
Di sebuah kompleks perumahan yang terbilang cukup mewah, terlihat seorang pemuda yang menggunakan Hoodie berwarna hitam dan celana jeans sobek sedang berjalan sendiri menuju mini market yang berada di luar kompleks perumahan itu.
Pemuda itu tampaknya sedang menggerutu sendiri karena mendapat tugas yang seharusnya tidak dia lakukan. Ditambah lagi dia harus berjalan kaki tanpa menggunakan motor, membuat dirinya semakin bertambah kesal. Cuaca malam yang begitu dingin membuat dia segera merapat Hoodie yang dia pakai agar tidak kedinginan.
Pemuda itu adalah Azka Permana Putra. salah satu sahabat Gavin yang terkenal dengan julukan playboy di sekolah mereka.
" Mami tega bener sama gue. Kenapa gue yang harus di suruh beli pembalut? Mana nggak boleh naik motor lagi." Azka menggerutu sebal seorang diri sambil berjalan keluar kompleks.
Kali ini Azka mendapatkan hukuman dari maminya untuk membelikan sebuah pembalut ke mini market yang berada di depan kompleks perumahan mereka dan Azka tidak diperbolehkan sama sekali untuk membawa motor. Mami Azka sengaja memberikan hukuman, agar Azka merasa jera dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Saat Azka melewati taman yang masih berada dikawasan komplek itu, Azka dapat melihat ada seorang gadis yang sedang duduk di sebuah ayunan. Gadis itu terlihat memakai setelan piyama tidur dan membiarkan rambutnya yang ikal panjang tergerai begitu saja.
" Itu cewek apa neng Kunti ya? Kok malam-malam duduk disitu. Iii..kok gue jadi merinding ya? Mendingan gue kabur dari pada gue di kejar nanti." Ucap Azka sendiri.
Azka kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan taman dan segera bergegas ke mini market membeli apa yang di suruh oleh maminya tadi.
Saat Azka sudah berada di dalam mini market, semua gadis yang berada di sana menatapnya heran karena dia sedang berdiri di depan rak pembalut. Seketika muka Azka langsung merah menahan malu. Dengan secepat kilat Azka langsung mengambil pembalut yang ada di sana dan membawanya ke meja kasir untuk di bayar.
" Gue nggak akan mau lagi di suruh mami beli pembalut. Mau di taruh dimana muka gue." Azka menghela nafas berat setelah berjalan keluar dari mini market itu.
Azka segera mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumah. Azka berjanji akan menuruti apa yang maminya suruh dan tidak akan membantah lagi. Azka tidak ingin di beri hukum seperti ini lagi karena itu semua akan merusak citra nya sebagai Playboy Sejati.
" Apa cewek tadi masih ada ya? Mudah-mudahan nggak deh. Bikin gue takut aja." Ucap Azka sendiri sambil bergidik ngeri.
Saat Azka pulang melewati taman lagi, ternyata gadis yang tadi masih betah untuk duduk di sana tanpa bergeser sedikit pun. Azka sampai mengernyitkan dahinya heran melihat gadis itu.
" Dia orang bukan sih?" Azka melihat kaki gadis itu. "Kakinya napak kayak nya. Apa dia nggak ada kerjaan duduk disitu." Azka menggelengkan kepala nya tidak habis pikir.
Azka kemudian memilih untuk meninggalkan taman itu. Saat Azka sudah hampir sampai di depan rumahnya, Azka kembali teringat dengan gadis tadi. Hati nuraninya berbisik-bisik agar dia harus menyuruh gadis itu pulang. Azka merasa tidak tega melihat gadis itu hanya menggunakan piyama tidur tanpa melapisinya dengan sweater atau jaket. Padahal cuaca malam ini begitu dingin. Gadis itu bisa sakit kalau terlalu lama duduk di luar.
" Lo sok care banget jadi orang! Emang nya Lo kenal sama dia? Nggak kan!!" Ucap Azka menggerutu sendiri.
Tapi karena terus terpikir dengan nasib gadis tadi, membuat Azka mengurungkan niatnya memasuki rumah. Azka dengan tergesa kembali ke taman dan mendekati gadis yang masih setia duduk di ayunan taman itu.
__ADS_1
" Lo mau mati kedinginan duduk di sini??" Suara berat Azka mengagetkan gadis yang sedang termenung memandangi pasir yang ada di bawah kakinya.
Gadis itu menatap Azka dan merasa terkejut karena tidak menyangka akan berjumpa dengan Azka saat situasinya sangat menyedihkan kali ini.
Sama seperti gadis itu, Azka juga terkejut mendapati gadis yang dia kenal sebagai teman Rhea itu, sedang duduk sendiri di taman malam-malam begini. Mata gadis itu juga terlihat bengkak seperti habis menangis. Azka jadi penasaran apa yang membuat gadis menjadi bersedih begini.
" Lo temannya Rhea kan? Kenapa Lo duduk disini sendirian? Bokap sama nyokap Lo bakalan khawatir kalau lo nggak balik. Lagian ini udah malem, lo nggak kedinginan pake baju itu doang?"
Azka mencecar gadis itu dengan banyak pertanyaan, membuat gadis itu bingung harus menjawab apa.
" Lo bisu apa budeg? Gue nanya sama Lo! Kalau Lo mau mati kedinginan jangan di kompleks rumah gue. Ntar kalau Lo jadi hantu, gue jadi nggak berani lewat sini malam-malam." Ucap Azka dengan spontan.
Saat mendengar ucapan dari Azka membuat gadis itu sedikit tersenyum karena terhibur. Dia tidak menyangka bahwa salah satu anggota geng The Devil bisa cerewet seperti ini. Padahal mereka semua terkenal memiliki sifat yang sedikit arogan, suka memerintah dan irit bicara.
" Kenapa Lo senyum? Lo udah gila ya?" Azka menatap sinis gadis yang masih duduk di ayunan tadi.
" Enak aja. Gue nggak nyangka aja salah satu anggota geng The Devil bisa cerewet juga. Nggak sesuai rumor ternyata. Hahaha.." gadis itu tertawa senang karena berhasil membuat Azka marah karena menyebut dirinya cerewet.
" Lo berani ya sama gue??" Azka kembali menatap gadis itu dengan tatapan membunuh. Membuat nyali gadis itu langsung menciut dan menghentikan tawanya dengan segera.
" Ini punya mami gue. Lo jangan ngasal ya! Cepetan jawab pertanyaan gue tadi!!" Kali ini wajah Azka tidak segarang tadi, tapi tetap menakutkan di mata gadis itu.
" Sorry deh kalau gitu. Gue lagi nggak pengen pulang. Lagi pula orang tua gue juga nggak bakalan nyari gue. Mereka lagi sibuk berantem. Jadi lebih baik gue ngadem disini. Lebih nyaman dan nggak sumpek."
Gadis itu berbicara dengan santai nya seperti tanpa beban. Azka yang mendengar ucapan gadis itu, mulai sedikit mengerti alasan gadis itu masih betah bertahan di luar rumah. Ternyata masalah gadis itu lumayan rumit untuk dihadapi.
" Ooohhh..gitu alasannya. Ya udah ngadem aja Lo disini sampai beku. Kalau Lo mati jangan jadi hantu disini. Lo ngerti kan yang gue bilang??" Azka memberi peringatan pada gadis itu agar mendengarkan apa yang Azka ucapkan.
" Iya, gue ngerti. Hus..sana Lo pergi! Gue lagi nggak pengen di ganggu!" Gadis itu kembali menatap pasir yang ada dibawah kaki nya tanpa memperdulikan Azka yang menatapnya keheranan.
" Serah Lo deh, gue pergi!" Azka menatap gadis itu yang tidak menunjukkan reaksi apapun. Kemudian Azka berbalik pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
Saat Azka melihat kembali ke belakang, dia merasa tidak tega dengan gadis itu. Azka lalu membuka Hoodie yang dia kenakan dan melemparnya kearah gadis itu.
__ADS_1
" Pakai tu Hoodie gue!! Lumayan biar badan Lo nggak kedinginan." Azka kembali menatap gadis yang masih duduk di ayunan tadi. Senyum gadis itu seketika merekah saat melihat sebuah Hoodie yang nampak kebesaran ada di pangkuannya.
Azka yang masih memperhatikan gadis itu, tiba-tiba terpesona dengan senyuman manis gadis itu. Azka merasakan ada sebuah perasaan yang aneh yang singgah di hatinya yang belum pernah dia rasakan sebelum ini.
" Thanks ya kak. Lo baik banget deh!" Gadis itu kembali tersenyum dan membuat debaran jantung Azka semakin menggila.
" Jantung gue kenapa ni? Apa gue kena penyakit jantung ya?" Batin Azka sendiri sambil memegang dadanya.
" Kok bengong kak? Nggak jadi balik?" Gadis itu menatap Azka yang masih berdiri ditempatnya setelah melemparkan sebuah Hoodie ke pangkuannya
" Haa...iya gue mau balik." Saat Azka berjalan beberapa langkah, cowok itu teringat sesuatu dan kembali berbalik menatap gadis itu sambil memasang tampang datarnya. "Lo belum sebutin siapa nama Lo?"
Mendengar pertanyaan dari Azka membuat gadis itu kembali tersenyum. "Nama gue Ara. Salam kenal ya kak Azka." Gadis itu melambaikan tangan ke arah Azka.
" Ohh...nama lo Ara. Ya udah gue balik dulu." Azka kembali bergegas meninggalkan gadis itu sendirian di taman.
Sedangkan Ara kembali melambaikan tangan pada Azka, lalu segera memakai Hoodie pemberian Azka. Ternyata Hoodie nya sangat hangat dan wangi. Gadis itu tersenyum senang sambil menggerakkan tangan nya yang sudah hilang tertelan Hoodie yang kebesaran. Lalu kembali menatap Azka yang sudah pergi semakin jauh.
Akhirnya Azka sampai juga di depan rumah, Azka segera bergegas masuk agar maminya tidak semakin marah karena dia terlambat pulang.
" Kamu dari mana aja Ka? Kamu beli pembalut mami di Bandung ya? Kok lama sekali kamu baru pulang?" Mami Azka memandang putranya itu meminta penjelasan.
" Aku tadi nggak sengaja ketemu temen deket taman kompleks. Jadi kita sempat ngobrol sebentar. Sorry ya Mi, kalau Azka telat." Azka mengatupkan tangannya didepan dada meminta maaf pada sang mami.
" Ya udah, sini pembalutnya!" Azka segera menyodorkan pembalut itu ke tangan Maminya.
" Oke, makasih ya Ka. Tapi inget pesan mami, kalau sampai mami lihat kamu pulang telat lagi atau mami dapat Laporan dari sekolah kalau kamu sering cabut, mami tidak segan-segan memberi hukuman yang lebih berat dari ini!!" Mami memberikan sedikit ancaman agar anaknya itu lebih patuh mengikuti peraturan.
" Sipp Mi, Azka balik ke kamar dulu ya. Night Mi!!" Azka mendekati mami nya dan memberikan kecupan sayang di pipi maminya itu.
" Iya, sleep well ya Ka." Mami mengusap kepala Azka dengan sayang. Sedangkan Azka hanya mengangguk patuh pada sang mami. Sepertinya mami Azka tidak bisa marah lebih lama pada Anak lelakinya itu.
Saat Azka sudah berada di dalam kamarnya, dia jadi teringat dengan pertemuannya tadi dengan Ara di taman. Azka sedang membayangkan wajah Ara yang begitu manis saat dia tersenyum dan dapat merasakan kembali degup jantung nya kembali berpacu tidak normal.
__ADS_1
" Gue kenapa ya? Apa bener gue sakit jantung? Apa gue harus cek ke dokter ya?" Ucap Azka pada diri sendiri. Azka kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur. Mencoba mengistirahatkan tubuh nya yang sudah letih agar kembali fit keesokan harinya.
Sepertinya Azka belum menyadari sepertinya benih-benih cinta sudah masuk kedalam hatinya. "Apa kata dunia kalau Playboy jatuh cinta?" Itu kata pertama yang akan mungkin Azka ucapkan saat menyadarinya.