
Di sebuah lapangan basket yang sepi, seorang gadis berambut pendek sedang sibuk sendiri mendribble bola sambil sesekali melempar bola itu ke dalam ring basket di depannya. Sepertinya kemampuan gadis itu bermain bola basket bisa disamakan dengan atlet basket profesional lainnya.
Saat gadis itu mulai lelah bermain sendirian, dia kemudian mengeluarkan ponsel yang berada di saku celananya untuk menghubungi seseorang yang sejak tadi dia tunggu.
" Hai Flo!" Cowok yang dari tadi dia tunggu akhirnya datang juga. Cowok itu mulai mendekati Flo yang saat ini sedang berdiri di tengah lapangan. Cowok itu tersenyum manis pada Flo lalu melakukan tos dengan gadis itu.
" Hai juga Fi! Lo kebiasaan ya, jam karet melulu Lo!" Flo sedikit cemberut tapi tetap menerima tos dari sahabat sedari kecilnya yaitu Dhafi.
" Sorry Flo! Lo tau sendiri kan nyokap gue, hobi banget nyuruh gue kemana-mana. Nganter salon lah, pergi arisan lah, ke mall lah. Gue nggak bisa nolak. Makanya gue telat terus kalau janjian sama Lo." Ucap Dhafi jujur. Dhafi kemudian mengacak-acak rambut pendek Flo sehingga menjadi sedikit berantakan.
" Ihh...jangan Fi!" Flo dengan kesal memperbaiki sendiri rambutnya yang di acak-acak oleh Dhafi. Kebiasaan Dhafi memang tidak pernah berubah sama sekali. Selalu suka mengusili Flo sejak kecil. Membuat Flo akhirnya mulai pasrah dengan perlakuan Dhafi padanya.
" Bibir Lo kenapa tu? Kepentok dinding? Terus muka Lo kok rada putihan. Lo habis main tepung dimana?" Tanya Dhafi penasaran sambil menunjuk muka Flo. Dhafi memperhatikan bibir dan muka Flo tidak seperti biasanya sehingga cowok itu mengernyitkan dahinya heran.
" Norak Lo. Ini lip tint Sama bedak bego! Gue kan cewek, biasa aja kali pakai yang beginian." Jawab Flo cuek. Dia sebenarnya ingin tampil cantik di hadapan Dhafi hari ini. Jadi Flo sedikit berdandan agar Dhafi bisa tertarik kepadanya.
" Jelek Lo pakai yang begituan. Mendingan Lo hapus aja! Nih gue ada air, hapus sana!" Dhafi memberikan sebotol air yang dia bawa tadi pada Flo lalu menyuruh gadis itu untuk segera menghapus riasannya.
" Nggak mau! Ribet amat sih Lo! Kalau jelek nggak usah liat. Tutup aja mata Lo sana!" Flo mulai kesal dengan ucapan Dhafi yang mengatakan kalau dia jelek.
" Keras kepala bener Lo jadi cewek! Ngapain Lo pakai make up begitu? Lo mau godain cowok?" Tanya Dhafi serius.
Dia tidak suka melihat Flo berdandan seperti itu. Dhafi akui Flo memang cantik dengan penampilannya yang sekarang. Walaupun cuma memakai bedak tipis dan lip tint yang tidak terlalu mencolok, tapi membuat Flo kelihatan lebih segar dan bertambah cantik dari biasanya.
" Kalau iya emang nya kenapa? Gue kan cewek normal. Gue butuh cowok dong buat jadi pacar gue. Emangnya elo, pacaran sama bola basket!" Flo menyindir Dhafi yang tidak pernah pacaran sama sekali. Sama seperti Flo yang juga tidak pernah pacaran karena selalu berada di dekat Dhafi.
" Sialan Lo! Gue bukannya nggak mau pacaran, tapi gue belum nemu yang cocok!" Jawab Dhafi santai. Dia kemudian merebut bola yang ada di tangan Flo lalu melemparkannya ke ring basket.
" Banyak alasan Lo!" Flo hanya mendengus mendengar alasan Dhafi lalu mengambil kembali bola yang berada di bawah ring basket.
" Kalau Lo mau pacaran, Lo harus bawa cowok itu dulu ke gue! Gue nggak mau Lo sampai salah pilih. Ntar Lo nangis, gue juga yang repot." Ucap Dhafi serius. Dhafi kemudian mengajak Flo untuk duduk di salah satu bangku yang ada di tepi lapangan.
" Siapa juga yang bakalan nangis. Gue nggak bego kali. Kalau gue bawa cowok itu ke hadapan Lo, yang ada gue nggak bakalan pacaran karena Lo tolak semua. Atau nggak, Lo aja yang jadi pacar gue. Gimana?" Tanya Flo nekad.
Flo sedikit takut dengan jawaban dari Dhafi. Tapi dia harus memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu. Kalau tidak, dia dan Dhafi hanya akan menjadi sahabat selamanya.
__ADS_1
" Ngawur Lo!" Dhafi menoyor kepala Flo dengan tidak berperasaan.
" Nggak mungkinlah gue mau pacaran sama cewek jadi-jadian kayak Lo!" Ucap Dhafi santai tanpa memperhatikan ekspresi Flo yang sedikit kecewa dengan jawaban dari sahabatnya itu.
" Gue juga nggak mau pacaran sama cowok sok ke cakepan kayak Lo! Gue tadi cuma ngetes aja. Siapa tau Lo ada perasaan sama gue!" Flo hanya bisa menutupi perasaan kecewa nya dengan kembali bersikap seperti biasa pada Dhafi.
" Lo nggak perlu ngetes gue, karena gue nggak ada perasaan apa-apa sama Lo." Ucap Dhafi lagi, membuat hati Flo semakin sakit mendengarnya. Ternyata cinta Flo hanya bertepuk sebelah tangan.
" Nggak perlu Lo jelasin, gue udah tau! Btw, ngapain Lo ngajak ketemuan di sini?" Flo akhirnya hanya bisa mengalihkan pembicaraan agar perasaannya tidak semakin terluka oleh ucapan Dhafi.
" Hmm...si Gavin nyuruh gue buat ngomong sama Lo, buat jagain ceweknya si Rhea." Dhafi menyebutkan tujuannya untuk menemui Flo sore ini karena Gavin meminta bantuannya.
" Gue bukan baby sitter! Cewek Gavin bisa jaga dirinya sendiri." Ucap Flo cuek. Ternyata cuma itu tujuan Dhafi memintanya ke lapangan basket sore ini. Padahal dia sudah susah payah berdandan dan memilih pakaian yang bagus untuk bertemu dengan Dhafi. Tapi ternyata cowok itu tidak memperdulikannya sama sekali.
" Maksud gue, Gavin minta Elo buat bimbing si Rhea buat jadi pemain basket yang lebih bagus." Ucap Dhafi menjelaskan. Dhafi sedikit kesal melihat reaksi Flo yang terlalu cuek menanggapi apa yang dia ucapkan.
" Ada pak Hendrik yang bakal bimbing dia buat jadi pemain yang lebih bagus. Gue cuma kapten di tim basket. Tugas gue cuma satu yaitu bagaimana bikin tim lebih solid dan meraih kemenangan pastinya." Ucap Flo tegas. Flo mulai berdiri saat dia menyelesaikan ucapannya pada Dhafi.
" Gue cabut, kalau udah nggak ada yang mau Lo omongin lagi!" Flo mulai melangkah pergi menjauhi Dhafi tanpa menoleh lagi pada cowok itu.
" Mau kemana lo Flo! Kita baru sebentar ketemuan. Lo nggak mau main basket dulu sama gue!" Ucap Dhafi sambil sedikit berteriak. Flo sudah mulai menjauh dari pandangan Dhafi.
Seketika Dhafi terkejut dengan perkataan Flo. Dia segera menggelengkan kepala menolak apa yang Flo ucapkan tadi.
" Lo pergi aja. Kapan-kapan kita bisa main bareng lagi!" Ucap Dhafi sedikit takut. Dia sudah sering merasakan keganasan gadis itu saat PMS nya datang. Jadi Dhafi tidak ingin merasakan lagi untuk kesekian kalinya.
Flo hanya tersenyum masam, lalu kemudian berbalik lagi meninggalkan Dhafi. Saat Flo semakin menjauh dari Dhafi, dia tanpa sadar menjatuhkan air mata kesedihannya. Dia merasa kecewa karena Dhafi sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Flo hanya bisa memegangi dada nya yang berdenyut sakit, karena cintanya bertepuk sebelah tangan pada Dhafi. Sepertinya Flo hanya bisa memendam cintanya pada Dhafi sampai kapanpun.
*****
" Kamu akhirnya datang juga Vin!" Papa Ardana masih duduk di tempat tidurnya saat Gavin memasuki ruangan itu. Gavin baru saja kembali ke rumah sakit setelah mengantarkan Rhea pulang ke rumahnya.
" Maaf Pa, aku sedikit telat. Mas Edwin mana Pa?" Gavin melihat ke sekitar ruangan dan tidak menemukan keberadaan sekretaris pribadi Papanya itu.
__ADS_1
" Edwin sudah balik ke kantor. Dia harus menyelesaikan beberapa urusan jadi dia pergi ke kantor bersama sopir Papa." Papa Ardana sedikit memperbaiki kaca mata yang dia pakai. Dia terus memperhatikan Gavin dengan serius saat anaknya itu duduk di depannya.
" Papa kenapa liatin aku kayak gitu? Ada yang mau Papa omongin?" Tanya Gavin penasaran. Dia agak risih terus di tatap oleh Papa Ardana seperti itu.
" Kamu mau mobil Vin?" Tanya Papa Ardana pada akhirnya. Papa Ardana melihat Gavin sudah semakin dewasa. Apalagi saat ini Gavin sudah memiliki pacar. Gavin pasti sangat membutuhkan mobil untuk mengantar jemput pacarnya dengan nyaman.
" Kenapa tiba-tiba Papa nawarin Gavin mobil? Ulang tahun Gavin kan masih beberapa bulan lagi." Ucap Gavin sedikit heran.
" Kamu kan sudah punya pacar. Kasihan Rhea kalau kamu ajakin naik motor terus. Sebentar lagi juga akan musim hujan. Kamu mau Rhea jadi sakit karena kamu antar jemput dia pakai motor." Ucap Papa Ardana panjang lebar.
Gavin sepertinya membenarkan apa yang Papa Ardana ucapkan tadi. Dia juga tidak mau Rhea sakit karena terlalu sering naik motor.
" Boleh deh mobilnya Pa!" Ucap Gavin semangat. Gavin akhirnya mendapatkan mobil pertamanya saat memasuki usia 17 tahun.
" Oke, Papa akan suruh Edwin untuk carikan mobil yang bagus untuk kamu. Kamu mau request warna atau merek mobil yang kamu suka mungkin?" Ucap Papa Ardana memastikan.
" Terserah Mas Edwin aja Pa! Yang penting nyaman." Gavin tidak terlalu mementingkan warna ataupun merek mobilnya, yang penting dia dan Rhea nyaman menaiki mobil itu.
" Tapi Papa boleh minta bantuan kamu nggak Vin?" Tanya Papa Ardana lagi. Sepertinya kali ini lebih serius dari urusan mobil tadi.
" Apa Pa?" Gavin sedikit menegakkan tubuhnya saat mendengar Papanya bicara dengan serius.
" Apakah Kamu mau bantu Papa di perusahaan? Sepertinya kamu harus mulai belajar menjalankan Wijaya Group karena kamu satu-satunya penerus Papa saat ini." Ucap Papa Ardana berterus terang. Dia menginginkan Gavin menjalankan perusahaan yang dia rintis dari nol hingga sesukses sekarang.
Gavin tampak berpikir dengan permintaan yang diajukan oleh Papa Ardana tadi. Gavin memang satu-satunya pewaris dari Papa Ardana. Cepat atau lambat dia akan memikul tanggung jawab sebagai pemimpin Wijaya Group nantinya. Tidak ada salahnya dia memulai saat ini, karena semakin lama dia belajar tentang perusahaan semakin memudahkan Gavin ke depannya untuk menjalankan perusahaan dengan lebih baik.
" Maaf kalau permintaan Papa terlalu mendadak Vin! Tapi kamu tau sendiri kan kondisi kesehatan Papa tidak terlalu baik. Papa takut kalau sewaktu-waktu Papa sudah tidak ada lagi dan kamu tidak bisa menjalankan perusahaan dengan baik karena kurang pengalaman. Papa cuma khawatir dengan masa depan kamu Vin!" Ucap Papa Ardana panjang lebar.
Papa Ardana ingin Gavin bisa menjalankan Wijaya Group dengan baik saat dirinya tidak bisa lagi mendampingi Gavin di dunia ini.
" Papa jangan bicara seperti itu. Papa akan selalu sehat dan terus mendampingi Gavin sampai kapanpun. Gavin akan mulai belajar tentang Perusahaan secepatnya. Dan Gavin pastikan, Papa tidak akan pernah kecewa dengan keputusan Papa buat saat ini." Gavin menggenggam tangan Papa Ardana dengan erat. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Papanya itu.
" Terima kasih Vin! Papa bangga sama kamu." Papa Ardana membalas genggaman tangan Gavin dengan lebih erat. Dia tidak menyangka anak yang selalu dia kecewakan selama ini, masih sangat menyayanginya begitu tulus.
" Papa nggak perlu ngomong terima kasih sama Gavin. Ini emang tugas Gavin sebagai anaknya Papa. Gavin cuma minta doanya Papa, supaya usaha Gavin di mudahkan kedepannya oleh Yang Maha Kuasa." Ucap Gavin tulus.
__ADS_1
" Amin. Papa selalu berdoa supaya kamu selalu berhasil vin." Papa Ardana akhirnya tersenyum lega sambil menepuk-nepuk pundak Gavin dengan bangga.
" Terima kasih Pa!" Gavin dan Papa Ardana saling melemparkan senyuman dengan tulus. Lalu kemudian mereka berdua melanjutkan obrolan dengan topik yang berbeda hingga malam menjelang.