa lagi tangan Rhea. Rafka berjanji akan menegur Shasa nanti saat gadis itu main ke rumah mereka lagi.


Ketika Rafka dan Rhea masih saja berdebat di depan tangga, bik Inah sudah membukakan pintu dan membawa tamu itu masuk ke dalam rumah mereka.


" Den...Non...ada den Gavin datang." Ucap Bik Inah dengan sopan kepada kedua anak majikannya itu.


Saat mendengar nama Gavin di sebut, kedua orang itu langsung mengalihkan pandangannya pada Gavin yang sedang berdiri di samping Bik Inah. Gavin terlihat sangat tampan saat ini dengan kemeja putih nya yang dia gulung sebatas siku. Serta celana jeans berwarna navy dengan sepasang sepatu sneakers putih, semakin menambah kadar ketampanan Gavin.


Rhea yang melihat kedatangan Gavin langsung tersenyum saat menatap pacarnya itu. Sementara Rafka hanya tersenyum sekilas lalu kembali memasang tampang datar di hadapan Gavin.


Setelah Bik Inah berpamitan ingin kembali ke dapur, Gavin segera mendekati kedua orang itu yang masih setia berdiri di depan tangga. Ketika langkah Gavin semakin mendekat, dia baru menyadari ada yang berbeda dari penampilan Rhea kali ini. Pakaian yang dikenakan Rhea terlihat seksi sehingga perut dan pinggang gadis itu terlihat dengan jelas. Di tambah lagi dengan celana yang di pakai Rhea sedikit lebih pendek dari biasanya, membuat paha Rhea yang putih dan mulus terekspos begitu saja. Menyadari semua hal itu, membuat Gavin hanya bisa meneguk Saliva yang dengan keras. Langkah Gavin tiba-tiba terhenti dan tanpa sadar menatap Rhea tanpa berkedip.


Rafka yang baru sadar dengan arti tatapan Gavin pada adiknya itu, kembali menjadi kesal dan segera menarik Rhea agar berdiri di belakang punggungnya.


" Balik badan Lo!" Perintah Rafka dengan tegas sambil menunjuk wajah Gavin.


Gavin yang terkejut dengan ucapan Rafka, seketika memutus tatapannya pada Rhea dan membalikkan badannya ke belakang dengan segera. Gavin lalu tertunduk malu karena kedapatan memandang Rhea dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Gavin akui penampilan Rhea tadi membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak dan dia harus berusaha mati-matian untuk melupakan apa yang dia lihat tadi.


Saat Gavin sudah menuruti apa yang dia katakan, Rafka segera membalikkan badannya menghadap Rhea.


" Sorry Bang, aku lupa kalau kak Gavin mau main ke sini tadi!" Cicit Rhea pelan sambil mendongakkan kepalanya menatap Rafka.


" Makanya kalau orang suruh itu dengerin! Jangan bisanya cuma bantah doang. Nih kuping emang buat pajangan aja kayaknya." Rafka menjewer sebelah telinga Rhea, sehingga membuat gadis itu meringis di hadapan Rafka.


" Aaww... sakit bang! Ampun!" Ucap Rhea dengan lirih sambil berusaha melepaskan tangan Rafka dari telinganya.


Saat Rafka sudah puas menjewer telinga adiknya itu, Rafka segera mendorong bahu Rhea agar segera menaiki tangga ke lantai atas. Rhea hanya bisa pasrah dan langsung berlari menuju kamarnya tanpa bisa membantah ucapan Rafka lagi.


Ketika Rhea benar-benar masuk kedalam kamarnya, Rafka langsung menghela nafas berat dan kemudian berjalan lagi ke ruangan keluarga tanpa menghiraukan kehadiran Gavin sama sekali. Rafka lalu duduk di sofa dan menonton kembali acara di televisi. Sementara Gavin yang sejak tadi masih berdiri, hanya diam karena takut menyapa Rafka terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit berlalu, Rafka akhirnya mengalihkan pandangannya pada Gavin sambil menyilangkan tangannya di depan dada. "Sini Lo!" Ucap Rafka dengan tegas.


Gavin segera menghampiri Rafka dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Abangnya Rhea itu.


" Lo tau apa kesalahan Lo tadi?" Tanya Rafka mengintimidasi.


Gavin yang tidak tau dimana letak kesalahannya, langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" Kenapa Lo liatin adek gue sampe segitunya tadi? Seneng Lo liat adek gue pake baju kayak gitu? Atau jangan-jangan Lo ya yang nyuruh dia?" Tanya Rafka bertubi-tubi. Rafka lebih tepatnya menuduh Gavin yang menyuruh Rhea untuk mengenakan baju yang kurang bahan seperti tadi.


Mendapatkan tuduhan yang tidak benar dari Rafka, Gavin lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Gue nggak nyuruh Rhea pake baju begituan bang. Sumpah!" Ucap Gavin dengan serius.

__ADS_1


" Bagus kalau gitu. Tapi kalau sampai gue liat Rhea pake baju model begituan lagi, gue hajar Lo!" Ancam Rafka sambil menunjuk-nunjuk wajah Gavin yang terlihat tegang.


" Iya bang, gue nggak bakalan biarin Rhea pake baju begituan lagi."


Gavin lebih baik menuruti saja semua yang di ucapkan oleh Rafka. Padahal dia tidak pernah sama sekali mengatur cara Rhea berpakaian. Tapi dengan seenaknya Rafka menuduhnya melakukan itu. Lagi pula Gavin juga tidak sepenuhnya bersalah. Gavin adalah pemuda yang normal. Wajar bagi Gavin terpana sesaat dengan penampilan Rhea yang terbilang 'hot' tadi. Tidak mungkin kan Gavin sampai melewatkan pemandangan langka itu?


Setelah Rafka memberikan peringatan pada Gavin, Rafka kemudian kembali diam dan menyaksikan lagi acara yang sedang ditayangkan di televisi.


" Kuy kak, berangkat!" Suara Rhea yang lembut, terdengar di telinga Gavin. Gavin lalu segera mengalihkan pandangannya pada Rhea yang sudah siap dengan pakaiannya yang terlihat sederhana tetapi tetap cantik di mata Gavin.


" Kalian mau kemana?" Pertanyaan dari Rafka, membuat Rhea dan Gavin kompak menoleh.


" Kita mau pergi ke Dufan bang." Ucap Gavin dengan cepat. Sementara Rhea melotot kesal ke arah Gavin karena membocorkan tempat kencan mereka hari ini pada Rafka.


" Gue ikut. Kebetulan gue nggak ada kegiatan. Kalian tunggu bentar ya!" Tanpa menunggu persetujuan Gavin dan juga Rhea, Rafka langsung berdiri dan melesat menuju kamarnya untuk berganti baju.


Setelah kepergian Rafka, Rhea langsung memasang wajah cemberut dan duduk di sebelah Gavin.


" Sumpah, hari ini bang Rafka nyebelin banget!" Ucap Rhea dengan kesal sambil melipat tangan di depan dada.


" Biarin aja Yang. Kalau bang Rafka pengen ikut kan lebih rame. Lagian aku bawa mobil ini, nggak masalah dong!" Jawab Gavin santai. Sebenarnya Gavin juga tidak ingin Rafka ikut, tapi karena kejadian tadi, Gavin tidak ingin membuat Rafka menjadi semakin marah bila dia menolak keinginan Rafka itu.


Setelah mendengar ucapan Gavin, Rhea hanya bisa mendengus dan kemudian hanya duduk diam di sebelah Gavin.


" Jangan cemberut Yang! Nanti cantiknya ilang!" Goda Gavin sambil mengusap kepala Rhea dengan sayang.


" Biarin!" Rhea tetap cemberut walaupun Gavin menggodanya.


" Yang, kamu tadi ngapain pake baju model begituan? Kamu sengaja ya mau godain aku?" Ucap Gavin dengan pedenya sambil menaik turunkan alisnya di hadapan Rhea.


" Ihh...sembarangan!" Rhea memukul lengan Gavin dengan keras karena kesal dengan ucapan cowok itu.


" Aduh... sakit Yang!" Gavin meringis sambil mengusap lengannya yang terasa sakit.


" Baju itu oleh-oleh dari Shasa waktu liburan ke Korea. Belum pernah aku pakai sebelumnya. Terus aku coba pake deh tadi. Tapi aku lupa kalau kak Gavin mau main kesini." Jelas Rhea dengan terperinci lalu segera menundukkan kepalanya kerena malu pada Gavin.


Gavin kemudian menanggapi nya dengan tersenyum lalu menangkup kedua pipi Rhea agar segera menghadap kepadanya.


" Besok-besok baju nya jangan di pakai lagi ya Yang! Aku udah di ultimatum sama bang Rafka tadi. Katanya aku bakalan di hajar kalau sampai dia liat kamu pake baju kayak gitu lagi." Ucap Gavin dengan serius sambil mengusap kedua pipi gadisnya itu.


" Iya!" Rhea hanya menjawab singkat lalu segera menganggukkan kepalanya.


Gavin kemudian membawa Rhea kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala gadisnya itu sekilas.


" Kak, kita nunggu di mobil aja ya! Aku punya rencana buat bikin Bang Rafka nggak bisa ganggu kita ntar." Rhea merenggangkan pelukannya dan menatap Gavin dengan serius. Senyuman licik juga tersungging di bibir mungil gadis itu.


" Oke." Ucap Gavin singkat. Gavin dan Rhea akhirnya berjalan beriringan menuju mobil Gavin yang sudah terparkir di depan rumah. Mereka berdua akan memberikan kejutan untuk Rafka agar cowok itu tidak bisa mengganggu kencan mereka kali ini.

__ADS_1


__ADS_2