Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
48. Kita Putus


__ADS_3

Hari ini sudah menujukkan pukul 9.15 malam. Azka, Alex dan Dhafi sedang duduk santai di ruangan keluarga milik Alex sambil menunggu kedatangan Gavin. Malam ini mereka berempat beserta beberapa anggota basket yang lain akan mengadakan pesta perpisahan untuk Gavin di sebuah club malam.


" Woi...Lex! Lo telfon dah si Gavin! Kagak nongol-nongol dia dari tadi."


Azka mendengus kesal karena Gavin belum juga muncul untuk menjemput mereka bertiga.


" Tunggu bentar! Nggak sabaran bet Lo!" Alex melirik sebentar Azka dan melanjutkan kembali memainkan game di ponselnya.


Saat mereka bertiga sedang sibuk bermain dengan ponsel masing-masing, suara mobil Gavin terdengar dari luar rumah.


" Panjang umur tu anak!" Azka tersenyum senang dan segera berjalan keluar menghampiri Gavin. Sementara Alex dan Dhafi hanya mengikuti saja kemana Azka pergi tanpa berkomentar sama sekali.


" Kemana aja Lo Vin? Dari tadi kita bertiga nungguin Lo!" Azka menatap Gavin dengan jengkel saat Gavin sudah berdiri dihadapannya.


" Sorry, gue tadi ketiduran makanya gue telat." Gavin menatap Azka dengan santai sambil memainkan kunci mobil di tangannya.


" Si Azka aja yang nungguin Lo! Kita berdua santai aja dari tadi." Ucap Alex dari belakang. Alex dan Dhafi tersenyum mengejek Azka yang terlihat ingin sekali cepat-cepat pergi ke tempat itu.


" Sialan Lo!" Azka memelototinya keduanya dengan garang.


" Udah buruan cabut! Ingat ya bro, Lo jangan pada mabok. Besok kita ada latihan." Dhafi mengingatkan ketiga sahabatnya terutama pada Azka dan Alex.


" Sip, tenang aja bro! Gue nggak bakalan lupa!" Azka mengangkat satu jempolnya lalu tersenyum menatap ketiga sahabatnya. Sementara Alex juga ikut tersenyum lalu merangkul bahu Azka dengan erat. Mereka berdua akan kompak kalau berhubungan dengan dunia malam itu.


Gavin dan Dhafi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabat mereka itu. Lalu mereka semua akhirnya segera menaiki mobil Gavin, menuju tempat acara perpisahan itu diadakan.


****


📞📞📞


Rhea : " Udahan dong nangis nya Sha! Ntar mata Lo bengkak Lo!"


Shasa: " Hiks...biarin aja! Gue sedih tau Rhee. Gue patah hati."


Rhea : " Dari dulu kan gue udah bilang, jangan suka sama bang Rafka. Lo aja yang ngeyel, tetep suka ama dia."


Shasa: " ini soal perasaan Rhee...Hiks..nggak bisa di atur-atur gitu aja."


Rhea : " Ya udah kalau gitu. Sekarang Lo mesti move on ya Sha. Nanti gue bilang kak Gavin deh, buat kenalin Lo sama salah satu anak basket. Siapa tau aja ada yang kecantol."


Shasa: " Boleh deh Rhee. Anak basket sekolah kita kan lumayan cakep-cakep. Gue sekarang mau berusaha buat lupain bang Rafka dari hati gue...hiks.."


Rhea: " Yee...ni anak nangis lagi. Nanti gue kasih pelajaran juga nih bang Rafka. Berani-berani nya bikin sahabat gue jadi patah hati gini."


Shasa: " Eehh..jangan Rhee. Nanti kalau bang Rafka tau gue suka sama dia gimana. Gue kan jadi malu kalau ketemu ama dia lagi."


Rhea : " Oke, gue nggak akan kasih dia pelajaran. Tapi Lo jangan nangis lagi ya! Ntar Lo tambah jelek loh!"


Shasa: " Sialan Lo. Gue nggak bakalan jelek kalau cuma nangis doang."


Rhea : " Pede bener Lo Sha! Ya udah gue matiin ya telfonnya. Gue capek ni, pengen istirahat."


Shasa: " Makannya jangan pacaran terus lo. Jadi capek kan Lo sekarang."


Rhea : " Gue bukannya capek karena pergi jalan sama Kak Gavin tadi ya. Tapi gue capek dengerin Lo curhat sambil nangis."


Shaha: " Dasar temen nggak tau bales budi Lo ya. Lo nggak inget dulu pernah curhat juga sama gue sambil nangis-nangis."


Rhea : " Kapan ya? Kok gue nggak inget sih."


Shasa: " Jangan sok-sokan lupa deh Lo! Lo kan dulu juga pernah patah hati sama kak Gavin. Siapa coba yang waktu itu jadi penghibur hati Lo yang lagi galau kalau bukan gue."


Rhea : " Iya deh nona Shasa yang cantik dan baik hati. Makasih banget ya, Lo selalu ada buat gue."


Shasa: " Iya, sama-sama. Ya udah, istirahat deh Lo sana! Besok lo ada latihan basket kan?"


Rhea : " Tau aja Lo. Gue istirahat dulu ya Sha. Jangan nangis lagi, oke!!"


Shasa: " oke. Bye bye Rhee.."

__ADS_1


Rhea : " Bye bye juga Sha...


Tut..


Ketika panggilan telfon dari Shasa di akhiri, Rhea langsung menghela nafas lelah. Rhea merasa kasihan dengan nasib percintaan sahabatnya itu. Dari begitu banyak cowok yang bertebaran di muka bumi ini, kenapa harus bang Rafka yang menjadi cinta pertama bagi Shasa.


Saat Rhea akan bersiap untuk istirahat, terdengar suara pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Tok..tok..tok..


" Rhee...Abang boleh masuk nggak?" Ternyata Rafka yang mengetuk pintu kamar Rhea malam-malam begini.


" Masuk aja bang!" Rhea mempersilahkan Rafka masuk, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur agar lebih nyaman.


Rafka kemudian masuk dan memilih untuk duduk di bangku dekat meja belajar Rhea.


" Tadi Shasa nelfon kamu ya, Rhee?" Rafka tadi sempat menguping obrolan antara Rhea dan Shasa di telfon. Jadi dia ingin memastikan apa yang dia dengar tadi.


" Kok Abang tau? Abang dengerin obrolan aku sama Shasa di telfon ya?" Rhea mendelik sinis melihat Rafka yang tidak tau malu untuk menguping pembicaraan orang lain.


" Abang nggak bermaksud gitu Rhee. Tapi suara kamu kedengaran jelas tadi di balik pintu. Jadi Abang nggak sengaja denger deh!" Rafka menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah dengan tatapan Rhea padanya.


" Berarti Abang denger dong semuanya?" Tanya Rhea memastikan.


" Iya." Rafka menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


" Sejak kapan Shasa suka sama Abang, Rhee?" Tanya Rafka penasaran. Rafka selama ini menganggap Shasa itu seperti adiknya sendiri sama seperti Rhea. Jadi dia tidak menyangka Shasa akan menyimpan perasaan yang lebih untuk dirinya.


" Sejak SMP. Emang nya Abang nggak nyadar apa, gimana tatapan Shasa itu ke Abang? Atau Abang pura-pura bego, biar bisa terus mainin perasaan anak orang?" Rhea menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap Rafka dengan tidak suka.


" Abang beneran nggak tau Rhee. Sumpah! Abang itu udah anggap dia kayak adek sendiri. Kalau Abang tau, nggak mungkin dong Abang tega ceritain ke dia tentang orang yang Abang suka."


Rafka menjelaskan dengan gamblang tentang apa yang dia rasakan pada Shasa. Dia tidak ingin Shasa salah paham tentang kedekatan mereka selama ini.


" Oke, kalau bang Rafka nggak tau. Tapi aku harap, setelah kejadian ini Abang tetap bersikap seperti biasanya aja sama Shasa. Aku juga bakal cariin dia cowok. Jadi aku yakin, shasa pelan-pelan bakal bisa lupain rasa sukanya ke Abang."


Rhea mendengus pelan, lalu kembali menatap Rafka yang sedang tertunduk lesu menyesali ucapan yang dia lontarkan pada Shasa tadi siang. Rhea dapat melihat rasa penyesalan yang terpancar dari tatapan mata serta raut wajah Rafka. Jadi Rhea tidak ingin menyalahkan Abangnya lagi tentang semua masalah ini.


Rhea kemudian merebahkan badannya ke tempat tidur lalu menarik selimutnya sebatas dada.


" Iya, Abang keluar dulu." Rafka mendekati Rhea lalu mengusap-usap kepala adiknya itu dengan sayang.


" Ingat ya bang, perlakukan Shasa seperti biasanya! Jangan sampe dia sadar kalau Abang udah tau perasaan dia. Ntar dia jauhin aku juga lagi gara-gara malu cintanya di tolak sama Abang." Ucap Rhea mengingatkan.


" Iya bawel! Istirahat sana. Malam dek." Rafka berjalan keluar setelah mematikan lampu kamar Rhea.


" Hmm.." Rhea sedikit bergumam lalu menutup kedua matanya agar segera tertidur. Rhea ingin keesokan harinya kembali fit untuk menjalani rutinitas seperti biasanya.


Sementara Rafka yang sudah keluar dari kamar Rhea, memilih untuk langsung balik ke kamarnya. Rafka juga ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Rafka berharap bisa melupakan sejenak rasa sesal yang dia rasakan pada Shasa atas kejadian tadi siang. Rafka ingin hubungannya dengan Shasa berjalan normal seperti biasanya lagi.


****


" Lo nggak nyesel tinggalin tim, Vin?" Tanya salah seorang anggota tim basket yang hadir dalam acara perpisahan Gavin malam ini. Mereka semua saat ini sudah berkumpul di lantai dua sebuah club malam yang cukup terkenal di Jakarta.


" Gue nggak nyesel. Gue sekarang punya tanggung jawab yang lebih besar buat bantuin bokap gue di perusahaan. Jadi gue harap Lo semua bakal dukung keputusan gue ini."


Gavin menatap semua anggota tim basket yang hadir malam ini dengan serius. Dia memang harus merelakan basket, agar dia bisa lebih fokus dengan tujuannya saat ini.


" Kita semua bakal dukung Lo Vin!" Alex tersenyum senang sambil mengangkat gelas minumannya untuk mengajak semua teman-temannya bersulang.


Semua teman-teman Gavin yang melihat aksi Alex itu juga iku melakukan hal yang sama. Mereka juga ikut mengangkat gelas lalu melakukan tos dengan gelas masing-masing.


Mereka semua kompak mendoakan yang terbaik untuk Gavin. Dan mereka berharap Gavin akan sukses di masa depan.


" Lo semua pada nggak turun ni!" Azka sedang asik menikmati musik sambil sesekali menenggak minumannya.


Suara musik yang begitu keras dan sangat bersemangat membuat Azka ingin sekali turun kebawah untuk ikut ngedance bersama yang lainnya.


" Boleh deh!" Beberapa teman dari tim basket langsung berdiri dan mengajak Azka serta Alex turun ke bawah. Sementara Gavin dan Dhafi memilih untuk tetap duduk di bangku mereka karena mereka tidak terlalu suka keramaian.

__ADS_1


Saat mereka semua sedang turun dari tangga, tiba-tiba Azka menghentikan langkah Alex dan menunjuk seseorang yang sangat dia kenal.


" Lex, itu bukannya si Felice ya?" Tanya Azka memastikan. Azka belum merasa terlalu mabuk untuk bisa membedakan orang yang dia kenal dengan orang lain.


" Mana?" Alex mengikuti arah tangan Azka dan menajamkan pandangannya di ruangan yang sedikit gelap itu. Alex dapat melihat seorang gadis yang sangat dia kenal sedang berduaan dengan cowok yang dia tidak kenal sama sekali.


" Brengsek!!" Seketika rahang Alex langsung mengeras menahan amarah. Alex mengepalkan kedua tangannya lalu segera bergegas turun dari tangga. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Felicia sedang bermesraan dengan orang lain. Membuat darahnya seketika mendidih melihat kelakuan pacarnya itu.


" Sabar Lex!" Azka mencoba menahan pergerakan Alex dengan menahan lengan sahabatnya itu. Tetapi dengan tenaga Alex yang begitu kuat, Azka tidak mampu menahan sahabatnya itu lagi.


" Ooohhh...jadi ini yang Lo bilang ada acara keluarga." Alex berdiri di hadapan Felicia sambil menatap Felicia dengan jijik lalu menatap cowok yang ada di sebelah gadis itu dengan tatapan permusuhan.


Felicia langsung melepaskan dirinya dari pelukan cowok itu saat melihat kedatangan Alex yang tiba-tiba. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Alex di tempat seperti ini.


" Lex...gue bisa jelasin. Dia cuma..." Alex mengangkat tangannya untuk menghentikan Felicia berbicara.


" Gue nggak butuh penjelasan dari cewek murahan kayak lo. Mata gue nggak buta, buat liat apa yang Lo lakuin kali ini. Jadi kita putus!"


Alex tidak berminat sama sekali untuk memperpanjang masalahnya dengan Felicia. Jadi Alex segera meninggalkan gadis itu dan langsung kembali ke lantai dua tempat mereka duduk tadi. Azka juga mengikuti sahabatnya itu tanpa berkomentar sama sekali.


" Lex.. maafin gue! Hikss..." Felicia menangis terisak-isak sambil menahan lengan Alex.


" Lepasin gue brengsek!!" Alex menepis tangan Felicia dari lengannya dan mendorong gadis itu dengan kasar. Membuat Felicia langsung terjatuh ke lantai dengan cukup keras.


" Lo nggak bisa lembut dikit ama cewek ha!" Cowok yang bersama Felicia tadi meneriaki Alex dengan keras. Dia membantu Felicia berdiri dan merangkul bahu gadis itu.


Saat Alex mendengar ucapan cowok itu, dia langsung mendekati keduanya untuk memberikan pelajaran yang tak akan bisa mereka lupakan sampai kapanpun.


Azka yang tau buruknya tempramen Alex, langsung menghalangi sahabatnya itu dan langsung menarik Alex menuju tempat mereka duduk tadi.


" Awas Lo berdua!" Alex menunjuk keduanya dengan garang lalu berbalik menuju ke lantai atas.


Ketika Alex sudah duduk di samping Gavin dan Dhafi, dia langsung menuangkan minumannya ke dalam gelas dan langsung meneguk minuman itu dengan cepat.


" Brengsek!!" Alex meremas gelas yang ada di tangannya lalu membanting gelas itu ke lantai dengan keras.


Gavin dan Dhafi yang tidak tau apa-apa, langsung tersentak kaget dengan ulah Alex itu. Saat mereka berdua melihat wajah Alex yang tidak bersahabat, mereka melirik Azka yang pasti tau alasan mengapa Alex tiba-tiba menjadi emosional seperti itu.


" Dia liat si Felicia lagi sama cowok lain di bawah." Seolah tau dengan arti tatapan kedua sahabatnya itu, Azka menjelaskan sedikit apa yang terjadi pada Alex tadi.


Gavin dan Alex kompak menggelengkan kepala tidak percaya dengan ucapan Azka. Sementara Alex hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi.


Alex dan Felicia sudah berpacaran lebih kurang satu tahun ini. Selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah saling bertengkar satu sama lain. Itu yang membuat Alex tidak habis pikir kenapa Felicia bisa mengkhianatinya. Padahal Alex dengan tulus mencintai gadis itu.


Alex yang masih diliputi rasa marah, kembali meminum minuman itu langsung dari botolnya. Alex ingin mabuk malam ini dan melupakan semua hal buruk yang terjadi pada dirinya.


Saat Dhafi ingin mencoba menahan sahabatnya itu untuk minum terlalu banyak, Azka langsung menghalangi dan menggelengkan kepalanya pada Dhafi.


" Biarin dia mabok Fi! Mungkin dengan cara itu dia bisa lupain sakit hatinya untuk sementara waktu."


Dhafi akhirnya tidak jadi menahan Alex untuk berhenti minum. Mereka bertiga akhirnya menemani Alex minum walaupun tidak sebanyak yang Alex lakukan.


" Alex kenapa Vin?" Teman-teman mereka yang baru saja kembali dari lantai bawah, kompak menatap Alex dengan heran. Mereka bertanya-tanya kenapa Alex minum sebanyak itu sampai-sampai dia hampir kehilangan kesadarannya.


" Dia lagi putus cinta!" Jawab Azka cepat. Azka malas untuk menjelaskan lebih banyak kepada semua teman-temannya.


Mereka semua kompak menganggukkan kepala lalu kembali duduk di bangku masing-masing. Saat jam sudah menunjukkan puku 12 malam, mereka semua turun dari lantai atas dan bersiap meninggalkan club malam itu.


"Anjir...berat banget Lo Lex!" Azka menggerutu sebal sambil memapah Alex yang sudah tidak sadarkan diri karena mabok. Dhafi juga membantu Azka untuk memapah sahabatnya itu. Sementara Gavin berjalan di depan untuk membukakan pintu untuk mereka semua.


" Jangan muntah Lo Lex! Gue buang ke laut Lo, kalau sampai muntah di mobil gue." Gavin mengancam Alex yang tidak sadarkan diri di samping Azka saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


" Dia nggak bakalan dengerin bego!" Ucap Azka dengan berani. Dia tidak takut dengan Gavin yang sudah memelototinya dengan marah karena menyebut Gavin bego.


" Apa Lo bilang barusan?" Tanya Gavin memastikan. Dia menatap Azka lewat kaca spion yang ada di atas kepalanya.


" Sorry bro!" Azka memaksakan senyumannya pada Gavin lalu mengalihkan tatapannya pada sahabatnya itu.


" Udah bro! Mendingan kita jalan sekarang!" Dhafi yang duduk di depan menengahi pertengkaran keduanya agar tidak semakin berlarut-larut.

__ADS_1


" Hmm.." Gavin hanya berdehem singkat lalu segera menjalankan mobilnya menuju rumah Alex terlebih dahulu.


__ADS_2