
Pagi ini Azka, Alex dan Dhafi sedang berjalan di sepanjang koridor lantai dua menuju kelas mereka. Walaupun Gavin tidak ikut bergabung dengan mereka bertiga tapi perhatian setiap para gadis tetap tertuju pada mereka masing-masing.
Ketika mereka bertiga sudah sampai di dalam kelas, ternyata Gavin telah datang terlebih dahulu dan sudah duduk manis di bangkunya.
" Selamat pagi Bapak Gavin Ardana Wijaya!" Azka membungkuk hormat ketika berada di hadapan Gavin layaknya seorang pelayan. Sementara Dhafi dan Alex yang berdiri di belakang Azka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd sahabat mereka itu.
" Berisik lo!" Gavin mendengus sebal melihat wajah Azka yang sangat menjengkelkan pagi ini.
" Sibuk banget Lo Vin, Sampe nggak nongol ke basecamp?" Ucap Alex yang sudah duduk di sebelah Gavin. Mereka semua sudah dua hari ini tidak bertemu karena kesibukan Gavin di perusahaan Papa Ardana.
" Sorry bro." Gavin menatap penuh penyesalan pada ketiga sahabatnya itu sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
" It's oke bro! Yang penting Lo happy ngejalanin tugas Lo sebagai penerus perusahaan." Ucap Dhafi dengan bijak sambil menepuk pundak Gavin.
" Thanks!" Gavin tersenyum senang mendengar ucapan Dhafi tadi.
" Lo tau nggak bro, kemaren kita ketemu Rhea sama teman-temannya di bioskop. Ternyata mereka semua pecinta film Horor." Ucap Azka antusias.
" Gue udah tau. Rhea kemaren cerita sama gue. Dia juga bilang kalau Lo berusaha buat deketin temennya." Gavin menatap Azka dengan sinis sambil menggelengkan kepalanya.
" Apa salahnya gue deketin temennya Rhea. Gue sama dia itu sama-sama jomblo. Jadi nggak masalah dong?" Ucap Azka dengan terus terang.
" Masalahnya Lo itu Playboy. Rhea nggak mau temennya patah hati gara-gara Lo. Jadi gue harap Lo hilangin niat Lo buat deketin dia." Perintah Gavin dengan tegas.
Gavin sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan percintaan Azka, tapi karena ini menyangkut sahabatnya Rhea jadi dia tidak mau nantinya terjadi masalah.
Saat Azka mendengarkan ucapan Gavin tadi, Azka hanya bisa diam tidak bisa membantah ucapan Gavin sama sekali. Azka akui dia memang seorang Playboy, tapi apa dia tidak memiliki kesempatan untuk mencoba mendekati gadis yang dia sukai.
Ketika mereka berempat tidak ada yang membuka suara, tiba-tiba suasana berubah menjadi sedikit canggung.
" Gue cabut!" Ucap Azka dengan ekspresi datar. Azka segera berbalik meninggalkan meja Gavin tanpa menunggu respon dari semua teman-temannya.
" Gue juga cabut bro!" Dhafi mengikuti Azka dari belakang karena mereka satu kelas. Gavin dan Alex hanya menganggukkan kepala merespon ucapan Dhafi tadi.
" Kita semua tau kalau si Azka itu emang Playboy. Tapi menurut gue, kali ini dia bener-bener serius sama tu cewek. Lo tau sendiri kan gimana kriteria cewek-cewek Azka sebelum ini. Dan cewek yang dia deketin sekarang jauh dari kriteria dia."
Alex memberikan sedikit pandangannya tentang Azka pada Gavin. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi Alex paham betul sifat sahabatnya itu.
" Gue tau. Gue cuma pengen liat reaksi dia. Kalau dia emang beneran suka sama tu cewek, dia bakalan tetep kejar dan nggak akan dengerin larangan gue tadi."
Gavin menarik sudut bibirnya setelah berbicara panjang lebar dengan Alex. Gavin sedikit penasaran bagaimana kelanjutan drama percintaan sahabatnya itu. Dia berharap kali ini Azka benar-benar serius untuk menjalin hubungan dengan Ara. Kalau tidak, Gavin takut akan berimbas juga pada hubungannya dengan Rhea.
Setelah bel tanda masuk berbunyi, Gavin dan Alex menyudahi obrolan mereka mengenai Azka.
****
__ADS_1
" Aduh, gue telat lagi." Seorang gadis sedang berjalan mengendap-endap, menoleh ke kiri dan kanan sambil melihat situasi sekitar. Dia saat ini sedang berada di luar area sekolah, lebih tepatnya di belakang gedung sekolah. Gadis itu berencana ingin memanjat tembok, agar bisa masuk ke dalam area sekolah karena dia datang terlambat.
" Gue pasti bisa!" Gadis itu menatap tingginya tembok yang harus dia panjat. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan hal tersebut. Kalau bukan karena takut dengan guru matematika yang killer, dia pasti memutuskan untuk libur saja hari ini.
Saat gadis itu melihat sebuah tangga kayu yang teronggok di tanah yang tidak jauh dari tempat dia berdiri, dia langsung tersenyum senang dan segera mengambil tangga itu tanpa pikir panjang.
Dengan perlahan dia mulai menyadarkan tangga itu pada dinding dan mulai menaikinya dengan perlahan.
" Ya Allah kuatkan lah hamba!" Gadis itu bergumam sendiri saat dia sudah berada di puncak tangga. Saat menoleh ke bawah, kaki serta tangan gadis itu langsung gemetar karena takut ketinggian.
" Woi... ngapain Lo!" Suara berat seorang cowok mengalihkan pandangan gadis itu. Dia dapat melihat cowok itu sedang berdiri di balik tembok sekolah sambil memegang sebatang rokok di tangannya.
" Kak Azka!" Gadis itu terkejut dengan apa yang dia lihat, hingga dengan tidak sadar dia menyebutkan nama Azka dengan cukup keras.
" Ara!" Azka juga sama terkejutnya dengan Ara. Dia dengan segera membuang rokok yang ada ditangannya agar gadis itu tidak melihat dirinya yang sedang merokok di tempat itu.
" Lo ngapain pake manjat segala?" Azka menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau Ara berani memanjat tembok yang cukup tinggi itu.
" Gue telat kak, makanya gue lewat sini." Ara berdecak kesal karena Azka menanyakan alasan yang sebenarnya dia sudah tau.
" Buruan turun! Ntar keburu guru liat!" Azka mendesak Ara untuk segera turun agar tidak tertangkap oleh guru BK yang sedang berpatroli keliling sekolah.
" Iya, bentar! Sabar dikit napa! Gue lagi siap-siap ni. Lutut gue lemes pas liat ke bawah."
" Buruan, sini lompat ke gue!" Azka mendongak keatas sambil mengangkat kedua tangannya untuk menangkap Ara.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Ara memberanikan diri melompat ke arah Azka. Sebelum melompat dia tidak lupa menghembuskan nafas dengan keras lalu membaca basmallah agar dia tidak berakhir cidera saat Azka menangkapnya.
" Satu...dua...tiga..."
Ara langsung melompat saat hitungan ke tiga. Dengan sigap Azka menangkap gadis itu agar tidak terjatuh ke tanah.
Hupp....
Azka memeluk Ara dengan erat, saat gadis itu terjatuh ke pangkuannya. Tetapi nasib sial sepertinya menghampiri mereka berdua karena tiba-tiba Azka kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke belakang dengan Ara yang masih ada dalam dekapannya.
" Awww... pinggang gue!" Azka mengerang kesakitan karena pinggangnya terasa ngilu. Azka merasakan nasib sial, sudah jatuh tertimpa tangga. Maksudnya sudah jatuh ke tanah lalu di timpa juga oleh Ara yang badannya lumayan berat.
Ara segera menyingkir dari atas tubuh Azka dan membantu cowok itu untuk berdiri dengan perlahan.
" Sorry kak!" Ara meringis melihat Azka yang sedang memegangi pinggangnya. Ara merasa sangat bersalah kepada cowok itu karena mengalami cidera karena dirinya.
" Lo cewek apa karung beras? Berat amat Lo!" Azka menaikkan sedikit intonasi suaranya pada Ara yang sedang menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan kemarahan Azka.
" Sorry kak, gue nggak sengaja!" ucap Ara pelan. Ara masih setia menundukkan kepalanya. Dia terlalu takut menatap mata cowok itu.
__ADS_1
Azka yang baru tersadar kalau Ara ketakutan dengan intonasi suaranya yang cukup keras, akhirnya melambat sedikit suaranya.
" Udah-udah, gue nggak apa-apa!" Azka menepuk-nepuk kepala Ara dengan lembut, agar gadis itu tidak takut lagi padanya.
" Yang bener kak?" Ara langsung mengangkat kepalanya dan langsung menatap Azka dengan mata berbinar senang.
" Iya, tapi sepertinya Lo harus tanggung jawab sama cidera gue ini!" Azka kembali mengusap-usap pinggangnya yang masih sakit di hadapan Ara.
" Tanggung jawab gimana kak? Gue bawa ke dokter gitu?" Tanya Ara dengan polosnya.
" Nggak perlu! Lo cukup jadi asisten gue sampai pinggang gue sehat lagi." Ucap Azka dengan tegas sambil menatap Ara dengan serius.
" Asisten?" Ara mengulangi kembali apa yang Azka ucapkan tadi. Ara mengeryitkan dahinya bingung dengan tugas yang di berikan Azka untuk dirinya.
" Iya, Lo mesti jadi asisten gue. Lo mesti siap bantuin gue kapanpun dan di manapun."
Azka tersenyum senang kerena berhasil membuat Ara semakin dekat dengan dirinya. Dia tidak peduli sama sekali dengan omongan Gavin tadi. Dia akan membuktikan pada semua orang kalau dia akan serius menjalani hubungan dengan gadis ini.
Sesaat Ara berusaha mencerna apa yang azka katakan. 'Jadi asisten dia? Cowok playboy Ini? Gue nggak salah denger? Dia mau cari kesempatan ya sama gue? Awas aja dia berani macam-macam!' Ucap Ara dalam hati sambil menatap Azka dengan lekat.
" Kenapa Lo diem? Lo nggak mau jadi asisten gue? Lo mau menghindar dari tanggung jawab?" Tanya Azka beruntun pada gadis itu.
" Oke, gue bakalan jadi asisten Lo!" Akhirnya Ara menyetujui permintaan Azka. Dia akan melihat sejauh mana cowok itu akan memanfaatkan keadaannya saat ini. Jika Azka bertindak melebihi batas pada Ara, dia tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran untuk cowok itu.
" Good!" Azka tersenyum penuh kemenangan saat menatap Ara. Dia akan memanfaatkan momen ini untuk lebih dekat dengan gadis itu.
" Apa tugas pertama gue kak?" Tanya Ara tanpa berbasa-basi. Dia ingin sekali pergi dari hadapan Azka saat tugasnya sudah selesai.
" Tugas pertama, Lo harus anterin gue ke kelas. Tapi sebelum itu kita sembunyi dulu di sana sampai upacara bendera nya selesai." Azka menunjuk gudang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Nggak ada tempat lain apa buat sembunyi?" Tanya Ara dengan berani sambil menatap Azka dengan tajam.
" Nggak ada. Lo nggak usah takut gue bakalan buat macam-macam sama Lo. Pinggang gue lagi sakit dan Lo juga bukan tipe gue. Jadi Lo jangan ngebayangin hal yang aneh-aneh." Ucap Azka dengan tegas.
" Gue nggak ngebayangin yang aneh-aneh! Sembarang tu mulut!" Ara menghentakkan kakinya kesal lalu segera meninggalkan Azka menunju gudang yang ditunjuk oleh cowok itu tadi.
" Woi...bantuin gue jalan. Pinggang gue lagi sakit!" Azka setengah berteriak memanggil Ara yang sudah berjalan di depannya.
" Huss...Berisik amat!" Ara meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya agar Azka mengurangi volume suaranya. Setelah itu Ara kembali menjemput Azka yang tertinggal di belakang lalu memapah Azka untuk berjalan.
" Pelan-pelan!" Ucap Azka dengan kesal karena Ara mempercepat langkahnya berjalan menuju gudang. Membuat pinggang Azka kembali terasa nyeri.
" Iya bawel!" Ara akhirnya memperlambat langkahnya bersama Azka. Saat mereka sudah sampai di gudang, mereka hanya duduk diam tanpa membuka obrolan satu sama lain.
Ketika upacara bendera sudah berakhir, Ara mengantarkan Azka menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Setelah itu Ara kembali ke kelasnya tanpa menghiraukan pandangan gadis-gadis yang menatap kesal kepadanya.
__ADS_1