Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
31. Serangan Jantung


__ADS_3

" Bye juga Yang! Love you." Gavin menutup panggilan telfon dari Rhea sambil tersenyum senang.


Sedangkan ketiga sahabatnya yaitu Alex, Azka dan Dhafi yang dari tadi hanya menjadi pendengar dari obrolan Gavin dengan Rhea, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.


" Kenapa gue lama-lama eneg ya liat si Gavin!" Celetuk Azka tiba-tiba.


" Gue juga. Nggak nyangka gue Bucin nya bisa separah ini!" Tambah Alex lagi.


" Semua orang bakal Bucin pada waktu nya bro!" Ucap Dhafi sok bijak.


" Berisik Lo semua!" Teriak Gavin karena merasa sedikit terganggu dengan ocehan teman-temannya.


" Mendingan Lo ajak aja si Rhea nikah deh, Vin!! Biar Lo nggak usah khawatir kalau dia pergi kemana-mana." Ucap Azka asal. Dia mulai jengah melihat sikap Gavin yang selalu panik dan khawatir kalau Rhea pergi bersama teman-temannya.


" Gue udah ajak Rhea nikah, tapi dia nggak mau." Ucap Gavin lagi membuat ketiga temannya tadi kompak terkejut.


" Serius Lo Vin? Wah...ternyata gercep juga Lo ya!" Alex merasa takjub dengan keberanian Gavin yang sudah siap mengajak Rhea menikah. Dia saja belum kepikiran sampai ke sana.


" Lo kira nikah itu gampang Vin? Emang nya Lo mau kasih makan apa anak orang nantinya?" Tanya Dhafi sedikit serius. Dia tidak mau sahabatnya itu bertindak gegabah tanpa memikirkan resiko yang akan dia hadapi nanti.


" Lo kayaknya lupa siapa Gavin deh, Fi! Gavin kan anaknya Ardana Wijaya, pemilik Wijaya Group. Duitnya nggak akan habis tujuh turunan kalau Lo nggak lupa." Ucap Azka mengingatkan membuat Dhafi dan Alex kompak menganggukkan kepala setuju.


" Gue nggak ada hubungan nya sama Wijaya Group!" Ucap Gavin menolak apa yang di ucapkan oleh Azka tadi. Gavin tidak Sudi memiliki hubungan apapun dengan perusahaan yang dimilik oleh papanya.


" Sampai kapan Lo bakalan terus musuhin bokap Lo Vin? Ini udah 2 tahun sejak kepergian nyokap Lo!" Ucap Dhafi mengingatkan.


Dhafi berharap Gavin akan memaafkan kesalahan yang pernah papanya perbuat di masa lalu. Dhafi tau papanya Gavin sudah mengakuinya kesalahan nya dan meminta maaf secara langsung pada Gavin. Tapi kerena sifat keras kepala yang Gavin miliki, membuat hubungannya dengan sang papa tidak pernah membaik.


" Lo nggak perlu ikut campur sama urusan gue!" Ucap Gavin datar. Gavin segera berdiri meninggalkan ketiga temannya yang sedikit terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Gavin. Dia lebih baik pergi dari pada membahas apapun yang berkaitan dengan sang Papa.


" Mau kemana lo Vin? Tanya Azka penasaran. Gavin yang masih merasa kesal dengan pembahasan tadi sama sekali tidak merespon pertanyaan sahabatnya itu dan segera mempercepat langkahnya keluar dari rumah Alex.


Saat Gavin sudah berada di samping motornya, sebuah panggilan telepon menghentikan langkah gavin untuk segera menaiki motornya. Dengan gerakan malas Gavin merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel yang tengah berdering dengan keras itu.


Ternyata seseorang yang bernama Edwin yang sedang menghubungi Gavin. Gavin yang tidak ingin di ganggu, mematikan panggilan itu dengan segera. Dia malas berkomunikasi dengan orang yang merupakan sekretaris pribadi dari papanya itu.


Gavin segera menaiki motornya, tanpa memperdulikan ponselnya yang berdering untuk kedua kalinya itu. Saat ini Gavin ingin segera menenangkan dirinya terlebih dahulu. Saat motor Gavin pergi meninggalkan rumah Alex, dia menambah kecepatan motornya agar sampai di tempat tujuan dengan segera.

__ADS_1


****


" Ini semua gara-gara Lo, Ka! Lo kan tau sendiri si Gavin nggak mau dengar apapun yang berkaitan sama papanya." Ucap Alex sedikit kesal pada Azka.


" Sorry gue nggak inget. Gue kira dia udah mulai bisa berdamai sama masa lalunya. Apalagi sekarang dia udah ama Rhea. Gue liat sikapnya yang keras kepala berangsur berkurang setelah deket sama cewek itu." Ucap Azka membela diri.


" Udah, jangan pada salah salahan! Biarin aja, ntar si Gavin baik lagi! Lo kayak nggak kenal sahabat Lo aja." Ucap Dhafi menenangkan Azka dan Alex bersamaan.


Saat mereka bertiga masih membicarakan perihal sikap Gavin, sebuah panggilan telepon menginterupsi ketiga nya.


" Siapa yang telpon Fi?" Tanya Azka penasaran kerena melihat ponsel Dhafi berdering. Dhafi yang tidak tau mengangkat bahunya sekilas lalu mengambil ponselnya itu yang berada di atas meja.


" Mas Edwin!" Jawab Dhafi singkat saat melihat nama orang yang menghubunginya. Dhafi tau kalau Edwin itu sekretaris pribadi dari papanya Gavin. Dhafi seketika mengerutkan dahinya tidak mengerti kenapa Edwin menghubunginya saat ini.


" Cepetan angkat Fi! Siapa tau penting!" Ucap Alex mengingatkan. Dia juga penasaran kenapa sekretaris pribadi dari papa Gavin menghubungi Dhafi secara tiba-tiba.


Dhafi yang juga sama penasarannya dengan Alex dan Azka, segera mengangkat telfon itu.


" Hallo!! Kenapa mas, kok tumben nelfon gue?" Tanya Dhafi tanpa berbasa-basi pada Edwin.


" Hallo Fi! Saya mau tanya sama kamu, apa Gavin ada bersama kamu sekarang?" Tanya Edwin dengan tergesa-gesa.


" Dari tadi saya sudah coba menghubungi dia, tapi panggilan saya tidak di angkat. Kamu tau Gavin pergi kemana sekarang, Fi?" Tanya Edwin lagi.


" Gue juga nggak tau mas! Emangnya ada apa ya mas? Kayaknya penting banget?" Tanya Dhafi lagi.


" Pak Ardana terkena Serangan Jantung, Fi! Saat ini beliau sedang di bawa ke Rumah Sakit untuk penanganan lebih lanjut. Makanya saya ingin memberi tahukan kondisi beliau pada Gavin saat ini." Jelas Edwin panjang lebar pada Dhafi.


Seketika Dhafi terkejut mendengar penjelasan dari Edwin tadi. Dia tidak menyangka bahwa Om Ardana yang dia lihat nampak begitu sehat, ternyata memiliki riwayat penyakit jantung.


" Oke mas, gue sama yang lain bakal cari Gavin dan kasih tau dia soal kondisi om Ardana." Ucap Dhafi serius.


" Baik Dhafi, mas mohon bantuannya!" Balas Edwin dengan tulus lalu mematikan sambungan telfonnya bersama Dhafi.


" Kenapa mas Edwin nelfon lo, Fi?" Tanya Azka sedikit penasaran. Melihat muka Dhafi yang berubah serius saat mas Edwin menelfon tadi, Azka yakin pasti ada masalah yang serius kali ini.


" Om Ardana kena Serangan Jantung. Mas Edwin minta tolong sama kita semua buat cari Gavin karena tu anak nggak bisa di hubungin." Ucap Dhafi sedikit cemas. Azka dan Alex yang mendengar penjelasan dari Dhafi tadi langsung terkejut sambil menggelengkan kepala tidak percaya.

__ADS_1


" Kalau gitu buruan kita nyebar buat cari si Gavin. Kalau ada yang udah ketemu sama dia duluan, jangan lupa kasih kabar!" Perintah Alex dengan segera. Azka dan Dhafi hanya mengangguk sekilas tanda mengerti, lalu segera meninggalkan rumah Alex untuk mencari keberadaan Gavin.


*****


Di sebuah tempat yang begitu sepi yang jauh dari kebisingan, Gavin melangkah kaki nya menyusuri begitu banyak pusara tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang sudah tiada.


Gavin saat ini sedang menguji seseorang yang sangat dia sayangi. Gavin juga tidak lupa membawakan satu ikat bunga mawar putih kesukaan orang tersebut.


Saat Gavin sudah berada di depan pusara orang itu, Gavin segera berjongkok dan meletakkan bunga yang dia bawa ke atas batu nisan yang berwarna putih itu.


" Hai ma! Gimana kabar mama hari ini?" Tanya Gavin dengan riang sambil memamerkan senyuman terbaiknya di hadapan batu nisan sang mama.


" Pasti baik kan ma! Kalau aku juga baik-baik aja kok ma. Maaf ya ma, aku baru bisa jenguk mama lagi hari ini. Aku rada sibuk gitu lah ma, maklum anak muda!" Ucap Gavin lagi sambil terkekeh kecil.


" Mama tau nggak, aku sekarang udah punya pacar loh ma. Namanya Rhea, orangnya cantik. Aku dulu juga pernah cerita kan sama mama tentang dia. Kapan-kapan aku bakalan ajak dia kemari buat jenguk mama. Mama pasti suka sama dia." Ucap Gavin lagi lalu mengusap batu nisan itu dengan sayang. Setelah itu Gavin terdiam untuk beberapa saat. Dia saat ini sedang mengingat semua kenangannya bersama sang mama.


" Ma...apa menurut mama, aku udah boleh maafin kesalahan papa yang udah jahat sama kita dulu ma?" ucap Gavin sendu. Inilah alasan Gavin menemui mamanya kali ini. Dia binggung dengan sikap nya yang masih begitu membenci sang papa walaupun sudah 2 tahun sejak mamanya meninggal. Gavin begitu sulit memberikan sebuah kata maaf buat papanya saat ini.


" Gimana caranya biar aku bisa maafin papa, ma?" Ucap Gavin lirih. Dia tidak bisa begitu saja melupakan kejadian yang dia alami bersama sang mama. Dia merasa diabaikan dan tidak diberi kasih sayang oleh papanya dulu. Mengingat itu semua membuat air mata gavin turun begitu saja disudut matanya.


" Maaf ma, aku agak cengeng hari ini." Ucap Gavin lagi sambil menghapus bekas air mata yang mengenai pipinya. Saat ini Gavin sepertinya belum berminat meninggalkan pusara mamanya untuk beberapa saat.


Tidak terasa sudah 30 menit Gavin hanya duduk diam di pusara sang mama sambil menatap batu nisan itu. Matahari yang tadi bersinar dengan terang, sudah mulai meredup dan bersiap meninggalkan bumi untuk beristirahat. Gavin yang sadar akan hal itu, segera berdiri dan bersiap meninggalkan pusara sang mama.


" Ma, aku pulang dulu ya ma! Kalau ada kesempatan, aku bakal bawa Rhea ke hadapan mama. Gavin janji ma. Love you ma." Ucap Gavin dengan tulus sambil menatap batu nisan itu. Setelah itu Gavin segera meninggalkan pusara tempat peristirahatan terakhir mamanya.


Saat Gavin sudah berada di atas motor, tiba-tiba dari arah depan motor Dhafi datang menghadang motor Gavin yang akan melaju meninggalkan pemakaman itu.


Dhafi dengan terburu-buru turun dari motornya dan menghampiri Gavin yang nampak kebingungan dengan kedatangan Dhafi yang tiba-tiba.


" Kenapa hape Lo nggak bisa di hubungin Vin? Lo tau nggak, semua orang lagi sibuk nyariin Lo dari tadi!" Ucap Dhafi sedikit emosi. Dhafi dan kedua sahabatnya sudah hampir putus asa mencari keberadaan Gavin. Mereka mengelilingi semua tempat yang mungkin akan di datangi oleh Gavin.


" Gue lagi nggak pengen di ganggu, jadi hape gue matiin. Emang kenapa Lo semua pada nyariin gue? Ada masalah yang penting?" Tanya Gavin sedikit mengernyitkan dahinya heran.


" Bokap Lo kena Serangan Jantung dan sekarang dia lagi di rawat di rumah sakit. Tadi mas Edwin ngasih tau gue dan juga minta tolong sama kita semua buat cariin Lo sampai ketemu." Jawab Dhafi dengan serius.


Saat gavin mendengar apa yang disampaikan oleh Dhafi tentang kondisi papanya, membuat Gavin tertegun untuk sesaat. Dia merasa terkejut dengan kabar yang menyebutkan bahwa papanya sedang berada di rumah sakit saat ini.

__ADS_1


" Woooiii...Vin!!" Dhafi menepuk pundak Gavin agar pemuda itu tersadar dari lamunannya. "Buruan kita ke rumah sakit!" Perintah Dhafi kali ini. Gavin yang terlihat masih terkejut, hanya menganggukkan kepalanya setuju mengikuti Dhafi ke rumah sakit untuk melihat keadaan papanya.


Tanpa berlama-lama akhirnya kedua motor itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kompleks pemakaman itu. Gavin sepertinya tidak sepenuhnya membenci sang papa karena pemuda itu masih memiliki perasaan khawatir serta kepedulian terhadap kondisi kesehatan papanya saat ini. Gavin juga berharap tidak akan terjadi hal-hal yang buruk yang dapat memisahkan mereka berdua nantinya.


__ADS_2