
Di suatu siang yang cukup panas, sebuah mobil sedan berwarna hitam tiba-tiba menepi di sebuah jalanan yang cukup sepi.
" Kenapa mobilnya berhenti Pak?" Shasa menghentikan kegiatannya yang sedang menonton acara Run BTS di ponselnya dan bertanya pada Pak Karim yang sedang menyetir mobil.
" Kayak nya ban mobilnya kempes deh non! Tunggu sebentar ya non, Pak Karim liat dulu!" Sopir Shasa turun dari dalam mobil dan melihat kondisi ban belakang yang memang sudah kempes.
" Gimana Pak?" Shasa juga ikut turun dari mobil dan memperhatikan pak Karim yang sedang memeriksa ban.
" Ban nya kempes non! Bapak lupa bawa ban serep. Pak Karim telfon Mang Ujang dulu ya non!" Pak Karim mengeluarkan ponsel jadulnya dan menghubungi satpam yang bekerja di rumah Shasa.
Ketika pak Karim sedang sibuk menelfon pak satpam, Shasa memilih berdiri di depan kap mobil sambil melihat-lihat keadaan sekeliling. Mobil Shasa saat ini sedang berhenti di sebuah jalan kecil yang masih jauh dari rumah Shasa.
" Non, tunggu di dalam aja. Sebentar lagi Mang Ujang nya datang." Pak Karim menyarankan anak dari bosnya itu untuk duduk di dalam mobil karena cuaca siang ini cukup panas.
" Aku di sini aja deh pak. Capek duduk dari tadi." Shasa menolak usulan Pak Karim dan tetap berdiri di tempatnya tadi.
Saat shasa akan mengeluarkan ponsel dari sakunya, sebuah mobil berwarna putih tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil Shasa. Shasa sedikit mengernyitkan dahinya karena sepertinya dia mengenal siapa pemilik mobil itu.
" Kamu ngapain disini Sha?" Cowok itu turun dari mobil dan menghampiri Shasa yang masih berdiri di depan kap mobilnya.
" Eh...bang Rafka!" Shasa sedikit terkejut karena dia bisa bertemu dengan Rafka di situasi seperti saat ini.
" Ban mobil aku kempes Bang! Pak Karim lupa bawa ban serep nya. Jadi kita nungguin Mang Ujang dulu buat anterin ban gantinya." Shasa menjelaskan kronologi kejadian yang sedang terjadi pada Rafka lalu melemparkan senyuman manis pada Abangnya Rhea itu.
" Oh gitu! Ya udah kamu pulang bareng Abang aja. Biar bang Rafka anterin." Rafka menawarkan Shasa agar pulang bersamanya. Rafka sudah sering mengantarkan Shasa pulang sebelumnya, jadi dia tau persis dimana rumah gadis itu.
" Nggak ngerepotin nih bang? Rumah kita kan beda arah." Shasa sebenarnya tidak ingin menolak bantuan Rafka. Tapi gadis itu sedikit kasihan dengan Rafka yang harus putar balik lagi kalau dia harus mengantarkan Shasa terlebih dahulu.
" Nggak apa-apa! Yuk naik!" Rafka menarik tangan Shasa lalu berjalan mendekati mobil Rafka. Shasa hanya mengikuti Rafka tanpa protes sedikit pun. Dalam hati Shasa bersorak kegirangan karena perlakuan manis Rafka itu.
" Pak, saya anter Shasa pulang ya!" Rafka kembali ke mobil Shasa untuk berpamitan pada Pak Karim untuk mengantarkan Shasa pulang terlebih dahulu.
" Iya mas Rafka. Makasih ya mas." Pak Karim sudah mengenal Rafka sejak lama, jadi pak Karim tidak menolak jika pemuda itu mau mengantarkan anak bosnya pulang ke rumah.
" Iya Pak!" Rafka tersenyum pada Pak Karim lalu meninggalkan pak Karim seorang diri di mobil yang sedang kempes itu.
" Bang Rafka kenapa bisa sampai lewat sini?" Shasa bertanya pada Rafka, saat cowok itu sudah kembali ke mobilnya dan duduk dibalik setir kemudi.
" Abang habis dari rumah temen." Jawab Rafka sambil tersenyum. Rafka lalu menyalakan mesin mobilnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
" Rumah temen apa temen Bang?" Tanya Shasa memastikan. Dia melihat Rafka masih tersenyum senang sambil fokus melihat ke depan mobil.
" Hehehe... temen spesial Sha!" Jawab Rafka jujur sambil tertawa cengengesan lalu melirik Shasa sesekali. Seketika Shasa langsung terdiam mendengarkan ucapan Rafka tadi. Shasa tiba-tiba merasakan seperti ada bom yang meledak dan menghancurkan hatinya berkeping-keping.
__ADS_1
" Kok kamu diam Sha?" Rafka kembali melirik Shasa dari samping sambil tetap fokus mengemudi. Rafka merasa sedikit heran dengan sikap Shasa yang mendadak diam seperti ini. Membuat suasana di dalam mobil menjadi sepi tanpa ocehan dari mulut gadis itu.
" Eh...sorry bang. Oh ya, siapa temen spesial Abang itu? Cewek atau cowok ni?" Shasa berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan berpura-pura bertanya lebih banyak tentang orang yang di sukai Rafka itu.
" Ya cewek lah Sha! Emangnya Abang jeruk makan jeruk apa? Kamu ini ada-ada aja!" Rafka mendengus kesal pada Shasa yang mencoba menanyakan hal aneh padanya.
" Kan cuma nanya bang? Sewot amat sih! Btw, temen satu kampus ya bang?" Tanya Shasa lagi. Shasa meremas kedua tangannya untuk meredakan sedikit rasa sedih yang tersimpan di dalam hatinya.
" Yup, temen satu kampus tapi beda jurusan Sha. Abang kebetulan di kenalin sama temen. Orangnya cantik, pinter, dan lembut. Udah gitu nyambung kalau di ajak ngobrol tentang hal apapun. Bikin Abang jadi pengen deket-deket terus sama dia."
Rafka kembali tersenyum senang saat menceritakan gadis yang saat ini sedang dia dekati pada Shasa. Rafka sama sekali tidak memperhatikan ekspresi Shasa yang berubah sendu karena terlalu sibuk memikirkan gadis yang sangat dia sukai itu.
" Wah...selamat ya bang. Akhirnya Abang bisa melepaskan status jomblo yang selama ini Abang sandang." Ucap Shasa setengah mengejek. Membuat Rafka mengangkat satu tangannya untuk mengacak-ngacak rambut Shasa.
" Kamu ya, masih sempat-sempatnya ledekin Abang. Kamu sendiri aja masih jomblo." Rafka kembali meledek Shasa yang wajahnya sudah cemberut saat dia mengacak rambut gadis itu tadi.
" Wajar dong aku jomblo. Aku kan masih kecil. Sedangkan Abang udah tua, baru kepikiran pacaran sekarang. Kemana selama ini bang?" Ejek Shasa lagi sambil membenahi rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Rafka tadi.
" Rhea aja udah pacaran. Kamu aja yang nggak laku, pakai alasan masih kecil segala lagi. Kamu kan jelek, mana ada yang mau sama kamu." Rafka masih tidak mau kalah untuk terus membalas ledekan Shasa lagi. Dia tidak menyadari bahwa Shasa sudah diam membeku mendengarkan ucapan Rafka.
" Aku emang jelek bang. Makanya nggak ada yang mau sama aku. Hiks...."
Air mata yang sejak tadi Shasa tahan akhirnya luruh juga di pipi gadis itu.
" Eh..kamu kenapa Sha?" Rafka sangat terkejut mendapati Shasa menangis sesenggukan di sampingnya. Rafka langsung menepikan mobil, agar dia bisa menanyakan apa yang terjadi pada gadis itu secara langsung.
" Kamu kenapa Sha? Kok kamu nangis? Abang ada salah ngomong ya sama kamu?" Rafka mulai bertanya lagi pada Shasa saat mobil itu sudah berhenti. Rafka terlihat cemas karena Shasa menutup muka dengan kedua tangannya sambil menangis.
Shasa sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rafka, dia terlalu sedih sampai tidak bisa menghentikan tangisannya.
" Sha, jangan diam aja. Abang minta maaf ya, kalau Abang salah ngomong tadi." Rafka meraih kedua tangan Shasa dengan lembut agar dia bisa melihat wajah gadis itu.
Saat tangan Shasa sudah berhasil Rafka turunkan, dia mengusap bekas air mata yang masih tersisa di pipi gadis itu dengan jari tangannya.
" Jangan nangis Sha. Abang minta maaf. Kamu nggak jelek kok Sha. Abang cuma asal ngomong aja tadi."
Rafka masih sibuk mengusap air mata Shasa sambil menatap gadis itu dengan tatapan bersalah. Rafka tadi cuma iseng menjelek-jelekkan gadis itu. Dia tidak menyangka reaksi Shasa akan menjadi seperti ini.
" Bang Rafka jahat!" Shasa memukul-mukul dada Rafka karena kesal. Shasa menangis bukan karena Rafka mengatakan dia jelek, tapi karena Rafka sudah menyukai orang lain. Membuat hati Shasa menjadi begitu kecewa dan terluka.
Rafka sama sekali tidak mengelak dan membiarkan Shasa melampiaskan kekesalan nya pada rafka. Rafka mengira kau Shasa sangat tersinggung dengan ucapannya tadi.
Saat tangan Shasa sudah puas memukuli dada Rafka, dia menatap cowok itu dengan garang.
__ADS_1
" Cepetan jalanin mobilnya. Aku mau pulang!" Saat Shasa sudah memerintahkan Rafka untuk melajukan mobilnya, dia langsung menoleh ke samping untuk menghindari tatapan Rafka.
" Kamu lagi PMS ya Sha? Sensitif banget. Abang minta maaf ya sama kamu." Rafka akhirnya menjalankan mobilnya sesuai permintaan Shasa. Di dalam mobil mereka berdua hanya diam tidak berbicara satu sama lain. Rafka takut akan menyinggung perasaan Shasa lagi. Jadi Rafka memilih untuk fokus menyetir.
Saat mobil itu sampai di depan rumah Shasa yang besar, Shasa segera turun dari mobil tanpa bicara pada Rafka lagi.
" Sha..!" Rafka mengikuti Shasa keluar dari mobil dan menahan tangan gadis itu.
" Apa sih bang?" Jawab Shasa jutek. Dia segera menepis tangan Rafka yang memegang sebelah tangannya.
" Kamu masih marah sama Abang? Kan Abang udah minta maaf sama kamu?" Rafka berbicara dengan lembut agar gadis itu tidak marah lagi padanya.
" Aku nggak marah, tapi lagi kesel. Bang Rafka pulang aja. Makasih buat tumpangannya." Shasa langsung berbalik tanpa menunggu jawaban Rafka terlebih dahulu.
" Tapi Sha..." Ucapan Rafka terpotong karena Shasa sudah masuk ke dalam pagar rumahnya dengan cepat. Rafka hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Shasa kali ini.
" Gue kayaknya emang udah keterlaluan tadi!" Ucap Rafka seorang diri. Dia kembali mengingat apa yang dia ucapkan pada Shasa saat di mobil tadi dan rasa penyesalan tumbuh di hatinya. Rafka lalu mengusap wajahnya dengan kasar dan setelah itu dia masuk lagi ke dalam mobilnya. Rafka kemudian segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk meninggalkan rumah Shasa.
****
Bbrraakk...
Shasa masuk kedalam kamarnya setelah membanting pintu dengan sangat keras. Saat Shasa sudah duduk ditepi kasur, dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi seseorang.
Saat panggilan itu tidak kunjung di angkat, dia membanting ponsel itu ke atas tempat tidur dengan kesal.
" Lo kemana sih Rhee? Nyebelin banget!" Shasa menggerutu kesal seorang diri karena Rhea sama sekali tidak menjawab telfon darinya.
Shasa kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur karena lelah. Dia tidak punya tenaga sama sekali untuk sekedar mengganti baju sekolah yang masih dia pakai saat ini.
Saat Shasa memikirkan apa yang terjadi hari ini, dia tidak menyangka akan menangis di hadapan Rafka begitu saja. Rasa sakit karena patah hati tidak mampu Shasa tahan, membuat dia terlihat begitu menyedihkan di hadapan Rafka. Shasa berharap Rafka tidak menyadari arti dari tangisannya tadi.
Sepertinya Shasa harus menjauhi Rafka untuk sementara waktu agar cowok itu sedikit lupa dengan kejadian hari ini.
Shasa kemudian mengambil lagi ponselnya yang tergeletak di sampingnya lalu mengetikkan sebuah pesan pada Rhea.
💌
To: Rhea
Rhee...gue patah hati ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Hubungin gue kalau Lo udah baca pesan dari gue.
---------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Saat pesan itu sudah terkirim, Shasa meletakkan kembali ponsel itu di samping tubuhnya. Shasa kemudian segera menutup matanya, agar bisa tidur dengan cepat dan melupakan sejenak kejadian yang dia alami tadi bersama Rafka.