Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
38. Akhirnya Sadar


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang sepi, Gavin memberanikan diri menghampiri Papa Ardana yang saat ini terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Gavin tidak menyangka sama sekali, papa Ardana yang selama ini terlihat sangat sehat, teryata mengidap suatu penyakit yang berbahaya.


Dengan tatapan sendu, Gavin perlahan mendekati ranjang papa Ardana lalu menggenggam tangan pria tua itu dengan erat.


" Pa, ini Gavin..." Ucap Gavin lirih. Gavin tidak bisa menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya saat ini.


" Papa harus sembuh, supaya aku bisa maafin papa! Jangan tinggalin Gavin sendiri Pa! Cuma Papa yang Gavin punya. Kalau Papa udah sehat, kita ke makam mama bareng ya pa! Mama pasti seneng liat kita bisa baikan lagi."


Gavin semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Papa Ardana. Hingga tanpa sadar air mata Gavin sudah mengalir membasahi pipinya.


" Papa harus kuat! Gavin minta maaf Pa!" Gavin menundukkan kepalanya, menyesali segala tindakan yang pernah dia perbuat pada sang Papa di masa lalu.


Saat Gavin masih larut dalam kesedihannya, sebuah pergerakan kecil dari tangan papa Ardana membuat Gavin langsung mengangkat kepalanya. Gavin juga bisa melihat mata papanya mengerjap perlahan, seperti sedang mengumpulkan kesadarannya.


" Vin..." Suara serak Papa Ardana tidak mampu membendung perasaan bahagia yang Gavin miliki saat ini.


" Papa udah sadar?" Gavin menatap papanya sendu sambil mempererat genggaman tangan mereka berdua.


" Aku panggil dokter dulu Pa!" Gavin segera menekan tombol yang berada di atas ranjang rumah sakit untuk memanggil perawat dan dokter yang sedang bertugas.


Selagi menunggu petugas medis datang, Gavin terus mengucapkan kata maaf pada Papa Ardana dengan tulus. Papa Ardana yang masih dalam keadaan yang lemah, hanya menggelengkan kepalanya menolak apa yang diucapkan oleh anak semata wayangnya itu. Seandainya jika papa Ardana memiliki kekuatan untuk berbicara lebih, mungkin dia lah yang harusnya meminta maaf pada anaknya itu.


Saat dokter dan para perawat sudah datang untuk memeriksa kondisi kesehatan papa Ardana, Gavin di minta untuk meninggalkan ruangan itu. Ketika Gavin menunggu di luar, Alex dengan setia menemani sahabatnya itu.


" Gue seneng, akhirnya om Ardana udah sadar Vin!" Alex tersenyum bahagia sambil merangkul bahu Gavin dengan erat.


" Thanks!" Ucap Gavin singkat sambil menganggukkan kepalanya. Gavin juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan Alex.


Saat mereka masih terus menunggu di luar, Alex tidak lupa menghubungi mas Edwin beserta Azka dan Dhafi, untuk memberi tahukan kondisi om Ardana yang telah sadar.


Setelah hampir 15 menit menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu untuk menyampaikan kondisi terkini kesehatan Papa Ardana.


" Gimana keadaan Papa saya, Dok?" Tanya Gavin serius sambil menatap dokter yang seusia dengan papanya itu.


" Pak Ardana sudah berhasil melewati masa kritisnya saat ini. Jadi beliau sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap untuk melanjutkan proses pemulihan selanjutnya." Ucap Dokter itu dengan sopan sambil tersenyum menatap Gavin.


" Terima kasih banyak Dokter!" Gavin akhirnya bisa tersenyum senang sambil menjabat tangan Dokter itu dengan erat. Gavin juga tidak lupa mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesembuhan pada Papanya saat ini.


Ketika Dokter pergi, Gavin segera memasuki ruangan itu untuk melihat kembali kondisi papanya. Di ruangan itu masih ada beberapa perawat yang sedang bersiap-siap untuk memindahkan Papa Ardana ke ruangan Rawat Inap VIP yang ada di rumah sakit itu.


" Terima kasih Pa, udah bertahan demi aku!" Kembali air mata itu membasahi pipi Gavin saat menggenggam erat tangan papanya.


" Papa juga berterima kasih karena kamu mau maafin Papa, Vin!" Ucap Papa Ardana dengan suara yang masih lemah. Mereka berdua larut dalam perasaan bahagia karena bisa memperbaiki hubungan diantara keduanya.


Ketika beberapa perawat akan memindahkan Papa Ardana ke ruang Rawat Inap, Gavin dan Alex segera mengikuti mereka semua dari belakang.


*****


" Sebenarnya kak Azka mau beli apa sih? Perasaan dari tadi kita cuma puter-puter nggak jelas deh di mall ini."


Saat ini Azka dan Ara sudah berada di mall. Sedari tadi mereka berdua hanya mengelilingi mall tanpa membeli barang satupun. Ara yang mulai lelah, akhirnya mulai protes pada Azka.


" Gue lupa mau beli apa. Makanya gue ngajak Lo puter-puter, biar gue bisa inget sama apa yang mau gue beli." Ucap azka berbohong pada Ara. Sebenarnya Azka hanya ingin berlama-lama bersama gadis itu.

__ADS_1


" Jadi kak Azka nggak inget mau beli apa? Ya ampun kak, gue capek tau jalan dari tadi." Ucap Ara kesal sambil memonyongkan bibirnya pada Azka.


" Sorry deh! Ntar gue traktir Boba mau nggak?" Tanya Azka menaik turunkan alisnya sambil memberikan tawaran pada gadis itu.


" Hmm...boleh deh! Yuk buruan, kita beli Boba nya dulu, baru jalan lagi!" Ara kembali menarik tangan Azka agar segera mencari tempat penjual minuman kesukaan nya itu.


Saat keduanya sedang asyik berkeliling mall, Azka mendapatkan telfon dari seseorang.


" Bentar Ra!" Azka menahan pergerakan Ara yang sedang berjalan bersamanya.


" Apaan kak? Siapa yang nelfon? Cewek Lo ya? Mampus Lo, ketahuan lagi jalan sama gue!" Ara tertawa mengejek Azka yang sedang sibuk mengangkat telfon dari seseorang. Sedangkan Azka hanya meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar Ara berhenti bicara.


📞📞📞


Azka : " Hallo!!"


Alex : " Hallo,Ka!" Om Ardana Udah sadar! Buruan ke rumah sakit sekarang!"


Azka : " Ok, gue ke sana sekarang!"


------------------------------------------------------------


Akhirnya panggilan singkat itu selesai. Azka melirik Ara yang tampak melemparkan tatapan bertanya padanya.


" Gue harus cabut sekarang! Ada urusan penting. Lo bisa pulang sendiri kan?" Ucap Azka serius sambil menatap Ara kembali. Sebenarnya Azka tidak tega membiarkan gadis itu pulang seorang diri. Tapi Azka lebih mementingkan sahabatnya untuk saat ini, jadi dia mengesampingkan dulu urusannya dengan Ara.


" Nggak asyik Lo kak! Gue di tinggal sendirian. Cewek Lo tau ya, Lo jalan bareng gue? Makanya jangan jalan bareng cewek lain, kalau udah punya pacar!" Ucap Ara panjang lebar sambil melemparkan tatapan mencemooh pada Azka. Tetapi di saat bersamaan Ara juga merasa sedikit kecewa karena Azka lebih memilih meninggalkannya sendirian di mall itu.


Tukk....


" Jangan asal ngomong! Gue mau pergi ke rumah sakit. Bokap nya Gavin lagi di rawat di sana!" Ucap Azka menjelaskan.


Seketika kening Ara, langsung berkerut mendengar penjelasan Azka. Ara tidak pernah mendengar cerita dari Rhea kalau Papa nya Gavin masuk rumah sakit.


" Kak Azka serius bokap nya kak Gavin masuk rumah sakit? Sejak kapan? Kok Rhea nggak pernah cerita ya ke gue soal itu?" Tanya Ara penasaran sambil menatap Azka menunggu jawaban.


Azka yang di tanya seperti itu oleh Ara, langsung gugup untuk menjawab. Dia lupa kalau Ara ini sahabatnya Rhea. Jadi apapun yang terjadi pada Rhea dia pasti tahu. Gavin memang sengaja tidak memberi tahu Rhea kalau Papanya masuk rumah sakit. Gavin takut Rhea akan khawatir dan akan mengacaukan konsentrasi gadis itu saat mengikuti latihan basket nya yang pertama kemarin.


" Kak Azka kok diem aja? Kak Azka lagi bohong ya sama gue?" Ara memicingkan matanya mencurigai Azka.


" Gue beneran nggak bohong. Bokap nya Gavin emang di rawat di rumah sakit. Gavin sengaja nggak kasih tau Rhea, supaya nggak bikin Rhea khawatir." Ucap Azka jujur. Dia tidak bisa membantu Gavin merahasiakan ini lagi, karena dia sudah terlanjur keceplosan bicara pada Ara.


" Kak Gavin kok gitu sih sama Rhea? Seharusnya dia bilang aja yang sebenernya terjadi. Kalau gini kan Rhea jadi salah paham sama dia. Rhea sampai mikir kak Gavin selingkuh tau nggak, gara-gara dia jarang ngehubungin Rhea lagi." Ucap Ara menggebu karena kesal dengan tindakan Gavin.


" Biarin aja! Itu urusan mereka, Lo nggak perlu ikut campur!" Ucap Azka cuek.


" Nggak bisa gitu dong kak! Gue harus kasih tau Rhea sekarang! Kalau mereka sampai putus gara-gara salah paham gimana?" Ara segera mengambil ponselnya yang berada dalam Sling bag mini nya untuk menghubungi Rhea.


" Ehh...jangan! Kalau Rhea nanya, lo tau dari mana bokap nya Gavin masuk rumah sakit gimana? Lo mau kasih alasan apa? Jangan bawa-bawa nama gue ya! Ntar kepala gue bisa di penggal sama si Gavin." Azka sampai bergidik ngeri membayangkan kemarahan yang akan dia terima dari Gavin.


" Kak Azka tenang aja. Biar gue yang ngatur!" Ucap Ara percaya diri. Ara segera menghubungi Rhea saat itu juga.


📞📞📞

__ADS_1


Ara : " Hallo!"


Rhea: " Hallo juga Ra! Tumben Lo nelfon, ada yang bisa gue bantu?"


Ara : " Rhee..gue ada berita penting. Lo jangan terkejut ya denger nya!"


Rhea: " Apaan sih Ra? Bikin gue penasaran aja."


Ara : " Bokap nya kak Gavin masuk rumah sakit!"


Rhea: "........"


Ara : " Rhee...Lo masih di situ kan? Lo nggak apa-apa kan?"


Rhea: " iya...Ra! Gue baik-baik aja! Lo tau dari mana bokap nya kak Gavin masuk rumah sakit?"


Ara : " Hmm....gue habis jenguk saudara gue yang lagi sakit. Kebetulan gue liat kak Gavin juga disini. Karena gue penasaran jadi gue tanya aja ama perawat. Mereka bilang kalau bokap nya kak Gavin yang lagi di rawat."


Rhea: " kenapa kak Gavin nggak cerita ya Ra sama gue? Emang nya gue nggak penting ya, sampai dia nggak mau ngasih tau gue tentang keadaan bokap nya?"


Ara : " Lo nggak boleh mikir kayak gitu Rhee!! Kak Gavin pasti cuma nggak mau bikin Lo khawatir. Lo jangan negatif thinking sama dia. Kalau Lo nggak penting buat dia, nggak mungkin kan dia bela-belain buat jemput Lo kemaren malam di cafe!".


Rhea: " Gitu ya Ra?? Ya udah deh gue mau kesana sekarang. Bokap nya Kak Gavin di rawat di rumah sakit mana Ra?"


Ara : " Di rumah sakit....Central Medika Rhee!!" (Menatap Azka bertanya apa nama rumah sakit tempat papa Gavin di rawat)


Rhea: " Oke, gue mau siap-siap dulu. Thanks ya Ra buat infonya."


Ara : " Iya Rhee, sama-sama. Bye Rhee..!!"


Rhea: " Bye Ra..!!"


-----------------------------------------------------------------


Saat panggilan telfon di matikan, Azka memberikan tepuk tangan pada Ara sebagai bentuk apresiasi pada gadis itu.


" Ngapain kak Azka pakai tepuk tangan segala?" Tanya Ara sedikit heran dengan tingkah laku cowok di sampingnya itu.


" Lo ternyata jago juga ya bohong nya?" Ucap Azka blak-blakan pada Ara.


" Bohong demi kebaikan nggak apa-apa! Lagian kasihan tau, liat sahabat gue galau! Gue cuma heran aja sama kak Gavin. Kenapa pake nggak bilang aja yang sejujurnya Ama Rhea. Padahal Kan dalam suatu hubungan itu harus saling jujur dan terbuka ke pasangan masing-masing. Biar nggak ada konflik nanti kedepannya." Ucap Ara bijaksana.


" Kayak yang udah berpengalaman aja Lo keliatan nya!" Ejek Azka kali ini.


" Nggak perlu pengalaman kali, buat tau itu semua. Playboy kayak kak Azka mana paham yang begituan." Ucap Ara santai sambil melemparkan tatapan mengejek pada Azka.


" Banyak bacot Lo! Ya udah, mendingan gue temenin Lo nyari taksi sekarang. Habis itu gue baru nyamperin Gavin ke rumah sakit. Lo jangan sampe bilang ke Rhea ya, kalau Lo tau ini semua dari gue!" Ancam Azka pada gadis itu.


" Kalau itu gue nggak janji deh!! Weeekkk...hahaha!!" Ara tertawa senang karena berhasil membuat muka Azka berubah murka. Ara segera berlari saat Azka mulai mendekatinya. Dia tidak ingin di jadikan makan hiu karena memancing kekesalan Azka.


Mereka berdua akhirnya meninggalkan mall itu, sambil berlarian karena Ara tidak ingin di tangkap oleh Azka. Saat Ara melihat taksi berhenti, dia segera menaikinya dan meninggalkan Azka begitu saja. Ara tidak lupa melambaikan tangan pada cowok itu sambil melemparkan senyuman. Azka yang melihat tingkah Ara, hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya. Ara adalah gadis pertama yang membuat Azka harus berlarian di mall, untuk mengejar gadis itu.


" Awas Lo ya!! Gue bakalan bikin Lo jadi pacar gue, gimana pun caranya." Monolog Azka pada diri sendiri.

__ADS_1


Setelah Ara menghilang dengan taksi nya, Azka juga bergegas ke parkiran untuk meninggalkan mall itu menuju ke rumah sakit.


__ADS_2