
Di sebuah mall yang cukup terkenal di kota Jakarta, terlihat dua orang gadis yang masih menggunakan seragam sekolah sedang berkeliling ke setiap toko yang ada di mall itu.
" Capek banget gue ngikutin lo Ra! Perasaan kita kan mau beli sepatu deh?Tapi kenapa setiap toko yang ada di mall ini Lo masukin?" Ucap Rhea sambil menghela nafas lelah. Rhea tidak menyangka Ara akan mengajaknya mengelilingi setiap toko yang berada di mall yang sebesar ini.
" Hehehe...nggak apa-apa kali Rhee! Sekalian cuci mata!" Ara tertawa cengengesan melihat Rhea yang nampak sudah kelelahan berkeliling.
" Cuci mata pala Lo picek! Yang ada kaki gue gempor monyong!!" Jawab Rhea sedikit ketus. Rhea berjanji dalam hati, tidak akan pernah mau lagi mengikuti Ara pergi ke mall.
" Santuy Rhee! Jangan ngegas dong! Itu toko sepatu yang mau kita lihat!" Ara menunjuk sebuah toko sepatu yang berada di ujung pertokoan.
" Kuy, gue mau pulang habis ini. Nggak lagi-lagi deh gue kesini sama Lo!" Ucap Rhea sedikit kesal lalu menarik tangan Ara agar segera mendatangi toko itu.
" Sabar buk, kayak di kejar setan aja!" Celetuk Ara asal. Membuat Rhea mendelik sebal dan kembali menarik tangan sahabatnya itu lebih cepat.
Saat Rhea dan Ara sudah sampai di toko itu, mereka berdua dengan antusias melihat semua sepatu-sepatu yang tersusun rapi di etalase. Ada berbagai model sepatu olahraga yang di jual di toko itu. Membuat Rhea dan Ara sedikit kebingungan untuk mencari sepatu basket yang akan mereka beli.
" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang karyawan toko dengan ramah.
" Selamat siang juga mbak! Kita mau cari sepatu basket buat cewek mbak. Bisa rekomendasiin model yang bagus nggak mbak, soalnya bingung nih milih nya." Balas Rhea dengan sopan sambil tersenyum pada karyawan toko itu.
" Bisa, silahkan ikut saya!" Pegawai toko mengiring Rhea dan Ara ke sudut toko yang memajang semua model sepatu basket untuk cowok maupun cewek. Rhea dan Ara sampai terpana melihat begitu banyaknya model sepatu basket yang tersusun di sana.
" Silahkan duduk dulu! Saya akan perlihatkan beberapa model sepatu untuk kalian." Pegawai toko segera menuju rak sepatu basket khusus cewek dan mengambil beberapa model yang bagus untuk di pilih oleh pelanggannya hari ini.
" Silahkan, ini beberapa model sepatu terbaru!" Pegawai toko memperlihatkan beberapa model sepatu basket kepada Rhea dan Ara. Kedua gadis itu dengan seksama melihat beberapa model sepatu yang berada di tangan mereka.
Setelah beberapa saat melihat sepatu yang ditawarkan oleh pegawai toko, akhirnya Rhea dan Ara menjatuhkan pilihan mereka masing-masing. Rhea memilih sepatu Nike Kyrie Expession berwarna pink dengan kombinasi warna biru. Sedangkan Ara memilih sepatu Nike Air Jordan 6 Milenial berwarna pink.
Mereka berdua tersenyum puas dengan pilihan masing-masing dan akhirnya menyerahkan sepatu itu kepada pegawai toko untuk di bayar.
Saat sepatu Rhea dan Ara sudah di kemas dengan rapi dan di bayar, mereka berdua meninggalkan toko itu dengan perasaan yang senang.
" Bakalan makin keren aja kita nih Rhee!!" Ucap Ara bangga sambil menggoyang-goyangkan Paper bag berisi sepatu yang baru dia beli.
" Keren tuh bukan karena sepatu Ra! Tapi kalau skill kita bagus baru bisa di bilang keren! Sepatu itu cuma faktor penunjang aja." Jelas Rhea pada Ara. Kedua gadis itu saat ini sedang berada di eskalator untuk turun ke lantai dasar.
" Iya deh buk sekretaris! Btw, kita cari makan dulu ya Rhee! Perut gue udah laper ni!" Ucap Ara sambil memegangi perutnya.
" Boleh deh, gue juga udah laper! Kita ke KF* aja ya! Gue mau makan ayam goreng!" Mereka berdua dengan semangat menuruni eskalator menuju lantai dasar di mana restoran ayam goreng itu berada.
*****
Rhea dan Shasa sudah sampai di restoran ayam goreng. Rhea segera memesan makanan mereka, sedangkan Ara duduk manis sambil memainkan ponselnya.
Ara yang sudah mulai bosan bermain ponsel, memilih melihat pemandangan di luar restoran di balik dinding kaca yang transparan. Ara dapat melihat suasa mall yang tidak begitu ramai karena hari ini bukan weekend.
Saat Ara masih memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di depan restoran, tanpa diduga Ara melihat sosok papanya sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita yang masih terlihat muda.
__ADS_1
Ara yang melihat hal itu langsung bergegas keluar restoran dan mengejar papanya beserta wanita itu. Ara sangat marah dan ingin melabrak mereka berdua.
" Papa...!" Teriak Ara dengan keras. Suasana mall yang tidak begitu ramai, membuat suara Ara menggema dan menghentikan langkah papanya yang sedang berjalan di depan.
Saat papa Ara mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, dia segera menoleh ke belakang. Seketika dia sangat terkejut melihat Ara yang telah berdiri mematung menatapnya dengan kilatan amarah yang terpancar dari mata gadis itu.
Saat Ara mendekat, dia dapat melihat papanya dan wanita itu sedang bergandengan tangan dengan mesra. Ara semakin kesal dan terus menatap keduanya hingga mereka sadar dan melepaskan gandengan tangan itu.
" Papa ngapain di sini? Dia siapa? Tunjuk Ara pada wanita yang berdiri di samping papanya.
Mendengar pertanyaan Ara membuat papanya sedikit gugup. "Dia rekan bisnis papa. Kita berdua baru selesai makan siang. Kalau kamu ngapain di sini? Bukannya langsung pulang ke rumah." Ucap Papa Ara sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
" Aku di sini lagi beli sepatu buat latihan basket sama temen aku. Rekan bisnis papa cantik juga ya? Masih muda lagi. Aku kira dia selingkuhan papa!" ucap Ara dengan sinis sambil menatap keduanya bergantian. Ara tidak yakin bahwa wanita yang berada di samping papanya itu adalah rekan bisnis.
" Kamu jangan sembarangan ya Ra! Mendingan kamu pulang sekarang! Papa sama Tante ini mau ke kantor dulu. Ada urusan yang harus kami selesaikan." Ucap Papa ara sedikit emosi.
" Oke, aku habis ini bakalan pulang. Papa hati-hati ya! Kapan-kapan ajak Tante ini main ke rumah. Biar suasana di rumah makin rame. Mau kan TANTE??" Ara sengaja menyebutkan kata 'Tante' dengan keras dan memberikan tatapan mengejek pada wanita itu.
" I..iya." jawab wanita itu dengan singkat. Dia terlihat sangat gugup saat berhadapan dengan Ara, sedangkan sang papa hanya mengangguk sekilas tanpa mau berbicara lagi dengan putrinya itu.
Kemudian papa Ara dan wanita itu meninggalkan Ara sendirian di tempat itu. Ara merasa sangat kecewa dan marah dengan tingkah laku papanya. Rasanya Ara ingin sekali menjambak dan memukul wanita tadi. Tapi Ara masih punya pemikiran yang waras, jadi dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum.
Saat perasaannya sedikit lebih tenang, Ara memutuskan untuk segera kembali ke restoran tadi. Ara yakin kalau Rhea pasti kebingungan mencari dirinya.
" Lo dari mana aja sih Ra? Gue nungguin Lo dari tadi." Ucap Rhea sedikit panik. Rhea telah menunggu sahabatnya itu lebih dari 15 menit yang lalu.
" Ya udah, yuk kita makan! Gue udah laper berat ni." Mereka berdua akhirnya mulai menyantap makanan mereka masing masing. Ara yang tidak berselera hanya mengacak-ngacak makanannya. Hal itu tidak luput dari perhatian Rhea yang berada di hadapannya.
" Lo kenapa sih Ra? Lo sakit lagi?" Tanya Rhea khawatir.
" Gue nggak papa kok Rhee!" Ara mencoba untuk tersenyum dan berusaha memakan sedikit makanannya agar Rhea tidak curiga dengan apa yang terjadi dengan nya barusan.
Rhea yang masih penasaran, terus memperhatikan sahabatnya itu sambil terus menikmati makanan yang sudah dia pesan. Saat makanannya sudah habis, dia dapat melihat bahwa Ara hanya memakan sedikit makanannya. Di samping itu sikap Ara yang lebih banyak diam, membuat Rhea sedikit khawatir.
" Kalau lo ada apa-apa, bilang aja sama gue ya Ra! Gue harap Lo jangan pendem sendiri masalah lo! Dengan Lo sedikit curhat sama gue, seenggaknya bisa meringankan beban lo saat ini." Ucap Rhea dengan tulus sambil mengusap lengan Ara dengan lembut.
" Gue nggak apa-apa kok Rhee. Gue baik-baik aja." Ara kembali berbohong sambil memasang senyuman palsu di bibirnya pada Rhea.
Rhea yang mengetahui bahwa senyuman Ara itu palsu hanya bisa menghela nafas lelah. Sahabatnya itu mungkin belum siap menceritakan masalahnya pada Rhea. Jadi Rhea tidak akan memaksa lebih jauh lagi karena itu adalah privasi Ara.
Tapi sepandai-pandai nya Ara menyimpan kesedihan dihatinya, Ara tetaplah gadis remaja yang butuh tempat untuk mencurahkan kesedihan yang dia rasakan pada orang lain.
Hingga tanpa sadar air mata Ara yang sudah dia tahan sedari tadi, turun begitu saja membasahi pipi gadis itu. membuat Rhea sedikit terkejut dan segera mengulurkan tisu untuk membersihkan air mata yang sudah menetes di pipi sahabatnya itu.
Rhea yang tidak tau sama sekali permasalahan Ara, hanya duduk diam di samping sahabatnya itu. Tidak lupa Rhea mengelus punggung Ara, agar sahabatnya itu sedikit lebih tenang.
Saat Ara sudah berhenti menangis, Rhea berinisiatif memberikan Ara minuman agar sahabatnya itu tidak dehidrasi sehabis menangis.
__ADS_1
" Udah puas nangisnya? Kalau udah, nih minum dulu!" Ara mengulurkan air mineral kepada Ara.
" Udah." Jawab Ara singkat lalu menerima minuman yang di sodorkan oleh Rhea. Ara yang memang sangat haus, langsung meminum air itu hingga tersisa setengah.
" Ya udah, kita pulang yuk! Gue udah capek ni, ngantuk pengen istirahat!" Ucap Rhea lagi. Gadis itu tidak ingin membahas apa masalah yang membuat Ara menangis tadi. Dia akan menunggu sampai Ara menceritakan sendiri masalahnya.
" Lo nggak nanya kenapa gue nangis tadi?" Ucap Ara sedikit heran.
" Nggak. Gue nggak mau lo terpaksa cerita sama gue. Gue mau Lo dengan ikhlas curhat sama gue tanpa ada paksaan sama sekali." Jawab Rhea sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
" Gue mau deh curhat sama Lo! Tapi nggak disini ya. Gue boleh nggak main ke rumah Lo? Gue lagi males pulang." Ucap Ara jujur. Lagi pula tidak ada siapapun di rumah. Papa dan mamanya sibuk bekerja. Yang tersisa di rumah itu hanya seorang pembantu.
" Boleh dong! Tapi ada biaya konsultasi nya ya!" Ucap Rhea sambil menaik turunkan alisnya menggoda Ara.
" Emang nya Lo psikolog apa? Pakai ada biaya konsultasi segala?" Ucap Ara sedikit kesal.
" Ya, kan Lo mau curhat. Otomatis gue nantinya kasih solusi dong. Ya berarti kerja gue hampir mirip-mirip psikolog dong!" Jelas Rhea lagi membuat Ara mendengus sebal pada sahabatnya yang satu ini.
" Serah Lo deh! Ntar gue bayar! Tapi jangan mahal-mahal ya! Duit gue udah habis buat beli sepatu tadi." Ucap Ara pasrah.
" Oke." Rhea mengacungkan jempolnya pada Ara sambil mengedipkan sebelah matanya.
Saat mereka berdua sudah keluar dari restoran, ponsel Rhea tiba-tiba berbunyi dengan keras. Membuat kedua gadis itu menghentikan langkahnya keluar dari mall itu.
" Bentar ya Ra!" Rhea melihat siapa orang yang menghubunginya. Ternyata ada nama Gavin yang tertera di sana.
" Ciee...yayang Gavin nelpon tu Rhee! Angkat dong! Kasihan lama-lama di biarin." Ucap Ara yang sudah melihat nama Gavin yang sedang menelfon.
" Iya, gue angkat dulu." Ucap Rhea singkat lalu mengangkat panggilan telfon dari Gavin.
Rhea : " Hallo!!"
Gavin: " Hallo juga Yang! Kamu dimana? Udah nyampe di rumah?"
Rhea : " Belum, aku masih di mall. Ini mau pulang. Kenapa emangnya?"
Gavin : " Nggak aku cuma nanya aja. Kamu mau aku jemput nggak?"
Rhea : " Nggak usah, aku pulang bareng Ara. Dia mau main ke rumah aku dulu."
Gavin: " Ya udah, hati-hati di jalan ya! Kalau ada apa-apa, kamu hubungin aku aja!"
Rhea : " oke!! Aku matiin ya telfonnya! Bye.."
Gavin: " Bye juga Yang! Love you."
Akhirnya sambungan telfon itu di matikan. Rhea dan Ara kembali melanjutkan langkah mereka keluar dari dalam mall itu. Sambil menenteng sepatu yang baru di beli tadi, mereka berdua terus berceloteh dengan riang hingga mereka berdua sampai di pelataran mall.
__ADS_1
Saat ada taksi kosong yang berhenti di depan Rhea dan Ara, mereka berdua segera menaiki taksi itu dan melanjutkan tujuan mereka untuk pulang ke rumah Rhea.