
Malam ini, Gavin memarkirkan mobilnya di sebuah kost-kostan berlantai dua yang lokasinya tidak begitu jauh dari SMA Bhakti Luhur. Setelah turun dari mobil, Gavin terlihat memperhatikan sekitar dan menemukan seorang ibu-ibu paruh baya yang baru saja menuruni tangga dari lantai dua kostan itu. Walaupun sudah berumur, ibu itu tetap berpenampilan cetar karena memakai make up yang sedikit menor. Tanpa pikir panjang, Gavin segera menghampiri ibu itu untuk menanyakan dimana keberadaan seseorang yang tinggal di tempat itu.
" Permisi buk. Saya mau cari Tasya. Dia sepertinya baru pindah ke sini sekitar 2 Minggu yang lalu. Apa ibu tau kamar Tasya dimana?" Tanya Gavin dengan sopan pada ibu itu.
" Oh...kamu cari Tasya." Gumam ibu itu sambil memindai penampilan Gavin dari atas ke bawah lalu tersenyum genit ke arah Gavin. "Kamu pacarnya Tasya ya? Kok nggak tau sih kamar pacarnya sendiri? Kalian pasti lagi berantem ya? Kamu kalau jadi cowok harus...." Ucapan ibu itu tiba-tiba berhenti saat Gavin membantahnya dengan suara yang cukup keras.
" Saya bukan pacar Tasya buk. Saya cuma teman sekolahnya. Saya kesini ada urusan penting sama dia. Ibuk bisa tunjukkan kamar Tasya di mana?" Ucap Gavin dengan tegas lalu setelah itu menghela nafas. Gavin sepertinya sangat sial karena harus bertemu dengan ibu-ibu yang sangat kepo dan sok tau seperti ibu yang berdiri dihadapannya saat ini.
" Oh...cuma teman. Ya udah, kamar Tasya itu di lantai atas, nomor 2 dari ujung. Batasan bertamu di Kostan ini cuma sampai jam 9 malam. Jadi kamu jangan lama-lama ya di atas." Ucap ibu itu lagi lalu mengedipkan sebelah matanya sambil mengusap pelan lengan Gavin.
Gavin yang mendapat perlakuan seperti itu, langsung bergidik ngeri dan segera meninggalkan ibu itu. Gavin sampai setengah berlari menuju tangga agar dia tidak melihat ibu itu lagi.
Setelah berada di lantai atas, Gavin segera menuju ke kamar Tasya yang berada diujung dan langsung mengetuk pintu kamar itu dengan keras. Saat Gavin sudah mendengar sahutan dari dalam kamar, dia menghentikan aksinya dan dengan tenang berdiri di depan pintu kamar Tasya.
Saat pintu terbuka, Tasya mengulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang bertamu ke tempatnya malam-malam begini. Ketika Tasya melihat Gavin yang bertamu, gadis itu terlihat sangat senang sehingga dia langsung keluar dari balik pintu dengan senyuman yang merekah. Padahal Tasya saat ini hanya mengenakan tank top dan hot pant yang terlihat sangat seksi. Tapi Tasya seakan tidak peduli dan malahan gadis itu sepertinya ingin menggoda Gavin dengan penampilannya lagi kali ini.
" Hai Vin! Lo mau apa kesini? Kuy masuk dulu!" Ucap Tasya dengan nada sedikit manja sambil membuka pintu kamarnya dengan lebar. Berharap Gavin akan masuk ke kamarnya dan mereka memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi.
__ADS_1
Dengan tatapan datar dan terkesan dingin, Gavin berbicara dengan tegas pada gadis itu. "Nggak perlu. Gue mau ngomong penting sama Lo. Gue tunggu di bawah!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Gavin segera berbalik dan pergi meninggalkan Tasya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Tasya terlihat sangat kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai. Setelah itu Tasya segera memasuki kamarnya sambil membanting pintu itu dengan keras.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Tasya turun dari lantai atas dan segera menghampiri Gavin yang sedang berdiri di depan mobilnya. Gadis itu sudah berpenampilan sedikit lebih sopan, dengan menggunakan sweater sebagai atasannya saat ini.
" Lo mau ngomong apa Vin?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Tasya saat dia sudah berada di depan Gavin. Gadis itu terlihat tidak dapat melepaskan pandangannya dari Gavin yang terlihat sangat tampan malam ini. Walaupun wajah cowok itu terlihat sangat datar, tapi tetap tidak mengurangi pesonanya sama sekali.
" Gue nggak bakalan basa-basi sama Lo. Lo kan yang ngirim foto-foto waktu gue nolongin Lo kemarin ke Rhea? Rhea jadi salah paham ke gue dan ngira kita ada hubungan. Lo sengaja kan biar gue bisa putus sama Rhea?" Tanya Gavin dengan tegas sambil menunjuk wajah Tasya. Gavin sangat kesal sehingga tatapan nya sangat tajam dan mengintimidasi Tasya. Gadis itu sampai ketakutan dan mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauhi Gavin.
" Lo salah Vin. Bukan gue yang ngirim foto-foto itu. Gue berani sumpah sama Lo." Jelas Tasya sambil mengangkat kedua jarinya meyakinkan Gavin.
Tasya mulai mendekati Gavin dan menyodorkan ponselnya kehadapan Gavin. Gadis itu mulai bisa bernafas lega karena sepertinya Gavin mulai terpengaruh dengan apa yang dia ucapkan barusan.
" Oke, gue percaya. Tapi gue harap Lo mau bantuin gue buat ngejelasin semuanya ke Rhea. Gue nggak mau dia salah paham sama hubungan Lo sama gue. Kemaren gue cuma sebatas nolongin Lo, nggak lebih!" Ucap Gavin acuh tak acuh lalu setelah itu mengalihkan pandangannya dari Tasya.
" Boleh, gue bakalan bantuin Lo jelasin ini semua ke Rhea besok. So, Lo nggak marah lagi kan Vin sama gue? Sorry kalau Kemaren gue udah bersikap terlalu egois dan terkesan memandang remeh Rhea di hadapan Lo. Tapi sekarang gue udah sadar Vin. Gue udah introspeksi diri dan menurut gue, Rhea itu lebih layak buat Lo dari pada gue. Walaupun kita nggak bisa kayak dulu lagi, at least kita masih bisa berteman kan Vin?"
__ADS_1
Tasya memandang Gavin penuh harap saat dia menyelesaikan semua perkataannya dihadapan Gavin. Setidaknya ini yang bisa dia sampaikan, agar Gavin tidak menghindarinya lagi. Tasya berharap dengan seiring berjalannya waktu, Gavin dapat merubah perasaannya pada Tasya dan mereka bisa kembali bersama seperti dulu lagi.
" Oke, tapi Lo harus inget batasan. Kita cuma temen dan gue minta Lo nggak mengharapkan hubungan kita lebih dari ini sampai kapanpun." Ucap Gavin dengan tegas sambil menatap tajam Tasya. Gavin tidak ingin memberikan harapan apapun pada Tasya. Gavin hanya ingin menjalani hubungan yang tenang dan damai dengan Rhea di masa depan tanpa bayang-bayang sang mantan yang masih menaruh harapan padanya.
" Gue tau Vin. Gue tulus temenan sama Lo dan gue bakal bantuin Lo besok . Gue janji!"
Senyuman yang tulus berusaha Tasya tampilkan dihadapan Gavin, agar Gavin lebih percaya dengan apa yang dia katakan.
Setelah mendengar penjelasan Tasya, Gavin akhirnya bisa meredam emosi nya. Walaupun Gavin tadi sempat menaruh curiga terhadap Tasya, tapi setelah mendengar pembelaan gadis itu, kecurigaan Gavin berangsur menghilang. Yang perlu Gavin lakukan sekarang hanya bersabar menunggu sampai keesokan hari, agar masalahnya dengan Rhea bisa segera di selesaikan.
" Sorry kalau tadi gue nuduh Lo sembarangan. Gue cuma..." Ucapan Gavin terpotong karena Tasya berjalan mendekatinya. Gavin sampai mundur beberapa langkah agar jarak mereka tidak terlalu dekat.
" Lo nggak perlu minta maaf Vin. Gue ngerti kok kalau Lo sampe curiga sama gue. Tapi emang bukan gue yang lakuin itu Vin." Tasya kemudian memasang tampang seakan tidak berdosa di hadapan Gavin, membuat cowok itu harus menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Tasya.
Tapi dalam hati Tasya bersorak 'Emang bukan gue yang kirim, tapi Nadia. Jadi gue nggak bohong kan Vin? Gue nggak bakalan biarin cewek keganjenan itu baikan lagi sama Lo vin. Cuma gue yang boleh jadi pacar Lo. Cuma gue!!' Tasya kemudian diam-diam tersenyum sekilas sambil menundukkan kepalanya. Setelah itu Tasya kembali menatap Gavin dengan tatapan yang sendu agar cowok itu semakin merasa bersalah telah menuduhnya tadi.
" Kalau gitu gue balik. Thanks buat bantuan nya Sya." Gavin segera berbalik setelah Tasya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum manis di hadapan Gavin. Gavin kemudian menaiki mobilnya dan segera tancap gas menuju tempat selanjutnya yaitu rumah Rhea.
__ADS_1
Sementara Tasya yang berada di luar mobil, tidak lupa melambaikan tangan sampai mobil Gavin menghilang di pembelokan di ujung jalan. Setelah tidak melihat mobil Gavin lagi, Tasya kemudian berjalan ke arah tangga menuju kamarnya. Gadis itu terlihat bersenandung dengan riang sambil mengingat pertemuannya malam ini dengan Gavin. 'Gue pasti bisa dapetin Gavin! Fighting!' Setelah berada di lantai atas, Tasya segera memasuki kamarnya dan menutup pintu. Tasya berharap malam ini segera berlalu, agar dia bisa bertemu dengan Gavin lagi di sekolah.