
Gavin dan Dhafi akhirnya sampai di depan Rumah Sakit tempat papa Ardana di rawat. Mereka berdua langsung berlari menuju ke ruang ICU, setelah sebelumnya diberi tau oleh Edwin melalui pesan singkat yang dikirimkan kepada Dhafi.
Saat Gavin dan Dhafi hampir sampai di ruang ICU, mereka berdua dapat melihat ada Azka, Alex dan Mas Edwin sedang duduk menunggu di kursi panjang yang berada di depan ruangan itu.
" Akhirnya kamu datang juga,Vin." Ucap Edwin senang. Akhirnya Edwin bisa bernafas lega karena Gavin sudah datang menemui papanya.
" Gimana keadaan papa, mas?" Tanya Gavin sedikit cemas. Gavin tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatir nya saat ini pada sang papa.
" Keadaan beliau mulai stabil,Vin. Tapi harus menunggu beliau sadar dulu, baru bisa di pindahkan ke ruang rawat inap." Jelas Edwin dengan terperinci pada Gavin.
" Terima kasih mas!" Ucap Gavin lirih lalu mendekati jendela kaca yang transparan untuk melihat bagaimana kondisi papanya saat ini.
Gavin dapat melihat papanya sedang terbaring lemah di tempat tidur dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. Seketika ada perasaan bersalah yang langsung hinggap di hati Gavin. Dia merasa sangat bersalah karena telah mengabaikan keberadaan papanya selama ini.
" Kamu harus kuat menghadapi ini semua Vin! Saya juga yakin pak Ardana pasti akan segera sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kita semua." Ucap Edwin meyakinkan lalu menepuk-nepuk pundak Gavin untuk memberi semangat pada pemuda itu.
Gavin hanya menganggukkan kepalanya mengerti, lalu kembali menatap papanya yang sedang terbaring lemah di tempat tidur.
" Karena kamu sudah ada disini, ada baiknya mas kembali dulu ke perusahaan untuk mengurus pekerjaan yang masih tertinggal. Kalau kamu nanti membutuhkan sesuatu, kamu bisa langsung menghubungi mas kapan saja. Kamu mengerti kan Vin?" Tanya Edwin memastikan.
" Iya mas, aku ngerti." Jawab Gavin singkat.
" Tenang aja mas, kita semua bakal jagain om Ardana sama Gavin di sini." Ucap Dhafi serius sambil melirik kedua teman nya meminta persetujuan. Azka dan Alex yang mengerti ucapaan Dhafi, langsung menganggukkan kepalanya setuju.
" Baiklah kalau gitu, Mas pergi dulu!" Setelah berpamitan, Edwin langsung berbalik dan pergi kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda dan segera membatalkan semua kegiatan yang sudah di jadwalkan untuk dilaksanakan oleh pak Ardana untuk waktu yang tidak di tentukan.
" Mendingan kita duduk Vin!" Alex segera mengiring Gavin ke tempat duduk yang sudah disediakan di depan ruangan itu. Gavin yang memang sedikit lelah, hanya bisa pasrah mengikuti kemana Alex membawanya.
" Gue yakin om Ardana bakalan baik-baik aja, Vin! Beliau juga udah di tanganin sama dokter terbaik di rumah sakit ini. Jadi yang harus Lo lakuin sekarang cuma bisa berdoa sebanyak-banyaknya, supaya om Ardana di beri kesembuhan." Ucap Azka memberi nasehat pada Gavin.
" Thanks bro! Gue juga berharap papa bakalan baik-baik aja!" Balas Gavin sendu lalu mulai menyandarkan tubuhnya yang mulai lelah disandaran kursi rumah sakit itu.
" Lo nggak hubungin Rhea, buat ngasih tau kondisi bokap Lo saat ini,Vin?" Tanya Dhafi mengingatkan Gavin. Menurut Dhafi saat ini kehadiran Rhea pasti membantu mengurangi kesedihan yang Gavin rasakan.
" Nggak usah Fi! Gue nggak mau Rhea ikut khawatir sama kejadian ini." Gavin menggelengkan kepalanya menolak usulan Dhafi tadi.
" Oke, gue nggak akan ngasih tau Rhea." Ucap Dhafi singkat.
Mereka semua kini sudah duduk berderet di kursi panjang depan ruangan ICU itu. Azka dan Alex yang sudah lelah, nampak sudah memejamkan mata karena dorongan ngantuk yang luar biasa. Sedangkan Gavin dan Dhafi masih mempertahankan kesadaran mereka agar tidak melewatkan kondisi papa Ardana yang bisa saja drop sewaktu-waktu.
Saat Dhafi dan Gavin sama-sama diam, Dhafi mulai membuka pembicaraan saat melihat Gavin hanya termenung sambil menatap kosong ke arah depan. Tidak lupa Dhafi menepuk pundak Gavin agar pemuda itu tersadar dari lamunannya.
" Kalau om Ardana udah sadar, gue harap Lo bakal coba buka hati Lo buat maafin kesalahan yang dia perbuat dulu. Gue cuma nggak pengen Lo nyesel, karena om Ardana satu-satunya keluarga yang Lo punya saat ini." Ucap Dhafi dengan serius sambil menatap kedua mata Gavin.
Gavin yang mendengar ucapan Dhafi, hanya bisa menghembuskan nafas berat. Bukannya dia tidak pernah mencoba memberikan maaf pada papanya sendiri. Tapi bila dia kembali mengingat bagaimana dia dan mamanya yang hanya berdua saja mejalani hari-hari yang berat saat mamanya jatuh sakit. Ditambah lagi ketidak hadiran papanya saat mamanya menghembuskan nafas yang terakhir membuat keinginan untuk memaafkan sang papa menguap begitu saja. Sehingga yang tersisa saat itu hanya perasaan kecewa dan marah.
" Gue akan coba!" Ucap Gavin singkat. Setidaknya dia mau mencoba memberi maaf karena memang hanya papa Ardana lah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Gavin akan mencoba berdamai dengan masa lalu dan melupakan sedikit demi sedikit kenangan buruk yang dia alami di masa lalu.
" Lo pasti bisa Vin!" Dhafi tersenyum senang sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu menyalurkan kekuatan agar Gavin berhasil melalui ujian kehidupan yang dia lewati saat ini.
" Thanks!" Ucap Gavin singkat lalu membalas senyuman Dhafi. Kemudian mereka berdua sama-sama terdiam menunggu perkembangan kondisi papa Ardana selanjutnya.
****
"Ngapain Lo liatin hp mulu sih Rhee?" Ucap Ara sedikit keras agar Rhea tersadar dari tingkah lakunya yang aneh sedari tadi.
" Ha..gue cuma aneh aja. Kenapa hp gue nggak bunyi-bunyi ya dari tadi. Apa hp gue rusak ya?" ucap Rhea sedikit heran. Rhea terus memperhatikan ponselnya yang tidak lagi berdering sejak dia pulang dari mall tadi. Biasanya setiap satu jam sekali, Gavin akan menghubungi Rhea untuk menanyakan keberadaan gadis itu atau melayangkan beberapa gombalan receh pada gadisnya itu.
__ADS_1
Saat ini Rhea dan Ara sudah sampai di kediaman Adinata dengan selamat. Ara sudah menceritakan alasan kenapa dia bisa menangis di mall tadi. Ara juga sudah menceritakan sedikit tentang keadaan keluarganya yang tidak harmonis pada Rhea. Bagaimana Papa dan mama Ara yang selalu sibuk bekerja dan kurang memberikan kasih sayang kepada Ara yang merupakan putri tunggal mereka. Orang tua Ara juga selalu tidak akur dan akan terus bertengkar bila mereka bertemu.
" Lo nungguin kak Gavin nelfon?" Tebak Ara sambil mengedipkan mata nya genit.
" Enggak lah! Gue cuma heran aja, kok tumben dia nggak nelfon. Kayak nggak biasanya aja." Elak Rhea sedikit gugup.
" Bilang aja Lo kangen pengen di telfon sama kak Gavin. Pake ngeles segala lagi! Muna banget!" Ejek Ara telak, membuat Rhea langsung kicep tidak bisa membantah lagi.
" Kalo kangen ya telfon aja, nggak usah gengsi! Pasti kak Gavin seneng Lo hubungin dia duluan. Jadi dia ngira bukan cuma dia aja yang kangen sama Lo, tapi Lo juga kangen sama dia." Ucap Ara sok menasehati.
" Sok bijak banget sih Lo, kayak pernah pacaran aja." Ejek Rhea pada Ara sambil mencibir sahabatnya itu.
" Yee...ni anak, di nasehatin malah balas ngeledek lagi. Walaupun nilai praktek pacaran gue nol, tapi seenggaknya nilai teori gue lebih baik dari pada elo yang cuma nol persen." Balas Ara membanggakan diri.
" Serah Lo deh. Tapi gimana caranya gue hubungin dia duluan? Ntar gue dikira cewek agresif lagi." Ucap Rhea sedikit malu.
" Kalau Lo malu telfon duluan, Lo kirim pesan aja ke dia. Lo tanyain dia dimana atau lagi apa gitu." Jawab Ara santai sambil ngemil keripik kentang miliki Rhea.
" Ya udah deh, gue coba kirim pesan ke kak Gavin dulu! " Rhea mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Gavin di ponselnya.
To: Pacarπ
^^^Malam kak! Kak Gavin lagi apa?^^^
Malam juga Yang! Aku lagi di basecamp sama yang lain. Kamu lagi apa?
^^^Aku lagi di kamar aja bareng Ara. Kok kak Gavin nggak telfon aku sih dari tadi?^^^
Sorry Yang, tadi aku ketiduran. Kamu kangen ya sama aku??
^^^Kangen tapi cuma sedikit.^^^
^^^Jangan gombal bisa nggak kak, eneg tau. Pengen muntah!!^^^
Kamu mau muntah?? Berarti kamu hamil dong?? Ya udah kita nikah aja yuk
^^^Siapa yang hamil? Kak Gavin asal deh. Aku kan udah bilang nggak mau nikah sekarang, mau nya ntar kalau udah lulus kuliah terus jadi dokter.^^^
Ya udah deh, aku bakal siap nungguin kamu.
^^^Awas ya kalau bohong! Ntar dosa loh kalau PHPin anak orang.^^^
Aku nggak bohong sayang!!
^^^Iya, aku percaya. Kak, besok pagi jadi kan kita berangkat bareng ke sekolah. Jangan sampai telat ya! Aku nggak mau di marahin sama pak Hendrik gara-gara telat.^^^
Sorry ya Yang! Kayak nya aku nggak bisa jemput kamu besok. Aku ada urusan penting besok. Jadi kamu berangkatnya minta dianterin sama bang Rafka aja ya?
^^^Emang nya Urusan penting apa?^^^
Aku nggak bisa jelasin sekarang. Tapi aku janji bakal jelasin nya besok pas kita udah ketemuan aja.
^^^Ya udah deh kalau gitu. Aku mau makan malem dulu ya sama Ara. Kak Gavin jangan lupa kabarin aku, kalau lagi ada apa-apa!^^^
Iya sayang, aku bakal kabarin kamu. Makan yang banyak ya Yang. Love youππ
^^^Love you too ππ^^^
__ADS_1
----------------------------------------------------------------------------------
Rhea tersenyum senang saat mengakhiri chatingan nya bersama Gavin.
" Asyik banget chatingan sama yayang. Gue yang di sebelah Lo aja dicuekin abis!" Ejek Ara telak sambil memasang tampak cemberut pada sahabatnya itu.
" Sorry Ra! Makanya jangan kelamaan jomblo, ntar lumutan Lo! Hahaha.." Rhea tertawa senang karena berhasil mengejek Ara balik.
" Sialan Lo! Gue di bilang jomblo lumutan. Gue itu jomblo bermartabat tau nggak sih!" Ucap Ara meluruskan ucapan Rhea tadi.
" Jomblo aja bangga! Ya udah kita makan malam dulu ya Ra! Ntar habis itu baru Lo boleh pulang." Ajak Rhea sedikit memaksa.
" Enggak ah Rhee! Gue makan malam di rumah gue aja. Nggak enak gue numpang makan di rumah Lo." Ucap Ara sedikit tidak enak hati.
" Jangan banyak omong deh Ra! Pokoknya Lo mesti makan malem di rumah gue dulu. TITIK!!" Ucap Rhea tidak ingin di bantah sedikit pun. Rhea kemudian langsung menarik lengan Ara agar keluar dari kamar itu untuk menikmati makan malam bersama keluarga Rhea yang lainnya.
*****
" Seneng bener yang habis chating sama pacar??" Goda Azka pada Gavin yang sejak tadi terus melempar senyuman sambil membalas pesan singkat dari Rhea.
" Iri aja Lo nyett!!" Ucap Alex sedikit menyindir Azka.
" Siapa bilang gue iri? Gue cuma godain si Gavin aja! Kenapa Elo yang protes??" Ucap Azka tidak terima ucapan Alex tadi.
" Udah, jangan pada berisik! Ini rumah sakit!" Ucap Dhafi mengingatkan. Saat ini mereka berempat masih betah duduk di depan ruang ICU sambil menunggu perkembangan kondisi papa Ardana.
" Yang bilang kuburan siapa ogeb!! Lo tu..." Ucapan Azka seketika terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari Gavin. "Hehehe...sorry Vin!" Azka mengangkat tangannya membentuk huruf V agar Gavin berhenti menatapnya dengan tatapan membunuh.
" Mampus!!" Ucap Alex sedikit pelan pada Azka.
" Lo kasih tau Rhea, kalau bokap Lo masuk rumah sakit?" Tanya Dhafi penasaran.
" Nggak, gue cuma bilang kalau gue sekarang lagi di basecamp sama Lo semua." Ucap Gavin sedikit berbohong pada Rhea tadi.
" Kenapa Lo mesti bohong sama Rhea, Vin?" Tanya Azka yang juga sama penasarannya.
" Gue nggak mau Rhea khawatir, itu aja!" Jawab Gavin singkat.
Mendengar jawaban dari gavin tadi, membuat mereka bertiga hanya bisa menganggukkan kepala mengerti.
" Lo bertiga sebaiknya pulang aja! Gue di sini bisa nungguin bokap sendiri." Perintah Gavin pada ketiga sahabatnya.
" Nggak bisa Vin! Kita semua nggak mungkin ninggalin Lo sendiri di sini." Ucap Azka membantah perintah dari Gavin tadi.
" Besok kita ada jadwal latihan basket di sekolah. Nggak mungkin kita semua bolos buat latihan. Mendingan Lo semua cabut biar bisa istirahat di rumah masing-masing." Ucap Gavin tidak ingin di bantah.
" Gimana kalau malam ini, gue temenin Gavin di rumah sakit. Kita giliran aja. Nggak mungkin juga Lo tinggal di sini sendirian buat jagain bokap lo. Kalau seandainya terjadi sesuatu sama om Ardana dan Lo lagi keluar gimana?" Tanya Dhafi memastikan, sehingga Gavin hanya bisa pasrah menerima usulan sahabatnya itu.
" Oke, deal!" Jawab Azka dan Alex berbarengan.
" Kita cabut duluan ya Vin! Jagan lupa kasih kabar kalau ada apa-apa sama Lo berdua ataupun om Ardana!" Ucap Alex mengingatkan.
" Sipp! Lo berdua juga hati-hati. Thanks buat hari ini!" Ucap Gavin dengan tulus lalu mereka semua tos secara bergantian.
" Itu gunanya temen Vin!" Balas Azka. Kemudian mereka berdua meninggalkan Gavin dan Dhafi yang masih betah duduk di depan ruang ICU itu.
" Gue cari kopi dulu. Lo mau titip yang lain?" Tanya Dhafi yang sepertinya ingin pergi ke kantin karena mulai merasa ngantuk dan sedikit lapar.
__ADS_1
" Samain aja sama punya Lo!" Jawab Gavin singkat yang dibalas acungan jempol oleh Dhafi.
Kemudian Dhafi juga meninggalkan Gavin seorang sendiri menuju kantin yang berada di lingkungan rumah sakit.