Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
36. Kangen


__ADS_3

" Kak, bisa pelan-pelan nggak jalan nya!" Rhea berjalan dengan terseok-seok mengikuti langkah kaki Gavin yang lebar karena tangan mereka saling bertautan. Saat ini mereka berdua sedang berjalan menuju parkiran Teen cafe untuk mengambil motor Gavin.


Saat Gavin mendengar Rhea mengeluh, akhirnya dia sedikit memperlambat langkahnya berjalan di depan gadis itu tanpa menoleh sedikitpun. Ketika mereka sudah berada di depan motor, Gavin segera melepaskan Hoodie yang dia pakai lalu menyerahkannya ke tangan Rhea.


" Pakai!" Ucap Gavin singkat. Dia masih dalam suasana hati yang buruk saat ini, jadi dia tidak mau terlalu banyak berbicara dengan gadisnya itu.


" Kak Gavin kenapa sih? Kok ketus gitu ngomongnya? Aku ada salah apa? Terus kenapa dari tadi nggak pernah hubungin aku lagi? Dan kenapa sekarang tiba-tiba maksa aku pulang segala? Aku kan masih pengen main sama sahabat-sahabat aku!" Ucap Rhea panjang lebar sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Rhea akhirnya mengeluarkan semua pertanyaan yang tersimpan dipikirannya pada Gavin saat ini.


" Kamu udah selesai ngomongnya?" Gavin masih mempertahankan wajah datarnya pada Rhea. Sejujurnya saat Gavin dalam perjalanan mencari Rhea tadi, dia sudah berpikir kalau Rhea saat ini sedang berselingkuh dengan Arga. Tapi ketika Gavin sudah melihat pemandangan di cafe tadi, seketika dia merasa bersyukur karena hal itu tidak terjadi. Ternyata Rhea tidak hanya berdua dengan Arga, tapi semua teman-teman Rhea ada di sana.


" Kak Gavin apaan sih! Nggak jelas!" Rhea seketika kesal mendengar ucapan Gavin. Rhea hanya ingin mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya tadi. Karena kesal, Rhea melemparkan kembali Hoodie yang Gavin berikan tadi lalu segera berbalik meninggalkan cowok yang menyebalkan itu.


" Rhee...kamu mau kemana?" Gavin langsung mengejar Rhea lalu menangkap pergelangan tangan gadis itu.


" Lepas! Aku mau pulang sendiri!" Ucap Rhea ketus lalu mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang di genggam erat oleh Gavin.


" Nggak, kamu pulang bareng aku!" Gavin tetap pada pendiriannya. Dia tidak akan pernah melepaskan tangan Rhea sampai kapanpun.


" Lepas brengsek! Hikss..." Umpat Rhea dengan kasar lalu terisak pelan karena merasakan sakit pada pergelangan tangannya.


Seketika Gavin terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Rhea. Kemudian tanpa sadar Gavin melonggarkan genggaman tangannya pada Rhea sehingga gadis itu segera menarik tangannya agar terlepas. Rhea lalu mengusap-usap dengan perlahan pergelangan tangannya sudah berbekas kemerahan. Sangat kontras sekali dengan kulitnya yang sangat putih. Setelah itu Rhea kembali terisak tanpa memperdulikan Gavin yang berada di depannya kali ini.


Saat Gavin menyadari Rhea menangis karena perlakuan kasarnya, dia segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. Gavin memeluk Rhea dengan sangat erat untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena bersikap terlalu emosional pada gadisnya itu.


" Sayang Maafin aku!" Gavin merapal kan kata maaf lalu mengusap punggung Rhea dengan lembut agar tangisan gadis itu mereda. Sedangkan Rhea sama sekali tidak menggubris apapun yang di ucapkan oleh Gavin. Dia juga tidak menolak ataupun memberontak dengan apa yang Gavin lakukan. Rhea merasa sangat lelah dengan keadaannya saat ini.


Setelah hampir 10 menit mereka berpelukan, tangisan Rhea akhirnya sedikit mereda. Gavin segera melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Rhea. Gavin kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di pipi gadisnya itu sambil menatapnya dalam.


" Maaf.." Hanya satu kata itu yang bisa Gavin ucapkan lagi saat ini. Rhea masih tidak merespon ucapan Gavin. Dia masih merasa kesal dan kecewa pada cowok itu.


Saat melihat sekitar, Gavin menemukan sebuah bangku kecil di sebuah sudut taman cafe. Gavin segera membawa Rhea kesana dan mendudukkan gadis itu dengan perlahan.


Gavin segera berjongkok di depan Rhea, agar mereka dapat saling bertatapan. Kemudian Gavin menggenggam kedua tangan gadisnya itu dengan erat.


" Sayang, aku minta maaf sama kelakuan aku yang tadi. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku cuma kesal karena liat kamu deket sama cowok brengsek tadi. Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu. Aku bakalan lakuin apa aja biar kamu maafin aku!"


Gavin melembutkan suaranya saat dia berbicara dengan Rhea. Dia tidak ingin membuat rhea bersedih lagi. Jadi Gavin membuang semua perasaan marah yang dia rasakan tadi, agar Rhea merasa nyaman saat bersamanya.


" Kak Gavin jahat!" Rhea menarik tangannya yang berada di genggaman tangan Gavin, lalu memukul-mukul bahu cowok itu dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


Gavin hanya pasrah menerima perlakuan Rhea. Dia sama sekali tidak mengelak. Gavin hanya membiarkan saja Rhea menumpahkan kekesalannya saat ini.


Saat Rhea sudah puas dengan semua tindakannya, Rhea kemudian mendengus lalu mengalihkan tatapannya dari Gavin. Rasa kesalnya sedikit berkurang tapi dia malas untuk berbicara lagi dengan cowok itu.


" Kenapa kamu berhenti? Ayo pukul aku lagi! Tapi setelah ini kamu harus janji ya ngomong sama aku lagi. Aku nggak mau kamu diam terus kayak gini."


Gavin masih berusaha mencoba membujuk Rhea agar tidak marah lagi padanya.


" Sayang! Sayang ku yang cantik. Jangan marah lagi ya!" Gavin menangkup kedua pipi Rhea dengan lembut lalu menguyel-uyel seperti squishy. Sehingga membuat Rhea sangat menggemaskan di mata Gavin.


" Ihh...lepas!" Rhea menepis kedua tangan Gavin dari pipinya. "Aku mau pulang sendiri!" Rhea segera berdiri dan kembali akan meninggalkan Gavin.


Gavin saat ini hanya bisa pasrah melihat kepergian Rhea. Dia tidak ingin menahan gadis itu lagi. Mungkin Rhea membutuhkan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Gavin akan kembali menghubungi Rhea esok hari, saat hati dan perasaan gadisnya itu sudah tenang.


Ketika melihat ada sebuah Taksi yang melintas, Rhea segera melambaikan tangan agar taksi itu berhenti. Rhea dengan segera menaiki Taksi itu tanpa menoleh sedikitpun pada Gavin yang tertinggal di belakang.


Saat Taksi itu sudah berjalan meninggalkan Teen cafe , Rhea yang berada di dalam mobil itu memajukan bibirnya kesal. Rhea sedikit kecewa pada Gavin karena membiarkan Rhea pergi begitu saja tanpa berinisiatif untuk menghalangi sedikitpun.


" Maaf neng, tapi motor yang di belakang ngikutin kita terus dari tadi. Apa neng kenal sama orang itu?" Pertanyaan dari sopir Taksi membuat Rhea menolehkan kepalanya kebelakang. Rhea dapat melihat kalau Gavin sedang mengikutinya saat ini. Sebuah senyuman tipis tersungging dari bibir Rhea. Sepertinya Gavin masih peduli padanya.


" Biarin aja pak!" Rhea menjawab singkat pertanyaan dari pak sopir lalu kembali diam menatap ke depan.


Gavin yang dari tadi terus mengikuti Rhea, akhirnya bisa bernafas lega karena kekasihnya itu sudah sampai ke rumah dengan selamat. Walaupun bukan Gavin sendiri yang mengantarkan Rhea pulang, tapi setidaknya dia sudah memastikan sendiri keadaan Rhea baik-baik saja. Setelah menunggu beberapa saat sambil menatap rumah Rhea yang besar, akhirnya Gavin memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah itu.


" Sikap aku tadi keterlaluan nggak ya?" Monolog Rhea sendiri saat berada di dalam kamarnya. Ternyata Rhea sedari tadi terus memperhatikan Gavin yang berdiri di luar pagar rumah nya. Rhea sengaja mengintip Gavin dari balik tirai jendela kamarnya yang berada di lantai dua.


Ada perasaan bersalah yang timbul di hati Rhea, mengingat bagaimana Rhea memperlakukan Gavin tadi. Padahal Gavin sudah meminta maaf dengan tulus pada Rhea. Tapi Rhea dengan keras hati nya tetap marah pada pacarnya itu.


" Biarin aja deh! Biar dia kapok! Siapa suruh jadi orang nyebelin banget! Kan tangan gue sakit di tarik-tarik begitu." Rhea kembali mengusap tangannya yang tadi sempat sakit di tarik Gavin.


" Tapi gue masih kangen sama dia! Aaaaaa.....nyebelin!!" Rhea memukul-mukul bantal menyalurkan kekesalannya. Mengingat kebersamaan mereka yang sikat tadi, membuat Rhea kembali kangen ingin berdekatan dengan cowok itu lagi.


Ting...Ting..


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Rhea. Rhea segera berdiri dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam Sling bag mini nya. Saat Rhea mengecek ponselnya, ternyata ada sebuah pesan yang dikirim oleh Shasa. Rhea juga menemukan 10 kali panggilan tak terjawab dari Gavin. Seketika Rhea merasa terkejut dengan apa yang dia lihat.


" Astaga, jadi tadi kak Gavin ngehubungin gue? Pantesan mukanya kusut gitu pas ketemu. Pasti dia ngira nya gue lagi macem-macem tadi. Gimana nih?"


Rhea semakin merasa bersalah pada gavin, sehingga melupakan pesan yang di kirimkan oleh Shasa tadi.

__ADS_1


Saat Rhea masih sibuk dengan pemikirannya tentang Gavin, sebuah panggilan telfon menyadarkan gadis itu. Rhea segera mengambil kembali ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Rhea sangat berharap kalau Gavin yang akan menghubungi nya kali ini. Tapi setelah Rhea melihat ponselnya, ternyata harapan Rhea tidak sesuai kenyataan karena Shasa lah yang menghubunginya. Dengan perasaan malas, Rhea segera mengangkat telfon Shasa.


📞📞📞


Rhea : " Hallo!"


Shasa: " Hallo juga Rhee! Lo udah nyampe di rumah? Lo baik-baik aja kan?"


Rhea : " Iya, gue baik-baik aja. Gue juga udah nyampe rumah."


Shasa: " Terus kenapa nada suara Lo kayak orang lesu gitu. Lo nggak berantem kan sama kak gavin?"


Rhea : " Enggak!"


Shasa: " Jangan bohong deh Rhee! Cepetan kasih tau gue apa masalahnya kali ini. Siapa tau gue bisa bantu kasih solusi."


Rhea : " Besok aja ya Sha, gue ceritain. Gue capek, pengen istirahat! Lo besok ke sini aja ya?"


Shasa: " Boleh deh! Besok gue ke sana! Ya udah istirahat sana, ntar kecapekan masuk rumah sakit lagi!"


Rhea : " Iya bawel! Gue matiin ya! Bye bye Sha.."


Shasa: " Bye bye Rhee..."


--------------------------------------------------------------------


Akhirnya sambungan telfon itu di akhiri. Rhea kembali melihat 10 panggilan tak terjawab dari Gavin tadi. Rhea sebenarnya ingin sekali menghubungi cowok itu, tetapi rasa gengsi tiba-tiba muncul di pikiran Rhea.


" Bodo amat ah! Gue mau tidur!" Rhea segera beranjak dari tempat tidur lalu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


******


Setelah berkendara sekitar 20 menit dari rumah Rhea, akhirnya Gavin sampai di rumah sakit. Gavin segera menuju ruang ICU tempat papanya di rawat.


" Udah nyampe aja Lo, Vin? Gimana, udah clear kan semuanya? Tanya Azka penasaran. Saat ini Gavin sudah duduk di samping Azka. Gavin terlihat sangat lelah hingga dia langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu.


Ketiga Gavin mendengar pertanyaan Azka, dia hanya bisa menghembuskan nafas berat. Permasalahannya bersama Rhea belum selesai. Gavin sangat malas untuk bercerita saat ini pada Azka. Jadi Gavin lebih memilih menutup matanya sebentar agar lelahnya sedikit berkurang.


" Kampret ni anak! Di tanyain malah molor!" Azka hanya bisa pasrah saat Gavin sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya dan lebih memilih tidur.

__ADS_1


Azka sebenarnya sudah bisa menebak kalau masalah gavin dengan Rhea pasti belum selesai. Jadi Azka hanya membiarkan saja Gavin tertidur tanpa banyak bertanya lagi. Azka yakin, Gavin akan menceritakan masalahnya besok saat perasaannya jauh lebih tenang.


__ADS_2